Will Be Mine

Will Be Mine
Five



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Emm begini Tuan, anak anda sedang kritis karena gejala alergi menyebar dengan cepat. Sepertinya pasien menahan gejala alerginya cukup lama. Karena hasil dari pemeriksaan saya, pasien sudah mengalami gejala lebih dari tiga jam dan tekanan darah pasien sangatlah rendah. Denyutnya juga semakin melemah" ucapan dokter yang memeriksa Dinda.


Semua orang di sana terkejut.


"Kami akan memantau keadaan pasien, untuk sementara pasien kami pindahkan ke ruang ICU" setelah mengatakan itu dokter tersebut pamit undur diri dan kembali masuk ke ruangan dimana Dinda terbaring lemah.


Tidak lama kemudian, Dinda yang tidak sadarkan diri di atas bungker di dorong oleh beberapa suster diikuti dokter.


Mereka hanya bisa melihat Dinda sekilas, orang tua Dinda mengikuti kemana para suster membawa Dinda begitupun dengan Ririn, Helen dan Gista.


Guntur dan Tian menatap Ale yang sedang menahan amarahnya. Terlihat dari tangan Ale yang terkepal kuat dan dadanya yang naik turun.


Ale meminta kunci mobil miliknya kepada Guntur.


"Lo mau kemana?" tanya Tian melihat Ale hendak pergi dengan emosi.


Ale tidak menjawab. Dia berjalan menuju mobilnya berada.


"Ian! Ikutin dia Ian!" ucap Guntur disetujui Tian.


Tian dan Guntur mengikuti Ale yang sudah melajukan mobilnya keluar area rumah sakit.


Ale membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolahnya.


Tian dan Guntur turun dari mobil setelah Tian memarkirkan mobilnya di sekolah.


Ale berjalan dengan langkah lebar. Sekolah yang cukup sepi karena pelajaran sedang berlangsung.


Ale menaiki tangga menuju kelas X1 IPS 3 berada. Menatap pintu di depannya. Ale menendang pintu itu begitu saja.


Berjalan dengan aura dingin dan tatapan tajamnya. Menghiraukan guru yang sedang mengajar.


Guru yang berdiri di depan kelas hendak mengomel tapi dia urungkan saat melihat siapa pelaku yang menganggu kelasnya.


Ale berjalan menuju meja nomor empat yang ada di barisan tengah.


Vita tersenyum melihat Ale yang menghampirinya. Seketika senyumnya sirna saat Ale dengan kasar menarik pergelangan tangannya.


Ale menyeret paksa Vita untuk ikut dengannya. Vita kesulitan mengikuti langkah Ale yang terburu-buru juga lebar.


"Awww sakit Le! Tanpa lo paksa juga gue pasti ngikutin lo kok" ringis Vita yang di hiraukan Ale.


Ale membawa Vita ke lapangan utama. Lalu melepas kasar tangan Vita yang di pegangnya. Vita kebingungan dengan sikap Ale kepadanya.


Tian dan Guntur mengikuti Ale dengan wajah khawatir, mereka takut Ale kebablasan karena bagaimanapun Vita adalah seorang wanita dan wanita bukanlah tandingan mereka para lelaki.


Ale diam seraya terus melihat jam yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Waktu bel berbunyi sisa beberapa detik lagi. Ale menghitung mundur dalam hati.


Tidak lama bersamaan dengan Bel berbunyi, Ala berteriak memanggil nama Vita dengan sangat keras.


"VITA!" teriakan Ale menyita perhatian semua siswa maupun siswi yang berhamburan keluar.


Seluruh koridor dari setiap lantai dan juga pinggir lapangan kini di penuhi oleh mereka untuk menonton Ale di lapangan.


Bisikan mengenai Vita dan juga gosip yang beredar beberapa waktu lalu mereka simpulkan.


Mereka tahu jika kini Ale sedang sangat sangat marah. Terbukti dari suara Ale yang membahana.


Banyak dari mereka yang merekam kejadian yang akan terjadi.


Baim dan Milo mendekat, berdiri di samping Guntur dan Tian.


"Kena lo!" gumam Milo seraya menatap Vita.


"Lo! Ratu bully di sekolah ini" ucap Ale dengan tatapan dinginnya.


"Tapi gue gak peduli! Siapapun lo kalo lo udah berani ganggu bahkan nyakitin milik gue, gue gak akan segan mau lo cewek sekalipun!" ucap Ale lantang.


Ale sudah mendorong tubuh Vita yang kini bergetar ketakutan hingga jatuh terduduk.


