Will Be Mine

Will Be Mine
Seven



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Woiiii!! Woiiiii, Ale berantem tuh sama Revan!" teriak seorang murid lelaki. Koridor SMA Snoppy tiba-tiba saja menjadi sesak.


Semua murid yang ada di dalam kelas langsung berhamburan keluar. Lorong yang tadinya biasa saja kini sangat terasa mencekam.


Dinda, Ririn, Gista dan Helen ikut berlari keluar kelas untuk menyaksikan Ale yang kembali berbuat ulah.


Dinda menembus kerumunan, tidak menghiraukan panggilan teman-temannya.


Ririn berdecak, dia menarik tangan Gista juga Helen agar mengikuti Dinda membelah kerumunan yang sangat ramai itu.


Di depan sana, Dinda melotot tidak percaya melihat Ale yang dengan tanpa rasa kasihannya memukuli Revan yang sudah tidak berdaya.


Dinda sangat cemas saat ini, bingung harus berbuat apa sedangkan kerumunan yang menonton berteriak mendukung apa yang Ale lakukan.


"Ayoo Le! Hajar Le! Hajar!" teriakan dari berbagai sisi membuat Ale semakin gila memukuli Revan.


"LO GUE DIEMIN MALAH NGELUNJAK! BERANI BANGET LO!" teriak Ale seraya menghajar perut Revan.


Ale jika sudah marah sangat menyeramkan. Maka dari itu dia dikatakan iblis Snoppy.


Hanya Revan yang berani menantang bahkan terang-terangan menunjukkan rasa ketidaksukaannya terhadap Ale.


Awalnya Ale hanya menganggap Revan angin lalu. Tapi karena semakin didiamkan, Revan semakin menjadi-jadi hingga berhasil menyulut emosi Ale.


Ale yang selalu bersikap dingin kini berubah menjadi monster.


"Sok tau banget lo tentang GALAKSI"


"Ampun Le!" ucap Revan yang sudah tidak berdaya di bawah kukungan kaki Ale.


"Lo di depan gue cupu bangsat! Di belakang gue mulut lo rumpi! Gak ada kerjaan lo?" tanya Ale sambil mencengkram kerah seragam Revan.


"Lo nyebarin gosip yang gak bener! Lo sok tau mengenai GALAKSI! Lo pikir lo siapa hah?" tanya Ale lagi lalu kembali menonjok wajah Revan.


"Ale!" teriakan Dinda menyadarkan Ale dari luapan emosinya.


Dari berbagai suara yang mendukungnya, Ale mendengar suara yang sangat di kenalinya terdengar begitu sedih bercampur takut.


Ale berbalik, menatap Dinda dengan tatapan datar lalu pergi begitu saja membelah kerumunan di ikuti Milo, Tian, Guntur dan Baim.


"Awas lo! Gue pastiin lo akan nyesel udah buat gue babak belur!" desis Revan yang bangun dibantu oleh teman-temannya.


Dinda menutup bibirnya kaget saat melihat sudut bibir Ale berdarah dan tangan Ale membengkak.


Dinda mengikuti Ale dengan perasaan khawatir. Nalurinya mengatakan jika dia harus menemuinya.


Hal itu tidak luput dari pandangan seluruh murid yang ada di koridor.


Bisikan tidak mengenakkan menemani langkah Dinda. Ririn menepuk wajahnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Bilangnya mau dirahasiain tapi sikapnya malah terang-terangan" gumam Ririn.


"Mulai cerobohnya kumat" ucap Gista.


"Hmmmm" Helen hanya berdehem.


Ketiganya saling pandang, lalu mengikuti Dinda yang akan menghampiri Ale.


"Ale!" panggil Dinda dengan suara keras.


Ale berdesir kala suara itu kembali memasuki indera pendengarnya.


Dia berhenti di pertengahan koridor yang nampak masih sangat ramai. Mereka semua ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh kaum rakyat jelata seperti Dinda terhadap Ale.


