
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Pagi bang Ale" sapa Cika yang berdiri di koridor dekat tempat parkir sengaja menunggu Ale.
Ale menghiraukan sapaan Cika yang sudah beberapa hari ini seperti sengaja mendekatinya bahkan terang terangan mencari perhatian padanya.
"Tuh anak baru muka doang cakep tapi kelakuan gak banget!"
"Yaa lo liat lah dia modal tampang aja gak dilirik sama Ale"
Sudah satu bulan Cika menjadi murid Snoppy dan selama itu pula dia terus menganggu Ale dan sengaja mendekatinya.
"Woi bos!" sapa Milo yang sedang berdiri di depan kelasnya sambil memegang sapu. Hari ini adalah jadwal piket Milo.
"Eh ada dedek Cika! Masih belum nyerah?" sindir Milo yang dihiraukan Cika.
Ale memasuki kelas Milo saat melihat Dinda sedang duduk dikursinya membaca buku.
Ale sengaja duduk di hadapan Dinda meminta perhatian darinya. Cika menghentakkan kakinya saat melihat Ale memasuki kelas Dinda.
"Awas tuh cewek, kita liat apa yang akan gue lakuin ke lo" gumam Cika lalu pergi sambil menghentak hentakkan kaki kesal.
"Ale" pekik Dinda kaget karena dia baru menyadari ada Ale sedang duduk di hadapannya.
"Serius banget si" ucap Ale datar.
"Kayak hantu, datangnya ga kedengeran" ucap Dinda.
Milo kembali memasuki kelas. Menghampiri Ale dan juga Dinda.
"Woiii bos! Yang ono dicuekin eh nyantolnya ke yang ini" ucap Milo. Ale mendelik tajam mendengar ucapan Milo yang ngawur.
"Siapa? Cika?" tanya Dinda penasaran.
"Siapa lagi yang udah sebulan ini getol banget deketin Ale" ucap Milo.
Dinda merasakan perasaan tidak suka, tapi dia tetap diam karena itu bukan haknya. Dia dan Ale hanya sebatas teman tidak lebih dan Dinda tahu diri.
"Kesel gak?" tanya Ale membuat Dinda menatapnya lalu menggeleng setelah lama berfikir.
Ale berdecak "Kapan lo mau buka hati? Disini ada orang yang selalu nunggu" ucap Ale.
Milo mengulum senyumnya saat mendengar ucapan Ale yang tidak pernah dia dengar.
"Astaga Le! Lo bisa ngomong gitu juga?" ucap Milo.
"Diem" ketus Ale kesal karena menurutnya saat ini Milo menjadi penganggu.
"Kok kesel?" tanya Milo bercanda.
"Lo selalu tahu apa jawaban gue!" ucap Dinda lalu pergi keluar kelas meninggalkan Ale dengan kebisuan.
Dinda berjalan menuju taman belakang karena masih tersisa dua puluh menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
Taman itu masih sepi karena masih pagi dan belum banyak murid yang datang.
Dinda duduk di bangku dekat pohon, kepalanya mengadah menatap tingginya pohon tersebut.
"Lo ibarat pohon ini yang tinggi menjulang, dan gue sebagai rumput kecil yang selalu diinjak dan tidak akan pernah bisa sebanding sama lo" ucap Dinda bermonolog.
"Jangan karena lo kenal duluan sama Ale, lo bisa dapetin dia!" suara ketus dari arah belakang Dinda membuat dinda menoleh.
Disana, Cika sedang berdiri sambil melipat tangan di dada dengan pandangan meremehkan.
"Gue gak ada niat buat dapetin dia" ucap Dinda.
"Lo itu munafik! Kalo emang gak ada niat buat dapetin dia kenapa gak lo tolak dan jauhin dia!" pekik Cika.
"Dia suka sama gue itu hak dia! Gue gak bisa ngerubah perasaan seseorang"
"Dasar cabe! Lo disini terasingi dan lo selalu mendapat perlindungan dari Ale bahkan teman-temannya tanpa lo minta! Lo caper, lo jelek dan lo miskin! Lo gak pantes sama dia!" ucap Cika mengeluarkan emosinya.
"Kenapa lo marah sama gue?" tanya Dinda bingung dengan ucapan adik kelasnya ini.
"Masih nanya lo, kenapa gue marah?"
"Gue gak pernah minta dilindungi siapapun disini! Jadi jaga omongan lo!"
