
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Teriakan membahana dari Gista membuat Dinda refleks berdiri.
Gista bersama dengan kedua sahabatnya berdiri tidak jauh darinya.
"Apa gue bilang" ucap Guntur yang berdiri di belakang Ririn.
Ririn menengok ke belakang menatap Guntur dengan kening berkerut.
"Vita sialan!" desis Ririn kesal.
Mereka bertiga menghampiri Dinda.
"Lo gak papa?" tanya Helen khawatir.
Dinda menggeleng dan menatap mereka bingung.
"Kalian kenapa panik banget sih?" tanya Dinda.
"Ya gimana kita gak panik? Tuh curut bilang ke kita kalo sepeda lo di pretelin sama Vita CS" ucap Ririn kesal.
Dinda menatap Guntur, berjalan menghampiri Guntur seraya tersenyum.
"Makasih ya Tur dan sorry soal tadi" ucap Dinda tulus.
Guntur menjawab dengan senyum paling manis menurutnya di tambah anggukan dan garukan di kepalanya. Dia melihat Dinda yang sangat cantik membuatnya gugup.
"Yee kaleng panci malah senyam senyum!" ucap Ririn sambil merauk wajah Guntur.
"Sirik aja lo papan triplek" ketus Guntur.
"Gue balik ke lapangan dah" ucap Guntur kepada para gadis, lalu pergi tidak lupa mengedipkan sebelah matanya ke arah Dinda.
"Ganjen banget lo!" ketus Ririn.
"Kalian ga eskul?" tanya Dinda menatap ketiga sahabatnya.
"Ini baru mau, kita liat lo dulu takut kenapa napa nanti kalo lo lecet gue yang nangis!" ucap Gista.
Dinda hanya tersenyum geli mendengar penuturan Gista yang aneh.
"Gue gak papa. Udah sana kalian eskul nanti kalian kena hukuman gara gara telat" titah Dinda.
"Gue masih ga tenang Din" ucap Ririn tidak tega meninggalkan Dinda.
"Gini deh! Lo tungguin kita nanti balik gue yang anterin" ucap Ririn lagi diangguki Helen dan Gista.
"Nanti kalo kak Vio nanya gimana?"
"Udah sih mikirin amat kata kakak gue!" ucap Gista.
"Nanti gue jelasin ke dia" ucap Gista lagi agar Dinda mau menuruti mereka ubtuk menunggu mereka selesai eskul.
"Yaudah deh" ucap Dinda yang langsung mendapat pekikkan senang dari ketiganya.
Dinda berjalan ke arah tempat duduk penonton berada sedangkan ke tiganya berjalan ke arah ruang ganti.
Di lapangan, sudah ada banyak murid yang mengikuti eskul bola basket.
Tim laki-laki dan perempuan berbeda pelatih.
Pelatih tim perempuan bernama Vio, dia adalah kakak sepupu Gista sekaligus alumni sekolah ini. Sedangkan pelatih untuk Tim laki-laki bernama Saga, dia adalah pacar sekaligus tunangan Vio.
Yaap Dinda dan teman-temannya mengikuti eskul bola basket. Begitupun Guntur dan keempat temannya termasuk Ale.
Helen dan Ririn mengikuti sanggar kelas ilmu bela diri di luar sekolah sejak mereka masih TK maka dari itu mereka berdua sangat menguasai hampir semua ilmu bela diri.
"Kenapa gak ganti baju?" tanya Vio menghampiri Dinda yang duduk di tribun penonton.
"Eh kak Vio. Maaf kak saya..."
"Dia gak bisa ikut eskul" ucap Gista memotong perkataan Dinda.
Gista berbisik kepada Vio mengenai alasannya. Vio sama halnya dengan Gista bisa dikatakan keluarga Gista tidak pernah mengajarkan tentang perbandingan derajat.
Maka dari itu Vio selalu menerima siapapun yang ingin menjadi muridnya tanpa membanding bandingkan.
"Oke gue terima alasan lo" ucap Vio setelah tahu alasan mengenai Dinda.
"Untuk kalian lari keliling lapangan kayak biasa ditambah lima puteran karena kalian telat" titah Vio tegas.
Dengan pasrah mereka bertiga menerima hukuman itu dan mereka mulai berlari mengelilingi lapangan menyusul teman satu timnya yang sudah berlari lebih dulu.
"Si Dinda pake jaket lo" ucap Baim.
"Hm" jawab Ale.
"Gak lo pinta lagi tuh? Bukannya itu jaket kesayangan lo?" tanya Milo.