Ale berdiri menjulang di hadapan Vita. Semua penonton merasa puas karena kini Vita mendapat pelajaran dari apa yang sudah dia perbuat karena kebanyakan murid di sekolah ini tidak menyukai perangai Vita yang menganggap dirinya ratu.


"Apa maksud lo Le?" tanya Vita sambil mengadah menatap Ale dari bawah.


Ale membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Vita.


"Apa yang udah lo lakuin ke Dinda?" tanya Ale berbisik.


Vita gelagapan saat Ale mengajukan pertanyaan mengenai Dinda.


"Itu ulah Jeni bukan gue" ucap Vita membela diri.


Jeni melakukan semua itu atas perintah Vita yang otomatis Vita adalah dalang dari semua ini.


"Lo tau perbuatan lo udah buat nyawa orang kritis? Dia lagi berjuang untuk hidup sementara lo enak enakan disini tanpa mikir atau ngerasa bersalah?" tanya Ale dengan suara lantang tepat di depan wajah Vita.


Tubuh Ale sudah sangat panas, dia menahan diri untuk tidak menonjok wajah Vita. Melihat Vita sedekat ini membuat dirinya meresa jijik.


"Kalo sampe dia gak sadar hari ini liat aja apa yang akan gue lakuin ke lo!" ucap Ale lalu pergi meninggalkan Vita juga kerumunan penonton yang merasa kurang puas dengan tindakan Ale.


Vita meremas rok seragamnya kuat, wajahnya menahan amarah. Menatap punggung Ale yang semakin menjauh. Vita berdiri dengan kesal dia membersihkan roknya dari debu yang menempel.


Siska dan Jeni datang menghampiri Vita. Vita menatap tajam mereka melepaskan amarahnya kepada mereka yang tidak becus melakukan hal yang disuruhnya.


"Lo berdua gak guna!" ucap Vita dan berlalu meninggalkan mereka yang kesal terhadap ucapan Vita.


............


"Le! Ale!" penggil Milo.


Ale menghentikan langkahnya, berbalik menatap Milo juga sahabatnya yang lain.


"Mau kemana lagi?" tanya Guntur.


"Rs" kata Ale yang kembali ke mode dinginnya walau amarahnya belum sepenuhnya tersalurkan.


"Kita ikut lah" ucap Baim.


Ale berbalik memimpin jalan menuju parkiran. Mereka mengendarai kendaraan masing-masing. Ale dan Tian yang membawa mobil, Baim dan Milo membawa motor sport mereka sedangkan guntur membawa motor Vespa legendarisnya.


Tidak lama kemudian ke lima remaja laki-laki itu sampai di rumah sakit Pelita Harapan.


Saat memasuki pintu masuk rumah sakit mereka bertemu dengan Gista dan Helen yang baru saja keluar.


"Kalian mau kemana?" tanya Guntur.


"Loh kalian kok balik lagi? Ngapain?" tanya Gista.


"Mau jenguk Neng Dinda lah" ucap Guntur.


"Gimana kondisi dia?" tanya Ale datar tapi dari suaranya tampak khawatir.


"Dinda, dia udah lewatin masa kritisnya sekarang dia udah pindah ke ruang rawat" ucap Gista.


Tampak raut kelegaan di wajah Ale, dia menghela nafas pelan merasa sesak karena khawatir di dadanya luntur begitu saja.


"Di kamar mana dia sekarang?" tanya Ale.


"Kamar Delima ruangan nomor 1" kata Gista.


"Kalian mau kemana?" tanya Milo seraya menatap Helen yang sedari tadi menampilkan wajah datarnya.


"Mau beli makan" jawab Helen masih dengan wajah datarnya setelah di senggol Gista memberi kode agar menjawabnya.


"Gue anter deh" ucap Milo sambil menyenggol Tian mengadahkan tangannya.


Tian yang mengerti maksud Milo memberikan kunci mobilnya yang dibalas cengiran oleh Milo.


"Gue isiin bensin entar" ucap Milo.


"Gak usah, udah full" jawab Tian.


"Ada Milo yang anter, jadi lo aja yang beli makan!" ucap Gista dengan entengnya.


Milo sudah senyam senyum sendiri melihat Gista yang peka kepadanya.


Helen memutar bola matanya jengah tapi tetap mengiyakan. Helen berjalan terlebih dahulu menuju parkiran.


"Gue ngeDate dulu ya!" ucap Milo cengengesan.


"Anjirr bocah! Pepet teroooosss!" pekik Guntur.


"Beli makan bege bukan ngeDate!" ketus Baim.


