
Sudah kebiasaan gue bangun jam 3. Cuman kemarin aja yang sampe kesiangan mungkin karena cape ngga bisa tidur semalaman.
Gue lihat sisi kanan gue yang ditiduri Zahra. Dia masih terlelap, mungkin dia kecapean seharian kemarin. Gue beranjak dan mandi sebentar sebelum sholat tahajut.
Untung di rumah ini ada tempat sholat jadinya gue ngga perlu ganggu tidur Zahra. Sambil menunggu sholat subuh, gue membaca Alquran.
.
.
.
Meski kota metropilitan, kalau pagi gini udarahnya juga masih segar.
Gue kembali ke rumah mertua berniat berganti baju buat lari pagi. Saat membuka kamar ternyata Zahra masih terlelap padahal gue sudah pulang dari masjid loh ini.
Ganti baju dulu baru bangunin dia. "Ra." gue goyang tuh bahu dia.
Nnngghhh
Nih orang. Malah ganti posisi. "Zahra. Ra." ganti gue tepuk pipinya. Matanya mengerjap masih 10% sadar. "Bangun dulu. Sudah subuh." eh, bujuk buneng. main duduk aja. Kaget tau. Ck, belum sadar bener nih orang kayaknya. Tapi lucu lihat dia yang kaya bingung gitu. "Saya keluar sebentar. Kamu sholat sana, sudah subuh dari tadi."
Skip
Sepulang dari lari pagi, gue mendapati Aisy sedang membaca buku sambil sesekali ngawasin Aran yang sedang main bola. "Baca apa Ai?"
"Eh, abang. Ini baca buku sains, nanti ulangan tapi semalam lupa ngga belajar."
"Pintarnya. Bang Nathan belum bangun?"
"Bang Nathan bangunnya jam tujuh kurang."
"Emang ngga sekolah?"
"Sekolah. Suka telat dia." kasih contoh ngga benar itu bocah. "Aran. Jangan jauh jauh."
"Kamu lanjut baca aja, biar abang yang jaga Aran." dia mengangguk. "Main sama abang ya."
Ini pengalaman baru bagi gue. Main sama balita dan mengajari Aisy jika ada materi yang tidak ia tau. Keramaian disini berhasil mewarnai hidup gue yang cuma ada punya dua warna hitam dan putih.
"Ayo sarapan." panggil Bunda.
"Dendon ban Al." hahaha masih cadel aja. Wajar sih masih tiga tahun juga. "Nanti main ladi ya, ban."
"Siap. Tapi Aran harus makan yang banyak dulu ya biar nanti mainnya bisa lama. Oke?"
"Ote."
"Pinter ade, abang. Kasih kiss dulu dong."
"He Aran jelek." cari masalah ini orang.
"Huuaaaa... Unndaa..." ck. Nangis deh jadinya. Gue pelototin malah nyengir.
"Cup cup cup." gimana cara cepat nenangin bocah sih. "Hei, jagoan ngga boleh nangis. Nanti gantengnya ilang lo. Aran kan ganteng ngga kaya bang Nathan yang jelek."
"Jangan nangis lagi ya. Kan yang jelek abang Nathan."
"Ban Atan delek. Alan danten. Weeekkk." hahahaa... Mampus lu.
"Sudah berantemnya, yok sarapan dulu." lerai Bunda. "Sama Bunda ya, Sayang."
"Aran jelek, nangisan." masih godain juga.
"Ban Atan delek, alan danten. Alan dak nanitan. Weekk."
.
.
.
"Jadi pindah sekarang?"
"Iya, Ayah. Biar Zahra tahu tempat tinggalku dulu, takutnya ngga sesuai sama selerahnya jadi nanti aku bisa cari rumah atau apartemen lain."
"Ayah serahkan anak Ayah sama kamu. Tolong jaga dan sayangi dia ya."
"Baik, Ayah."
Sebelumnya gue sudah pesan taksi online biar ngga merepotkan orang rumah.
"Barang sudah dimasukkan semua, mas."
"Terima kasih, pak." gue pamit sama Ayah dan Bunda karena cuma ada mereka. "Yah, Bun. Kami berangkat."
"Sebelum ke Bandung, mampir kesini dulu ya." gue mengangguk.
Selama perjalan, bini gue cuman diam aja. "Kenapa diam saja?" dia menggeleng. Mungkin dia masih canggung.
Ngga perlu waktu lama kami sudah nyampe. Emang ngga jauh jaraknya. "Ayo." kuserahkan semua barang pada petugas yang ada. "Disini tempat tinggal saya. Tepatnya di lantai 10, nomor 14." beritahuku.
Skip
"Maaf berantakan. Saya tidak tahu kalau kemarin langsung nikah jadi belum saya rapikan." kenapa dia diam saja sih. Gue kan jadi ngga tahu yang dia pikirkan. "Katakan sesuatu."
"Sejak kapan mas tinggal disini?"
"Baru dua tahun. Bagaimana menurut kamu, apa kamu suka? Atau apa kamu mau pinda?"
"Saya rasa cukup."
"Memang tak seberapa tempat ini, tapi disini saya mengawali hari saya sejak pindah ke Jakarta. Mari saya perlihatkan kamar kita." ajak gue. "Ruang tamu disini merangkap sama ruang santai, KM cuma ada 1 dekat dapur. dapur merangkap sama ruang makan, sebenarnya kamarnya ada dua tapi yang satu saya gunakan untuk ruang belajar saya. Dan ini kamar tidur kita." gue perhatikan Zahra memerhatikan kondisi apartemen ini. "Peralatan di dapur tidak selengkap di rumah tapi cukup lengkap hanya untuk memasak yang ringan ringan. Kamu bisa menambah kalau mau. mesin cuci ada di belakang sekaligus jemurannya." sudah cocok kayaknya gue jadi SPB properti.
"Ini lebih dari cukup. Lagian baru ada kita." ini kode kah?