"Hm" jawab Ale.
Milo dan Baim saling lirik lalu menatap Ale aneh.
"Lo bisulan Le? Dari tadi ham hem ham hem mulu jawaban lo" ucap Baim.
Ale tidak menjawab, dia melempar asal bola yang dipegangnya dan menghampiri Dinda yang kini sedang serius membaca buku.
Ale hanya diam berdiri menatap Dinda di pinggir lapangan seraya berkacak pinggang.
Merasa ada yang memperhatikannya, Dinda mengadahkan wajahnya matanya bertemu dengan mata tajam Ale.
Dinda mendadak gugup, dia menutup buku yang di bacanya lalu menyimpannya di samping tas sekolahnya.
Dinda berjalan menuruni tribun penonton menghampiri Ale. Dengan gugup Dinda berkata "Makasih udah nolongin gue dan jaket lo gue pake dulu nanti setelah gue cuci gue balikin ke lo" ucap Dinda pelan seraya mengadah menatap Ale yang tingginya jauh diatasnya.
Perbedaan tinggi badan mereka membuat Dinda harus mengadahkan wajahnya untuk melihat Ale sedangkan Ale harus menundukkan kepalanya agar bisa bersitatap dengan Dinda yang tingginya hanya sebatas dadanya.
"Simpen" ucap Ale membuat Dinda tidak mengerti perkataannya.
"Apanya?" tanya Dinda.
"Jaket" ucap Ale lagi lalu pergi dari hadapan Dinda yang mengerut dalam.
"Tau ah, dia ngomongnya kayak hp esia hidayah ga paham gue" gumam Dinda lalu kembali ke tempatnya.
"Ngapain hayyoooo?" tanya Guntur saat Ale sudah kembali masuk ke lapangan.
Ale hanya diam acuh tidak memberi jawaban.
"Le lo kalo gue nanya jawab napa Le cape di cuekin mulu dari tadi!" keluh Guntur.
Ale hanya menatap Guntur sekilas lalu kembali fokus pada bola yang di pegangnya.
"Dinda cantik sih, otaknya juga encer tapi sayang dia gak selevel sama gue coba kalo selevel dia udah gue jadiin mainan" ucap Revan teman satu tim Ale yang selalu jadi rivalnya kepada temannya.
Ale yang mendengar itu menatap Revan tajam. Dia melempar bola asal lalu menghampiri Revan masih dengan tatapan elangnya.
"Yeeh si bocah dugong! Nyari mati dia" ucap Guntur.
"Biarin Ale akan beraksi" ucap Baim senang.
"Yaa cowok sih tapi mulutnya mulut cewek" sindir Milo.
Mereka bertiga nampak senang yang sebentar lagi akan melihat Ale yang akan memberi pelajaran kepada Revan.
Tian hanya memperhatikan Revan dengan tatapan datarnya.
Tanpa berkata apapun, Ale menendang dada Revan hingga Revan terpental dari tempatnya berdiri.
Tanpa memberi kesempatan kepada Revan untuk bangkit, Ale menginjak dada Revan lalu sedikit menekannya.
"Minta maaf sama Dinda" titah Revan dingin.
Seluruh murid yang ikut eskul basket menghentikan aktifitas mereka. Melihat ke arah Ale yang sedang berdiri di atas Revan.
Melihat kemarahan Ale, mereka berfikir pasti Revan yang memancingnya.
Tidak ada satupun di antara mereka yang ingin membantu karena mereka merasa itu salah Revan yang membangunkan singa tidur. Walau tidak tahu apa masalahnya.
Dinda mendengar keributan di arah lapangan menghentikan aktifitasnya, dia menatap ke arah lapangan di mana semua orang berkumpul di satu titik.
Dinda penasaran ada apa gerangan di sana seperti orang yang sedang mengantri sembako.
"Ada apa sii, ko pada ngumpul gitu?" tanya Dinda kepada diri sendiri.
"Ada apa ini Ale?" suara yang sangat di kenalnya tidak Ale hiraukan.
"Diem di tempat lo!" titah Ale kepada Saga.
Saga tidak menggubris ucapan Ale, dia segera membantu Revan dan menurunkan kaki Ale yang menginjak Revan.
"Lo!" ucap Ale menahan emosinya.
Saga, menghela nafasnya menatap Ale. Berbicara dengan Ale yang sedang dalam keadaan emosi tidak akan berakhir baik.
"Masalah apapun kalo lo lagi di bawah bimbingan gue gak ada yang boleh pake kekerasan!" ucap Saga tegas.