"Alah. Lo emang gak ada nyadar nyadarnya! Lo terlalu naif jadi orang! Emang selama ini kalo lo lagi susah siapa yang diem diem ngebantu lo?"
Ucapan Cika membuat Dinda berfikir. Benarkah apa yang dikatakan Cika jika selama ini Ale selalu ada untuk membantunya?
"Udah satu bulan gue deketin Ale tapi dia terus nyuekin gue! Gue gak akan nyerah! Dia pasti akan berpaling ke gue kalo lo gak ganggu dia lagi!" teriak Cika.
"Gue gak ngerti omongan lo" Dinda pergi meninggalkan Cika yang menatapnya marah.
Cika mengikuti Dinda, saat Dinda melewati kolam ikan dia sengaja mengejarnya lalu mendorong Dinda hingga Dinda tercebur ke kolam.
"Mampus" ucap Cika dan pergi dari sana.
"Apa sih masalah tuh cewek?" ucap Dinda kesal berusaha keluar dari kolam.
Keadaan di sana sangat sepi. Dinda melihat ke sana ke sini untuk meminta tolong membantunya keluar dari kolam yang cukup dalam juga sangat licin karena lumut.
Dinda masih bergumam karena kesal, sebuah uluran tangan membuat Dinda mengadah.
Melihat siapa pemilik tangan itu, Dinda menyambutnya dan memegangnya erat hingga dia berhasil keluar dari kolam.
"Makasih Tian" ucap Dinsa tulus.
Tian hanya mengangguk tanpa mau melihat ke arah Dinda.
"Tian" panggil Dinda.
"Hm"
"Hei gue manggil! Liat gue dong" ucap Dinda.
Tian menggeleng sambil menunjuk kearah tubuh Dinda yang menampakkan bra berwarna hitam yang tembus pandang karena seragamnya basah.
Dinda refleks menutupi bagian tubuhnya, dan menatap galak Tian. Dia sangat malu saat ini.
"Lo liat?" tanya Dinda. Tian menggeleng yang sebenarnya dia sudah melihatnya.
Tian segera membuka jaket yang dipakainya, lalu memberikanya kepada Dinda untuk dipakainya.
Dia merampas jaket itu lalu memakainya dengan cepat.
"Udah. Sekarang lo bisa liat gue" ucap Dinda. Kini Tian melihat Dinda dengan leluasa.
"Makasih sekali lagi" ucap Dinda tulus.
"Sama-sama"
"Mending lo balik" ucap Tian.
"Gak mau! Gue ga boleh kehilangan point. Sebentar lagi ada penilaian untuk negalanjutin beasiswa gue atau enggak" ucap Dinda.
"Kalo gitu lo ke koperasi beli seragam baru dan ganti baju lo"
"Gak perlu, gue gak apa apa kok nanti juga kering sendiri" ucap Dinda keras kepala.
Tian kesal karena omongannya tidak dihiraukan. Tian menarik lembut tangan Dinda menuju koperasi.
Banyak pasang mata yang melihat mereka bergandengan di koridor.
"Cabe... cabe, Ale di embat sekarang Tian juga, gak mikir apa mereka sahabatan?" ucap siswi yang sedang berdiri di koridor menunggu bel masuk.
"Jangan didenger!" ucap Tian, Dinda menunduk dalam. Dengan pasrah terus mengikuti langkah lebar Tian.
"Ngapain kesini? Gue bilang kan gak perlu" ucap Dinda.
"Bu, Seragam cewek satu" ucap Tian
"Gak usah bu, maaf gak jadi" ucap Dinda.
"Jadi beli apa engga, jangan buat ibu bingung" keluh ibu-ibu penjaga koperasi yang menjual seragam.
"Jadi bu, ukuran M" ucap Tian.
"Lo tau ukuran gue? Eh, tapi gue gak ada duit Tian"
"Pake duit gue, lo bisa ganti kapan kapan"
"Oke, makasih. Tapi lo tau ukuran gue dari mana?"
"Badan lo kecil" ucap Tian datar.
"Gue gak kecil! Ini ideal" Dinda membela diri.
"Nih non seragamnya"
"Makasih bu" ucap Dinda.
"Gue tunggu!" ucap Tian.
"Ngapain?"
"Ganti baju lo!" titah Tian.
Dinda merutuki Tian yang sebelas dua belas dengan Ale seraya memasuki toilet yang ada di sebelah koperasi untuk berganti baju.
