
Hari ini gue sengaja berdiam diri di rumah. Selain emang ngga ada urusan lain, hari ini juga hari terakhirnya bini di rumah sebelum besok balik ke tanah rantauan lagi. Untung besok tanggal merah jadinya dia lamaan di rumah. Kalau ngga kan hari ini juga sudah balik.
Sejak bangun tadi dia sudah kembali seperti biasa. Dan sampe sekarang gue belum tahu akar sebab kesalnya dia. Kalau pms, itu ngga mungkin buktinya dia tadi sholat subuh.
"Mau keluar?" dia mengeleng. Nurut deh apa mau bini. Anggap aja ini Q-time kami. Kan gue sayang bini, iya ngga. Eh kan kalian ngga tau ya.
"Spada... Anybody home.." ck. Si biang rusuh datang lagi. Ngga tau waktu emang. "Bang. Ade ipar ganteng datang berkunjung lo."
Lama lama kok kesel ya. Aha gue lempar sandal aja. "Auch. Huh. Sadis banget lo bang."
"Masuk rumah itu salam. Lagian siapa yang ngijinin lo masuk."
"Kak Ara." huh nasib nasib punya ade ipar ngga tau diri kaya dia. "Kak lihat. Abang nakalin ade lo."
"Kamu memang pantas digituin. Siapa suruh masuk rumah orang teriak teriak kaya orangutan." hahaha sukurin lo. "Kamu ada perlu apa kesini?"
"Kakak sekarang ngeselin ya. Dulu kan dikit dikit Nathan. Lah sekarang, mentang mentang sudah ada abang."
"Ngga cocok muka lo cemberut gitu." bayangin aja, remaja cowo masang muka bebek. Iihhh bukannya imut tapi amit amit yang ada.
"Ish."
"Pulang sana. Gue mau berduaan sama bini gue. Ganggu aja."
"Tamu itu raja." sudah sadar dirinya tamu. Sok jadi tuan rumah.
"Ngga ada tamu yang modelan kaya kamu. Sono pulang."
"Kakaak." rengeknya. hmmm sabar Al, sabar. Gue tau Zahra ngga akan tega ngusir itu bocah.
"Kamu kesini sendirian?" dasar penjilat. "Kamu ada masalah? Cerita sama kakak." alamat deh gue dicuekin.
"Kartu kredit sama mobilku disita sama Ayah."
Satu kata. "Sukurin." ah gue salah lagi deh. Kenapa juga ini mulut ngga bisa diajak kompromi. Dapat pelototan bini kan. Dan tuh lihat si bocah gede. Huh.
"Kamu bikin ulah apa lagi? Nongkrong kemalaman lagi?"
"Heheh kakak tau aja."
"Kamu juga. Sudah tau batas jam Ayah. Masih aja dilanggar." hahah lucu. "Kamu sekarang mau apa?"
"Kakak memang yang terbaik deh." hmm. "Aku ada barang yang mau dibeli, tapi uang saku yang dikasih Ayah ngga cukup."
"Kamu tau kan de, abang kamu melarang Ayah kasih kaka duit." ini yang gue suka. Lihat muka asem Nathan atas kekalahan dia. Hahaha kapan lagi coba. "Minta abang sendiri aja. Duit kakak juga dari abang kamu." dia mendesah dan cemberut. Persis bocah.
"Abang." lumayan. Dia bisa tahan sepuluh menit. "Bang, abang." dia kira gue apaan.
"Hmm."
"Beliin ya."
"Apa."
"Itu. Sepatu futsal." kirain beli apaan. Tak taunya sepatu futsal. Bener bener bocah ini orang. "Ya ya. Beliin ya. Satu aja."
"Minta kakakmu." kok rasanya kayak negoisasi antara bapak sama anak ya.
"Huh. Sudah tau kaka nyuruh minta abang." gumamnya yang masih gue bisa denger. "Kalau ngga boleh ya udah." cemberut lagi pasti.
"Nih. Sudah pergi sono. Ganggu aja." gue kasih kartu kredit gue biar ngga kelamaan. Bisa bisa telinga gue tuli. "Balikin entar."
"Siap. Abang emang the best deh."
Akhirnya pergi juga. "Kenapa kasih dia kartu kredit kamu. Ngga tau aja dia kalau sudah kalap belanja." huh alamat deh.
"Sudah biarin aja. Ngga mungkin setahun sekali juga."
.
.
.
.
"Ini." dia datang menyuguhi secangkir teh.
"Terima kasih."
Kami saat ini duduk di beranda samping. Di apartemen ini memang ada beranda yang lumayan lah cukup muat untuk love chair dan ini sudah ditambahi Zahra dengan bunga bunga cantik yang entah gue bisa merawat itu bunga atau ngga saat dia pergi.
"Tak terasa ya pernikahan kita sudah jalan dua bulan aja." gue pandangi wajahnya yang juga melihat ke gue. Dia tersenyum. "Bagaimana kesan kamu setelah nikah sama aku."
Dia malu kah? Wajahnya kayaknya ada semburat merahnya. Entah ngga kelihatan jelas, dia nunduk sih.
"Bahagia dan terasa terjaga." jawabnya singkat. Alhamdulillah. "Emmm, bagaimana sama mas sendiri?"
"Sama. Aku juga bahagia. Dan lebih diperhatikan? dianggap? entahlah, kamu sudah tahu kan hidupku sebelum menikah." gue ngga tau, yang gue rasakan bener bener bersyukur akan pernikahan ini.