
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Sorry" ucap Baim ketika Ale, Tian dan Guntur memasuki kelas keesokan harinya.
"Bukan ke kita lo harus minta maaf tapi ke Gista yang udah lo bentak bentak" ucap Tian.
Baim menyadari kesalahannya, dia berniat meminta maaf kepada Gista tapi sejak pagi dia ingin menghampiri Gista, Gista selalu menjauh dan pura-pura tidak melihat.
"Soal ucapan Moza kemaren....." ucap Baim menggantung kepada Ale.
"Gak usah lo pikirin, bukan salah lo! Cewek lo emang gak suka sama cewek gue" ucap Ale datar.
"Udah gue putusin tuh cewek setelah gue nganter dia balik kemaren" ucap Baim.
"Lagian lo tumbenan pacaran lebih dari seminggu ama cewek?" tanya Guntur heran.
"Gue juga gak tau! Niat gue, mau gue putusin lusa karena hari ini dia ulang tahun" Baim terkekeh.
"Itu ebih gila lagi! Hahhahaha" guntur tertawa.
"Nyokap minta gue ngundang lo semua di acara resepsi dia" ucap Tian.
"Kapan?"
"Eh kemaren lo ikut kita gak di omelin nyokap lo?"
"Hari sabtu, acaranya gak gede cuma kerabat terdekat aja. Kemaren kan gak jadi nonton, gue balik aja langsung nyusul nyokap" ucap Tian menjelaskan.
Sebenarnya, Tian bisa ikut karena diijinkan untuk ikut dan harus menjaga seseorang. Tapi jika dia mengatakan yang sebenarnya sudah dipastikan tingkat kekepoan mereka akan meningkat dan Tian malas meladeninya.
Milo memasuki kelas mereka berniat mengajak mereka ke kantin karena sedang jam kosong.
"Kantin kuy. Jam kosong gini bete gue" keluh Milo.
"Dinda mana?" tanya Ale tidak menghiraukan ajakan Milo.
"Di kelas lagi baca novel"
Ale berjalan keluar kelas, berniat mengajak kekasihnya ke kantin bersama mereka.
Ale memasuki kelas Dinda, seisi kelas memekik melihat Ale. Ale menyuruh semuanya untuk diam saat melihat Dinda yang fokus pada novelnya sampai tidak menyadari kedatangannya.
Ale mengambil novel yang sedang di baca oleh Dinda.
"Ale!" pekik Dinda.
"Balikin dong!" ucapnya sambil berusaha mengambil novel yang diacungkan tinggi oleh Ale.
Dinda merasa lelah, percuma juga melompat karena Ale sangat tinggi. Dinda menyerah dan memilih duduk kembali dengan kepala dia taruh di atas meja dan wajahnya ditekuk.
Ale terkekeh melihat Dinda yang kesal karenanya.
Banyak teman sekelas Dinda yang iri terhadapnya. Melihat bagaimana Ale bisa tersenyum karena Dinda membuat mereka sangat ingin berada di posisi Dinda.
"Jangan kesal terus. Kantin yuk" Ale berjongkok di samping meja Dinda. Berusaha mencari perhatian gadis itu yang kini tidak mau melihatnya.
"Lagi seru kan. Nanggung tau" keluh Dinda yang kini menatap Ale masih dengan posisi yang sama.
"Nanggung ngapain?" tanya Ale jail.
"Iishhh nanggung dikit lagi kilmaks bab yang aku baca" keluh Dinda semakin kesal.
Ale mengulum senyum mendengar Dinda mengatakan Aku.
"Ayo ke kantin" ucap Ale menarik tangan Dinda halus.
Ketiga teman Dinda baru saja memasuki kelas kembali keluar, mereka melihat Dinda yang di tarik oleh Ale dan mengikutinya.
"Kok gue gak diajak" ucap Ririn saat Dinda baru saja duduk di meja di mana tempat anak Galaksi sedang berkumpul.
"Ngapain ngajak? kan udah ada disini" ucap Guntur.
Milo menarik seragam Helen lembut dan menyuruhnya duduk di sampingnya dengan senyum yang siapapun akan luluh begitu melihatnya.
Helen dengan wajah datarnya duduk begitu saja. Memainkan ponselnya dan login game yang selalu dia mainkan.