Banyak dari mereka berharap Dinda akan bernasib sama dengan Revan.


Beberapa murid laki-laki ada yang terang-terangan memuji kecantikan Dinda juga body Dinda yang bagus.


Ale kembali menahan amarahnya saat mendengar beberapa murid lelaki menyuarakan fantasi mereka terhadap Dinda.


Sebelum Dinda sampai di hadapannya, Ale sudah menarik kerah seragam lelaki yang berbicara terang-terangan ingin menyewa Dinda.


Tanpa aba-aba dia menonjok wajah murid itu tanpa jeda sedikitpun hingga kini wajahnya sudah berlumuran darah.


Dinda menghentikan langkahnya, air matanya mengalir melihat Ale di hadapannya sangat menakutkan dan itu disebabkan karena dirinya.


Dinda melangkah mundur, tidak jadi menghampiri Ale. Kini rasa takut lebih mendominasinya.


"Dinda!" panggilan dari Gista dia abaikan, Dinda terus berlari.


Ale menyadari perbuatannya, dia segera melepas paksa orang yang dipukulinya dan berlari mengejar Dinda dengan perasaan campur aduk.


"Sial! Sial! Sial!" Ale terus bergumam seraya berlari.


Dia menyugar rambutnya dan berdecak kesal.


Mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Dinda. Setibanya di taman belakang, Ale menghembuskan nafas lega saat melihat Dinda sedang duduk di bangku di bawah pohon.


Ale berjalan perlahan, menghampiri Dinda dengan hati-hati.


Semakin dekat dia berjalan, semakin jelas terdengar suara Dinda yang sedang terisak.


"Dinda" panggil Ale seraya berjongkok di hadapannya.


"Hei" panggilnya lagi lalu menangkup wajah Dinda.


Mata mereka bertemu. Pandangan itu tak luput dari tatapan para sahabat mereka yang berdiri di ujung koridor.


Semuanya menyaksikan apa yang kini Dinda lakukan kepada Ale.


Ririn dan Baim mengedarkan pandangannya. Mencegah para murid yang ingin ke taman. Bahkan hanya sekedar lewatpun mereka melarangnya membuat banyak murid bersungut kesal karena harus memutar.


Dinda memeluk Ale tanpa ragu, suara tangis masih terdengar meski kecil. Ale yang mendapat hal itu tentu saja kaget. Dia menatap dimana teman-temannya berada.


Mereka pura-pura sibuk seperti tidak memperhatikannya. Ale tersenyum tipis kepada mereka.


Tangan Ale membalas pelukan Dindan seraya mengusapnya pelan sampai tangis Dinda mereda.


"Maaf" ucap Dinda menunduk setelah mengurai pelukannya.


"Dipeluk setiap hari gue gak masalah" ucap Ale dengan senyumannya.


"Astaga serius gue liat Ale senyum!" pekik Gista takjub.


"Ganteng banget astaga!" ucap Gista lagi di samping Baim yang melirik tidak suka ke arah Gista.


"Gak bisa lo nahan emosi? Gak bisa kalo gak berantem?" tanya Dinda dengan suara paraunya.


"Gak akan pernah ada yang gue biarin kalo orang nginjek nginjek Galaksi apalagi nyakitin lo" ucap Ale tegas.


Dinda mengangguk mengerti, menarik Ale untuk bangun dan duduk di sampingnya.


"Gak jadi ngerahasiain kedekatan kita?" tanya Ale membuat Dinda tersadar akan sikap dan perlakuannya.


Dinda mengedarkan pandangannya dan mendapati teman-temannya sedang menatapnya sambil senyum senyum.


Dinda menjadi salah tingkah, Dia bangun dari duduknya berniat untuk kabur tapi yang dilakukannya hanya mondar mandir di hadapan Ale.


Ale terkekeh melihat Dinda yang salah tingkah. Dia menarik tangan Dinda hingga Dinda oleng dan duduk di pangkuannya.


"Woiii ini sekolah inget!" teriak Guntur membuat Dinda kembali berdiri.


