Will Be Mine

Will Be Mine
Twelve



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Ririn tersenyum puas, begitupun dengan Gista. Kini mereka berdua memilih mundur agar Ale bisa memberi Cika pelajaran.


"Woaaah banci berani sama cewek!" suara berat Revan dari arah samping membuat situasi semakin panas.


"Lo beraninya sama cewek? Lawan gue kalo emang lo bukan banci!" ucap Revan.


Ale hanya diam, tidak meladeni.


"Takut lo sama gue? Asal lo tau, cewek yang udah lo permaluin ini sepupu gue!" ujar Revan marah.


Ale menaikan sebelah alisnya. Smirk tercetak di wajahnya.


"Pantes kelakuannya gak normal kayak lo!" ucap Ale.


"Apa lo bilang?"


"Yang gak normal itu kelakuan cewek lo yang kayak cabe! Gila emang luaran polos tapi dalemmnya busuk banget!" ucap Revan.


"Kenapa? Mau marah? Omongan gue emang bener! Buktinya sekarang dia lagi berduaan sama sahabat lo si Tian!" ucap Revan lagi.


"Kalo udah dasarnya cabe ya cabe aja gak usah sok lugu!" Ale yang sudah tidak tahan menonjok Revan hingga babak belur.


Cika beringsut ketakutan melihat Ale yang kalap.


Setelah puas menghajar Revan yang cuma modal omongan saja, Ale segera pergi untuk mencari Dinda.


"Dinda di UKS" ucap Tian yang ada di luar kantin dengan tatapan datar seperti biasanya dan kedua tangannya dimasukkan ke kantong celananya kepada Ale saat mereka berpapasan.


Ale langsung berlari menuju UKS untuk mengecek keadaan Dinda.


"Jangan dibuka!" ucap Helen yang sedang membantu Dinda memakai baju.


Ale menurut dan menunggu dengan sabar di balik gorden.


Setelah selesai Helen keluar seraya membawa kotak P3K untuk disimpan kembali.


Ale menyibak gorden dan masuk. Di sana Dinda sedang duduk menatapnya sendu.


"Lo gak papa?" tanya Ale.


"Dia kesiram kuah bakso, dadanya merah mungkin nanti akan melepuh tapi gue udah kompres pake es sama udah gue kasih salep biar ga terlalu parah" ucap Helen panjang.


Tangan Ale mengepal, dia sangat marah dan dipastikan dia akan membalasnya.


"Gue gak papa" ucap Dinda lembut.


"Apanya yang gak papa?" bentak Ale membuat Dinda terkejut.


"So..sorry" Ale menyadari dirinya sudah keterlaluan. Dinda tersenyum menenangkan.


"Thanks Len udah selalu ada buat Dinda"


Helen mengangguk. Tatapan datarnya terus menatap Ale membuat Ale heran.


"Kenapa lo liatin gue?"


"Lo sebenernya sama Dinda ada hubungan apa?"


"Gue.. Gue..."


"Kalo emang lo berdua gak ada hubungan apa apa lebih baik kalian jaga jarak!" titah Helen yang khawatir jika nantinya Dinda akan mengalami hal yang lebih parah dari ini.


"Semenjak lo nolong Dinda pas alerginya kambuh, seisi sekolah makin musuhin Dinda. Dinda selalu kena masalah gara gara lo!" hardik Helen.


Dinda menatap Helen, menggelengkan kepalanya agar tidak berbicara lebih lagi.


"Kalo emang lo sayang sama Dinda, lo jelasin status lo sama dia! Jangan buat Dinda sakit dan terus lindungin dia!" tantang Helen.


"Helen, cukup!" ucap Dinda meremas rok seragamnya.


"Kenapa Din? Jangan munafik! Gue tau lo ada rasa sama ni anak! Jangan bohongin perasaan lo cuma karena status!" pekik Helen yang sudah tidak tahan.


"Gue akan pastiin hubungan gue sama lo dan kali ini gue gak akan nerima penolakan lo lagi!" ucap Ale dingin dan tegas tidak terbantahkan.


Ale tidak sengaja melihat jaket Tian ada di tempat tidur dimana Dinda duduk.


"Kenapa jaket Tian ada di lo?" tanya Ale.


