YOU MUST MARRY ME

YOU MUST MARRY ME
Bab 24



Lucian 24


Sepanjang pagi itu, Dew hanya mengomel saja dan akhirnya tak tertidur sampai matahari terbit. Dew keluar dari kamar mandi setelah mandi agar tubuhnya segar.


Dew keluar dari kamar dan menuju ke kamar Luca. Wanita itu membuka pintu kamar Luca dan tak melihat sang putra di atas ranjang.


"Di mana dia? Ini hari libur dan biasanya dia masih ada di tempat tidurnya," gumam Dew.


Lalu Dew keluar kembali dari kamar sang putra dan berjalan menuju dapur untuk bertanya pada pelayan di mana Luca berada.


"Bibi melihat Luca?" tanya Dew.


"Tuan Luca naik sepeda bersama Tuan Lucian di taman belakang," jawab sang pelayan.


"Terima kasih, Bi. Dan bawa makan pagi ke taman belakang saja. Kami akan makan di sana," kata Dew.


"Baik, Nyonya," sahut pelayan.


Lalu Dew pergi ke taman belakang dan melihat anak serta suaminya bermain sepeda bersama sambil mengobrol seru.


Dew tampak tersenyum melihat pemandangan itu meskipun ia masih kesal pada Lucian karena masalah semalam. Asal bisa melihat Luca bahagia itu sudah cukup bagi Dew.


*


*


"MOOOMMM!!!" panggil Luca dari jauh ketika mengayuh sepeda ke arahnya.


Dew tersenyum dan melambaikan tangannya pada sang putra yang tersenyum lebar dan tampak bersemangat.


Kemudian Luca menaruh sepedanya di samping tangga, begitu juga dengan Lucian. Tubuh Lucian yang tak memakai baju atasan itu tampak berkeringat setelah bersepeda.


"Morning," ucap Lucian pada Dew dan wanita itu tak menjawabnya dan hanya fokus pada Luca.


"Ayo kita makan," kata Dew pada Luca.


Luca duduk di depan Dew dan Lucian duduk di samping Luca.


Lucian melihat ke arah Dew yang entah mengapa mengabaikannya sejak tadi dan sepanjang makan pagi.


Setelah makan pagi, tampak supir Beau datang dari arah ruang tengah.


"Ada apa, Paman?" tanya Lucian.


"Nyonya Beau ingin menjemput Tuan Luca karena ada Tuan Lean di sana," jawab sang supir.


"Ya, Lean sudah bilang padaku," sahut Luca.


"Kalau begitu cepatlah ganti baju," kata Dew.


Luca mengangguk dan langsung berlari ke kamar.


"YA MOOOMM!!" sahut Luca.


Lalu Dew melihat ke arah Lucian.


"Ke mana kau semalam?" tanya Dew dengan mata tajamnya.


"Kau mencariku? Kukira kau tak peduli meskipun aku tak ada di ranjang," jawab Lucian santai.


"Kau berselingkuh?" tanya Dew dengan mata penuh selidik.


Lucian menatap mata Dew dan kemudian tertawa.


"Jawab pertanyaanku dan jangan tertawa," kata Dew kesal.


"Aku bersenang senang di club bersama teman temanku," jawab Lucian.


"Teman- teman? Pasti ada wanita penghibur di sana. Ya, kan?" tanya Dew.


Lucian kembali tertawa.


"Kau benar benar seperti istri yang sedang cemburu, Honey. Temanku ada yang akan menikah, jadi kami hanya berpesta kecil saja," jawab Lucian.


Dew hanya berdecak saja.


"Ada apa mencariku? Apakah ingin mengajakku bercinta?" tanya Lucian.


"Ya, tapi kau tak ada dan aku akan memikirkannya lagi," jawab Dew yang membuat Lucian hampir saja tersedak makanan yang masih dikunyahnya.


"Kalau begitu kita lakukan pagi ini," rayu Lucian.


"Kau pikir semudah itu mengembalikan mood ku yang berantakan? Sepanjang hari kemarin aku sudah mempersiapkannya, tapi kau merusaknya dengan kepergianmu yang tak jelas itu," sahut Dew dan beranjak dari kursinya.


Lucian pun ikut berdiri dan menyusul Dew yang berjalan masuk.


"Honey, pikirkan lagi. Kita bisa melakukannya pagi ini," rayu Lucian.


"No," sahut Dew dan berjalan lebih cepat lagi tapi pria itu mengekorinya sampai tiba di kamar Luca.


"Melakukan apa, Dad?" tanya Luca yang mendengar ucapan Lucian.


"Membuat bayi," sahut Lucian dan membuat Dew menutup mulut pria tengil itu dengan paksa.


Dew membelalakkan matanya pada Lucian dan Lucian hanya mengedikkan bahunya dengan santai.