Ale menarik nafasnya dalam untuk meredakan emosinya.
"Gue mau dia minta maaf sama Dinda" ucap Ale seraya menunjuk Revan.
"Gue gak punya salah sama dia, buat apa gue minta maaf?" tanya Revan dengan wajah angkuhnya.
Ale yang emosinya sudah reda langsung naik lagi, dia memegang baju Revan lalu menonjok wajahnya.
"Ale" jerit Dinda menghentikan Ale.
Ale melihat Dinda yang berdiri diantara kerumunan orang-orang. Dia melepas begitu saja tangan yang menarik baju Revan lalu melenggang pergi keluar lapangan.
Revan menatap tajam Ale seraya membersihkan darah segar di sudut bibirnya.
"Ale!" panggil Guntur.
"Ale! Lo mau kemana? Latihan belum kelar" ucap Saga.
Panggilan dari sahabat bahkan dari pelatih sekaligus sepupunya itu tidak dihiraukannya.
Ale berjalan dengan aura menakutkan tatapannya semakin tajam dan terkesan dingin menjauhi lapangan membelah kerumunan, berhenti tepat di depan Dinda menatapnya sebentar lalu kembali berjalan meninggalkan mereka yang kini menatap kepergiannya.
Dinda berlari ke area tribun tempatnya duduk tadi untuk mengambil tas juga buku. Melihat Ale yang berjalan semakin jauh dengan perasaan panik.
Dinda segera berlari menyusul Ale yang sudah hampir tidak terlihat.
Dinda mengejar Ale tapi bukannya terasa semakin dekat Ale malah semakin jauh bahkan sekarang Dinda kehilangan sosoknya.
Huhhhh huhhhh
Dinda membungkuk dan menopang tubuhnya di area lutut untuk mentralkan nafasnya.
Dinda mencari Ale ke seluruh area sekolah yang sangat besar tapi tidak menemukannya, bahkan ke parkiranpun tidak ditemukan tapi motor besar milik Ale masih ada di sana.
"Kemana tuh orang?" gumam Dinda.
"Jangan-jangan di rooftop" gumamnya lagi dan berjalan menaiki tangga menuju rooftop.
Saat saampai di anak tangga terakhir yang mengantarkannya ke rooftop, Dinda membuka pintu rooftop yang terbuka sedikit.
Dia menyembulkan kepalanya melihat dengan hati-hati karena dia baru pertama kali ke rooftop.
"Ngapain?" tanya Ale yang sudah berdiri di balik pintu menatap Dinda heran.
Dinda tersenyum menunjukkan gigi putih dan rapihnya.
Ale membuka pintu membiarkan Dinda masuk.
"Gak tau mau ngapain? Tadi panik liat lo yang pergi sambil marah" ucap Dinda jujur.
"Kenapa?"
"Ya gak kenapa kenapa, gue panik aja liat lo"
Ale tidak mengerti maksud Dinda.
"Sekalian, gue mau berterima kasih sama lo yang udah belain gue tadi" ucap Dinda tulus.
Ale menatap tajam mata Dinda yang sangat indah menurutnya.
"Masih sakit?" tanya Ale kepada Dinda membuat Dinda mengerutkan kening bingung.
"Tadi jatoh!" ucap Ale greget karena Dinda tidak paham pertanyaannya.
Gimana mau paham toh mas orang situ ngomongnya irit banget.
"Oh... Engga sakit" jawab Dinda.
Ale mengangguk paham. Dinda menelengkan kepalanya ingin bertanya tapi takut.
"Tadi enak gak pecel ayamnya?" tanya Dinda.
Ale mengangguk lagi.
"Mau lagi?"
Ale mengangguk. Jawaban Ale yang terus mengangguk membuat Dinda tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Ale bingung melihat Dinda tertawa.
"Enggak. Lo lucu ngangguk ngangguk doang jawab enggak" ucap Dinda sambil terkekeh.
"Thanks" ucap Ale membuat Dinda mengangguk sebagai jawaban.
"Buat apa?" entah kenapa Dinda mendadak telmi.
Ale berdecak "Pecel ayamnya" ucap Ale benar-benar greget kepada Dinda sambil mengacak rambutnya gemas.
"Ale! Berantakan bege" keluh Dinda.
"Ih kasar!" ucap Ale.
Dinda mengerucutkan bibirnya lucu.
Ale berjalan ke arah sofa usang yang ada di dekat pagar pembatas. Melihat Dinda dan menyuruhnya mendekat.