Ale menggenggam tangan Dinda dan menariknya pelan menuju ke tempat teman mereka berada.


"Ciieeeeeeeeee!" goda mereka semua membuat wajah Dinda merona.


"Astaga, bidadari lagi merona cantik banget!" gumam Guntur keras.


"Apasi" ucap Dinda dan melepas genggaman Ale di tangannya.


"Balik ke kelas!" ucap Dinda lagi menatap kepada ketiga sahabatnya.


"Lo!" ucap Dinda menatap Ale. "Obatin luka lo di UKS" ucap Dinda lagi dan Ale mengangguk.


Ririn merangkul Dinda dan pergi dari sana begitupun Helen, Gista diikuti Milo yang membuntuti mereka.


"Lo mau kemana Mil?" tanya Baim heran.


Milo berbalik " Ke kelas lah! Dinda nyuruh balik ke kelas" ucap Milo polos.


"Yaudah sono ke kelas jadi anak rajin dadakan!" ketus Guntur.


Milo hanya mengendikkan bahu dan kembali berjalan menyusul para gadis.


"Dia mau masuk geng mereka" ejek Baim.


"Nanti dia pake jepitan sama pita pink deh!" ucap Guntur seraya memperagakan gerakan seperti seorang banci.


Baim tertawa melihat tingkah konyol Guntur. Tian dan Ale hanya tertawa kecil.


...🌻...


"Si Dinda makin berani aja tuh caper sama Ale" ucap Jeni kepada Vita.


Vita dkk memasuki toilet.


"Awas aja tuh rakjel berani beraninya deketin Ale!" ketus Vita seraya menatap cermin memoles wajahnya memakai bedak tebal dan lipstik.


"Lo harus kasih dia pelajaran Vit" ucap Siska mengompori.


"Tenang aja, gue udah punya rencana!" ucap Vita, setelah itu mereka bertiga keluar dari toilet.


Merema tidak menyadari jika Dinda ada di salah satu bilik toilet sedang meremas rok seragamnya. Dirinya menjadi cemas karena ucapan Vita.


Dinda keluar dari dalam bilik setelah tidak lagi mendengar suara Vita dkk.


Melihat kanan dan kiri takut takut jika dirinya berpapasan dengan mereka, setelah di rasa aman Dinda berlari menuju kelasnya.


Hhhahhhh hhhhahhhh


"Lo kenapa Din?" tanya Gista heran melihat Dinda yang ngosngosan.


"Engga, gue gak papa" jawab Dinda setelah berhasil mengatur nafasnya lalu duduk di bangkunya di samping Ririn.


"Nanti pulang kita ke kafe yu!" ajak Gista kepada ke tiga sahabatnya.


"Sorry gue gak bisa, harus bantu ibu buka warung pecel" ucap Dinda.


Dinda hanya mengangguk saja. Milo yang duduk di sebelah bangku mereka mencuri dengar, senyum terbit di wajahnya. Milo mengetikkan sesuatu di ponselnya mengirim pesan kepada teman-temannya di grup cogan Snoppy. Grup yang dibuat oleh Guntur khusus untuk mereka berlima.


"Yessss!" pekik Milo kencang membuat seisi kelas menatapnya aneh.


"Pak Genta gak masuk, dia ngasih tugas buat dikumpulin hari ini juga" pengumuman dari ketua kelas membuat seisi kelas riuh seketika.


Rian, ketua kelas XI IPA 1 menulis tugas yang diberikan pak Genta di papan tulis.


Dinda mengerjakan tugasnya begitu juga Helen, tapi Ririn dan Gista malah sibuk dengan ponsel mereka.


"Kok kalian gak ngerjain?" tanya Dinda heran menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Gampang" seru keduanya bersamaan.


"Dinda. Gue liat punya lo please" ucap Milo menghampiri meja Dinda sambil membawa bangkunya.


"Ngapain lo disini?" tanya Ririn galak.


