Will Be Mine

Will Be Mine
Nine



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Lorong sekolah pagi ini dipenuhi oleh siswa dan siswi yang sedang asyik bercengkrama dan nongkrong sambil bermain gitar.


Seorang gadis dengan seragam berbeda memasuki koridor, berjalan di antara kerumunan di lorong sekolah dengan senyum angkuhnya.


Banyak pasang mata menatap gadis itu, bisikan terdengar jelas di telinganya. Banyak pujian yang mengatakan dia sangat cantik membuat senyum di wajahnya semakin lebar.


Dia merapihkan rambutnya lalu menyelipkannya ke belakang telinga, seraya berjalan dengan langkah pelan.


"Gila sih, itu anak baru yang di gosipin satu sekolah?" ucap salah satu siswa yang melihat kecantikan anak baru itu.


"Serius dia junior kita?" tanya yang lainnya.


"Cantik banget gila!"


Banyak sautan lain, baik dari perempuan ataupun laki laki banyak yang mengagumi kecantikannya.


Ale baru memasuki sekolahnya diikuti keempat temannya, mereka janjian untuk berangkat bersama pagi ini.


Kelima motor sport itu diparkir berjejer dengan rapi. Pandangan seluruh siswi teralihkan oleh kehadiran mereka.


Ale berjalan di lorong sekolah mempimpin teman-temannya.


Wajah datar dan tatapan tajamnya menjadi ciri khas seorang Ale. Sebuah suara asing menghentikan langkahnya.


"Bang Ale!" pekikan suara dari gadis yang baru saja menjadi pusat perhatian.


Ale menatap gadis yang memanggilnya dan kini sudah berdiri di hadapannya. Menaikan sebelah alisnya.


"Kenalin" ucap gadis itu dengan senyum cerahnya.


Ale menatap tangan gadis itu yang diulurkan kepadanya tanpa minat.


"Gue Cika, anak baru junior disini dan baru pindah hari ini" ucapnya masih dengan senyumannya.


"Guntur" ucap Guntur membalas uluran tangan Cika yang masih menggantung tidak disambut Ale.


Cika berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman Guntur sangat kencang.


"Asli gosip itu beneran ternyata! Lo cantik banget Cika" ucap Guntur memuji.


Cika hanya tersenyum kikuk ke arah Guntur lalu matanya kembali menatap Ale.


Kebetulan yang sangat disambut baik oleh Ale, Dinda berjalan dari ujung koridor kearahnya dengan earphone di telinganya.


Dengan jahil Ale melepas salah satu earphone di telinga Dinda mebuat Dinda berhenti tepat di samping Ale dan menoleh.


"Pagi nona" sapa Ale ramah.


Dinda menatap sekeliling, dia melihat banyak pasang mata menatap ke arahnya. Dengan segera Dinda mengambil earphon yang dipegang Ale dan berjalan cepat menjauhi Ale.


"Hahahhaa si bos dikacangin" pekik Milo tertawa puas.


Ale tidak menggubris dan berusaha mengejar Dinda. Mengabaikan Cika yang menatapnya kesal.


Tian masih memeperhatikan gerak gerik Cika yang menurutnya aneh.


Tanpa berucap apapun Tian memilih pergi menyusul Ale.


"Dadah dedek Cika!" ucap Guntur lalu ngacir menyusul teman-temannya.


"Gue Baim" ucap Baim yang berjalan paling terakhir dengan senyuman mautnya.


Cika hanya mengangguk dan tidak perduli, dia pergi begitu saja mengabaikan Baim yang menganga tidak percaya, untuk pertama kalinya dia diabaikan seorang gadis.


Milo tertawa puas, dia sangat senang pagi ini mendapat dua hiburan sekaligus. Milo menepuk bahu Bain memberikan kekuatan agar bisa tabah menghadapi cobaan sambil tertawa lalu berlari meninggalkan Baim yang masih merasa sakit hati.


"Kenapa sih Lo?" tanya Gista heran melihat Milo yang memasuki kelas sambil tertawa kencang.


Milo terus tertawa hingga dia duduk di bangkunya.


"Sarap ni orang!" ketus Ririn.


"Kesurupan kali dia Rin" ucap Gista horor.


