
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Beberapa hari berlalu, kondisi Dinda semakin baik.
Orang tua Dinda merasa lega karena hari ini Dinda diperbolehkan pulang.
"Dindaaa" panggil Ririn.
"Dindaaa astaga akhirnya lo boleh balik" ucap Gista dengan suara keras.
Ririn, Gista dan Helen menyalimi tangan Ana juga Bili yang disambut senyuman hangat dari keduanya.
Setelah Ale menjenguk dan menunggu Dinda di hari pertama, dirinya meminta kepada pihak rumah sakit untuk memindahkan Dinda ke kamar VVIP, agar Dinda lebih merasa nyaman dan cepat pulih.
Awalnya Ale akan menanggung semua biaya nya tapi Ririn menolak tegas alhasil Ririn, Helen, Gista dan Ale patungan untuk membayar semua biaya rumah sakitnya.
"Kangeen sekolah" ucap Dinda manja sambil memeluk Helen.
"Kita juga kangen lo, gak ada lo di sekolah gak seru" ucap Gista cemberut.
"Lebay deh" Dinda tertawa kecil.
"Balik sekarang?" tanya Ririn yang melihat semua barang milik Dinda sudah tersusun rapih.
Dinda menganggukkan kepalanya senang sebagai jawaban.
"Ibu sama Ayah ambil obat kamu dulu ya" ucap Ana kepada Dinda.
"Ibu minta tolong jaga Dinda sebentar ya" ucap Ana lagi beralih menatap ketiga gadis cantik di hadapannya.
"Siaap bu, Ibu tenang aja" jawab Ririn seraya mengangkat tangan hormat.
Ana dan Bili keluar kamar setelah pintu tertutup. Ririn duduk di sofa di mana Dinda berada begitupun dengan Gista yang duduk di samping Helen yang masih setia berpelukan dengan Dinda.
"Doi gak dateng buat jemput?" tanya Ririn.
Dinda mengerutkan kening bingung saat mendengar kata doi yang di maksud Ririn.
Ririn berdecak. Kini mereka tahu mengenai kedekan antara Ale dan Dinda hanya saja Ale melarang mereka untuk mengatakannya kepada Dinda karena itu adalah kemauan Dinda.
Gista tersenyum menatap Dinda seraya menaik turunkan alisnya.
"Apasih? Doi? Doi siapa?" tanya Dinda bingung.
"Engga deh lupain gue cuma bercanda" ucap Ririn membuat Dinda memicingkan mata curiga.
Setelah Dinda di pindahkan ruangan, Ale menunggu Dinda di depan kamar rawatnya sendirian karena dia menyuruh para sahabatnya untuk pulang begitupun dengan para sahabat Dinda.
Pada tengah malam, saat ke dua orang tua Dinda tertidur, Ale masuk untuk mengecek kondisi Dinda.
Saat itu jemari Dinda bergerak sampai matanya perlahan terbuka. Ale yang melihatnya segera keluar untuk mencari dokter.
Saat mata Dinda terbuka hal yang pertama dilihat adalah dokter yang memeriksa kondisinya dengan ditemani dua orang suster.
Setelah memanggil dokter Ale berdiri diluar, berdiri di balik pintu dan melihatnya melalui kaca yang ada di pintu menunggu dokter keluar. Setelah tahu kondisi Dinda, Ale pergi dari rumah sakit tanpa memberitahu Dinda jika dia ada di sana menunggunya tersadar.
Setelah malam itu sampai hari ini Dinda di perbolehkan pulang, Ale tidak pernah menunjukkan dirinya. Maka dari itu Dinda tidak pernah mengetahui jika Ale mengkhawatirkannya.
Bahkan Dinda tidak tahu jika Ale yang dengan panik membawanya ke rumah sakit dan membantu membayar biaya rumah sakitnya.
Ana dan Bili kembali seraya membawa beberapa obat untuk membantu memulihkan kondisi Dinda. Kemudian mereka bersama pulang ke rumah Dinda menggunakan mobil yang di bawa Helen.
...🌻...
"Hari ini Dinda balik?" tanya Guntur kepada Milo. Mereka saat ini sedang di kantin.
Milo mengangguk, tadi dia sempat mendengar Ririn yang mengingatkan Helen juga Gista di kelasnya.
Ale hanya diam, mencuri dengar apa yang di katakan Guntur. Dia merasa lega karena Dinda sudah baik-baik saja.
Dia berharap bisa segera bertemu dengannya agar bisa melihat langsung kondisinya.