"Gue mau ngerjain tugas lah" jawab Milo.


"Woii gue lupa bilang, tugasnya dikerjain perkelompok! Satu kelompok lima orang!" teriak Rian lagi.


Milo menghitung kelompoknya yang sudah sangat pas.


"Nah kan! Untung gue dateng jadi pas kan" ucap Milo.


"Siapa juga yang mau ngajak lo masuk kelompok kita?"


"Yaelah Rin, kan harus lima orang! Gue dengan senang hati akan melengkapi kelompok kalian" ucap Milo.


"Udah udah ih ribut mulu. Biarin aja Milo masuk kelompok kita" ucap Dinda menengahi.


"Nah kan Dinda aja setuju! Gimana kalo sama Helen, setuju gak?" tanya Milo.


Helen menatap Milo datar tapi kepalanya mengangguk setuju. Milo bertepuk tangan senang.


Gista memukul kepala Milo dengan pulpen yang dipegangnya.


"Sakit Gista. Apa apaan sih?"


"Lemah" ledek Gista.


"Udah kerjain! Nih gue udah bagi tugasnya" ucap Dinda membagikan tugas kepada mereka untuk mereka kerjakan.


Tiga puluh menit kemudian...


"Akhirnya selesai juga" pekik Milo sambil meregangkan tubuhnya.


"Gaya lo sok mikir" ketus Ririn.


"Anjir gue mikir lah! Nih liat hasil kerja gue" ucap Milo membela diri.


"Alah hasil googling aja bangga" ejek Ririn lagi.


Milo menggebrak meja kesal menatap Ririn.


"Mau apa lo?" tanya Ririn galak.


"Enggak! Gue mau balik ke meja gue" ucap Milo.


Dinda dan Helen hanya menggelengkan kepalanya, mereka berdua pusing dengan Ririn yang selalu ribut dengan siapapun itu.


Gista menyerahkan tugas kelompok mereka kepada Rian yang sedang duduk di meja guru.


"Nih" ucap Gista.


"Yang udah ngumpulin boleh balik" ucap Rian membuat Gista memekik senang.


"Ayo balik!" ajak Gista setelah kembali ke bangkunya.


"Eh mau pada kemana?" tanya Milo melihat para gadis bersiap untuk pergi sambil membawa tas mereka masing-masing.


"Balik lah!" ketus Ririn.


"Lah emang boleh?"


"Yang udah ngumpulin tugas boleh pulang Milo!" ucap Gista sesabar mungkin.


"Oohh ngemeng dong!" kata Milo dan berjalan keluar kelas mendahului mereka yang membuat Gista dan Ririn menganga.


...🌻...


"Mau mesen apa?" tanya Gista. Kini mereka sudah ada di Yellow Cafe.


"Jus mangga sama Spagetty" ucap Ririn.


"Belgian Waffle" kata Helen.


"Minumnya?"


"Milkshake Coklat" Gista mengangguk lalu beralih ke Dinda yang menatap bingung buku menu.


"Lo Din?"


"Emmm... Mau jus jeruk aja deh" ucap Dinda yang melihat harga paling murah di buku menu.


"Gak makan?" Dinda menggeleng.


"French Fries, Spagetty bolognese, Jus Alpukat, lemon butter cake, La dame blanche" ucap suara bass membuat semua menoleh kearahnya.


"Loh Ale?" tanya Dinda kaget.


Ale berjalan mendekat dan mengambil asal kursi kosong lalu menyimpannya di samping Dinda untuk dia duduki.


"Pesen masing-masing satu, kalo yang gue pesen gak ada yang kalian suka silahkan pilih yang lain" ucal Ale panjang kali lebar.


"Lo panjang banget ngomongnya tumben" ucap Gista yang sudah tersadar.


Ale tidak menggubris ucapan Gista, dia lebih memilih memainkan ponselnya.


"Kalo Ale disini pasti ada Baim!" pekik Gista senang.


"Udah mba, yang disebutin tadi itu pesenan kita" ucap Gista kepada pelayan.