"Enak aja! Gak lah gue sehat!" keluh Milo yang sudah meredakan tawanya walau masih terkekeh karena otaknya terus mengingat kejadian di lorong.


"Gue salut sama lo Din. Disaat cewek pada ngantri buat dapet perhatian si Bos, lo dengan entengnya nyuekin dia! Hahahhaha lo gak liat komuknya tadi!" ucap Milo yang kembali tertawa.


Ririn dan Helen menatap Dinda meminta penjelasan dari ucapan Milo. Dinda menghembuskan nafasnya dan menceritakan kejadian yang dialaminya


Keduanya tertawa bersama Milo sedangkan Helen hanya terkekeh. Seisi kelas menatap mereka bertiga aneh.


...🌻...


"Burung perkutut, Burung Tetukur" ucap Guntur memberikan pantun.


"Eaaaaa" saut Milo juga Baim.


"Terbang anaknya menuju dapur"


"Ngapain Tur masuk dapur?" tanya Milo


"Kentut meluncur harus bersyukur, walau aromanya berbau kapur" ucap Guntur bersamaan dengan suara kentut yang kencang melegakan perutnya.


"Iiihhh Guntur jorok banget siih" keluhan berbagai pengunjung kantin.


"Bauu astaga" pekik Milo.


"Jorok kampret" ucap Baim sambil tertawa.


"Bodo ah! Kata dokter kalo kentut di tahan nanti jadi penyakit" ucap Guntur.


"Tapi lo liat tempat jugalah!" keluh Milo.


Guntur mengipasi udara ke arah Milo membuat milo kesal dan melempar batu es melalui sedotan kepada Guntur.


"Lo lebih jorok ES MILO!" ketus Guntur.


"Kok lo ngeledek gue?" kesal Milo.


"Nama lo kocak bege" ucap Guntur terkekeh.


"Baiiimmmm sayaaaaaang, nanti malam jadikan?" suara centil Moza anak kelas XI IPS 4 merebut perhatian seisi kantin.


Moza menghampiri meja Baim dimana anak anak Galaksi berada. Duduk di samping Baim seraya mengapit tangan Baim dan bergelayut manja.


Akhir akhir ini, Baim dan Moza terlihat dekat. Mungkin mereka sudah pacaran. Namanya juga Playboy cap kadal, pacaran sehari dua hari lalu putus begitu saja.


Terkadang, Baim sering meminjam akun sosmed Guntur dan Milo untuk men DM pacar pacarnya atau berkenalan dengan perempuan di sosmed.


Pada saat mereka bersama mengajak ketemuan, Guntur dan Milo yang kalang kabut sendiri.


"Jadi dong" ucap Baim manis sambil merapikan anak rambut di wajah cantik Moza.


"Nanti ijin dulu sama ortu aku ya"


Milo tertawa "Dia mana berani Za. Cap doang Playboy kalo disuruh ketemu ortu paling kabur. Badan doang gede tapi nyalinya gak ada"


"Berengsek lo Mil!" Baim tertawa mendengar penuturan Milo yang sangat benar.


"Yaudah, aku kesini cuma mau bilang itu. Dadaaah Baim" lambaian jari lentik Moza membuat hati Baim berdesir karena perempuan iru sempat menyentuh pipinya hingga membuat Baim dimabuk cinta.


"Pas olahraga bareng kelas dia minggu lalu"


"Anjiirr gercep banget lo!" keluh Guntur.


"Santai aja kali, gue juga ga serius sama dia tapi sebelum udahan ajak jalan dululah" ucap Baim lagi.


"Sukak ni gue ama abang Baim" ucap Guntur memberi jempol.


"Ketulah baru tau rasa lo!" ucap Milo berharap sahabatnya tobat bermain hati perempuan.


"Dia yang deketin gue duluan pas olahraga terus minta nomor gue ya gue kasih lah orang cakep lagian gue gak akan macem macem bro masih dalam batas wajar" ucap Baim membela diri.


"Tapi gue sempet denger dia sukanya sama Tian" ucap Guntur seraya menatap Tian yang juga menatap Guntur.


"Astaga Tian! Gue yang cowok aja meleleh ditatap gitu sama lo apalagi cewek baaaaangggg" ucap Guntur seraya mengelus dada.


"Gue normal" ketus Tian mendelik.


