Will Be Mine

Will Be Mine
Eight



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Kok lama banget sih? Hampir aja gue susulin tadi" ucap Ririn.


Dinda tersenyum paksa seraya menjawab "Antri" bohongnya.


"Minggu depan ada pertandingan persahabatan sama SMA Bronzess" ucap Guntur mengingatkan di sela-sela makan mereka.


"Ah iya astaga gue lupa. Padahal kak Vio udah bilangin" ucap Gista menepuk dahinya.


"Serius? Gue juga mau ikutan" ucap Dinda.


Semua mata yang ada di meja itu menatapnya.


"Yakin udah sehat? Latihannya lebih sulit loh" ucap Ririn khawatir.


"Gue udah sehat kok, kangen juga main basket lagi" keluh Dinda.


"Ya lo emang harus ikut, kalo gak ada lo gue gak yakin kita menang" ucap Gista.


"Apa si Ta! Kemenangan itu dimenangkan karena kerja sama tim bukan keegoisan pemain atau saling mengandalkan"


"Hadududuhhhh neng Dinda pikirannya dewasa banget" celetuk Guntur membuat Dinda tersenyum.


"Kalo kita gak bisa ngelakuin kerja sama tim, egois asal menang gak masalah tapi jangan keseringan" ucap Ale.


"Ya Le, lo bener tapi kata Gista tadi kan gak gitu" ucap Milo.


"Pokoknya besok kita mulai latihan ekstra! Walau cuma tanding persahabatan kita harus menang dan tunjukin kekuatan SMA Snoppy ke mereka biar mereka ga ngeremehin kita" ucap Gista disetujui semuanya.


"Gue udah booking lapangan buat nanti malam, yang mau ikut main silahkan datang" ucap Ale.


Dinda tersenyum senang menatap Ale.


"Gue ikut boleh?" tanya Dinda.


"Gak denger yang gue bilang barusan?"


"Ya kan ijin dulu"


"Boleh, kalian juga ikut biar Dinda gak sendirian" titah Ale menunjuk ke tiga gadis yang diam memperhatikan mereka.


"Gue jemput Din" ucap Ririn diacungi jempol oleh Dinda.


"Jemput gue juga dong" ucap Guntur.


"Siapa lo? Lagian masa cewek yang jemput cowok dasar gak modal" ucap Ririn bersungut.


"Kodee ya biar abang jemput?"


"Hiidiihhhh amit amit"


"Udah stop kalian gak cape berteman terus?" ucap Baim yang pusing kanan kirinya beradu mulut sejak tadi.


"Berantem bege" keluh Milo seraya melempar kentang goreng ke wajah Baim.


"Makanan jangan dilempar!" ucap Ale tegas.


Ale memang tidak pernah suka membuang makanan, melihat bagaimana banyaknya orang yang hidupnya lebih sulit bahkan jauh di bawahnya membuat Ale melarang keras teman-temannya membuang makanan atau menyisakannya.


"Udah mau jam lima, kita bubar" ucap Ale tegas.


"Kok lo jadi ngatur kita sih?" tanya Ririn tidak suka. Ale manaikkan sebelah alisnya.


"Ini tuh waktu kita berempat kumpul, terus tiba-tiba kalian datang dan ngerecokin kita sekarang lo nyuruh kita bubar gitu aja padahal gue belum puas nikmatin waktu sama sahabat-sahabat gue! Kalo lo mau balik, balik ajah dan ajak sekalian nih para durjana!" ucap Ririn lagi.


"Jam 7 mau basket, kalo gak balik kasian yang rumahnya jauh gak bisa istirahat" ucap Milo menyuarakan maksud perkataan Ale.


"Yaudah Rin, nanti malam kita kan kumpul lagi jadi mending kita pulang aja" usul Dinda.


"Kalo lo mau balik yaudah" Ririn berdiri dan berjalan keluar kafe terlebih dahulu.


"Si Ririn kenapa si marah marah mulu dari tadi?" tanya Guntur.


"Mana kita tahu cumi! Tanya aja sendiri" kata Milo.


"Yang ada gue disemprot lagi!" keluh Guntur.


"Nyamuk kali ah disemprot semprot" ucap Baim bercanda.


"Garing pe a!" ketus Milo.


"Gue yang anter mau?" tanya Ale yang berjalan paling belakang bersama Dinda.


"Gak perlu! Ngerepotin, gue bareng Ririn aja" tolak Dinda halus.


Ale tidak bertanya lagi, dia mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya berada.


...🌻...


"Gue gak jadi ikut ya soalnya ibu sakit, gue mau bantu Ayah jualan" ucap Dinda kepada teman-temannya melalui video call.


