
"Mau jalan jalan?"
"Kemana?"
"Terserah kamu."
"Saya tidak tahu daerah sini. Dan lagipula sudah dua tahun lebih saya tidak di Jakarta."
"Ya sudah, di rumah saja. Besok kamu juga sudah balik, pasti capek." enaknya ngapain ya. Gue perhatiin dari tadi dia memandang gue terus. "Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan aja."
"Saya boleh bertanya?" tanya aja pakek ijin segala.
Dddrrrttt ddrerttt
"Maaf, sebentar." ngapain Pandhu telepon. "Ya, Pan? Ada apa?"
"Napa ngga masuk lu. Curang, bolos ngga ajak ajak."
"Dodol. Siapa yang bolos. Gue ada urusan jadi gue gak bisa masuk sampe besok."
"Curang. Anak buah lo nih ribet. Tanya ini lah itu lah, gila lama lama gue. Jan lama lama ah bolosnya."
"Dibilangin gue ngga bolos. Dah urus mereka. Gue serahin sama lu."
"Enak aja. Wani piro koe." dah pinter nih orang ngomong bahasa surabaya. Dan seperti biasa ngga pernah mau rugi.
"Lo maunya apa." pasti minta traktir.
"Phd yang jumbo fiesta bersepuluh itu ya." benerkan tebakan gue.
"Lo emang ngga ukuran ya kalau minta. Ck. Bangkrut deh bangkrut gue. Dah. Lusa gue beliin. Urusin tuh ade ade lu." selalu saja cari kesempatan dalam kesempitan. Gue matiin sebelum dia minta yang lain lagi.
Gue lihat sepertinya Zahra masih nungguin. "Maaf. Tadi kamu mau tanya apa?"
"Bisa saya tahu tentang mas?"
"Kamu mau tahu apa?"
"Semuanya."
"Tanyalah, nanti saya jawab."
"Kenapa mas Ian memilih tinggal disini? Setahu saya rumah keluarga mas tidak terlalu jauh."
"Saya lebih nyaman disini. Demi kebaikan bersama juga."
"Dulu mas tinggal dimana?"
"Surabaya." terlalu singkat ya jawaban gue. "Dulu saya tinggal bersama Kakek dan Nenek, tapi mereka sudah tiada. Mangkanya saya disuruh kembali."
"Tidak masalah. Sudah lama juga."
"Mas kerja dimana?"
"Di tempat kerja." hahaha dia bisa mendengus juga ternyata. "Kamu tidak akan tahu, yang perlu kamu tahu perkerjaan saya halal."
"Mas kelas 12 kan?" gue mengangguk. "Mau lanjut kuliah dimana?"
"Hmm awalnya saya mau ke luar negeri, tapi berhubung saya sudah memiliki kamu jadi lihat nanti saja deh."
"Makanan, minuman, warna fav? Hobi?"
"Makanan dan minuman? Yang penting halal dan Alhamdulillah tidak ada alergi. Warna? Entah, mungkin yang ngga terlalu mencolok kali. Hobi? Ngegame. Jadi jangan ganggu saya kalau saya ngegame." hehe dia menggumam pasti menyumpahi gue. "Sudah? Giliran saya."
"Kenapa kamu minta nikah sama saya."
Lihat. Dia bersemu. Lucunya pingin nyubit aja. "Emmm, itu." ngga bisa jawabkan.
"Karna kamu menyukai saya kan?" makin merah. "Tatap saya." pengen ketawa tapi takut dia makin malu. "Katakan kamu mencintai saya."
"Mas sudah tahu dari Ayah dulu kan." dengusnya.
"Tapi saya mau dengar dari kamu sendiri. Bagaimana dong."
"Baiklah baiklah ngga perlu dijawab." haaha. "Apa kamu punya pacar?"
"Saya ngga pernah pacaran karena memang agama kita melarang." kenapa malah natap gue begitu. "Mas perna pacaran?"
Dikerjain kayaknya enak. "Iya. Saya punya pacar." pacar halal maksudnya. "Belum lama malahan. Kenapa, kamu cemburu?"
"Siapa yang cemburu."
"Saya pernah denger lo katanya cemburu itu tanda cinta. Kalau kamu ngga cemburu berarti kamu ngga beneran cinta sama saya."
"Iya. Saya cemburu. Puas!" hahaha jawabnya pakek otot lagi. Dan lihat mukanya dah kaya kepiting rebus. Malu pasti dia.
Gue mendekat dan pura pura bingung. "Waduh saya harus bagaimana ini. Kamu ada saran? Saya belum lama lo pacaran sama dia." ngambek kayaknya.
Eh. Dia nangis?
Bagus lo Al. Baru nikah dah lo bikin nangis tu bini. Kayaknya dia lagi ngutuk gue juga. Hmm gue dah keterlaluan mungkin.
Gue ngga tau bagaimana bini gue orangnya. Tapi dari ini gue lihat dia terlalu polos dan lemah. Lemah dalam artian tidak bisa dikerjain.