
Hai hai hai ....
Happy Reading π€
Maaf Jika Typo bertebaran π
β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨
"Serius ajak aku ke tempat Tian?" tanya Dinda.
"Iya gue serius, nanti malam gue jemput" ucap Ale.
Mereka berdua sedang mengobrol via telpon.
"Tapi..."
"Gue udah kirim paket ke rumah lo" ucap Ale.
"Paket apa?"
"Nanti juga lo tau, gue mau lo pake itu. Yaudah gue dipanggil nyokap, nanti gue jemput jam tujuh. Love you"
"Emm iya"
"Kok iya?" tanya Ale.
"Terus?"
"Love you!" ucap Ale.
"Love you to" jawab Dinda malu malu. Ale terkekeh senang di seberang sana lalu mematikan sambungan telponnya.
"Sayang" ketukan pintu kamarnya bersamaan suara ibunya mengagetkan Dinda yang masih merasa deg degan karena ucapan Ale.
"I..iya buuu" jawab Dinda memekik lalu berjalan menuju pintu kamarnya untuk dia buka.
Ibunya berdiri dengan membawa kotak hadiah berukuran besar membuat Dinda mengernyit heran.
"Itu apa bu?"
"Biarin ibu masuk dulu ini lumayan berat tangan ibu pegel" ucap Ana lalu Dinda bergeser agar ibunya bisa masuk dan mengekori ibunya hingga ke tempat tidur miliknya.
Ana menaruh kotak berukuran besar yang berwarna pink dengan pita hitam di atasnya.
"Tadi ada abang kurir yang ngirim paket ini, katanya buat kamu tapi gak ada namanya gak tau siapa pengirimnya" ucap Ana lalu keluar dari kamar Dinda.
"Emm buu, Dinda mau ijin" Ana yang baru sampai ambang pintu kamar Dinda berhenti dan berbalik menatap Dinda.
"Ijin apa sayang?" tanya Ana.
"Nanti malam Dinda mau ke acara pesta pernikahan orang tua temen Dinda" ucap Dinda ragu.
Ana mengulas senyum "Silahkan, pergi aja. Sama siapa? Ririn? Tanya Ana.
"Bukan bu, dia Ale" Ana mencoba mengingatnya. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
"Dia akan jemput ke rumah?" tanya Ana. Dinda mengangguk.
Ana mengangguk "Boleh asalkan jangan pulang terlalu malam, perempuan gak baik pulang malam apalagi diantar laki-laki" ucap Ana, Dinda mengangguk senang.
"Ayeaye captain" pekik Dinda seraya memberi hormat. Ana menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya, dia kemudian berbalik lalu pergi dari kamar Dinda dan menutup pintunya kembali.
Dinda menatap penasaran dengan kotak hadiah tersebut, dia membuka dan melihat isinya.
Dengan perlahan menyimpan tutup kotak tersebut, mengambil isinya yang ternyata sebuah gaun yang sangat cantik.
Berikut dompet dan sepasang sepatu. Dinda mengambil gaun itu lalu berjalan ke depan cermin, membayangkan dirinya memakai gaun itu.
Dinda menyimpan gaun itu di atas tempat tidurnya dengan hati hati, lalu mengambil ponselnya untuk dia foto dan gambarnya akan dikirim ke Ale.
Dalam fikiran Dinda pasti yang mengirim gaun, sepatu dan tas itu adalah Ale. Beberapa detik setelah mengirim pesan Ale membalasnya.
Aleπ
Iya...
Hanya satu kata membuat Dinda menghembuskan nafasnya. Dinda segera bersiap dia akan berdandan secantik mungkin agar tidak mempermalukan Ale dan bisa pantas bersanding dengan Ale yang begitu sempurna menurutnya.
Tidak terasa sudah hampir jam tujuh, kini Dinda sudah rapi. Dia kembali mematut dirinya di depan cermin dan tersenyum puas melihat karyanya. Tidak sia sia dia ikut modeling dan belajar make up dengan Gista.
Dinda mengambil dompet dan ponselnya lalu melangkah keluar kamar menuju teras rumahnya menunggu Ale.
Tidak lama kemudian, Ale datang dengan mobil mewahnya. Ale turun dari mobil dan Dinda berdiri menunggh Ale menghampirinya dengan senyum yang terus bertengger manis di wajahnya.
Ale terpaku menatap intens Dinda dengan wajah terpana. Dinda sangat cantik malam ini, biasanya memang terlihat cantik tapi aura yang dipancarkan malam ini melebihi hari hari biasanya.
"Heii" panggil Dinda sambil melambaikan tangannya di depan wajah Ale.