"Yah Din gue udah rapih juga" keluh Gista.


"Jangan dipaksa, kalo ibu sakit mending lo temenin aja kan ada Karyo yang bantuin ayah lo" ucap Ririn.


"Iya pengennya gitu tapi Karyo ijin ga masuk hari ini soalnya mau lamaran katanya"


"Si Karyo mau nikah? Anak kecil itu mau nikah?" tanya Gista syok diangguki Dinda sebagai jawaban.


Karyo adalah pegawai yang membantu orang tua Dinda saat membuka warung pecel.


Karyo itu tampan, tapi bertubuh kurus dan pendek. Seperti anak kecil, maka dari itu banyak yang memanggilnya Karyo kecil.


"Yaudah kalo gitu gue gak jadi juga deh, males" ucap Ririn.


"Yaelah! Kalo lo Len?" tanya Gista kepada Helen yang sedari tadi diam menyimak.


Helen mengendikkan bahu. Tidak lama dia menggeleng setelah mendapat pesan di komputernya.


Helen ini sangat menyukai gaming, saat ini dia sedang mabar dengan teman dunia game nya. Sambil melakukan video call bersama teman temannya.


"Pasti nih anak lagi mabar" keluh Gista.


"Aahhh lo berdua gak seru! Masa cuma karena Dinda gak ada kalian gak ikutan si? Tuh liat gue udah rapi gini kan masa gak jadi" Gista protes kepada Ririn juga Helen.


"Ririn, Helen kenapa malah ikutan gue? Kasian Gista udah rapi, kalian berangkat aja" ucap Dinda.


"Gak bisa, gue mau naikin ranked soalnya dua hari lagi akhir season" ucap Helen.


Gista berdecak, dia kesal karena malam ini tidak jadi bertemu pujaan hatinya.


"Yaudah deh, percuma juga gue kalo sendiri nanti di sana cowok semua" keluh Gista.


"Gue minta maaf Gista" ucap Dinda tidak enak.


"Bukan salah lo cantik! Tapi noh kedua curut yang malah ikutan lo" ucal Gista kesal.


"Yaudah, gue mau siap-siap berangkat dulu ya kasian ayah nungguin disana sendirian" ucap Dinda pamit lalu mematikan video callnya.


...🌻...


Keesokan harinya....


"Kenapa semalam gak datang?" tanya Ale yang kebetulan bertemu Dinda di parkiran sepeda.


Kali ini Ale membawa sepeda ke sekolahnya, Ale sengaja karena sepulang sekolah dia akan bersepeda.


"Kok tumben bawa sepeda?" tanya Dinda tanpa menjawab pertangaan Ale.


"Kalo orang nanya itu jawab bukan balik nanya" ucal Ale kesal.


"Semalam itu gue bantu ayah jualan soalnya ibu sakit" jawab Dinda jujur.


"Bisa ngabarin kan?" tanya Ale.


"Gue gak punya nomor lo" ucap Dinda.


"Siniin HP lo"


"Buat apa?"


"Siniin gue pinjem"


Dinda memberikan ponselnya kepada Ale.


Ale mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu menghubungi seseorang hingga ponsel Ale berdering.


"Udah gue save nomor gue" ucap Ale sambil menyerahkan ponselnya kepada Dinda.


"Udah sarapan?" tanya Dinda. Ale menggeleng yang sebenarnya dirinya sudah sarapan.


"Gue bawa roti bakar lo mau gak?"


"Nih" Dinda menyerahkan kotak bekal berwarna ungu miliknya kepada Ale.


"Lo?"


"Gue udah kenyang"


"Jadi ini sisaan?" Dinda menggeleng cepat membuat Ale terkekeh.


"Gue niat mau ngasih ke lo kok"


"Dalam rangka? Tumben?"


"Buat air mineral yang lo kasih ke gue, ini balasannya"


"Gue kasih tiap hari aja biar lo ngasih gue sarapan terus" ucap Ale.


Dinda memukul tangan Ale pelan. Interaksi keduanya menjadi pamandangan yang sangat langka. Parkiran kini sudah ramai, banyak murid yang sudah datang tapi memilih diam di parkiran untuk melihat interaksi Ale dan Dinda.


Ale yang lebih banyak berbicara dan tersenyum bahkan sesekali tertawa. Itu adalah hal yang sangat langka. Ale yang biasanya bersikap dingin tapi kini dia bersikap hangat terhadap Dinda. Banyak tatapan iri bahkan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka. Karena Ale bisa seperti itu kepada Dinda.


"Kenapa harus Dinda Woi?"


"Dia rakyat jelata gitu?"


"Iyuwwwhhh banget!".


"Najis cabe caper banget pagi-pagi sama calon suami gue!"


