You are my Destiny

You are my Destiny
Berita aneh



yo, gue Aldrian. biasa dipanggil Aldi, entahlah padahal diantara huruf 'd' sama 'i' masih ada huruf 'r'. suka suka mereka lah. mereka yang kasih gue nama asal tidak yang aneh aneh dan keluar dari nama yang diberi sama ortu gue.



perlu kenalan beneran nih?



oke. oke.


gue anak bungsu cuma dua bersaudara sih. tapi meski punya saudara seakan ngga punya. gue dari kecil tinggal terpisah sama bonyok dan abang gue, intinya gue ngga tinggal sama mereka. lebih jelasnya entar aja ya cerita lengkapnya.



nih gue kasih tau. semalam bokap nyuruh gue datang ke rumah. entah apa yang pengen dia sampaikan kayaknya penting amat. ck amat aja ngga penting. iya kan. hehe maaf maaf, canda doang kok.



demi menghormati beliau ya sudah gue datang aja ke rumah. sudah lama juga gue ngga ngunjungi nyokap gue, manusia tercantik di rumah itu. hehehe wajar aja di rumah adanya cuman kaum adam. bukan karena apa sih, cuman kurang nyaman aja lama lama disana, apalagi sampai tinggal disana.



sudah ya. gue mau masuk dulu. "assalamu'alaikum." kemana semua orang. kenapa pada sepi gini. masuk aja deh, rumah rumah orang tua gue juga.



"sudah datang?"


eh? ngagetin aja nih bokap. gue samperin lah dia buat salaman. kemana Mommy? biasanya beliau selalu lengket sama bokap. mereka itu bisa diibaratkan botol dan tutupnya. "duduklah." perintahnya. menurut lah gue, cuma duduk aja kan.



"mommy kemana?" ck. bukannya jawab malah nyeruput kopi dia. "apa yang mau dad bicarakan?" sopanlah gue, meski gue ngga terlalu akrab sama beliau gitu gitu beliau masih bokap gue.



"bagaimana sekolahmu?"



basa basih nih ceritanya? ngga mungkin kan gue disuruh datang cuma buat ditanya bagaimana sekolahmu?



"Alhamdulillah lancar." jawabku singkat. males aja. "bisa langsung ke intinya aja, Dad. saya masih ada urusan lain."



"kamu ngga pernah beruba." dia meletakkan kopinya. kayaknya mulai serius. "kamu masih ingat dengan Om Kee?" siapa lagi dia. "yang bicara sama kamu pas acara syukuran abang kemarin." kaya cenayang aja nih bokap, tau aja gue lupa.



"hmm."



"kemarin Om Kee datang ke Daddy, dia bilang katanya anak gadisnya menyukai kamu." beritahunya.



siapa yang ngga suka gue?


ganteng? alhamdulillah


pintar? katanya sih gitu


kaya? buktinya gue ngga pernah kekurangan


sosial? gue ketos + ketua tim basket sekolah, apa masih kurang.


royal? begundal kutukupret sering minta traktir gue


supel? lihat dulu sih cewe atao cowo. gue nyante kalao sama cowo, lebih dari saudara malah. tapi kalau cewe, sorry gue rada males nanggepi mereka. kalau dibaikin dikiranya suka, dicuekin katanya sombong. serba repot kan.



"bagaimana?"



"bagaimana apanya?"



"itu. anak om kee."



"lah. cuma suka kan, biarin saja. memang banyak yang suka sama saya. di sekolah saja, hampir semua cewe menyukai saya." sombong dikit ngga apa kan ya.



kudengar bokap kayaknya mendengus deh. hehe pasti dia kesel sama gue. "om Kee minta ke dad supaya memberikan kamu untuk anaknya."



"terima ya, Sayang." sahut Mommy. eh, mommy? baru muncul dia. dari mana aja anaknya daritadi disini ngga buruan disamperin. gue bangkit dan mencium tangan Mommy yang sudah bebas dari barang bawaannya.



"bagaimana?"



"maksudnya apa sih. saya kurang paham."