"Ale" panggilnya lagi. Ale tersadar.
"Kenapa? Aku jelek ya?" tanya Dinda merasa minder karena melihat Ale yang begitu tampan dan gagah.
"Engga! Kata siapa? Lo cantik pake banget" ucap Ale jujur membuat Dinda merona.
"Gak usah dateng aja deh, gue gak mau lo jadi pusat perhatian" ucap Ale.
"Masa gak jadi? Aku udh dandan dari jam empat sore loh" ucap Dinda merajuk.
Ale mencubit gemas pipi Dinda membuat Dinda meringis.
"Sakit Ale" pekik Dinda.
"Habis cantiknya bikin pengen ngarungin"
"Apa si" wajah Dinda sangat merah seperti kepiting rebus karena salting dan malu.
"Ayo berangkat, ortu lo mana?" tanya Ale.
"Di dalem, tunggu aku panggilin"
Dinda berjalan masuk ke dalam rumahnya dan Ale duduk di teras menunggu Dinda kembali.
Tidak lama Dinda keluar bersama ibunya.
"Oh ini toh nak Ale, saat Dinda nyebut nama kamu ibu merasa enggak asing pas liat wajahnya ternyata benar orangnya ini" ucap Ana.
Ale menyalimi tangan Ana dengan sopan.
"Om kemana tante?"
"Jangan pagil om dan tante, panggil ibu dan ayah saja!" titah Ana, Ale mengangguk dan tersenyum malu.
"Ayah lagi di warung pecel biasa" ucap Ana lagi.
"Yaudah bu takut keburu malem, Dinda sama Ale berangkat dulu ya" pamit Dinda.
Setelah pamit dan menyalimi tangan Ana, Ale berjalan duluan menuju mobilnya membukakan pintu untuk kekasihnya.
Dinda tersenyum malu, dia untuk pertama kalinya diperlakukan seperti putri. Dia sangat senang. Dinda masuk mobil dan duduk dengan jantung yang berdegup kencang. Dirinya sangat gugup.
Kemudian Ale memasuki mobil dan duduk di balik kemudi.
"Siap my princess?" tanya Ale dengan senyum hangatnya membuat Dinda semakin gugup. Tangannya sudah berkeringat saking gugupnya.
"Lets go my prince" ucap Dinda malu malu.
Ale tertawa kecil mendengar suara Dinda yang malu malu tidak seperti biasanya. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di tempat lain.
Suasana balroom hotel sudah cukup ramai, banyak pengusaha ataupun anak muda yang berdatangan memenuhi undangan.
"Ini sih bukan sederhana!" ucap Guntur melihat banyaknya tamu yang berdatangan.
"Sederhananya Tian kayak gini lah" ucap Milo menimpali.
"Yaa maklum horang kaya mah" ucap Guntur dengan bibir dimajukan.
Milo tertawa melihat Guntur.
"Gue apes banget si malah datang duluan akhirnya ketemu lo dah, berasa jomblo banget" ucap Milo.
"Emang lo jomblo" ucap Guntur tidak mau kalah.
"Si Baim sama Ale kemana dah lama banget" ucap Milo dengan matanya yang terus mencari keberadaan teman temannya di tengah para undangan.
"Ale jemput Dinda dulu, kalo Baim jemput Gista" ucap Tian yang baru saja bergabung dengan mereka berdua. Dia lelah bersalaman dan ingin beristirahat sebentar.
"Lah kok lo disini?" ucap Guntur.
"Eh tar dulu, Baim kok jemput Gista?" tanya Guntur.
"Cape, tadi Baim nelpon gue" jawab Tian.
Baim datang bersama dengan Gista yang terlihat sangat cantik. Tangan mereka bertaut, seperti sepasang kekasih.
Mata Guntur memicing curiga, Gista menyadari itu langsung menarik tangannya hingga tautan mereka terlepas.
Baim sempat terkejut dan melihat Gista bertanya kenapa, Gista hanya menyuruh Baim untuk melihat teman temannya yang sudah memicing curiga.
"Woaaah ada apa nih?" tanya Milo heboh.
"Kok lo bisa sama Gista?"
"Bisalah walau harus dengan usaha keras" ucap Baim.
Gista tersenyum malu, sebenarnya mereka tidak ada hubungan apapun, hanya saja Baim terus memohon kepadanya agar dia menemaninya ke acara orang tua Tian.
"Bilang aja lo sekarang jomblo jadi ngajak Gista, kalo lo gak jomblo juga pasti ngajak cewek lo" ucap Guntur tanpa dosa.
Gista semakin malu dibuatnya, dia hanya bisa menunduk tanpa berani menatap mereka.