Milo mendesah melihat Helen lebih tertarik dengan game dari pada dirinya yang sudah sering memberikan dia kode tapi tidak dihiraukan.
Guntur tertawa mengejek melihat Milo yang diangguri. Lalu setelah tawanya mereda dia menepuk tempat duduk di sampingnya yang kosong sambil menatap Ririn menaik turunkan alisnya.
Ririn menatap galak Guntur dan memilih duduk di samping Tian yang sedang fokus menikmati mie ayamnya.
Milo tertawa puas, membalas apa yang Guntur lakukan kepadanya. Guntur menekuk bibirnya menatap Ririn yang sama sekali tidak ingin melihatnya lalu kepada Tian yang sedang asyik makan tidak memperhatikan sekitar.
"Ya Allah apa salah Guntur yang selalu dicuekin dan digalakin yayang Ririn?" pekik Guntur dengan sangat dramatis sambil mengadahkan kedua tangannya ke atas.
"Apasi malu maluin lo" ucap Ririn galak melempar banyak sedotan yang ada di hadapannya ke arah Guntur.
"Nanti bayar!" ucap Tian setelah selesai makan.
Ririn melihat Tian bingung, tidak mengerti maksudnya.
"Maksud lo, gue bayarin makanan lo? Gak modal amat lo ganteng ganteng" pekik Ririn.
Tian menggeleng sambil mengusap kedua sudut bibirnya dengan tisue.
"Sedotan yang lo lempar" ucap Tian cuek.
Ririn menganga melihat Tian. Dia segera membereskan sedotan yang berserakan di meja dan menghitung yang terjatuh.
Tian tersenyum tipis melihat Ririn memunguti sedotan dan menghitungnya dengan sangat serius.
Ririn bersuara dalam hati "Kenapa gue nurutin tuh anak"
Baim menatap Gista yang masih berdiri di samping meja dekat Dinda seraya menunduk dan memainkan jari jarinya.
"Tumben kalem" ucap Baim.
Gista tidak menjawab dan memilih pergi dari sana. Dia masih teringat jelas bentakan yang dilontarkan Baim kepadanya di depan banyak orang, bahkan Baim tidak mengetahui jika dia hampir menabrak kemarin.
"Lah kok pergi" ucap Baim menggaruk kepalanya.
"Kalo lo laki lo pasti minta maaf lah" ucap Ririn yang sudah selesai membereskan sedotan.
Baim berdiri lalu mengejar Gista dengan raut cemas. Hal itu tidak luput dari pandangan Moza yang mengepalkan tangannya.
"Sabar Za" ucap teman Moza berusaha menenangkan. Air mata Moza kembali keluar, dia benar-benar tidak bisa menerimanya.
"Mau pesen apa?" tanya Ale menatap Dinda yang hanya diam dan bergerak tidak nyaman.
"Ehh... Aku pesen jus jambu aja"
"Gak makan?" Dinda menggeleng.
"Gue mau Jus mangga Le sekalian Helen juga sama" ucap Ririn tanpa dosanya berani menyuruh Ale. Tanpa di duga Ale mengangguk.
"Gue pesenin roti bakar dan lo harus makan" ucap Ale lalu berdiri berjalan ke stan penjual jus dan rotbar.
"VICTORY" suara yang berasal dari ponsel Helen yang sengaja dikeraskan membuat semua menoleh menatap Helen yang kini tersenyum senang.
Milo menjatuhkan sendok yang dipegangnya, melihat senyum Helen yang jarang sekali terlihat seperti mendapat jackpot.
"Cantiknya ciptaanmu Tuhan" gumam Milo dengan keras.
Helen menyadari sekitarnya, dia kembali ke mode datar.
"Yaah kok langsung datar lagi, gue kan belum puas liat senyum lo" ucap Milo.
Helen mengabaikan ucapan Milo dan kembali masuk mode rank untuk mulai bermain lagi.
"Lagi Len?" tanya Dinda heran.
Helen mengangguk dan kembali fokus. Dinda mendesah melihat Helen dan dunianya sendiri.
Ale kembali dengan nampan di tangannya membawa makanan dan minuman yang dipesannya.
