You are my Destiny

You are my Destiny
bini merajuk



"Masa aku kalah sama laptop. Huh." hahaha dari tadi dia gerutu terus. Biarin dulu, takutnya kalau gue respon pekerjaan ini ngga selesai selasai. "Nasib punya madu. Suami lebih sayang madunya lagi." kok geli ya dengernya. Pengen tertawa.



Gue lirik, dia sedang nonton tv tapi wajahnya kaya nahan marah gimana gitu. Pengen gigit jadinya. Aarrgh pekerjaan sialan. Bang Zain juga resek banget. Dah tau ini malam minggu dan bini sedang di rumah, masih aja nyuruh nyelesaiin malam ini juga.



Kemana dia? Mungkin bosen daritadi gue cuekin. Kasihan kasihan kasihan. Sengaja sih, tau sendiri kan darah muda kalau dah terbangkitkan bagaimana, pikir aja sendiri lah.



Astaghfirullah, kirain apa. Ngagetin aja duduk tanpa permisi. Ngga kedengeran langkah dia juga, apa bini gue juga memiliki ilmu meringankan tubuh or punya bakat jadi pengintai. Otak gue kayaknya makin kacau deh.



Kraus.. Cap cap cap.



Berisik banget sih. Gue toleh, dia sedang makan buah. Eh, buah? Kok bisa berisik begitu ya. "Kenapa lihat lihat." heh, marah nih ceritanya. Tapi lucu. Pipinya merah dan mulutnya dimanyun manyunin. Hahaha.



Gue tutup laptop gue, udah selesai juga. Lagian kalau marahnya Zahra dibiarin, bisa bisa entar gue disuruh tidur di sofa ini. Biasanya kalau bini merajuk kan begitu, siapa tahu Zahra kaya bini kebanyakan. Ngga relah gue.



"Makan apa sih."



"Punya mata kan."



"Ngga baik lo hon, ngomong sama suami ketus begitu." lirikan matamu setajam silet, hon. "Maaf deh."



"Ngerasah salah juga." gumamnya. Benar kata Nathan, kakaknya ini kalau merajuk persis bocah. Aisy sama Aran aja kalah. Gue peluk tuh dia, siapa tahu bisa luluh.



"Maaf ya. Tadi urgent, urusan pekerjaan. Maafin ya." gak ada jawaban dari dia, tapi sikap tubuhnya sudah menunjukkan kalau dia sudah baik baik saja.



Merasa suasana sudah kembali nyaman, gue pindah acara tv nya. Mau lihat dua bocah botak kembar yang jahilnya minta ampun. "Kaya bocah aja."



"Jangan salah loh, hon. Gini gini juga sudah bisa bikin bocah." duh aduh. Mukanya merah lagi. Pasti malu. Siapa suruh mancing. Gue ambil mangkuk buah dia dan gue rebahkan kepala gue di pangkuannya. Rasanya nyaman.



"Usil banget mereka. Pantes aja kak ros suka marah. Siapa yang ngga kesel coba punya ade kaya mereka." lucu. Hahaha ternyata bisa baper juga bini gue, padahal katanya ini cuma tontonan bocah loh.



"Pintar loh hon mereka."




"Kenapa?"



"Kalo ade yang kaya mereka sudah ada. Bikin emosi yang ada. Semoga aja anak anak entar ngga kaya mereka." hahaha pasti yang dimaksud Nathan sama Aran. Kalau Aisy kan ngga mungkin.



"Emang kamu sudah siap punya anak?"



Gue lihat dia. Kenapa jadi bengong? Entah apa yang ada dipikirannya. "Hon?"



Dia tersenyum. "Bagaimana dengan kamu sendiri?"



Gue? Hmmm bagaimana ya. Kayaknya dia juga belum siap, dia kan masih sibuk sibuknya kuliah. "Hahaha aku sih nyantai, kamu tahu sendirikan kalau aku masih sekolah. Dan kamu juga masih kuliah. Mungkin dua atau tiga tahun lagi lah." saat itu Zahra sudah lulus kuliah kan? Dan gue juga kemungkinan bisa selesai juga kalau gue ambil aksel.



"Kalau aku hamil bagaimana?"



"Ya ngga bagaimana bagaimana. Lagian ngga mungkin lah sekali nyoba langsung jadi."



"Bisa aja." apa iya? Kalau Zahra ngga nerima bagaimana. Duh ini nih akibat buru buru, jadinya ngga pakek pengaman kan. Tapi Masa iya sekali tanam langsung tumbuh. Ajaib banget bibit gue.



Untung gue ngga jatuh dia berdiri ngga bilang bilang. Kenapa lagi dia? Marah lagi? Gue ada salah kah? Alamat deh gue bakal tidur di sofa beneran malam ini. Mending gue susul. Kayaknya dia di kamar.



"Hon. Kamu marah ya." masih diam aja dia. "Hon. Aku ada salah lagi ya?"



Dia mendesah. Kayaknya gue beneran ada salah deh. Tapi bagian mana? "Ngga ada kok." gue tau senyuman dia dipaksakan. "Hhhoooaamm, saya ngantuk. Boleh saya tidur duluan?" tuh kan beneran marah dia. Hmm payah banget lo Al, bini di rumah baru dua hari sudah marahan aja.



"Ya sudah. Selamat malam." biarkan dia menenangkan diri dulu. Jangan diganggu, biarkan wanita menyendiri sementara waktu jika mereka sedang baper. Itu yang gue dengar dari kakek, entah bener apa ngga.