Baim juga akhir akhir bersikap aneh, dia terus mengatakan tidak memiliki pacar jadi akan terus mendekati Gista.
"Apa si lo! Kalo ngomong tuh disaring Somad!" ketus Baim.
Guntur menyadari perkataannya menyakiti hati seseorang secara tidak langsung, dia meminta maaf kepada Gista.
"Sorry Ta gue gak ada maksud cuma bercanda"
"Yang lo omongin bener kok, gue juga cuma menuhin janji ke dia aja" ucap Gista sambil menunjuk Baim yang berdiri di sampingnya.
"Itu bidadari dari mana?" pekik Milo melihat ke arah Ale yang berjalan bersama Dinda dengan serasi.
Banyak pasang mata memperhatikan mereka berdua, memuji kecantikan juga ketampanan pasangan itu.
"Tuhan gak adil banget ya!" ucap Milo.
Tian, Gista, Baim dan Guntur menoleh, menatap Milo.
"Masa orang cantik sama orang ganteng bisa sepasang? Kasian yang jelek kayak dia kan?" ucap Milo dan menunjuk Guntur saat mengucapkan kata jelek.
"Sialan lo! Gue gak jelek" ucal Guntur tidak terima.
"Kalo gak jelek gak mungkin jomblo" ucap Milo.
"Heh kepiting rebus! Lo nyadar dong lo juga kan jomblo" ucap Guntur kesal. Milo nyengir kuda.
"Tapi gue gak jelek" Milo membalas meledek Guntur.
"Lo nyolong bidadari surga?" kata Guntur ketika Ale dan Dinda susah berdiri di hadapan mereka.
"Sungguh indah ciptaanmu Tuhan" ucap Milo dengan wajah terpesona.
"Ini beneran Dinda? Bukan malaikat tidak bersayap?" ucap Baim memuji kecantikan Dinda yang sangat di luar nalar.
"Dinda!" pekik Gista lalu memeluk Dinda. Gista merasa lega sekarang dia ada temannya.
"Gista, gue gak sadar lo disini" ucap Dinda mengurai pelukan mereka.
Gista membisikkan sesuatu kepada Dinda membuat Dinda terkejut mendengarnya. Dia lalu menatap Baim tapi tidak berbicara apa apa.
"Tian, selamat ya buat ortu lo" ucap Dinda tersenyum tulus menatap Tian.
Tian terpaku sesaat melihat senyum Dinda, deheman Ale membuatnya tersadar dan kembali ke mode datar.
"Lo sama yang lain bisa nyelametin mereka langsung kalo mereka udah keluar" ucap Tian lalu menatap panggung.
Suara dari MC yang berasal dari arah panggung membuat semua tamu yang hadir memperhatikannya.
"Al, aku mau ke toilet" bisik Dinda yang sudah kebelet.
"Mau dianter?" kata Ale, Dinda menggeleng dan berjalan tanpa menengok dengan langkah cepat.
"Selamat ya om, tante" ucap teman teman Tian kepada orang tua Tian.
"Ale datang sendiri?" tanya papa Tian.
"Engga om, sama pacar saya tapi dia lagi ke toilet" ada raut kecewa yang sedikit terlihat di wajah papahnya Tian. Ale ingin bertanya tapi dia urungkan.
Setelah mereka turun dari panggung, mereka kembali ke tempat dimana mereka berkumpul tadi.
"Kok Dinda lama banget sih?" tanya Guntur penasaran.
"Penuh mungkin" ucap Gista.
"Coba Le, lo susulin gue takut kenapa kenapa" titah Gista lagi.
Ale berjalan menjauhi mereka menuju toilet. Ale menunggu di depan toilet dengan gaya biasanya.
Banyak gadis bahkan ibu ibu yang baru keluar atau ingin masuk memekik histeris melihat Ale yang berdiri di dekat toilet wanita.
Ale memasukan kedua tangannya seraya menunduk menatap sepatu dengan punggung di senderkan ke dinding dan satu kaki di tekuk ke belakang layaknya model bahkan banyak yang memfotoi dirinya secara diam diam.
Ale hanya berdecak tidak nyaman, dia mengambil ponselnya di saku celana untuk menghubungi Dinda.
Tidak ada jawaban meski Ale sudah menelponnya lebih dari lima kali.
"Tuh orang pingsan apa mati ya? lama banget di wc" ucap salah satu gadis dari dua orang gadis yang baru saja keluar dari toilet.
Ale memiliki firasat tidak enak setelah mendengar ucapan gadis itu. Ale langsung masuk ke toilet wanita, semua orang di dalam memekik melihat seorang lelaki memasuki toilet wanita.