"ck. katanya pintar." nyindir nih ceritanya. "om kee minta kamu nikah sama anak gadisnya."



eh. nikah?


gue. nikah?



nikah sama anak Om Kee?



no way. apa apaan itu. apa kata dunia gue nikah muda.



"saya menolak." apaan nikah. masih kecil juga. gue juga masih pengen bebas lagian gue masih sekolah kan. apa kata dunia?



"Kenapa? mau ya, demi Mommy." ck mommy juga malah dukung permintaan konyol ini. ngga mikir perasaan anaknya apa.



"kamu masih bisa sekolah. kalau itu yang kamu hawatirkan." sudah tau gue masih sekolah. ada ada saja.



"mau ya, Sayang. cantik lo anak om kee." bujuk Mommy lagi. huh. bukan masalah cantik atau ngga nya, masalahnya gue masih sekolah dan dilihat dari umur juga gue belum ada ijin buat berumah tangga.



oh iya, kan ada abang. "kenapa ngga abang dulu aja sih."



"kan anak om kee sukanya kamu." skak mate. ini yang repot.



"kalau suka harus nikah gitu?" kicep kan. ada ada aja sih. emang suka berarti nikah. quote dari mana itu.



"kalau kamu ngga mau. kamu harus tinggal di rumah ini malam ini juga." ngancam nih mereka.



"mom. mommy tahu kan alasannya saya tidak tinggal disini."



"hiks." kok malah nangis. "kamu ngga tahu. mommy selalu kepikiran sama kamu. mommy ngga bisa tenang. mommy selalu bertanya tanya kamu sudah makan kah, makan apa. lagi dimana. sama siapa. hiks. mommy hawatir sama kamu. hiks."



ada yang bisa kasih saran?



"mom."



"kalau kamu nikah, mommy pasti ngga akan hawatir lagi karna ada yang mengurus kamu. hiks."



"turuti apa kata Mommymu kalau kamu masih mau tinggal disana."



kuhampiri nyokap gue. "mom. sudah ya jangan nangis lagi. aldi akan pikirkan dulu." ucapgue sambil kuusap air matanya yang mengalir. sementara ini biar nyokap berhenti nangis. gue ngga suka lihat wanita mengeluarkan air mata, apalagi wanita yang penting bagi gue.



"hiks. tinggalah malam ini." pintanya.



"Aldi besok ujian." tolakku. gue tahu kalau nyokap pengen bangen gue nginap di rumah ini apalagi tinggal disini. tapi sudah gue katakan kan kalau gue kagak nyaman berada di sini. entahlah mungkin karna sudah lama tidak tinggal disini aja.



"kami tahu kamu ngga belajar juga bisa mengerjakan soal itu. turuti permintaan Mommy mu, kalau ngga bisa bisa dia nangis semalaman." kayaknya hari ini gue harus mengalah sama mereka.



terpaksa deh. "Baiklah tapi besok subuh saya langsung balik ke apartemen."



"kenapa buru buru. kita bisa sarapan bersama sebentar kan."



"Mom." baru dituruti sekali sudah nawar aja.



"Baiklah baiklah. apa daya Mommy yang cuma sebatas Mommy." apa maksudnya lagi. "Mommy mau menyiapkan makan malam dulu." ucapnya dan beranjak dari tempat duduk. "pokoknya kamu harus ikut makan malam bersama malam ini." putusnya. alamat deh pasti nanti ngga bisa makan dengan nyaman. kalau sudah memutuskan sesuatu memang sulit dibantah, itu lah keistimewaan seorang ratu di keluarga.



kayaknya sudah ngga ada yang mau dibahas lagi. "saya mau ke kamar dulu." ijin gue. bokap juga sudah fokus sama ipadnya, ngapain lagi gue disini mending ke kamar buat mandi. sudah lengket juga. sepulang sekolah tadi langsung mampir kesini dan itu pun gue sehabis latihan basket. sengaja sih meski jarak apartemen sama sekolah cuma lima menit pakek motor, biar mereka tahu aja jam segini gue baru pulang sekolah. hehe.