"Daleman lo gak basah?" pertanyaan frontal Tian membuat Dinda yang baru keluar dari toilet memelototinya.
"Mesum" ketus Dinda.
"Percuma ganti kalo daleman lo masih basah! Pake aja lagi jaketnya" titah Tian saat melihat Dinda memegang jaketnya tidak di pakai.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka yang bersebelahan.
"Dari mana aja mas bro?" tanya Guntur saat melihat Tian baru memasuki kelas.
"Ada urusan" jawab Tian.
"Tumben lo gak pake jaket?" tanya Guntur lagi.
"Gerah"
Ale terus memperhatikan Tian hingga dia duduk di tempatnya.
"Nanti pulang sekolah nonton kuy!" ajak Baim.
"Gue gak bisa, mau nemenin nyokap" ucap Tian.
"Lah tumben?"
"Nyokap mau ngadain resepsi" ucap Tian lagi.
"O iya, nyokap lo kan baru nikah lagi ya?" tanya Guntur yang diangguki Tian.
"Gimana sama papah baru?"
"B aja, gue udah cukup lama juga kenal sama dia jadi udah terbiasa sama kehadiran dia" ucap Tian.
Mereka semua senang melihat Tian kini memiliki keluarga lengkap. Keempat sahabatnya sangat tahu bagaimana kehidupan mamahnya Tian yang single parent.
Mereka juga tahu cerita mengenai ayah Tian yang tidak bertanggung jawab dan pergi begitu saja saat mamahnya mengandung Tian.
Sekarang mamahnya Tian sudah bertemu dengan lelaki baik yang kini resmi menjadi papahnya.
"Kita turut seneng bro" ucap Baim.
"Selamat buat nyokap lo" ucap Ale.
"Yeee pesta! Makan makan" ucap Guntur.
"Eh itu jaket Tian kok di lo Din?" tanya Milo.
"Emm anu.. Anu... Tadi gue nyebur kolam" ucap Dinda.
"Alah alesan lo aja biar bisa deketin Tian juga!" ucal Rena teman sekelasnya yang sangat tidak suka kepadanya.
"Apa maksud lo?" tanya Gista tidak suka mendengarnya.
"Ya lo tanya lah sama sahabat lo! Dasar cewek gak tahu diri" ucap Rena ketus.
"Jaga ya omongan lo!" pekik Ririn galak.
"Udah kenapa deh jangan ribut bentar lagi guru masuk" ucap Milo menengahi.
"Kok lo bisa nyebur?" tanya Ririn penasaran.
"Tadi gue ke taman, pas mau balik ke kelas gue kepeleset nyebur kolam deh. Untung ada Tian yang nolongin, karena baju gue basah jadi dia minjemin jaketnya ke gue" penjelasan Dinda membuat ketiga sahabatnya mengangguk.
"Gila ya Dinda di kelilingi cowok kutub" ucap Gista.
"Awas neng, entar beku loh" goda Milo yang ikut nimbrung di meja mereka.
"Apasi lo Milo! Ikut ikutan aja" ucap Ririn galak.
"Pelit amat si lo"
"Lo gak punya temen apa?" tanya Gista heran karena setiap hari Milo selalu mendekati mereka dan tidak bergabung dengan anak lelaki di kelasnya.
"Punya lah! Sembarangan" ucap Milo ketus "Temen gue di kelas sebelah, kalo gabung sama anak laki disini gue males mulutnya kayak cewek semua termasuk si ketu" ucap Milo lagi sambil berbisik takut ada yang mendengar.
Ketu yang di maksud adalah Rian, ketua kelas yang kalo apa apa selalu mengadu.
Mereka berempat mengangguk membenarkan apa yang di katakan Milo.
...🌻...
Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas.
"Kantin yuu" ajak Gista dengan gaya centilnya.
"Hayyuuu" jawab Dinda pura pura centil.
Mereka berempat berjalan keluar kelas menuju kantin.
"Noh kosong! Cepetan nanti keburu diambil" ucap Gista yang heboh berlari untuk bisa mendapatkan tempat duduk kosong yang dilihatnya.
"Gue yang mesenin, kalian mau apa?" ucap Dinda.
"Gue batagor sama jus mangga" ucap Ririn.
"Gue nasi goreng deh laper soalnya habis mikir" ucap Gista.
"Gaya lo sok mikir, nyontek Dinda juga" ledek Ririn membuat Gista nyengir kuda.