Dinda menuruti lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Ale. Melihat pemandangan kota yang terlihat jelas.
"Pemandangan di sini bagus" ucap Dinda.
Hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang mendominasi mereka.
"Lo apa kabar?" tanya Ale dengan pandangan ke depan tanpa melihat Dinda.
"Gue baik, kalo lo gimana di Ausie?"
"Gak baik" ucap Ale.
Ale memang sempat ijin untuk tidak masuk sekolah selama enam bulan karena penyakit Auto Imun mamahnya kambuh dan mengharuskannya membawa sang mamah ke kamlung halamannya untuk menjalani pengobatan.
Karena mamahnya sempat kritis hal itu mengharuskan Ale untuk tinggal lebih lama sampai mamahnya sehat kembali.
"Loh kenapa? Lo di sana sakit?" Dinda menoleh menatap Ale khawatir.
Ale menatap Dinda dan tersenyum. Senyum yang hanya dia perlihatkan kepada Mamahnya juga Dinda.
Dinda melihat senyum Ale membuat jantungnya senam dadakan. Dinda memegang dadanya yang seperti akan meledak.
"Karena gak ada lo di sana!" jawab Ale.
Refleks Dinda memukul bahu Ale pelan.
"Apa sih Le? Sejak kapan lo bisa gombal?"
"Sejak kenal lo" jawab Ale serius.
"Gue nularin hal gak guna dong buat lo?"
"Berguna lah"
"Kok gitu?"
"Ya bisa bikin lo blushing"
"Apa si Le"
"Udah ah, gue balik ke lapangan dulu ya. Sebentar lagi eskul selesai nanti mereka nyariin gue lagi"
"Gue juga sama" ucap Ale.
"Yaudh lo duluan deh jalan, nanti gue nyusul" ucap Dinda membuat langkah Ale berhenti.
Seperti biasanya, Dinda tidak ingin ada yang tahu jika mereka cukup mengenal dekat.
Mereka tidak pacaran, tidak menjalin hubungan selayaknya para remaja yang ketika memiliki perasaan yang sama menjalin hubungan dengan status pacaran.
Mereka hanya teman, teman yang menyimpan perasaan masing-masing.
Ale yang selalu terang-terangan kepada Dinda dan Dinda yang selalu membatasi diri.
Hanya ketika mereka berdua, tapi di saat mereka bersama orang lain mereka tampak asing.
Tidak ada yang mengetahui kedekatan mereka di sekolah ataupun di luar. Kecuali para sahabag Ale yang tingkat kepekaannya di luar nalar jika menyangkut Ale.
Semua berawal ketika mereka mengikuti lomba cerdas cermat, mereka diharuskan belajar bersama selama tiga bulan.
Setelahnya secara tidak sengaja Ale menolong Dinda tiga kali saat dirinya diganggu oleh anak sekolah lain saat Dinda sedang menunggu bus di halte untuk mengantarnya pulang.
Ale yang mengetahui sifat Dinda merasa tertarik untuk mengenal gadis yang selalu terlihat ceria walau orang di sekitarnya membencinya.
Dinda, gadis sederhana, ceroboh dan polos. Semua yang ada pada diri Dinda Ale sangat menyukainya.
Ale yang tidak pernah mau berdekatan dengan gadis manapun, selalu membentengi diri jika ada gadis yang mengakui perasaannya dan berusaha mendekatinya.
Tapi tidak kepada Dinda yang entah kenapa selalu menjadi magnet yang membuatnya ingin berdekatan dengannya.
Ale bisa menjadi diri sendiri jika bersama Dinda, walaupun masih terkesan dingin. Ale lebih banyak berbicara bahkan tertawa lepas jika memang diperlukan.
Perjanjian mereka lebih tepatnya keinginan Dinda. Dia tidak ingin orang tahu jika mereka saling kenal dekat.
"Kalo gitu lo aja duluan" ucap Ale.
Dinda menuruni tangga dengan senyum tertahan. Saat sampai di anak tangga terakhir suara teriakan yang sangat dia kenal membuat Dinda melihat sang empu dengan senyum lebar.
"Dinda iiiiih lo kemana aja dah? Gue fikir lo udah balik!" ucap Ririn.
"Gue bosen jadi muterin sekolah aja jalan jalan" ucap Dinda tidak sepenuhnya berbohong.
"Si Ale serem bangt ya kalo udah marah tapi anehnya kok dia marah sama Revan tentang lo sih?" ucap Gista bingung.