
Dari pulang sekolah gue dikurung dirumah sama nyokap. Ngga boleh ke apartemen apalagi nongkrong. Katanya sih takut gue kabur lah, takut besok kesiangan lah, takut gue lupa lah, dab bla bla lainnya. Ngga percaya amat sama anak sendiri.
Gue lihat banyak bingkisan di ruang keluarga, ngga tau apa aja isinya. Ngga peduli juga.
"Sayang, akhirnya turun juga. Coba kamu cek apa ini sudah cukup atau masih ada yang kurang." lah, ada ada aja nih nyokap. Mana gue tau ginian.
"Harus segini banyaknya ya, mom." sungguh. Banyak banget loh ini ngga boong gue.
Auch. Malah dicubit.
"Yang mau kamu minta ini anak orang. Kamu kalau minta anak kucing punya orang aja musti kasih barang lain kan." ngga enak amat ilustrasinya. Anak kucing bro.
Kulihat nyokap masih sibuk lagi dan ini juga bibi, daritadi keluar masuk dapur apa ngga cape. Sudahlah. Mending gue nonton carton kesayangan gue. Yups. Si kembar botak. Sumpah comel abis itu bocah dua dan reseknya minta dikasih duit aja deh.
"Ngga tidur, son?"
"Masih sore gini, baru habis isya juga." gue lihat bokap yang juga ngelihatin gue. "Pengen keluar sih tapi mana boleh sama nyonya besar." gue lihat Daddy terkekeh.
"Mau keluar kemana kamu. Sudah malam gini." ck. Dikira gue masih bocah apa. Jam segini malam. Secara, Jakarta broo. Makin malam makin rame. Iya ngga? "Sayang. Besok itu langsung nentuin tanggal apa bagaimana?" cih. Ngga tau tempat mereka mesra mesraan didepan anak mereka sendiri. Pakek gelanyutan lagi. Kaya monyet aja. Ops, sorry mom.
"Ngga tahu deh, Hon. Keenan juga ngga bilang apa apa." duh bokap emang the best deh. Panutan banget pokoknya. Apa gue bisa begitu juga sama bini gue entar.
Eh?
Kok jadi ngelantur kesana.
Kayaknya beneran eror deh ini otak.
.
.
.
Kok ngga bisa tidur ya. Padahal sudah ganti posisi pualing wenak lo.
Tok Tok Tok
Hmm siapa sih. Ganggu aja.
"Al. Bangun, nak. Sudah ditunggu Daddy sama abang di ruang makan."
Ruang makan?
Berarti sudah pagi dong.
Astaghfirullah. Gue belum sholat subuh.
"Iya, mom." cukup wudhu dan sholat. Keburu mereka nungguin gue lama. Ngga apa kan sholat jam segini. Kesiangan ini, ngga disengaja.
Skip
"Pagi." salam gue, cukup memberitahu kehadiran gue aja.
"Pasti ngga bisa tidur." cibirnya. Gue tau kalau bokap sangat senang jika gue sengsara kaya gini. "Al, Al. Masih mau lamar anak orang. Sudah dekil gitu, gimana entar kalau halalin dia. Makin dekil deh. Hahaha." tuh tuh lihat kan. Kok ada ya bokap bahagia diatas penderitaan anaknya sendiri.
"Sudah. Sarapan dulu."
Kami makan dengan khidmat. Ada peraturan tidak tertulis kalau makan ngga boleh ngomong. Demi menghormani makanan katanya, juga biar bisa meningmati hidangan yang dimakan.
"Dad." eh baru sadar ada abang. Efek ngantuk ini pasti. "Dad belum transfer bian ya."
"Iya. Kemarin pada sibuk. Kemungkinan nanti dad nyuruh asisten Daddy."
"Iya. Punya ademu juga belum." gue ngga salah dengar kan kalau abang mendengus. Ck, segitu ngga sukanya kah dia sama gue.
"Bian tunggu, dad." ck. Ngga sopan amat. "Mom, Bian berangkat." eh baru sadar kalau dia sudah rapi aja. Ck, segitu ya kelakuan anak emas keluarga ini sekaligus cucu kebanggaan keluarga Sahil.
Gue lihat bokap sama nyokap nyantai amat. "Abang ngga ikut ya, mom." gue sudah tau jawaban pastinya, cuma mau tau bagaimana mereka jaga imeg anak emas mereka aja.