"Minumnya apa Ta?"
"Emm es teh manis aja Din" ucap Gista, Dinda mengangguk lalu beralih menatap Helen.
"Gue beli sendiri aja" kata Helen dan berdiri mendahului Dinda berjalan ke stand makanan yang dia inginkan.
"Helen kenapa sih dari kemaren kok dia kayak ngejaga jarak sama gue?" tanya Dinda.
"Lo mikir apasi?" tanya Ririn.
"Ya din, cuma perasaan lo aja" ucap Gista menenangkan.
"Semoga cuma perasaan gue aja" Dinda berjalan memesankan makanan yang diinginkan kedua sahabatnya.
Dinda meminta tolong kepada setiap penjual makanan yang dipesannya untuk mengantarkan pesanannya ke meja mereka.
Saat berbalik Dinda bertabrakan dengan Cika yang sedang membawa semangkok bakso.
Mangkok yang dipegang Cika pecah karena terjatuh, semua isinya tumpah ke tubuh Dinda.
"Aaduuhhhhh panasss!" teriak Cika mengibaskan tangannya yang terkena cipratan kuah bakso miliknya.
Berbeda dengan Dinda yang menahan rasa panas di dadanya karena kuah bakso yang sangat panas tersebut tumpah semua ke tubuhnya.
"Lo kalo jalan liat liat dong! Panas tangan gue astaga" pekik Cika yang kelewat lebay.
Semua orang yang ada di kantin memperhatikan mereka.
"Heh junior yang gak tau sopan santun!" pekik Gista menarik Cika untuk menghadap kepadanya.
"Lo kalo ngomong sama kakak kelas yang sopan bukan teriak teriak kayak gitu!" ucap Gista lagi.
"Ngapain gue harus sopan sama cewek cabe kayak dia!" ucap Cika seraya menunjuk Dinda tepat di wajahnya.
"Apa maksud lo? Lo masih anak baru udah berani ngebacot lo ya!" teriak Ririn yang sudah emosi.
Helen menarik Dinda untuk pergi dari sana meninggalkan Cika yang sedang diurus oleh Ririn dan Gista.
"Helen?" ucap Dinda kaget.
"Lo pikir gue akan diem aja liat lo digituin?" ucap Helen datar.
"Gue kira lo marah sama gue?" Helen tertawa lucu, Dinda terpana melihat tawa Helen yang jarang sekali dia lihat.
"Ya enggak lah Din, alesan apa gue harus marah sama lo?"
"Syukur deh, gue takut aja"
"Jangan pernah takut kalo lo ga salah" ucap Helen.
"Heh Cabe!" pekik Cika ketika melihat Dinda mau pergi.
"Mulut lo!" teriak Ririn.
"Woii ada apasih?" tanya Guntur ketika dia dan teman-temannya baru akan memasuki kantin kepada salah satu siswi yang berdiri menghalangi jalannya.
"Itu junior yang anak baru lagi marah marah sama Dinda" ucap seorang siswi.
"Waah gak bisa dibiarin nih anak" keluh Milo berusaha menerobos kerumunan.
Tian melihat Dinda dan juga Helen yang keluar dari kantin lewat pintu yang lain segera bergegas menghampiri.
Ale memperhatikan Tian yang berjalan tergesa. Ale memasuki kantin untuk menyaksikan apa yang terjadi.
"Woi ada apa ini?" teriak Guntur.
Ririn menoleh begitupun dengan Gista. Mereka berdua melihat Guntur yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Astaga, yayang Ririn anak orang lo apain?" pekik Guntur melihat Cika yang sudah sangat acak acakan.
"Dia duluan! Gue cuma ngasih pelajaran" ucap Ririn datar.
"Neng Cika, ada apa?" tanya Guntur beralih ke Cika yang masih menatap tajam Ririn dan Gista.
"Gara gara nih si temen cabe!" ketus Cika membuat Guntur bingung.
Begitupun Ale, Baim dan Milo.
"Siapa cabe yang lo maksud?" tanya Milo.
"Siapa lagi kalo bukan Dinda si cewek miskin?" teriak Cika.
Ale menatap marah kepada Cika yang sudah berani mengatai Dinda.
Ale maju dengan segelas jus yang asal dia ambil dari meja terdekatnya.
Ale langsung saja menyiram wajah Cika dengan jus yang dia pegang, dia benar-benar tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Dinda.
"Bang Ale?" pekik Cika tidak percaya.