Andai saja dia tidak mengingat janjinya kepada Dinda, sudah di pastikan dia akan dengan terang-terangan bertemu dengannya.
"Eh katanya ada anak baru ya? Pindahan dari luar negri cuyy" ucap Milo memulai gosip.
"Serius? Cewek apa cowok?" tanya Baim.
"Cewek lah. Gue denger pas kemaren gue lagi dipanggil sama pak Galang ke ruang guru" ucap Milo.
"Gak sabar gue pengen liat mukanya, kalo cantik gue sikat" ucap Baim semangag empat lima.
"Dia bakal jadi ade kelas bro" ucap Guntur yang sedang makan coki coki.
"Gak peduli, ade kelas kek, kakak kelas kek kalo cantik gue pepet" ucap Baim sambil nyengir kuda.
"Dasar playboy cap kuda" sungut Milo.
"Jomblo ya? Iri? Makannya ikutin cara gue" ucap Baim bangga.
Tian hanya menggelengkan kepalanya, menyimak teman-temannya yang seperti hilang arah.
Ale hanya diam saja, tidak mendengarkan apapun yang di bicarakan oleh mereka.
"Eh Pak bos diem aja ni" ucap Guntur.
Ale tidak menggubris, dia sibuk dengan fikirannya sendiri sampai tidak menyadari sekitarnya.
"Doi lagi mikirin bidadari Dinda ya?" tanya Guntur kepada taman-temannya.
Mereka semua mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Jangan ngomongin gue!" ucap Ale dingin yang sudah kembali dengan kesadarannya lalu beranjak pergi meninggalkan kantin diikuti ke empat teman - temannya.
"Kapan kita tanding persahabatan sama SMA Bronzess?" tanya Milo kepada Tian, kapten basket SMA Snoppy.
"Minggu depan" jawab Tian.
"Lo ngapain ikut ke sini?" tanya Baim kepada Milo.
Milo melirik sinis Baim.
"Masuk kelas lah" ucapnya.
"Kelas lo di sebelah oncom!" ucap Baim.
Milo kembali keluar kelas dan melihat papan nama yang tergantung di pintu kelas 'XI IPA 2'.
"Eh iiyaa. Lagian guru guru pada kenapa sih gue dipisah sendirian kalian enak banget sekelas sama Ale sama Tian" ucap Milo sedikit kesal.
"Lo kurang beramal" seru Guntur.
"Dah lah yang penting gue sekelas sama Helen!" ucap Milo dan melangkah memasuki kelas XI IPA 1 yang ada di sebelah kelas mereka.
...🌻...
"Ibu, Ayah. Dinda berangkat dulu ya" teriak Dinda di depan rumahnya.
"Hati-Hati sayang" ucap Ana balas berteriak dari dalam rumah.
"Selamat pagi nona Dinda" sapa Ririn menggoda saat Dinda memasuki mobilnya.
Dinda terkekeh mendengar Ririn seperti sopir pribadi.
"Apa sii" kata Dinda merasa tidak enak.
"Gue ngerepotin lagi deh" ucap Dinda yang langsung mendapat delikan tajam dari Ririn.
"Yaa kan gue bisa berangkat sendiri. Lo jadi harus berangkat pagi gara-gara jemput gue" ucap Dinda.
"Gak masalah yang penting lo aman" ucap Ririn semakin membuat Dinda merasa tidak enak.
"Kok macet sii?" ucap Ririn.
Dinda memperhatikan jalanan yang sangat padat, bahkan motor yang bisa menyalip saja tidak jalan saking padatnya jalanan.
Dinda dan Ririn mengedarkan pandangannya mencari tahu penyebab kemacetan.
Ririn menurunkan kaca jendelanya, dia bertanya pada pedagang asongan yang sedang menawarkan dagangannya.
"Mas, ada apa si kok macet banget?" tanya Ririn.
"Di depan ada tabrakan beruntun neng, empat mobil" kata si pedagang asongan itu.
"Neng gak mau beli dagangan saya?" pedagang itu menyodorkan dagangannya yang dikalungkan di lehernya.
"Beli air mineral aja deh dua, Nih uangnya" ucap Ririn seraya berdecak.
"Nih neng kembaliannya" pedagang itu memberikan dua botol air mineral bersamaan dengan kembaliannya.
"Udah ambil aja, makasih ya"
"Nuhun atuh neng" ucap pedagang itu.
"Kan gara gara gue lo jadi telat" ucap Dinda seraya mengambil minum yang diberikan Ririn.
Ririn berdecak kesal mendengar Dinda terus menyalahkan diri sendiri.
