
Gue baru sadar keluarga Ardiansyah dan Ahmad memang memiliki pengaruh di kota ini. Kalau engga mana bisa mereka menikahkan kami dalam waktu enam jam.
Sekarang sudah memasuki sholat maghrib dan rumah sudah kembali normal. Gue? Gue ada di rumah Zahra setelah dipaksa Mommy tinggal tadi padahal ngga bawa baju ganti, alhasil pinjam deh sama punya Nathan meski agak kependekan sedikit.
"Masjid di kompleks sini sebelah mana ya?"
"Ikut ayah aja."
"Lo ngga ikut?"
"Males gue."
"Ngga ada males malesan. Ayok." gue paksa ini bocah. Kebiasaan. Mumpung masih remaja jangan dibiasakan lah males malesan. "Resek lo, bang."
"Ayo lah. Gue temenin main entar."
"Ngga mungkin. Lo manten baru. Mana bisa."
"Apa hubungannya. Udah. Jangan banyak bacot. Mana sarung sama baju taqwa lu."
.
.
.
"Kok kalian baru balik?" tanya Bunda. Gue sejak sehabis akad tadi disuruh panggil Bunda dan Ayah sama mereka.
Gue lihat Nathan cemberut disebelah gue. Haha kasihan juga. "Tuh, bang Al. Nyekap Nathan dimasjid, disuruh nemenin baca alquran sambil nunggu sholat isya." ck. Kaya bocah aja ngaduh segala. Jadi malu kan sama mertua.
"Bagus dong. Contoh tuh abang kamu. Ngga kaya kamu main game aja sampe lupa sholat."
"Mumpung masih muda Bun. Entar juga bosen sendiri." kagak percaya gue. Mana ada bosan main game. Lah game aja tiap pekan ada yang baru.
"Dibilangin malah jawab mulu." jadi kangen nenek. Dulu nenek yang selalu ngingetin gue kalau sudah waktunya sholat. Sekarang mana ada, mommy? Entah. Gue ngga pernah lama sih tinggal seatap lama gitu.
"Al?" eh, duh jadi termenung kan. "Ganti baju sana, kita makan malam bareng."
"Iya, bun."
Skip
"Mas." panggil nya. Kutatap dia mungkin ada yang mau dibicarakan. "Kata Bunda, kamu tadi tanpak sedih. Ada masalah?" gue tau dia pasti disuruh Bunda tanya dilihat dari gestur dia yang gugup begitu.
"Ngga ada." duh. Ini mulut kebiasaan deh. Niatnya tadi kan jawab agak panjang dikit 'ngga ada, kamu ngga perlu hawatir' gitu kan enak. Lah udah pendek, terdengar dingin lagi.
"Oh. Maaf." Tuh kan. Pasti salah paham dia.
Gue duduk disudut ranjang. "Kamu besok ada kuliah?" tanya gue coba basa basi mungkin bisa nyairkan suasana. Ini pertama kalinya gue ngomong panjang sama lawan jenis. Untung ngga ada begundal kutu kupret.
Dia menggeleng masih menunduk. "Besok diesnatalis fakultas, jadi kuliah dikosongkan selama dua hari."
"Selasa sore balik berarti." dia mengangguk kemudian menggeleng.
"Selasa saya antar ke Bandung tapi siangan biar malamnya saya bisa balik lagi."
"Ngga perlu, mas. Nanti mas capek. Saya bisa naik kereta sendiri."
"Terus saya sebagai suamimu ngapain kalau membiarkan istrinya balik sendiri." dia kembali menunduk pasti dia takut, gue hampiri dia dan kutangkup wajahnya. "Maaf. Selasa saya antar ke Bandung." ah gue baru ingat. "Sebentar." gue ambil dompet gue. "Di dompet saya cuma ada 300rb, sementara segini dulu ya." gue kasih 200k, yg seratus buat beli bensin. "Ini kamu ambil kartu kredit saya dulu, Besok saya urus punyamu."
"Ngga perlu mas."
"Ambil lah. Kamu sudah jadi tanggung jawab saya. Kalau ada perlu atau kepengen apa apa jangan sungkan bilang saya."
"Terima kasih."
"Tidak perlu terima kasih. Itu hak kamu dan kewajiban saya." dia mengangguk. "Saya besok pulang ke apartemen, kalau kamu masih mau disini ngga apa saya maklumi."
Kulihat dia termenung, mungkin berpikir. "Saya ikut."
Gue mengangguk. "Sudah sholat?" dia menggeleng. "Sholatlah dulu habis itu tidur. Beres beresnya besok saja. Saya ke kamar Nathan dulu sudah janji tadi." gue kecup keningnya sejenak. Entah kenapa gue ketagihan cium kening dia.
.
.
.
"Bang. Lo ngga mau kasih pesenan gue tadi?" apaan sih nih bocah. Dari tadi itu mulu yang dibahas. "Ayo lah bang. Gue sudah ngga sabar ini punya keponakan."
"Eleh. Kaya gue ngga tau aja. Noh Aran. Ajak main sono."
"Ck. Aran mah cengeng. Ngga seru. Digodain dikit aja nangis."
"Trus lo mau godain anak gue gitu?" ck. Jelek amat niatnya. "Gue balik. Males gue sama lo."
"Gitu dong. Bikin yang lucu lucu ye, bang." ck. Tingkahnya persis bocah. Kalau dia sekarang kelas 10 program regular kemungkinan umurnya sekitar 15-16 an. Tuaan dia malah dari gue.
Ck ck. Ngga habis pikir gue.
"Kenapa Al?"
"Eh, Ayah. Hehe ngga ada apa apa ya. Cuma lagi kesel sama Nathan aja."
"Itu anak pasti godain kamu ya." duh jadi malu. "Haha, ngga usah didengerin omongan itu bocah. Tidur sana, kalau boleh nitip cucu yang lucu lucu ya." kirain apa. Ck, ngga bapak ngga anak sama aja.
"Permisi, Yah." huh ketawanya masih kedengeran.
"Kenapa mas?"
"Ngga ada. Tidur yuk." gue ambil wudhu bentar. "Ngga apa kan kalau saya lepas atasan? Suka gerah soalnya." gue lepas kaos gue dan rebahan di ranjang sisi kiri.