You are my Destiny

You are my Destiny
unjung unjung time



Baru gue mau melepas rindu sama bini, eh ada telepon aja. Disuruh datang ke rumah lagi. Tapi gue emang kelewatan sih, masa dari nikah sampe sekarang bini gue belum gue bawa ke rumah.



"Kamu sudah siap?" wow cantik banget. Warna apapun yang dia pakek selalu terlihat sempurna. Kulitnya putih cerah sih jadi apapun cocok sama dia.



Eh. Kenapa dia mandangin gue begitu. "Apa?" lah. Kok. Gue ada salah ya. Apa dia pms jadi kesal begitu. Mungkin aja. Sudahlah, masa bodo.



Gue kunci pintunya dan menyusul Zahra yang sudah duluan turun. Kayaknya beneran pms deh. Kata Pandu cewe pms itu nyeremin. Mending gue jaga jarak daripada kena getanya.



Sepanjang perjalanan juga dia diam mulu. "Yuk masuk." ajak gue. Setakut takutnya gue kena marah dia, dia tetap bini gue coy. Ngga bisa dibiarkan begitu aja. Apa kata nyokap. Bisa bisa gue dikutuk jadi tas kesayangan dia  yang harganya jutaan itu. Ngeri kan.



Ceklek



"Kalian sudah datang. Yuk masuk." itu nyokap. Lebay amat kan, ya begitulah dia kalau bersama dengan orang yang dicintainya. Padahal gue belum pencet bel loh ini. Dia pasti dari tadi nungguin di ruang tamu.



Huh. Punya saingan baru deh. Sama abang aja belum kelar.



"Kamu makan yang banyak ya, biar sehat. Kamu juga jangan terlalu capek. Kalau Aldi ngga perhatian sama kamu, aduin ke Mommy aja ya Sayang. Biar Mommy jewer telinga dia." apaan tuh. Mau ngajarin bini gue ngelawan gue gitu?



"Mom, jangan setanin bini Aldi deh."



Hiii pelototannya serem banget. "Kamu ngatai Mommy setan?"



"Mana berani aku, mom."



"Sudah. Kita makan dulu, nanti bicara lagi." ujar bokap. Zahra duduk di samping nyokap dan tepat di depan gue. Siapa lagi dalangnya kalau bukan nyokap sendiri.



Seperti yang gue tau, setelah dinner pasti mereka berkumpul di ruang keluarga. "Mom, Bian keluar bentar, ada perlu." sakit banget kan kalau abang sendiri menghindari kita. Itu lah yang gue rasakan. Abang akan pergi entah kemana saat gue ada di rumah ini.



"Bagaimana, Sayang. Apa udah isi?" apa maksud mommy. Kenapa juga Zahra tampak gusar begitu. "Ngga apa kalau belum ada. Mungkin kalian disuruh berdua dulu, kalian juga masih muda." oohhh... Paham gue. Pantesan Zahra ngga nyaman gitu.



"Iya, Mom."



"Kuliah kamu, bagaimana? Sudah mau sem 6 ya."



"Son." gue menoleh ke bokap. "Kamu sudah ada rencana setelah lulus sekolah?" gue mengangguk. "Daddy pengen kamu tetap melanjutkan sekolahmu. Jika kamu ada kesulitan masalah biaya, Daddy bisa bantu."



"Ngga perlu, Dad. Aku sudah memikirkannya kok. Aku juga sudah mengajukan ke sekolah buat ambil beasiswa ke salah satu PTN Bandung."



"Bagus. Kalau ada masalah jangan sungkan bicara sama Daddy atau Mommy. Kami masih orang tua kamu dan kamu masih tanggung jawab kami meski kamu sudah menikah."



"Terima kasih, dad." gue lihat sudah jam tujuh lebih dan Zahra kayaknya sudah mulai lelah dengerin ocehan Mommy. "Ra, yuk pulang."



"Kok cepat sih, Al. Kita lagi asik ngobrol juga." ngobrol apaan. Gue lihat dari tadi Zahra kebanyakan diam. "Baru main juga. Kan Mommy masih pengen bareng menantu Mommy."



"Besok Aldi masih sekolah, Mom. Zahra juga baru nyampe tadi."



"Ya sudah." pasrahnya. Gue hampiri dan gue peluk Mommy gue tercinya ini. "Sering sering ajak menantu Mommy main kesini ya."




Tanpa tanya dia, gue mampir ke rumah Bunda. Siapa tahu bisa merubah suasana hati Zahra dan mau ngomong lagi sama gue.



Jarak rumah Mommy sama Bunda ngga jauh. Cuman 20 menit menggunakan mobil dan sekarang kami sudah sampai.



Kenapa dia ngga segera turun malah lihatin gue. Oohh gue tahu pasti dia mau tanya kenapa gue ajak mampir kesini. "Aku ada perlu sama Nathan." bohong pastinya. Ngapain juga ketemu itu orang, gedeg yang ada. "Yuk masuk."



Eh. Lagi lagi dikagetin. Belum salam lo kami. "Yo bang. Baru aja gue mau samperin elu." Nathan itu yang nongol. "Ooo pantesan WA gue ngga diread. Ada belahan jiwanya tooo."



"Minggir lo."



"Ish. Awas lo bang, ngga kawan lagi kita." siapa juga yang mau kawanan sama dia. Masa bodoh sama dia, gue masuk bareng Zahra dan menghampiri Ayah dan Bunda yang sedang bersantai sambil nonton tv. "Kak. Ponakan gue dah dibuat belum?" mulai lagi kan dia.



"Iya nih. Gimana, cucu ayah sudah tumbuh belum nih?"



"Gimana mau tumbuh. Nanem aja belum."



"Lah kok belum sih, Al." eh, gumaman gue kedengeran ya. Kayaknya iya. Duh malunya. "Kenapa belum, Al? Kalian belum melakukan itu?" astaga. Kenapa Ayah tanya frontal gitu sih, ada Nathan lo ini.



"Itu apa yah?" tuh kan, jadi kepo kan dia.



"Aku mau nemenin Aran tidur dulu." pamit Zahra. Gue tau dia menghindar dari kami.



"Kalian bertengkar?" kelihatan banget ya. "Bunda perhatikan sejak kalian masuk, Zahra nyuekin kamu."



Ya udah gue ceritakan tuh awal mulanya, siapa tahu Bunda bisa bantu. "Hahahaha... Anak kita masih kaya bocah ya, Bun."



"Kak Zahra kan emang gitu, yah. Hahaha ngga nyangka gue. Kasihan amat lo bang." mereka kenapa sih.



Ish malah tertawa. "Haha. Maaf maaf."



"Kamu harus tahu, nak Al. Anak Bunda satu itu paling suka dipuji akan tampilannya. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil kalau ngga dipuji ya gitu, ngambek."



"Jadi, dia ngga pms?"



"Hahaha." mulai lagi deh Nathan sama Ayah. Mereka berdua emang sama.



"Ehem. Setahu Bunda malah dia saat ini sedang masa subur." apa artinya?



"Langsung aja Al. Kesempatan emas tuh bikinin cucu buat Ayah." gagal paham gue. Apa hubungannya coba.



"Dan aku punya keponakan. Yeey."



Huh. Kayaknya keputusan gue mampir ke rumah ini salah deh.