Mommy tersenyum seakan tidak penting. "Abang kebagian jaga pagi hari ini, dan siang nanti katanya ada perlu dikampus." alasan aja. Hari ahad gini ngapain dia ke kampus. "Kamu ngga apa kan, abang pasti datang saat nikahmu nanti." ngga percaya gue.
"Oh. Abang pasti sibuk banget ya."
"Namanya juga calon dokter besar." sahut Daddy. Gue tahu kok bagaimana bangganya mereka terhadap abang. Apalah gue yang cuma anak biasa, meski sering menang olimpiade juga bintang pelajar setiap tahun, pasti belum ada apa apanya sama abang dimata mereka.
"Mandi sana, biar ngga terlalu siang kita berangkatnya." perintah nyokap.
.
.
.
Ternyata rame juga ya. Gue kira cuma ada om kee dan istri serta anak anaknya. Ngga gue sangkah keluarga besar mereka semuanya pada kumpul. Jadi ingat pas masih di Surabaya dulu.
"Maksud kedatangan kami kesini berniat meminang ananda Azzahra putra sahabat saya keenan untuk anak bungsu kami. Aldrian."
"Terima kasih atas niat mulia kalian. Kami sepakat akan menyerahkan keputusan pada ananda karena dia yang akan menjalaninya nanti." jawab sang kakek, yang ngga gue tau namanya. Mungkin beliau kakek dari kak Zahra. "Bagaimana, nak Zahra?" dia masih nunduk aja. Apa dia malu? "Nak?"
Eemm kungkin ini kesempatan gue ngomong. "Ehem." duh kenapa malah deheman sih yang keluar. Malu kan. "Maaf. Saya mau bicara sedikit, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan kak Zahra sebelum memberi keputusan." ada yang lucu ya. Kenapa mereka pada nahan tawa.
"Silahkan, nak Aldrian."
Gue berpaping menghadap Om kee. "Emm, om. Aldi punya dua permintaan terhadap Om jika kak Zahra menerima pinangan saya." lah mereka nahan tawa lagi. Ada yang lucu ya sama ucapan gue. Bingung gue.
"Silahkan. Dan maafkan keluarga kami. Mungkin mereka merasa lucu mendengar kamu memanggil calon istrimu dengan panggilan kakak."
Oh. Duh, salah ya gue. "Hehe, maaf om. Habis kak Zahra lebih tua sih." duh inj mulut. Malah diketawain kan. "Ehem." serius. "Begini om, saya minta ijin membawa anak om tinggal sama saya sehabis nikah nanti." gue lihat om kee mengangguk. "Yang ke dua, saya berniat mengambil tanggung jawab Om kee sepenuhnya terhadap anak om. Itu saja."
"Om tahu maksud kamu. Membawa Zahra, itu sudah hak kamu. Tapi untuk mengambil tanggung jawab om, tunggu kamu selesai kuliah dulu ya. Kamu cukup fokus sama sekolah kamu dulu, setelah itu kamu kerja baru om serahkan sepenuhnya."
"Saya tahu, saya memang masih sekolah tapi saya juga sudah bekerja. Dan insyaAllah penghasilan saya cukup buat kebutuhaan kami juga sekolah kami."
"Kamu kerja,son./kamu kerja, nak?" gue tahu, mommy sama Daddy pasti kaget.
Gue mengangguk. "Maaf, mom, dad. Aku cuma mau belajar mandiri."
"Nak Aldi, kamu tahukan kalau Zahra kuliah kedokteran. Kamu juga tahu pastinya besarnya kuliah kedokteran." gue kembali mengangguk.
"Sungguh mulia niat kamu, Nak." entah ini pujian atau apa, gue cuma menjawab dengan anggukan kepala. "Kalau saran Ayah, kasih nak Aldrian kesempatan menjalankan tanggung jawab dia. Cukup kalian pantau. Kalau kalian sudah berani menikahkan mereka, berarti kalian sudah yakin kalau mereka mampu." ini gue setuju. Enak aja mau ikut campur kehidupan rumah tangga gue. "Bagaimana, nak Zahra. Kamu sudah dengar sendiri kan yang diomongkan Nak Aldrian?"
Aksi gue sudah cukup, semua keputusan ada di dia. Kalau terima ya ayo, kalau ngga ya Alhamdulillah. Artinya gue masih bisa bebas dan ngga perlu repot mengurus anak orang.
"Alhamdulillah."
Eh?
Gue lihat mereka tersenyum lega. Diterima ya?