Tidak lama kemudian geng Galaksi yang dipimpin Ale datang. Tian, Guntur, Baim dan Milo berjalan memasuki cafe dengan gaya mereka masing masing. Para remaja perempuan yang melihat mereka memekik histeris.


Setelah melihat Ale, mereka melihat keempat cogan lainnya. Sungguh hari yang indah menurut mereka.


Mereka berempat duduk asal, Dinda diapit oleh Tian juga Ale.


Tian tidak menyapa mereka sama sekali, berbeda dengan Guntur yang sudah heboh.


"Hai ciwi ciwi" sapa Guntur dengan tampang lucunya.


"Ngapain si lo pada ke sini?" ketus Ririn.


"Jangan ketus gitu dong, abang dateng kan buat ketemu eneng" ucap Guntur menggoda Ririn.


Meski terlihat galak, wajah Ririn tetap memerah.


"Sinting!" ketus Ririn.


"Uwwuuuuu Guntur udah ngegas aja" ucap Milo yang duduk di samping Helen.


Tangan Milo disandarkan ke belakang kursi Helen. Helen tidak memperdulikannya, dia hanya fokus kepada sosmednya.


"Gis, lo kenapa si kayak cacing kepanasan? Uget uget mulu" tanya Ririn menatap Gista aneh.


Gista mengembungkan pipinya kesal. Dia sangat malu saat ini. Mencuri pandang dengan Baim yang sibuk membalas chat dari para kekasihnya.


"Gue duduk dimana?" tanya Guntur yang melihat semua kursi penuh.


"Sono lo di bawah, selonjoran!" ucap Ririn galak.


"Gue di galakin mulu! Jatuh cinta aja lo sama gue tau rasa lo!" ucal Guntur. Ririn melotot kearah Guntur.


"Hiiihhh amit-amit gue jatuh cinta sama lo! Jangan ngarep"


"Gue gak ngarep, cuma ngingetin!" ucap Guntur.


"Sono loh jauh jauh dari gue!" ketus Guntur.


"Mba, minta kursi lagi dong!" kata Guntur saat pelayan datang membawa pesanan mereka.


Meja mereka menjadi sangat ramai, semua pengunjung memperhatikan mereka.


Para gadis yang cantik dan laki-laki tampan. Melihat mereka membuat pengunjung iri.


"Kok disini sih?" tanya Dinda berbisik kepada Ale.


Ale berhenti bermain ponsel, dia kini menatap Dinda dalam. Tangannya terulur merapikan anak rambut di dahi Dinda membuat Dinda salah tingkah.


"Cantik" puji Ale berbisik dan tersenyum tipis.


"Baru tau?" kata Dinda berusaha menetralkan jantungnya.


"Ekhhmmmm" deheman keras membuat Ale beralih menatap Ririn seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Eh gue mau tanya deh sama lo berdua!" ucap Gista.


"Sebenernya kalian tuh udah pacaran apa belum sih? Terus lo juga Din!" tanya Gista dan fokus menatap Dinda.


"Kenapa sembunyiin ini dari kita?" tanya Gista lagi lebih galak.


"Gue udah jelasin masalah dia minta sembunyiin hal ini dari kalian! Kenapa masih nanya!" ucap Ale dingin.


Gista yang mau berpura-pura memarahi Dinda ciut seketika. Nyalinya terbang dan hilang entah kemana.


"Kita gak pacaran" ucap Dinda lalu berdiri dengan wajah cemas.


"Kemana?" tanya Ale.


"Gue ke toilet dulu" Dinda sedikit berlari menuju toilet.


"Kebiasaan" ucap Ririn dan Gista bersamaan.


Mereka sangat tahu mengapa Dinda lari seperti itu.


Saat berbelok hendak memasuki toilet, Dinda menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh terduduk.


Dinda mengadahkan kepalanya, menatap gadis di hadapannya yang sedang tersenyum meremehkan.


"Hallo kakakkuh tersayang"