"Lah Ale mana?" tanya Guntur yang tidak mihat Ale.


Mereka semua mencari Ale tapi nihil, mereka tidak menemukannya.


"Udah lah entar juga nongol!" ucap Gista.


Gista berjalan seraya memepet Baim yang kini melihatnya geli.


"Lo kenapa dah markonah jalan masih lega juga mepetin Baim mulu?" tanya Guntur.


"Sirik aja lo kutu biyawak" ketus Gista tapi masih berusaha menyamai langkah Baim.


"Emang biyawak punya kutu?" tanya Guntur pelan kepada Tian yang berjalan di sampingnya. Tian hanya menggelengkan kepalanya.


Kapan lagi kan bisa deketan sama pujaan hati. Pikir Gista.


Baim yang memang seorang playboy langsung merangkul bahu Gista dengan entengnya membuat Gista memekik senang.


"Anak orang main rangkul rangkul aja woii" ujar Guntur yang tiba tiba sensi melihat Baim dan Gista berdekatan.


"Cemburu lo nyet?" tanya Baim sambil menaikan alisnya sebelah.


"Najisun cemburu ama lo berdua! Engga pisan" ucap Guntur dengan logat sundanya.


Baim terkekeh melihat bibir Guntur yang sudah maju karena terus mendumel.


Mereka tiba di depan kamar rawat Dinda. Dinda di rawat di kamar kelas 3 di mana satu kamar berisi enam pasien.


Baim merasa gerah dan juga mual saat bau yang bercampur aduk memasuki indera penciumannya.


Baru pertama kalinya dia memasuki kamar dengan kelas rendah seperti ini. Tapi demi Ale dia rela menginjakkan kaki di kamar itu.


Baim tahu Dinda adalah perempuan dari keluarga miskin. Awalnya Baim adalah anak yang sok, angkuh dan suka bertindak semena-mena jika menyangkut orang yang derajatnya jauh di bawahnya.


Tapi semenjak mengenal Ale, dirinya perlahan berubah menjadi lebih baik walau sifat playboynya masih melekat erat.


Dibukanya tirai yang membatasi antara pasien satu dengan yang lainnya. Di dalam sana sudah ada Ale yang sedang duduk di samping tempat tidur Dinda. Tidak ada orang tua Dinda.


"Lah ni bocah udah ada di sini aja" ucap Guntur membuka suara.


"Tante Ana dan Om Bili kemana Le?" tanya Gista. Ale menggeleng.


"Terus Ririn kemana?" tanya Gista lagi.


"Toilet" jawab Ale.


"Itu neng Dinda tidur apa pingsan? Pules banget" ucal Guntur.


"Dinda masih belum sadar, walau udah lewatin masa kritis" ucap Ririn yang tiba-tiba sudah ada di belakang Guntur membuat Guntur meloncat kaget.


"Astagfirullah" ucal Guntur sambil mengelus dadanya.


"Tumben lo nyebut" ucal Ririn mendelik ke arah Guntur.


"Ngagetin lo ah. Kalo gue punya penyakit jantung terus tiba tiba mati gimana?" tanya Guntur.


"Ya tinggal kubur susah amat sih" ucap Ririn ketus.


Guntur mendengus kesal medengar jawaban Ririn yang sangat lancar.


"Gak nyesel kalo gue nanti mati dan ninggalin lo?" tanya Guntur dengan wajah serius.


Ririn merauk wajah Guntur yang sok serius.


"Ngapain gue nyesel? Seneng iya gak ada kaum amuba lagi" ucap Ririn bercanda.


"Yee ******, seneng banget kalo gue mati" ucal Guntur kesal.


"Urusin amat si!" ucal Ririn.


Sutttttttth


Seruan dari beberapa orang yang menunggu pasien lain memperingati.


Ririn tersenyum canggung seraya menatap mereka meminta maaf dengan tangan di satukan di depan dada.


"Lo pada kalo mau ribut keluar sana!" ketus Ale membuat Guntur langsung kicep.


"Dia duluan!" ucap Ririn tidak mau kalah.


Guntur mengalah, tidak mau menjawab karena nanti bisa bisa dirinya kena omelan Ale yang kata katanya nusuk sampe ke jantung.


"Diem bisa gak? Kasian banyak yang sakit!" ucal Gista menengahi.


Uwweeekkkkk


Baim tidak bisa menahan rasa mualnya. Mau dipaksa bagaimanapun itu memang bukan tempatnya.


Gista menoleh menatap Baim yang sudah sangat pucat. Gista menarik pelan Baim agar ikut dengannya untuk keluar dari ruangan itu.