"Ya bodo, dia yang deketin gue duluan ini" ucap Baim tidak perduli karena dia hanya ingin main-main.


Ale hanya menyimak obrolan mereka, dia tidak akan ikut campur selagi semua sahabatnya tidak keterlaluan.


...🌻...


Bel pulang berbunyi, beberapa murid memilih tetap tinggal di kelas karena akan menjalani ekstra kulikuler.


Begitupun dengan Dinda, Ririn, Gista dan Helen.


"Udah lumayan sepi tuh! Ayo ke ruang ganti, gue gak mau kena hukum lagi" ucap Gista.


"Gass lah" ucap Ririn.


Mereka berempat memasuki ruang ganti yang masih cukup penuh, walau setiap murid diberi loker pribadi tetap saja jika sebanyak ini berkumpul di satu tempat pasti akan terasa sesak.


"Gila penuh amat si" ucap Ririn.


"Hari ini ada pemilihan tim kan? Jadi semua datang lah mulai dari kelas satu sampe kelas tiga" ucap Gista.


"Oh iya tanding sama SMA Bronzess" ucap Ririn sambil menepuk dahinya karena lupa.


"Yaudah kita harus maksimal hari ini kalo mau ikut tanding nanti" ucap Dinda menyemangati.


"Helen" panggil Dinda seraya menyerahkan Head ban kepada Helen. Helen mengambilnya tak lupa dengan senyum yang jarang sekali dia perlihatkan.


"Thanks" ucapnua, Dinda mengangguk lalu keduanya keluar ruang ganti menuju lapangan menyusul Ririn dan Gista yang sudah keluar lebih dulu.


Di lapangan sangat ramai, murid yang mengikuti ekskul basket semuanya hadir dari yang biasanya tidak pernah datang ataupun jarang ikut latihan dan yang paling rajin.


"Sebelum memulai latihan, berdoa terlebih dahulu dan lakukan pemanasan setelah itu lari keliling lapangan seperti biasa jika sudah selesai kembali berkumpul karena gue mau ngumumin sesuatu" ucap Vio memberi instruksi kepada tim perempuan dan laki-laki.


Mereka melakukan semua sesuai instruksi pelatih, keringat sudah bercucuran bahkan jersey yang dipakai mereka sudah basah oleh keringat.


Ale memperhatikan Dinda yang sedang duduk selonjoran di pinggir lapangan bersama teman-temannya.


Ingin rasanya dia mendekatinya dan menyeka semua keringat yang ada di wajahnya.


"Diliatin mulu bos!" ucap Guntur membuyarkan Ale.


"Doi gak akan kemana mana kok"


Seorang adik kelas, tepatnya laki-laki menghampiri Dinda dan memberikan sebotol air mineral kepadanya. Dinda dengan senang hati menerimnya.


Semua itu tidak luput dari penghilatan Ale. Kini Guntur bergerak mundur karena tahu Ale sedang menahan kekesalannya karena Guntur juga melihat apa yang juniornya lakukan.


"Semuanya kumpul!" perintah Vio menggunakan megaphone dan ada Saga di sampingnya.


Seketika semuanya berkumpul berbaris dengan rapi.


Tiang, sang kapten laki-laki berdiri di samping Saga begitupun dengan Lady, kapten basket perempuan anak kelas tiga yang belum menyerahkan jabatannya karena belum menemukan kandidat.


"Untuk latihan kali ini gue sengaja minta kapten kalian buat minta semuanya kumpul"


"Pertama, gue mau minta maaf kalo gue banyak ngelakuin kesalahan sama kalian" perkataan itu membuat semuanya berspekulasi dan memiliki perasaan tidak enak.


"Kedua, ini adalah hari terakhir gue buat ngelatih kalian" ucap Vio membuat Tim perempuan terkejut begitupun dengan Gista yang notabennya sepupu Vio tidak tahu perihal berita ini.


"Untuk tim cewek, kalian akan dilatih oleh Saga, pelatihan tim cowok sama cewek akan di gabung mulai besok"


"Ketiga, Sebelum gue pergi gue mau kapten tim cewek nyerahin jabatannya karena kelas tiga udah gak boleh ikut tanding dan harus fokus belajar. Gue mau tau siapa yang akan jadi kapten selanjutnya setelah Lady"


"Keempat! Gue mau bentuk tim dan pilih nama untuk pertandingan persahabatan melawan tim SMA Bronzess!"


