You are my Destiny

You are my Destiny
meet again



Tak terasa pernikahan gue sudah satu bulan lebih tapi lucunya gue cuma dua hari dua malam bersama dia.



Sejak gue mengantar dia ke Bandung, kami ngga pernah ketemu kembali. vcall dan chat aja yang menghubungkan kita. Kalau ngga ada itu pasti kita sama sama lupa.



Yang menjadi pegangan gue menjalani hubungan ini ya cuma dua, kepercayaan dan saling terbuka.



Hari bertambah hari kayaknya dia sudah terbiasa. Cara bicaranya juga ngga sekaku awal awal dulu. Sudah bisa bercanda juga. Ternyata orangnya asik, enak diajak diskusi dan dimintai pendapat.



---


Honey


Pergi ke jateng


Naik bus tayoo


Mas ian ganteng


Siapa yg punya, hayoo


---



Hahaha. Ada ada aja. Kode nya begitu amat. Maksa banget kan dijawab kalau gue cuman punya dia.



---


Me


Jateng dan jabar


Provinsi jawa punya


Saya ganteng dah tersebar


Tapi cuma situ yg punya


---



Ck, kenapa gue ketularan alay dia. Bukan gue amat, gue kan emang paling lemah dalam pelajaran bahasa. Apa ini yang dinamakan cinta itu gila? Kayaknya bener deh. Cinta bisa membuat kita gila. Lupa jatidiri kita.



Eh, apa barusan gue bilang gue cinta sama bini gue?



Kayaknya iya deh. Gue mulai cinta sama dia. Trisno jalaran soko kulino (cinta karena terbiasa). Hebat ya yang bisa bikin quote kaya gitu.



---


Honey


😄😄



Me


Virus km mengerikan



Honey


Bagus juga. Q suka.😍😘



Me


😘😘


Tdr sna dah mlm.



Honey


Vcall ya. Biar bisa tdur.


---



Langsung aja gue sambungkan vcall biar dia cepat tidur. Gue tau jadwal dia padat jadi dia harus istirahat teratur biar ngga sakit. Kan lucu masa calon dokter sakit.



.


.


.



Alhamdulillah. Begini ya rasanya bebas. Ngga ada tangguan osis atau basket lagi. Gue sudah nyantai.



"Ikut main ya."



"Ayo, bang. Kita tanding." hmm padahal gue mau nyantai hari ini. Tapi ngga apa deh anggap aja buat ngeluarin keringet. "Yos. Bakal seru nih." gue paling suka anggota basket yang semangat kaya dia. Rasanya ada kebanggaan tersendiri gitu pas ngelatih mereka.



"Ada aturannya ngga ini?" ck ck ck sok banget es kiko ini.



"Anggap aja kita beneran lagi tanding."



Gue masuk lapangan masih pakek seragam biasa. Sudah waktunya pulang juga, besok juga bakal ganti. "Kerahkan kemampuan terbaik kalian, anggap kami lawan sungguhan." pintaku. "Kalian juga serius." kalau ngga dikasih peringatan di awal, mereka pasti asal asalan mainnya.




Ah tak terasa sudah sore aja. Sudah waktunya sholat asyar.



"Cape juga ya. Untung panasnya ngga terik."



"Kemampuan kalian banyak peningkatan. Mungkin latihan dua kali lagi cukup, habis itu istirahat biar pas turnamen badan kembali fit."



"Kerja sama timnya juga perlu ditingkatkan. Tadi masih ada yang sedikit egois." ujar Dani. Emang sih tadi ada salah satu dari mereka yang terlalu berambisi.



Cukup lama kami bincang bincang sekaligus diskusi hingga tak terasa sudah pukul empat aja. "Gue balik dulu."



"Ngga ngikut ngopi lu?"



"Kapan kapan aja. Dah gerah semua ini. Mau mandi gue." entah kenapa gue jadi kepikiran Zahra. Rasanya pengen segera nyampe rumah, vcall an dan melepas rindu. Jam segini pasti dia juga senggang. Aarrghh kenapa gue masih sekolah sih. Kan kalau sudah lulus setidaknya lebih banyak waktu bareng dia.



Jarak apartemen sama sekolah emang ngga jauh. Cukup jalan kaki 7 menit sudah nyampe, itu salah satu alasan kenapa gue lebih suka tinggal disana. Selain dekat, juga ngirit. Kalian sudah tau kan kalau gue belajar hidup mandiri dan apalagi sekarang sudah menghidupi anak orang juga.



Gue tau pasti kalian mikir kenapa di umur gue yang masih belia ini gue bisa bersikap kaya begini. Gue sendiri juga ngga tau, tapi mungkin keadaan bisa jadi salah satu faktor pemicunya atau karena gue lebih sering bergaul sama orang yang lebih dewasa. Entahlah.



"Baru balik, mas?" eh. Oh ternyata pak Kasim yang negur.



"Iya, pak. Biasa main dulu."



"Siapa yang menang kali ini?" beliau emang tau kebiasaan gue kalau pulang dengan berkeringat begini.



"Biasa, pak. Belum ada yang bisa ngalahin kami." kita sering bercanda ala pria. ngga hanya pak Kasim, kadang ada pak Jefri dan pak Anto juga jika ada waktu senggang. "Duluan ya, pak. Belum sholat asar."



"Hahaha. Dah sana mas, keburu habis entar."



Gue lanjut perjalanan menuju lift. Udah ngga sabar gue vcall an ama Zahra. Rindu berat rasanya.



Ting



Nyampe lantai 10 juga. Gue buka ponsel gue yang sejak berangkat sekolah tadi gue silent. Kok ngga ada pesan sama sekali ya. Apa Zahra masih sibuk. Masa seharian ngga sempat kasih kabar. Sudah lah nanti aja ditanyain.



Pengen lari aja tapi malu jika ada yang lihat.



"Mas Ian."



Tunggu. Kaya ngga asing panggilan itu. "Mas." suaranya juga. Apa dia?



"Mas. Dipanggil kok diam aja." kali ini gue balik badan karena tepukan di pundak gue.



Apa ini mimpi?



Apa rindu bisa menjadikan orang halusinasi?



Apa otak gue kembali eror?



"MAS." eh? Auch. Sakit. "Mas mikirin apa sih." ternyata ngga mimpi coy. Ini beneran dia. Duh sakit banget bekas cubitan gue sendiri. Habis, kirain halusinasi guenya.



"Mas. Ngga bisa napas."



Astaga. Hampir gue mau bunuh bini gue sendiri. Efek rindu berat ini. "Maaf maaf." gue lepas pelukan gue yang katanya terlalu erat.



"Mas kenapa sih. Kok jadi aneh begini."



"Kok kamu bisa disini?"



"Aku juga punya kaki, mas. Aneh deh." tuh kan. Gue sih pakek tanya, tanyanya ngga mutu lagi. Udah jelas jawabannya apa. Pakek tanya segala.



"Hehe maaf, hon. Habis kamu ngga kasih kabar sih."