"Pake pelet tuh anak!"


Banyak ucapan yang tidak enak di dengar yang diungkapkan para siswi.


Dinda menyadari jika sudah banyak murid yang berdatangan, dia segera menunduk lalu berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Ale yang menatapnya sendu.


"Gue harap lo gak perlu mikirin ucapan sampah mereka supaya gue gak harus nahan kalo ketemu sama lo" ucap Ale sambil menatap punggung Dinda yang semakin jauh.


Ale berjalan menuju kelasnya, saat di lorong koridor seorang siswi berkaca mata menghampirinya dengan wajah malu-malu. Ale berhenti ketika gadis itu menghalangi jalannya. Menatapnya datar menunggu apa yang diinginkan siswi di hadapannya.


"Ale! Gue mau ngasih ini ke lo" ucap gadis itu malu malu seraya memberikan dua batang coklat juga bunga mawar yang di tempel bersamaan dengan coklat.


Ale menatap datar coklat itu juga gadis di hadapannya. Ale melanjutkan jalannya, tanpa memperdulikan siswi yang kini wajahnya sudah semerah tomat menahan malu karena pemberiannya diabaikan oleh orang yang disukainya.


Ale tidak pernah mau menerima hadiah atau sejenisnya kecuali dari Dinda. Bahkan Ale berharap Dinda memberikannya sesuatu yang bisa di jadikan kenangan bukan hanya sekedar makanan.


Selama Ale mengenal Dinda, dia hanya memberi Ale makanan, tidak ada yang lain bahkan barang sekalipun.


Ale memasang earphonenya, menyalakan musik dengan volume sedikit meras. Dia tidak ingin mendengarkan orang orang yang membicarakannya.


...🌻...


"Mas, kamu yakin mau nyekolahin Cika di sekolah yang sama dengan anakmu?"


"Iya sayang, aku sudah mendaftarkannya"


Senyum tipis terbit di wajah seorang wanita dengan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya mendengar jawaban suami yang sudah dinikahinya hampir tiga belas tahun.


"Cika beneran sekolah bareng sama abang pah?" lelaki paruh baya itu mengangguk seraya mengelus surai putrinya.


"Besok kamu mulai sekolah, papah harap kamu bisa akur dengannya walau papa tidak yakin dia mau memaafkan papa" ucap lelaki paruh baya itu.


...🌻...


Suasana kantin SMA Snoppy saat ini sangat ramai, pasalnya di dua sudut kantin ada dua geng most wanted yang kini saling mengibarkan bendera permusuhan.


Pojok kanan ada geng Galaksi yang diketuai Ale, sedangkan di pojok kiri Depan ada geng Roxy yang diketuai Revan. Revan yang notabennya tidak menyukai Ale karena Revan selalu kalah jika bersaing dengan Ale baik dari segi akademik, balapan, olahraga, bela diri bahkan perempuan.


Setiap gerak gerik Ale tidak luput dari pandangan Revan. Sedangkan Ale hanya acuh walau dirinya tahu dia sedang diperhatikan.


Kapten basket SMA Snoppy seharusnya Ale yang menjabat tapi Ale menolaknya karena dia tidak ingin dan menyerahkan jabatan itu kepada Tian yang mau tidak mau harus menerimanya.


Ale bukan hanya mahir dalam olahraga basket, hampir semua bidang olahraga dia kuasai.


"Le, tuh si Revan liatin lo mulu dah! Suka sama lo kali ya?" ucap Guntus asal.


"Hahahhaha gilasih, bukan cuma cewek emang yang suka sama Ale, cowok juga banyak yang antri" ucap Milo.


Ale hanya mendelikkan mata tajamnya kepada mereka berdua.


"Santai mas bro, kita cuma bercanda! Kalem" ucap Guntur.


"Yaa habisnya tuh anak liatin ke kita mulu, risih ga sih?" tanya Milo yang mulai merinding.


"Diemin aja si, mata mata dia ya suka suka dia dong lo berdua peduli amat" ucap Baim.


"Yeee bukan gitu somad ini liat gue merinding, diliatin cowo ampe intens banget ga kedip" keluh Milo seraya memperlihatkan tangannya kepada Baim.


"Hahha bukan karna diliatin itu mah, ada yang nempel di punggung lo" ucap Baim.


"Kampreet lo jangan nakut nakutin gue! Malam ini gue tidur sendiri dirumah" keluh Milo yang memang sangat penakut akan hal ghaib apalagi setan.


"Emang tiap malem lo tidur ama siapa dah?" tanya Guntur.


"Ya sendiri lah! Lo pikir ama siapa?" tanya Milo.


"Setan, gaje lo!" ucap Baim ngegas.