Lady maju ke depan menggantikan Vio. Dia menatap satu persatu timnya.


"Gue mau minta maaf jika kalian dalam kepemimpinan gue ada yang gak suka atau merasa sakit hati karen ucapan gue yang selalu nyakitin. Gue cuma mau bentuk tim ini jadi makin kuat bukan lemah makannya gue suka keras sama kalian terutama buat lo Dinda" Lady menatap Dinda lekat, Dinda yang di tatap sangat malu karena kini perhatian semua orang tertuju kepadanya.


"Gue mau minta maaf sama lo, suka jailin lo, suka ngatain lo rakyat jelata yang gak pantes ada di tengah tengah kita tapi kak Vio selalu ingetin dan ngajarin gue supaya bisa bersikap adil kepada siapapun itu dan tanpa melihat status mereka" Lady tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya


"Lo berjasa banyak buat tim kita, kalo gak ada lo tim kita gak akan bisa menang berturut turut dalam pertandingan tingkat nasional"


Ucapan Lady terlalu di besar besarkan menurut Dinda.


"Gue mau nyerahin jabatan ini ke lo Dinda Clarissa Putri anak XI IPA 1" ucap Lady dengan lantang.


Gista sudah bertepuk tangan heboh. Ririn dan Helen tersenyum bangga kepada sahabatnya.


Guntur dan Milo sudah bersiul, Ale bertepuk tangan begitupun dengan Tian dan Baim diikuti yang lainnya.


Beberapa orang dari tim perempuan tidak suka mendengarnya karena bagaimanapun mereka tidak akan pernah tunduk pada kaum rakyat jelata seperti Dinda.


Lady menyuruh Dinda untuk maju ke depan. Dinda berjalan dengan gugup. Pertama kalinya dia harus berdiri di depan untuk berpidato.


"Gue ucapin makasih buat kak Lady juga kak Vio udah percaya sama gue buat jadi kapten tim ini. Gue akan berusaha semampu gue buat bisa jadiin tim kita juara untuk kesekian kalinya" ucap Dinda dengan lugas.


Tepuk tangan kembali terdengar, Dinda berdiri di samping Tian yang kini menunduk menatapnya sambil tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.


Dinda, untuk pertama kalinya melihat senyum di wajah Tian terpana. Ale melihat tidak suka kepada Tian juga Dinda yang saling bertatapan.


"Gila si Dinda baru di angkat jadi kapten udah tebar pesona aja sama si Tian" ucap Revan yang berdiri tidak jauh di depan Ale.


"Kemaren sama Ale sekarang sama Tian cabe juga tuh cewek digilir sama anak Galaksi" ucap teman Revan membuat Revan bertos ria dengan temannya menyetujui ucapannya.


Ale tidak bisa menahan emosinya jika sudah menyangkut Dinda. Dia melepas sepatu basketnya sebelah dan dilemparkan ke arah Revan tepat mengenai kepalanya.


Revan melihat sepatu yang terjatuh di dekat kakinya, dia menoleh mencari siapa pelakunya.


Ale berdiri dengan wajah datarnya, menatap Revan seraya menaikan sebelah alisnya. Memberi tahu jika dialah pelakunya.


"Bangsat! Apa mau lo?" teriak Revan membuat semua perhatian tertuju kepadanya.


Revan menghampiri Ale dan melempar sepatu milik Ale ke dadanya.


"Gue heran sama lo Van! Lo cewek apa cowok si?" tanya Guntur yang juga ikut kesal mendengarnya.


"Apa maksud lo?" teriak Revan lagi.


"Mending lo cabut dah dari tim ini!" ketus Baim.


"Apa hak lo nyuruh gue cabut?"


"Lo rusuh! Mulut di jaga bisa? Lo kan sekolah, malu maluin kaum cowok lo!" ungkap Milo.


Ketiga lelaki itu berdiri dihadapan Ale, membentengi Ale agar Revan dan Ale tidak adu jotos.


Dinda menatap khawatir ke arah Ale, Ale menangkap ke khawatiran Dinda. Dia segera menjauh dan tidak meladeni Revan.


"Banci!" teriak Revan.