You are my Destiny

You are my Destiny
06 ~ Nikah coyy



Loh kok masih pada sibuk sih. Bukannya acara sudah selesai?



Gue sejak mereka mulai membicarakan tanggal pernikahan gue sibuk membalas chat dari begundal kutu kupret jadi ngga tahu keputusannya. Gue juga ngga peduli, terserah mereka ujung ujungnya juga menikah. Ngga masalah kapan itu waktunya.



"Hai, bang."



"Hai." balas gue. Kayaknya dia seumuran gue deh. "Eh, mereka pada ngapain sih. Kayaknya sibuk amat."



"Oh, mereka pada siap siap." jawabnya singkat. "Lo beneran masih sekolah ya. Dimana, kelas berapa? Kayaknya kita seumuran." kepo juga ternyata dia.



"Gue kelas 12 di JIS. Kalau lu?"



"Akhirnya gue punya abang juga. Kenalin, bang. Gue Nathan, ade Zahra. Gue masih kelas 10 di Sma garuda." jawabnya. "Kapan kapan kita mabar ya, bang."



"Sekarang aja. Ada papG kan?"



"Ada lah. Yok main di kamar gue aja bang biar bebas." gue iyain lah. Daritadi gue pengen main tapi ngeselinnya ngga ada yang diajak main. Lagian disini bising, ngga enak kalau mereka pada sibuk dan kita malah enak enakan main game.



.


.


.



"Bang Nathan. Dipanggil Bunda." beritahu bocah cewe yang main nyelonong masuk aja. Mungkin adenya



"Ck. Ngga tau orang lagi main apa." hahaha kasihan.



"Sudah sana dulu. Siapa tau penting." usir gue. Ngantuk juga ya, mending gue tidur sebentar ngga apa kan.



"Bang. Bangun." kaya ada yang manggil.



Hmm. "Akhirnya bangun juga."



"Ck. Ganggu aja. Baru aja gue merem."



"Lah. Jan tidur lagi. Dah ditungguin itu di bawah."



"Ngapain." terpaksa deh gue bangun. Duh pusing lagi.



"Lihat aja sendiri." tukasnya. Ya udah deh gue turun. "Duluan aja, entar gue nyusul." sudah lah. Mungkin bokap ngajak pulang.



"Akhirnya datang juga." kenapa Mommy hawatir begitu. "Ayo. Sudah ditunggu." kaya anak kecil aja diseret kaya gini.



Loh kok rame banget. Opah Omah kok disini? Kapan datang. Eh, kok disini semua keluarga besar gue.



"Mom. Kok mereka,-."



"Duduk samping Daddy sana." perintahnya. Gue ngga paham. Daddy juga kenapa duduk di tengah tengah begitu. Ya udah deh mungkin emang tradisinya begini.



"Dad." maksud untung bertanya eh malah disenyumin.



"Sudah siap, mas?" tanya bapak yang ngga gue tahu siapa namanya.



"Eh, siap buat apa ya?"




"Iya. Benar kok, pak." jawab Daddy. "Kamu ngga dengerin tadi?" gue menggeleng dan kulihat bokap melihatku pengen nyekik.



Om kee tertawa. "Kamu ini, Al. Bisa aja. Sudah lah, Bim. Aldinya juga sudah di sini." kudengar Daddy mendengus dan melihatku seakan bilang 'jangan bikin malu daddy'.



"Maaf om."



"Ngga apa. Kita lanjutkan pak." ucap Om kee. "Kamu pegang tangan om dan ikuti kata kata om, oke. Kamu udah pernah lihat atau dengar orang akad nikah kan?" gue menggeleng. Jujur, seumur umur gue ngga pernah lihat orang ijab qobul. Pernahnya hadirin resepsi aja.



"Sebantar, pak." selah Daddy. "Dengerin daddy. Nanti setelah om kee ngomong, kamu jawab dengan......paham?" gue mengangguk.



"Bagaimana, Al. Sudah bisa?" gue mengangguk. Duh deg deg an bro. Gue mau halalin anak orang ini. Emang gue tadi bilang kapan aja terserah tapi ngga hari ini juga kali. "Dengerin om ya." gue kembali mengangguk. "Saya nikahkan.......dibayar tunai."



Bismillah. "Saya terima nikah dan kawinnya Azzahra Fathan Ahmad bin Keenan Ahmad dengan mas kawin tersebut tunai."



"Bagaimana saksi, sah?"



"SAH."



"Alhamdulillah." lemas rasanya. Juga ringan seakan beban yang menimpah gue tadi diangkat begitu saja.



Gue dengan khidmat mendengar dan mengamini doa yang dibacakan bapak penghulu, kalau gue ngga salah. Gue juga ngga tahu kedudukan beliau. Setelah baca doa, beliau menanda tangani lembaran kembaran dan menyuruh gue tanda tangan juga.



"Geseran, Sayang." Mommy ini bikin kaget aja. Eh, kok? Zahra ya.



"Tanda tangan disini dulu, nak Zahra." gue lihat tangannya digambari dengan bunga bunga cantik warnah silver. Tangannya putih bersih.



Ck. Gue kok jadi begini sih.



"Salim sama suamimu, nak." suami ya? Sebutan itu masih asing buat gue.



"Assalamu'alaikum, mas." salam dia, mengambil tanganku dan dibawa kebibirnya.



"Balas Cium keningnya" bisik daddy. Harus ya.



"Wa'alaikumussala." gue cium kening dia. Kaya ada getaran getaran aneh gitu.



Semoga ini awal dari kehidupan kami dan gue bisa menjadi imam buat keluarga gue. Aamiin.



Gue lepas ciuman gue. Dia masih menunduk jadi gue ngga tahu bagaimana wajahnya saat ini.



"Selamat ya, Sayang. Semoga mawaddah wa rahma. Langgeng sampe akhir hayat."



"Terima kasih, mom."



Dan kami mendapat ucapan selamat dari semua tamu yang emang cuma keluarga besar juga tetangga sebelah rumah Zahra.



"Bang. Pesen keponakan yang comel comel ya." teriak Nathan yang kulihat ada lantai atas. Bangsat itu bocah bikin malu aja. Dia juga tahu kan gue masih sekolah.