
LucianDew
Tak terasa sudah dua minggu terlewati. Dew dan Lucian pun sudah melewati masa bulan madu mereka berdua.
Tapi Lucian tak pulang ke New York, melainkan harus ke Brussel karena ada urusan pekerjaan. Hal itu membuat Dew harus pulang sendirian ke New York dan Dew tak masalah dengan hal itu.
"Sampaikan salamku pada Luca," ucap Lucian sebelum melepas sang istri masuk ke dalam jet pribadinya.
"Hmm, kau hanya empat hari saja, kan?" tanya Dew.
"Ya, setelah itu kita akan liburan musim panas bersama," sahut Lucian yang kembali mengecupi bibir Dew seakan tak rela jika harus berpisah dari Dew meskipun ini hanya sementara saja.
"Baiklah, kami akan menunggumu. Bye, i love you," ucap Dew yang saat ini sudah tak malu lagi untuk mengatakan hal itu pada Lucian.
Lucian tersenyum dan memagut bibir Dew untuk terakhir kalinya.
"I love you too," sahut Luciant tersenyum sembari mengusap bibir Dew yang basah karena pagutannya.
Setelah itu, Dew pun naik ke tangga dan masuk ke dalam pesawat.
*
*
New York ...
Keesokan harinya, Dew kembali beraktivitas seperti biasa dan pagi itu mengantarkan Luca ke sekolah.
"Bye, Sayang," ucap Dew dan mencium kedua pipi putranya.
"Mom, nanti aku dijemput supir saja karena aku akan ada les sampai sore," sahut Luca.
"Oke, hati hati dan selalu telepon Mommy, oke?" ucap Dew.
"Oke, bye, Mom," jawab Luca tersenyum dan keluar dari mobil.
Setelah melihat Luca masuk ke dalam gerbang, Dew pun langsung menuju ke rumah sang mertua karena sudah lama tak mengobrol bersama.
Dew akan berada di sana sampai jam makan siang saja karena setelah itu ia akan melanjutkan kegiatan melukisnya yang lama tertunda.
*
*
Sore menjelang dan Luca pun keluar dari sekolah elite-nya.
"Luca!!" panggil teman Luca.
"Ini bukumu, Luca," ucap Bethel -- teman sekelas Luca.
"Terima kasih, Beth," sahut Luca tersenyum tipis.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya gadis cantik itu.
"Bersama supirku," jawab Luca sambil berjalan ke arah gerbang.
"Aku juga bersama supirku," kata Bethel.
Luca hanya mengangguk saja dan tak terlalu banyak bertanya serta mengobrol. Sejak awal masuk sekolah, Bethel memang tampak suka berteman dengan Luca.
Luca yang memiliki sikap baik, membuat dirinya langsung disukai oleh teman - teman sekelasnya termasuk Bethel.
"Bolehkah kapan - kapan aku main ke rumahmu, Luca?" tanya Bethel.
"Hmm, silahkan saja," jawab Luca santai.
"Benarkah? Terima kasih," ucap Bethel dengan excited.
Lalu Luca masuk ke dalam mobilnya dan Bethel melambaikan tangannya pada Luca.
Supir melajukan mobilnya keluar dari area sekolah elite itu. Di perjalanan, Luca melihat gerai chicken yang disukainya itu. Dan ia menyuuruh sang supir untuk berhenti di sana karena Luca ingin membeli makanan di sana untuk dibawanya pulang.
"Aku pesan yang itu dua porsi," ucap Luca pada kasir restoran itu sambil menunjuk ke arah makanan yang diinginkannya.
Kasir yang tak lain adalah Leticia itu, melihat ke arah Luca sambil melayani pesanan Luca.
"Kau anak Dew?" tanya Leticia setelah Luca membayar pesanan makanannya.
Luca melihat ke arah Leticia dan ia sangat mengingat wanita itu.
"Ya," jawab Luca singkat dan pergi dari sana karena ia tahu bahwa sang ibu tampak tak suka dengan wanita itu.
Leticia melihat sinis ke arah Luca.
"Siapa dia? Kerabatmu? Sepertinya dia kaya raya karena seragam yang dipakainya hanya untuk anak -anak konglomerat saja," gumam teman kerja Leticia di sampingnya.
"Benarkah? Jadi dia adalah anak konglomerat?" sahut Leticia.
"Ya, itu sudah pasti. Lihat mobil dan supirnya," jawab sang teman.
Letician mengangguk dan tampak menyeringai licik.