"Ck.. Gue yang mau jemput lo jadi gak ada masalah buat gue. Ini kecelakaan di luar ekspetasi jadi biarin aja si" ketus Ririn.
"Sorry" cicit Dinda.
Setengah jam kemudian jalanan mulai lancar kembali. Dinda dan Ririn memasuki area sekolah bersamaan dengan tatapan guru killer yang sudah menunggu para muridnya yang terlambat seraya berkacak pinggang.
"Dindaaaaa Ririiiiiiiiin!" teriak bu Sekar dengan sanggul khasnya saat mereka berdua turun dari mobil.
Dinda dan Ririn berjalan menghampiri bu Sekar. Ririn berjalan dengan cuek dan Dinda berjalan seraya menunduk takut.
Pertama kali dalam hidupnya terlambat datang ke sekolah sampai sesiang ini.
"Dari mana saja kalian?" tanya bu Sekar dengan mata melotot seperti akan keluar.
"Jalanan macet bu gara gara kecelakaan" ucap Ririn cuek tidak ada rasa takut sama sekali.
"Alasan klise! Saya tidak percaya" ucap bu Sekar seraya menatap Dinda meminta dia berkata jujur.
"Ririn benar bu, tadi kita sudah berangkat pagi tapi terjebak macet karena kecelakaan beruntun" ucap Dinda. Bu Sekar langsung mengangguk percaya membuat Ririn berdecak kesal.
"Kalian baris bersama mereka!" titah bu Sekar, menunjuk barisan yang isinya murid laki-laki semua.
"Dinda jangan di hukum! Biar saya yang menggantikannya, dia belum sembuh total setelah satu minggu di rawat" ucap Ririn tegas.
Bu Sekar menatap Dinda dari atas sampai bawah. Dia juga mengingat jika Dinda sudah satu minggu tidak masuk sekolah karena di rawat.
"Dinda kamu boleh masuk ke kelasmu, tapi tidak dengan Ririn!" ucap Bu Sekar.
"Tidak bu. Saya juga harus kena hukum" Dinda menolak dan pergi berjalan menuju para murid berbaris.
"Ck keras kepala mulai" desis Ririn tidak suka.
Bu Sekar menggeleng gelengkan kepalanya tidak mengerti anak jaman sekarang, giliran di hukum minta ampun di bebasin malah minta di hukum.
"Eh Neng Dinda" ucap Guntur yang berdiri di samping barisannya.
"Lo udah sembuh?" tanya Baim.
"Kok tau gue sakit?" Dinda balik bertanya.
"Yaa lo ga keliatan di sekolah selama seminggu" kata Baim mencari alasan.
"Satu sekolah heboh waktu lo dilariin ke rumah sakit" ucap Milo lalu di senggol Baim.
"Kok bisa heboh?" tanya Dinda penasaran, dia berfikir jika dirinya bukanlah orang penting bahkan hampir seluruh murid di sekolahnya tidak menyukainya bahkan mungkin membencinya.
"Ya gimana gak heboh orang Gista teriak kenceng banget pas lo pingsan terus dia kejer sepanjang jalan" ucap Ririn yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"KALIAN YANG DI BELAKANG JANGAN NGOBROL TERUS!" teriakan membahana bu Sekar membuat mereka terdiam.
"KALIAN INI MAU JADI APA HAH SEKOLAH TELAT TERUS?" tanya bu Sekar dengan suara TOA nya.
"Guntur! KAMU INI YA BUKANNYA MIKIR SETIAP HARI DAPET HUKUMAN MALAH SEMAKIN JADI! UDAH TELAT, NYOGOK MANG UJANG, BAJU BERANTAKAN, ATRIBUT GAK DI PAKE, RAMBUT PANJANG!"
Guntur hanya menunduk mendengar bu Sekar mengomelinya. Milo dan Baim tertawa begitupun Ririn yang menampakkan wajah puas melihat Guntur di marahi.
"Sialan lo pada ya! Awas lo!" gumam Guntur mihat teman-temannya terkikik.
"Ya elah bu saya terus, saya mulu, saya lagi yang di salahin! Kan yang lain juga sama telat, baju berantakan , atribut ga di pake! Tapi yang kena sasaran saya mulu! Ibu ngefans ya sama saya makannya nama saya aja yang ibu inget" ucap Guntur kesal.
Bu Sekar melotot sambil berkacak pinggang "Diam kamu Guntur! Bisanya nyaut aja kalo di bilangin!" ucap bu Sekar.