"Dinda!" teriak Ale memanggil kekasihnya tidak perduli dengan omongan atau teguran semua orang yang ada di sana.
Toilet itu cukup besar, Ale mengetuk setiap bilik untuk mengetahui siapa di dalamnya.
"Ale?" panggil Dinda di salah satu bilik.
Ale segera mendekat dan mengetuk pintunya.
"Dinda! Lo gak papa?" tanya Ale panik.
"Anu Al... Aku .. Aku" Dinda tidak melanjutkan perkataannya dia lebih memilih memberitahu Ale lewat pesan.
Notifikasi ponsel Ale berbunyi, dia membaca pesan Dinda.
Ale segera keluar untuk memanggil Gista.
"Gis, bisa lo tolongin Dinda?" ucap Ale.
"Kenapa sama Dinda?" tanya Gista khawatir.
"Bidadari gue kenapa Le?" tanha Guntur.
Ale tidak menghiarukan Guntur, dia menemani Gista menuju toilet wanita.
Ale menunggu diluar sedangkan Gista masuk ke dalam dengan membawa jas yang di pakai Ale. Kini Ale hanya mengenakan kemeja saja.
"Din! Dinda?" panggil Gista seraya mengetuk pintu.
Dinda membuka pintu lalu menyembulkan kepalanya dari pintu yang dia buka sedikit. Gista menyerahkan jas milik Ale agar Dinda bisa memakainya.
"Kok bisa sih lo dapet? Bukannya bukan tanggalnya?" tanya Gista heran karena dia tahu betul jadwal datang bulan setiap sahabatnya.
"Maju Gista, gue juga ga tau bisa maju gak biasanya"
"Efek hormon ini sii" ucap Gista.
Mereka keluar dari toilet dan menghampirj Ale yang sudah menunggu.
"Sakit gak?" tanya Ale khawatir karena setau dia jika perempuan sedang menstruasi akan terasa sakit.
Dinda menggeleng, dia sangat malu sekali.
"Kenapa tadi gue nelpon gak diangkat?" tanya Ale.
"Ponselnya di silent lupa"
"Yaudh sekarang kita pulang, pasti lo gak nyaman kan?"
"Banget.. Maaf ya gara gara aku kamu jadi kerepotan"
"Gak papa, aku senang"
"Gista, tolong bilangin yang lain gue sama Dinda balik, sekalian tolong sampein maaf gue sama Dinda ke Tian" ucap Ale beralih ke Dinda.
"Siap bos" ucap Gista lalu mereka berpisah.
"Mana Ale sama Dindanya?" tanya Baim.
"Mereka balik"
"Kenapa? Terus tadi Dinda kenapa?" tanya Milo.
"Dinda kedatangan tamu" jawab Gista.
"Sepenting itu sampe gak pamit sama yang punya hajat?" tanya Guntur yang tidak mengerti maksud ucapan Gista.
"Hih lo gak paham?" tanya Gista.
"Gak paham apa? Sepenting siapapun tamu dia tetep harus pamit biar sopan" ucap Guntur.
"Bukan tamu seperti yang lo pikirin Guntur!" ucap Gista kesal.
"Udah jangan diladenin nanti lo naik darah" ucap Baim.
Gista mendengus menatap Guntur kesal, lalu menatap Tian ingin melihat reaksinya apakah sama seperti Guntur yang tidak mengerti tapi Tian tetap hanya menampilkan ekspresi datar.
"Tian, Ale sama Dinda bilang maaf" ucap Gista.
"Iyaa ga papa, gue paham" Tian akhirnya bersuara.
"Gue kira lo gak ngerti kayak dia" ucap Gista sambil menunjuk wajah Guntur dengan mata melotot.
"Lah mana gue paham begituan" ucap Guntur.
"Ya pantes aja lo jomblo terus" ucap Gista.
"Apa hubungannya?"
"Ada lah" ucap Gista sewot.
Milo dan Baim sudah tertawa melihat Guntur terkena dampak kekesalan Gista.
Ale dan Dinda sudah dalam perjalanan pulang ke rumah Dinda.
"Ale, aku minta maaf ini jadinya kotor semua kena darah. Gaun yang kamu beliin, jok mobil kamu bahkan ini jas yang kamu pinjemin ke aku" ucap Dinda merasa tidak enak.
"Gak masalah yang penting lo gak kenapa kenapa" ucap Ale seraya menatap mata Dinda menenangkan.
Tidak memperhatikan jalan, Ale tidak menyadari ada truk yang oleng berjalan berlawanan arah mendekati mereka.
Silau dari lampu yang berasal dari truk membuat Dinda berteriak, refleks Ale membanting stir ke kiri hingga menabrak pohon.