"Dia nyebur kolam tadi pagi, ada Tian yang nolongin!" ucap Helen lebih dulu menjelaskan karena tidak ingin mereka salah paham.


"Kenapa lo bisa nyebur?" tanya Ale.


"Gue kepeleset" ucap Dinda bohong tidak berani menatap Ale.


"Din! Jujur sama gue" titah Ale dengan suara lembut. Dinda bimbang karena dia tidak ingin dicap sebagai pengadu.


"Gue.. Gue di dorong Cika" ucap Dinda akhirnya setelah cukup lama terdiam.


Helen dan Ale terkejut, pasalnya tadi pagi Dinda bercerita jika dirinya terpeleset. Sedangkan Ale dia terkejut karena Dinda masih berusaha menutupi kesalahan adik kelasnya yang selama satu bulan ini dengan pedenya terus mengikutinya dan sudah menjahatinya.


Ale berjalan keluar dari UKS dengan langkah lebar.


"Ale!" panggil Dinda panik.


Dinda turun dari tempat tidur dan berlari mengejar Ale diikuti Helen yang mengejar Dinda.


Ale menaiki tangga ke lantai tiga dimana kelas satu berada. Koridor kelas satu dipenuhi oleh siswa dan siswi yang menatap takut Ale.


Ale menendang pintu kelas X Bahasa 1 dengan kencang. Seisi kelas terkejut dengan kedatangan Ale termasuk Cika yang kemudian tersenyum karena berfikir Ale akan meminta maaf kepadanya.


Dia menatap Ale dengan angkuh, berdiri menunggu Ale menghampirinya.


Ale menarik Cika dengan cengkraman yang kuat, Cika yang tidak siap terseret langkah Ale karena tidak bisa mengimbangi.


Cika terus di seret Ale hingga mencapai kolam yang ada di taman.


Banyak murid yang berbondong bondong mengikuti mereka, ingin melihat apa yang akan Ale lakukan.


Dengan tanpa perasaan Ale mendorong tubuh Cika masuk ke kolam. Satu kaki Ale dia angkat untuk menginjak pinggiran kolam, menatap Cika tajam.


"Ini balesan buat lo karena udah dorong cewek gue!" desis Ale dingin.


Cika yang kesal menghentak hentakkan kakinya di dalam kolam hingga air di dalam kolam terciprat kemana mana.


"Lo berani nyakitin cewek gue lagi, gue akan balas lo puluhan kali lipat" ucap Ale tegas.


"Ah ya! Mulai sekarang lo jangan pernah deketin gue lagi! Enek gue liat muka lo yang kayak badut pasar!" ketus Ale lalu melenggang pergi meninggalkan Cika yang berteriak marah.


"Liat aja apa yang akan gue lakuin! Lo akan tahu siapa dia sebenarnya! Kita liat setelah lo tau siapa dia sebenarnya apa lo masih dengan berbaik hati buat lindungin dia!" gumam Cika.


"Heh lo! Cepet bantuin gue!" teriak Cika menyuruh cewek berkacamata untuk menolongnya.


"Ale! Astaga" ucap Dinda ngos ngonsan karena lelah mengejar Ale.


"Heii" Ale menangkup wajah Dinda yang tampak pucat karena lelah berlari naik turun tangga.


"Gue cape" ucap Dinda dengan suara serak "Ngejar lo" lanjutnya.


Ale tersenyum lebar mendengar ucapan Dinda. Para siswi yang melihat memekik senang karena tidak pernah melihat Ale tersenyum seperti itu.


Dinda menutupi wajah Ale membuat Ale bingung.


"Kenapa?" tanya Ale.


"Jangan senyum" ucap Dinda.


Ale menduga jika Dinda tidak suka ada yang melihatnya tersenyum selain dirinya.


Ale menarik lembut tangan Dinda dan membawanya ke lapangan.


Helen mengikuti mereka berdua ke lapangan, tidak lama Gista, Ririn, Tian, Milo dan Guntur menyusul mereka bertiga.


Ale berteriak dengan kencang.


"Gue punya pengumuman buat lo semua!" teriak Ale.


Seketika semua murid berkumpul karena ingin tahu apa yang akan Ale umumkan.


"Len! Ada apa sih?" tanya Gista kepo karena dia tahu Helen, Dinda dan Ale bersama sejak tadi.