"Udah lah bu jangan marah-marah mulu masih pagi nanti cape" ucap Guntur.
"DIAM! Saya gak perlu nasehat kamu!" ucap bu Sekar.
"Kalian saya beri hukuman, bersihin seluruh area sekolah sampe bersih! Untuk yang laki-laki kalian bersihin toilet dan untuk yang perempuan kumpulkan sampah" ucap bu Sekar.
Ririn memandang Dinda dengan mata tajamnya. Perempuan yang mendapat hukuman hanya mereka berdua sisanya adalah laki-laki jadi disini adil dimananya ya?
"Bu kita kan cuma berdua ya kali bu ambilin sampah di seluruh area sekolah yang gedenya naujubillah" protes Ririn keberatan.
Bu Sekar berfikir ada benarnya juga ucapan Ririn.
"Baiklah saya ulangi! Milo, Baim sama Guntur kalian ikut Ririn dan Dinda untuk mengumpulkan sampah! Sisanya bersihin toilet" selanjutnya bu Sekar berjalan ke lorong sekolah, untuk memantau mereka mengerjakan tugasnya.
Dengan pasrah mereka melakukan apa yang di katakan bu Sekar.
"Pantesan bu Sekar ga pernah dapet jodoh kerjaannya ngomel mulu!" geruru Guntur.
"Sstttt Guntur jangan ngomong gitu ah ga baik" tegur Dinda.
"Tau lo. Durhaka lo sama guru" ketus Ririn.
Guntur tersenyum canggung kepada Dinda dan melotot ke arah Ririn.
"Apa lo? Mau gue colok tuh mata lo?" tanya Ririn galak.
"Noh depan lo sampah! Buruan masukin sini" ucap Guntur kepada Dinda.
"Gak ada Tur udah bersih di sini" keluh Dinda.
"Itu depan lo sampah gede banget Din!" Dinda melihat Ririn yang sudah bersiap memukul Guntur.
"Maksud lo gue sampah? Kampret Guntur!" pekik Ririn sangat kesal seraya melemparinya dengan sampah yang sudah susah payah mereka kumpulkan.
"RIRIN!" pekik Dinda, Milo dan Baim bersamaan.
Guntur tertawa puas ketika melihat Ririn misuh misuh karena kesal.
"Gue naro ini dulu udah penuh soalnya sekalian ambil yang baru" ucap Dinda sambil menenteng plastik menjauhi mereka.
Dinda menyimpan sampah yang dikumpulkannya ke TPU sekolah. Saat berniat untuk kembali setelah mengambil kantung sampah yang baru, tangannya di tarik lembut oleh seseorang.
Dinda mengikutinya setelah melihat ternyata Ale yang menariknya. Dinda tersenyum melihat Ale yang nampak celingukan untuk memperhatikan sekitar.
Setelah merasa aman, Ale menatap Dinda dengan raut kesal.
"Kenapa di hukum?" tanya Ale.
"Telat"
"Kok bisa?"
"Ya karena telat"
"Lo masih belum pulih, bisa minta bu Sekar buat ga ngehukum lo?" Dinda menggeleng seraya tersenyum.
"Gak adil song, kan gue telat jadi harus dihukum" ucap Dinda membuat Ale ingin sekali mengarunginya.
"Pengecualian buat yang lagi sakit!" ucap Ale kesal.
"Gue udah gak papa kok" Dinda tersenyum menenangkan.
"Kalo gak kuat jangan dipaksa nanti pingsan lagi, kritis lagi gara gara lo keras kepala! Gak mikirin orang yang sayang sama lo khawatirnya kayak gimana?" ucap Ale, nada suaranya menjadi dingin membuat senyum di wajah Dinda hilang dan tergantikan dengan rasa bersalah.
"Bukan gitu maksud gue!" ucap Dinda.
"Eh tapi, gue ga mimpi dong" ucap Dinda lagi membuat Ale mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Ya gue ngerasa lo yang gendong gue dan bawa gue ke rumah sakit" kata Dinda lagi.
"Kalo bukan gue siapa lagi? Temen temen lo? Gak mungkin salah satu dari mereka bisa gendong lo" ucap Ale.
"Badan lo berat banget gitu" ketus Ale melanjutkan.
Dinda menyipitkan matanya ketika dia di katai gendut.
Hello! Seorang Dinda yang tingginya 160 cm dan berat badannya 48kg di bilang gendut?
"Tau ah! Tadinya mau ngucapin makasih tapi gak jadi!" keluh Dinda lalu pergi meninggkan Ale yang tersenyum.