YOU MUST MARRY ME

YOU MUST MARRY ME
Bab 42



Lucian Dew


"Dad, Luca pergi keluar dari rutenya," ucap Lucian pada River melalui sambungan telepon.


"What?? Bagaimana bisa?" tanya River.


"Aku melihat pelacak di tas serta sepatunya tak sesuai dengan rutenya ke sekolah. Aku rasa ada yang bermain main denganku," sahut Lucian tetap tenang meskipun sebenarnya dia sangat panik karena kini Lucian masih berada di luar negeri.


"Oke, Daddy akan menanganinya," jawab River.


"Jangan sampai Dew tahu dan selesaikan ini sebelum jam pulang sekolahnya. Aku akan menghubungkan Daddy dengan pelacak Luca," ucap Lucian.


"Hmm," jawab River dan segera menutup ponselnya untuk segera mengurus hal ini.


River menelepon Max dan menyuruh semua anak buahnya untuk mencari sang cucu.


Max bergerak cepat dan dia turun sendiri ke lapangan untuk mencari keponakannya. Hanya Max saja yang diberitahu oleh River tentang hal ini agar tak ada kegaduhan di dalam keluarga besar mereka.


*


*


"Kau sudah mengiriminya pesan?" tanya Sergio pada kekasihnya itu.


"Pesan ini tak terkirim. Shitt!!" umpat Leticia.


"Bagaimana bisa?" tanya Sergio dan mengambil ponsel Leticia.


Sergio melihat ke arah ponsel itu dan memeriksanya. Mereka tak tahu bahwa ponsel Dew telah di blokir sementara oleh Lucian dengan mengerahkan hackernya. Dia tak ingin Dew menerima informasi tentang hilangnya Luca dari siapa pun.


"Kalau masih tak bisa, aku akan melemparkan surat kaleng ke rumahnya," ucap Sergio.


"Ck, bagaimana kita tahu rumahnya?" tanya Leticia.


"Kita tunggu anak itu bangun dan sadar dari biusnya," sahut Sergio.


"Berapa lama dia akan tertidur? Aku ingin ini segera cepat selesai," ucap Leticia.


"Entahlah, karena baru kali ini aku menggunakannya," sahut Sergio dengan santainya.


"Apa?? Kau bilang kemarin kau sudah biasa dengan hal hal seperti ini?" tanya Leticia kesal.


"Hei, yang terpenting dia bisa kita culik, bukan?" sahut Sergio yang mulai menyalakan rokoknya.


"Lalu bagaimana jika dia tak bangun?" tanya Leticia panik.


"Kau gila, Sergio? Aku bukan pembunuh!! Dan aku tak mau ikut campur jika terjadi apa- apa pada anak itu," ucap Leticia.


"Kau otak dari penculikan ini, Sayang. Jangan lupakan hal itu," sahut Sergio santai dan masih menghirup rokoknya.


Lalu tiba - tiba pintu gerbang gudang itu ditabrak oleh sesuatu yang keras.


BRAAAKKK!!!


Hal itu membuat Sergio dan Leticia kaget dan langsung beranjak dari kursinya.


"Ayo pergi!!" teriak Sergio ketika mengira yang datang adalah polisi.


DORR!!


Tembakan itu melesat tepat mengenai kaki Sergio yang sudah berlari ke arah samping gudang.


"JANGAN TEMBAK AKU!! AKU MENYERAH!!" teriak Leticia ketakutan dan mengangkat tangannya ke atas.


Keringatnya sudah membasahi tubuhnya karena melihat Sergio yang sudah tak berdaya.


Tak lama kemudian ada banyak pria yang mendekatinya.


"Cari Luca!!" perintah Max pada beberapa anak buahnya.


Lalu Max melihat ke arah Sergio dan Leticia.


"Siapa kau berani menculik putra dari keluarga kami?" tanya Max dengan wajah dinginnya.


"A-aku hanya mengikuti perintah pria itu," jawab Leticia berlutut.


"Apa!?? Kau yang menyuruhku menculiknya!!" teriak Sergio dan Max menendang wajah Sergio.


"Siapa kalian? Jangan mempermainkanku dengan jawaban palsumu," tanya Max.


Leticia tampak ketakutan apalagi Max menodongkan pistol ke arah kepalanya.


"A-aku kakak tiri Dew. Aku hanya ingin memerasnya dan tak berniat menyakiti anaknya. Aku hanya meminta uang darinya saja. Ampuni aku. Aku tak akan berbuat seperti ini lagi. Aku janji," jawab Leticia terbata dan ketakutan setengah mati karena Max masih menempelkan pistol itu pada kepalanya.


"Tuan, Tuan Luca pingsan!" teriak salah satu anak buah Max yang kini menggendong Luca.


"Buang mereka jauh jauh ke negara terasing," perintah Max dan kemudian mengambil Luca dari anak buahnya lalu berjalan ke arah mobil.