
Lucian Dew 41
"Jadi kau bertemu dengan adik tirimu lagi?" tanya seorang pria pada kekasihnya ketika mereka tampak duduk di sebuah bar malam itu.
"Ya, dia tampaknya menikahi orang kaya raya dan kini kehidupannya berubah drastis. Menurutmu aku bisa memanfaatkannya? Aku tak suka melihatnya bahagia seperti itu. Menyebalkan," sahut Leticia yang kemudian meminum bir nya.
"Kau tadi bilang dia punya anak, bukan?" tanya pria bernama Sergio itu.
"Ya, rute sekolahnya melewati restoran tempatku bekerja," jawab Leticia.
"Culik dia lalu minta lah uang pada adik tirimu," kata Sergio yang memang seorang residivis, jadi otaknya tak jauh - jauh dari tindakan kriminal.
"Bagaimana caranya?" tanya Leticia.
"Tenang saja, aku yang akan mengurusnya karena aku sudah terbiasa dengan hal - hal seperti ini. Tapi aku meminta bagian 50 persen," sahut Sergio.
Leticia tak langsung menjawab dan kembali berpikir.
"Baiklah, atur semuanya dan aku ingin kita besok sudah melakukan rencana ini," ucap Leticia tersenyum licik.
"Siap, Bos," jawab Sergio.
"Berapa yang harus kuminta nanti dari Dew?" tanya Leticia lagi.
"Mereka konglomerat, bukan? Jadi mintalah sebanyak banyaknya agar kita bisa ke luar negeri bersama dan bersenang - senang," jawab Sergio dan membuat Leticia kembali tersenyum lebar karena membayangkan uang yang akan didapat nanti.
Leticia mengangguk dan mencium kekasihnya itu.
"Kau memang jenius," ucap Leticia.
"Dan licik," sahut Sergio tertawa.
*
*
"Sayang, nanti kau akan diantar sekolah oleh supir karena Mommy akan ke mansion nenek dan kita berbeda arah," kata Dew.
"Oke, Mom. No problem," jawba Luca yang meminum jus jeruknya setelah menghabiskan makan paginya.
"Hati - hati di jalan," ucap Dew mencium kedua pipi Luca seperti biasa.
*
*
Supir tampak meminggirkan mobilnya ketika dirasa ada yang tak beres dengan ban mobilnya.
"Ada apa, Paman?" tanya Luca.
"Sepertinya ban nya kempes, Luca. Paman akan melihatnya dulu," jawab pria itu dan turun dari mobil.
Luca mengangguk dan ikut turun dari mobil.
"Kau di dalam saja, Nak," kata sang supir bernama Turin itu.
"Aku hanya ingin melihat ban nya, Paman," jawab Luca dan kemudian mengikuti Turin di belakangnya.
Ketika mereka fokus melihat ban, tampak dari belakang ada yang menyergap mereka berdua Turun dipukul kepala belakangnya, sedangkan Luca di bekap dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
"Masukkan pria tua itu ke dalam mobil dan ambil ponselnya," ucap Sergio pada dua orang temannya.
Lalu kedua pria itu membawa tubuh Turin ke dalam mobil dan kembali menutup pintu mobilnya.
"Ayo, cepat pergi," ucap Sergio dan mengangkat tubuh Luca ke dalam mobil mereka yang diparkir di seberang jalan.
*
*
Leticia yang sudah menunggu di gudang kosong tak terpakai itu langsung melihat kedatangan sang kekasih yang tampak sudah menggendong Luca.
"Bagaimana? Semua lancar?" tanya Leticia.
Sergio tersenyum dan menaruh Luca di atas kursi panjang. Sedangkan dua teman Sergio tadi sudah disuruh pergi oleh Sergio setelah pria itu memberi mereka upah.
"Ini, nomer Dew. Aku mengambilnya dari catatan kontak panggilan dari ponsel supirnya," kata Sergio menujukkan sebuah foto di ponselnya.
Lalu Leticia mengambil ponsel kecilnya yang memang khusus agar tak terlacak itu. Leticia mencatat nomer ponsel Dew lalu mengiriminya pesan untuk meminta uang tebusan senilai dua juta dollar Amerika.
Senyum liciknya terlihat ketika pesan itu sudah terkirim pada Dew.