"Muncraaat somad!" keluh Guntur yang terkena cipratan air liur Baim saat dia berbicara.


"Ni meja perasaan ada lima orang tapi yang ngebacot dari tadi cuma tigaan. Lo berdua lagi telepatian ya?" tanya Milo merasa heran dengan dua orang kutub di hadapannya ini.


Tian dan Ale hanya diam, tidak menanggapi keanehan mereka karena jika menanggapi sudah dipastikan mereka akan ikut tercemar.


Suara seseorang yang tidak jauh dari Ale membuat Ale menoleh.


"Bang mau bakso satu jangan pake bawang seledri ya, terus mie ayam bakso satu, sama ayamnya aja 2" ucap Dinda.


"Asiikk baru denger suaranya aja udah noleh bang" goda Guntur.


Dinda yang berdiri tidak jauh dari meja tempat Ale tidak sengaja menoleh ke arah Ale begitupun dengan Ale. Alhasil mereka jadi saling menatap cukup lama hingga suara bang gendut penjual mie ayam bakso mengalihkan Dinda.


"Hahhaa saingan Ale sama abang gendut" ucap Guntur seraya tertawa.


"Dari pada lo ngomong mulu mending beliin gue air mineral di koperasi!" titah Ale kepada Guntur.


"Ngapain jauh amat sih Le? Kan di sini juga ada" keluh Guntur yang mager untuk berjalan jauh.


Milo dan Baim sudah menahan tawa mereka, Tian tersenyum tipis. Mereka bertiga senang melihat guntur diperintah oleh Ale.


"Gak mau?" tanya Ale datar.


"Mau deh!" ucap Guntur terpaksa lalu berdiri dan berjalan keluar kantin untuk membeli air mineral di koperasi.


"Hahahah parah lo Le ngerjain! Kan kasian tuh anak" ucap Milo.


"Lo mau juga?"


"Engg..engga"


"Kalo gitu diem"


Milo langsung mingkem, dia fokus dengan makanannya tanpa bersuara. Baim sudah tidak kuat menahan tawanya akhirnya tertawa dengan sangat keras membuat seisi kantin menoleh ke arahnya.


Milo yang kesal di tertawakan memasukan sambal satu sendok penuh ke mulut Baim yang terbuka.


"Sssss Hah..ssssss hah.... Pedesss setaaann mulut gue ke bakar! Minum mana minum" Baim berteriak heboh mencari minuman.


Dia menyedot minuman di gelasnya yang tinggal sedikit tapi hal itu tidak membuat pedasnya hilang. Semuanya tertawa kecuali Dinda dan teman-temannya merasa kasihan melihat wajah Baim yang sudah memerah dan berkeringat.


Baim berlari ke meja Dinda dan teman-temannya berada, Gista menyodorkan minuman miliknya yang belum sempat dia minum.


Baim meminumnya hingga tandas. Rasa pedas masih terasa tapi tidak separah sebelumnya.


Baim menaruh gelas yang dipegangnya dengan kencang lalu menatap Milo yang kini sedang tertawa puas dengan tajam.


"Lo masih kepedesan?" tanya Gista dan Baim mengangguk.


Dinda yang sedang menyedot minumannya di ambil oleh Baim. Ale yang melihat itu langsung menghampiri Baim dan menarik gelas yang dipegang Baim hingga isinya tumpah semua.


Baim hendak memarahi pelaku tapi saat melihat Ale di hadapannya, dia baru menyadari apa yang sudah dia lakukan.


Baim cengengesan dan menarik gelas Helen yang sudah tinggal setengah kini giliran Milo yang menghampirinya lalu melakukan hal yang sama yang dilakukan Ale.


"Nih minuman lo" ucap Guntur kepada Ale yang membuat Baim tidak jadi marah. Dia langsung mengambil dan membuka segelnya, menenggaknya hingga tandas bahkan seragamnya ikutan basah karena tumpahan air yang diminumnya.


Penghuni kantin memperhatikan mereka, semua berpusat ke arah meja tempat Dinda berada.


Dinda merasa menjadi pusat perhatian perlahan berdiri dan pergi meninggalkan kantin begitu saja, disusul ketiga temannya.


Ale kembali ke tempatnya begitupun ketiga temannya dimana ada Tian yang hanya diam memperhatikan.


"Gue beli buat Ale kenapa lo yang minum?" tanya Guntur kesal.


"Gue kepedesan gara gara bayi dugong satu ini ngasih gue sambel" pekik Baim kesal.


"Enak toohhh?" tanya Milo tanpa rasa bersalah.


"Jadi dia cewek lo" gumam Revan yang melihat semua kejadian itu, menampilkan smirk di wajahnya.