"Maklum sultan" gumam Ririn menyindir Baim yang sudah pergi.


"Lo manusia lempeng gak ngerasa risih disini?" tanya Ririn kepada Tian. Tian menggeleng tanpa membuka suara.


"Ortunya kemana?" tanya Ale saat Ririn sudah tidak bersuara tapi matanya menatap lurus ke arah Dinda yang matanya masih terpejam.


"Balik dulu ngambil baju dan kebutuhan yang lainnya" jawab Ririn.


Hening kembali, mereka sibuk masing masing.


Guntur bermain ponselnya sambil selonjoran di bawah tempat tidur Dinda.


Ririn menscroll sosmednya dan duduk anteng di samping Guntur.


Tian berdiri tegak seraya menonton youtube.


Ale menatap lurus ke arah Dinda, berharap mata itu segera terbuka.


"Lo udah kasih pelajaran ke si nenek lampir?" tanya Ririn yang sudah duduk di seberang Ale.


Ale hanya menaikan alisnya dengan bibir membentuk garis lurus.


"Andai ada gue, udah gue abisin dia" ucap Ririn menggebu. Dia merasa tidak puas dengan pelajaran yang Ale berikan kepada Vita.


Bagaimana Ririn tahu? Tentu saja video amatir dari grup kelas yang dibagikan oleh teman teman sekelasnya.


"Se sayang itu lo sama temen lo?" tanya Ale.


"Jelas lah! Dinda sahabat gue!" ketus Ririn.


"Tapi dia itu gak setara sama lo" ucap Ale ingin mencari tahu mengapa seorang Ririn, Helen bahkan Gista mau dekat dan berteman dengan Dinda dimana semua orang di sekolah menjauhinya.


"Gue gak pernah diajarin buat ngerendahin orang yang jauh di bawah gue dalam hal apapun! Gue malah beruntung bisa ketemu dan jadi sahabat Dinda" ucap Ririn.


Ale menoleh, menatap Ririn dengan dahi berkerut.


"Dinda pernah nyelametin hidup gue" Ririn mulai bercerita.


"Waktu pas MOS hari pertama pas pulang sekolah, gue sempet kecelakaan karena tabrak lari. Kondisi waktu itu hujan terus jalanan sepi, gue nyebrang mau nyari taxi buat anter gue balik tapi entah dari mana tuh motor dateng ngebut banget"


"Dinda yang saat itu ada di halte deket sekolah ngeliat gue, dia bantuin gue sampe baju yang dia pake kotor kena darah gue. Dia bawa gue ke rumah sakit dan nungguin sampe gue sadar"


"Gue pendarahan banyak banget sampe harus dapet donor. Rumah sakit gak ada stok golongan darah gue. Karena keluarga gue ada di LA dan gue tinggal sendirian di sini gak ada yang bisa di hubungin. Kebetulan golongan darah Dinda sama kayak gue"


"Dia donorin darahnya buat gue tanpa pake mikir padahal dia gak kenal gue. Setelah gue tahu info itu dari pihak rumah sakit, gue langsung nyari tau tentang Dinda yang ternyata dia satu kelas sama gue"


Ale, Guntur dan Tian kini menatap Dinda. Guntur dan Tian menghentikan aktifitas mereka saat mendengar Ririn bercerita.


Ale menatap Dinda kagum, walau dia miskin harta tapi gadis di hadapannya ini memiliki kekayaan hati.


Helen dan Milo datang dengan menenteng banyak kantung plastik berisi makanan.


"Gue liat Baim tadi mukanya pucet banget" ucap Milo sambil menyerahkan beberapa kantung kepada Ririn yang mengambilnya untuk di simpan di atas nakas samping tempat tidur Dinda.


"Biasa, dia gak bisa nyium bau aneh rumah sakit. Lo tau sendiri!" ucap Guntur.


"Udah beli makanannya?" tanya Gista yang tiba-tiba ada di antara mereka.


Helen mengangguk begitupun dengan Milo.


"Gue minta dong, buat Baim sekalian kasian dia belum makan" ucal Gista sambil mengadahkan tangannya.


"****** kuda! Mana ada dia tadi tuh makan dua porsi mie ayam di sekolah" ucap Milo.


"Tapi tadi dia bilang belum pas gue tanya"


"Yee playboy cap kutu lo dengerin" keluh Milo.


"Lo kenapa peduli sama Dinda? Lo bukan siapa siapanya dia, lo juga gak sedeket itu sama dia" tanya Ririn manatap lurus Ale.