Ale menaruh jus jambu juga roti bakar rasa Blueberry kesukaan Dinda di hadapan Dinda dan menggeser nampan ke hadapan Ririn, menyerahkan pesanannya agar bisa di ambil sendiri.
"Makan!" titah Ale.
Dengan gerakan kaku Dinda memakan roti bakar tersebut dengan sesekali meminum jusnya.
Ale mengacak rambut Dinda gemas, melihat Dinda makan dengan lahap sangat membuatnya gemas.
"Kan berantakan" ucap Dinda kesal.
Ale merapikan kembali rambut Dinda. Tapi bukannya rapi, malah semakin berantakan. Dinda mendengus lalu membuka kuncirannya hingga kini rambutnya tergerai lalu menyisir rambutnya menggunakan jari tangannya dan mengikatnya lagi.
Semua hal yang dilakukan Dinda menjadi pusat perhatian di meja itu kecuali Helen yang masih fokus pada game nya.
Dinda yang sudah selesai mengikat rambutnya kembali menatap bingung kepada mereka semua.
Ale mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Dinda "Jangan pernah ngelakuin hal itu lagi di depan umum apalagi di depan cowok" ucap Ale.
Wajah Dinda memerah karena merasa geli, hembusan nafas Ale mengenai telinganya.
"Sumpang neg Dinda mending sama abang aja yook?" ucapan Guntur membuat Ale menatapnya tajam "Biasanya cewek lebih suka cowok humoris dari pada yang dingin dingin gitu" ucap Guntur lagi tidak memperhatikan Ale yang sudah memberikan tatapan membunuh.
"Kalo sama abang udah dipastiin neng akan selalu tertawa setiap hari" ucap Guntur lagi dengan cengiran khas nya.
"Jangan di denger" ucap Ale galak sambil terus menatap Guntur.
Guntur salah tingkah karena sudah berani membangunkan beruang kutub.
"Hehe bercanda bos, pisss sorry" ucap Guntur nyengir.
"Mana berani si Guntur nikung si bos, belum sampe tikungan nyawa udah melayang" ucap Milo terkekeh.
"VICTORY" lagi dan lagi suara menggema seantero kantin dengan sangat kencang.
"Yeeessss" pekik Helen dengan senyum lebarnya.
"Neng Helen astaga dibilang jangan senyum" ucap Guntur sambil memegang dadanya.
"Maruk amat lo bayi koala! Helen, Ririn, Dinda semua lo godain" ketus Milo yang sudah sangat kesal.
"Apa si lo sirik aja!" ucap Guntur bercanda.
"Len, lo main apa si dari tadi fokus banget terus kalo ada suara mbak mbak yang bilang victory lo langsung senyam senyum" ucap Milo penasaran.
Milo paling gaptek dengan yang namanya game. Dia tidak terlalu suka dengan game karena yang dia sukai musik dan Helen, teman temannya juga tidak ada yang bermain game.
Helen memperlihatkan game yang dia mainkan kepada Milo.
"Apaan tuh, Mobile Legend?" Helen mengangguk.
"Lo kalo mau ngajak Helen ngomong, tinggal ngomongin game udah pasti dia buka suara" ucap Ririn yang sedari tadi menyimak.
"Coba ajarin gue, pengen tau" ucap Milo memberikan ponselnya kepada Helen agar dia mengunduh aplikasinya di ponselnya.
"Dengan senang hati" ucap Helen.
"Ajaib" gumam Milo yang sudah dag dig dug jerr mendengar suara Helen.
"Nih" Helen mengembalikkan ponselnya kepada Milo.
Selanjutnya mereka berdua tenggelam dalam dunia gamenya. Helen membantu Milo hingga ke level delapan agar Milo bisa memulai memainkan mode rank.
"Kecanduan udah dah, gue sendiri ini mah ngomong sendiri, yang ada di sini yang mau ngomong gue doang, yang lain kan bisu semua di ajak ngomong juga diem aja ah kesel ah masa gue ngomong sendiri, Baim mana sih lama banget ngejar Gista doang" Guntu terus berceloteh seorang diri.
Dia sangat sedih karena tidak ada teman mengobrol, melihat ke arah samping ada Ale dan Dinda yang sedang romantis romantisnya, maklum pertama kali pacaran.
Di depannya ada Tian yang sibuk dengan ponselnya, di sebelah Tian ada Ririn yang sibuk dengan ponselnya juga.
Di sebelah Tian ada Helen dan Milo yang sibuk dengan dunia per game man.
"Gak ada yang mau ngajak gue ngobrol apa?" pekik Guntur kesepian.
"Guntur ngobrol aja sama kita" ucap Dinda.
"Emang ya cuma neng Dinda yang peka" ucap Guntur senang lalu pindah tempat duduk di samping Helen agar bisa menghadap Dinda dan Ale.
Seperti biasa, Ale lebih banyak diam. Dinda dan Guntur mengobrol panjang kali lebar yang lebih di dominasi oleh Guntur hingga bel istirahat berbunyi.
"Bang" panggilan dari arah samping Dinda ke arah meja tempat Dinda duduk bersama yang lain, tepatnya ke arah Ale membuat semua orang di meja itu menoleh kecuali Ale.
"Tuh bocah ngapain lagi kesini?" gumam Ririn.
"Heh Cika! Mau apa lo kesini?" tanya Ririn menatap tidak suka dengan kehadiran juniornya.
Cika mendekati meja Ale dan tiba-tiba saja duduk di samping Ale tempat Guntur duduk sebelumnya membuat semuanya kaget termasuk Ale.
"Gue gak ada urusan sama lo, gue manggil bang Ale" ucap Cika dengan pedenya.
Vita melihat keberanian juniornya tersenyum tapi tidak bisa di pungkiri jika hatinya kesal karena kalah dari adik kelasnya.
"Gue mau minta maaf sama Dinda" ucap Cika sambil menatap Dinda sedih lalu melihat Ale yang duduk di sampingnya.
"Lo luka kak? Gue bener-bener nyesel udah kurang aja sama lo, padahal kita belum kenal dan gue denger cerita lo dari anak anak sini aja makanannya ikutan gak suka sama lo" ucap Cika lagi.
"Engga, gue udah maafin lo" ucap Dinda yang kelewat baik.
Ale menatap Dinda, dia tidak salah memilih Dinda yang memiliki hati lembut dan baik tapi jika memaafkan kesalahan orang lain begitu saja tentu Ale merasa kesal karena Dinda begitu mudahnya menerima maaf itu. Apalagi cewek seperti Cika yang Ale sangat tahu jika saat ini anak di sampingnya ini sedang berpura-pura.
"Udah kan minta maafnya? Sekarang lo bisa pergi" ucap Ririn mengusirnya dengan sengaja.
Cika berpura-pura melihat sekeliling yang kebetulan semua meja penuh, dia menatap kakak kelasnya satu persatu lalu terakhir menatap Dinda yang kini sedang mengaduk minumannya.
"Gue boleh gabung sama kalian? Semua meja penuh dan gue sekarang gak punya temen, gak ada lagi yang mau temenan sama gue makannya gue beraniin buat datang ke sini" ucap Cika seperti ingin menangis.
"Anjirrrr drama nih anak, buaya banget air matanya" ucap Ririn dalam hati.
"Duduk aja, gak ada yang larang" ucap Dinda.
Semua mata tertuju pada Dinda yang heran mau saja menerima ular macam Cika untuk bergabung.
"Ya neng, duduk mah duduk aja" ucap Guntur mencairkan suasana.
Ale berdiri dari duduknya, satu tangan dia masukan ke dalam kantung celana dan satunya lagi mengusap sayang kepala Dinda membuat Dinda mengadah menatap Ale.
"Gue udah selesai, lo pake meja ini!" ucap Ale dingin tanpa mau melihat Cika.
"Cabut!" titah Ale kepada teman temannya sambil menarik tangan Dinda lembut.
Dinda merasa tidak enak kepada Cika hanya tersenyum canggung lalu berdiri dan berjalan bersisian dengan Ale diikuti teman temannya.
Cika mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja tidak suka melihat kepergian mereka. Banyak pasang mata menatap mengejek kepadanya membuat Dinda semakin kesal karena sudah dipermalukan untuk kesekian kalinya.
"Liat aja, gue gak akan tinggal diem lo udah bikin gue malu kakak kuh tersayang" desis Cika lalu pergi dari kantin.