"Dinda Clarissa Putri anak kelas XI IPA 1 adalah pacar gue. Jadi siapapun yang berani ganggu bahkan nyakitin Dinda, akan berurusan sama gue!" teriak Ale lalu mencium tangan Dinda.


Dinda melotot tidak percaya jika yang Ale katakan saat di UKS benar-benar dilakukannya.


Banyak murid yang tidak senang setelah mendengar ucapan Ale. Tapi mereka tidak berani mengatakannya. Banyak juga yang berfikir Dinda hanyalah mencari tameng agar dirinya tidak di ganggu lagi.


Dinda menunduk malu, bukan ini yang diinginkannya tapi hatinya tidak bisa berbohong jika dia senang karena kini Ale benar-benar menjadi miliknya.


Setelah mengatakan itu Ale menyuruh semuanya bubar, kini tinggal Ale, Dinda dan teman teman mereka berdua yang sudah menatap mereka dengan senyum menggoda.


"Akhirnya bos gue punya pacar setelah jomblo dari orok" ucap Guntur seraya mengangkat kedua tangannya berdoa.


"Serius Dinda cewek pertama lo?" tanya Gista dengan suara keras. Ale mengangguk polos.


"Jaga dia baik-baik" ucap Tian seperti seorang kakak kepada Ale.


"Jaga sahabat gue! Lo nyakitin dia gue uber lo sampe ke ujung dunia sekalipun" ancam Ririn.


"Jangan buat dia nangis, air mata yang ngalir dipipinya karena lo gue patahin tangan sama kaki lo sebagai gantinya" ancam Helen.


"Dinda kesayangan gue udah gak jomblo! Sekali dapet pacar yang modelan kayak gini astaga, gue jadi pengen" ucap Gista lebay.


"Sama gue aja" ucap Baim membuat Gista melting.


"Helen mau kayak mereka berdua gak?" tanya Milo sok malu malu meong.


Helen hanya menatap datar Milo.


"Traktir dong, PJ PJ" pekik Guntur.


"Pulang sekolah kita nonton biar gue yang teraktir" ucap Ale lalu pergi menuju kelasnya bersama Dinda.


"Asiik jadi nonton nih kita" ucap Guntur senang.


"Dasar gak modal! Gratisan mulu maunya" ketus Ririn.


"Yang penting hati senang yang" ucap Guntur.


"Yang yang yang yang! Pala lo peang" teriak Ririn di samping telinga Guntur.


"Astagfirullah gue gak bisa denger" pekik Guntur, telinganya berdengung dan tidak bisa mendengar apapun.


"Serius lo?" tanya Ririn dengan rasa bersalah.


"Tanggung jawab!" ucap Baim dan mengajak semuanya pergi menyusul Ale dan Dinda yang sudah berjalan cukup jauh meninggalkan Guntur dan Ririn.


"Laaah gue ditinggal! Ini temen lo gak bisa denger woii" pekik Ririn panik.


...🌻...


"Lo kok ngebiarin Dinda jadian sama Ale sih? Mana rencana yang lo bilang ke kita? Kenapa gak dilakuin juga?" tanya Siska kepada Vita.


"Bisa diem gak lo? Bisanya ngebacot doang! Lo tadi liat gimana Ale ngasih pelajaran ke si anak baru itu!" ucap Vita.


"Gue fikir tuh anak baru bisa misahin Ale sama Dinda" ucap Vita lagi.


"Gerak lo terlalu lama Vit" ucap Jeni.


"Gak usah pada mojokin gue! mending kalian diem biar gue bisa mikir" ketus Vita kesal.


...🌻...


Dinda menaiki motor Ale, karena Ale yang menyuruhnya.


"Gak mau meluk?" tanya Ale.


"Apasiiii modus deh" ucap Dinda.


"Mending jalan deh, gak enak diliatin banyak orang" ucap Dinda lagi sambil menundukkan kepalanya hingga rambutnya menutupi wajahnya.


"Pake ini jangan pake punya Tian" titah Ale menyerahkan jaketnya.


Dinda mengambilnya lalu jaket Ale dipakai untuk menutupi roknya.


"Nanti di sana aja gantinya" ucap Dinda.


Ale melajukan motornya, diikuti teman-temannya juga teman-teman Dinda yang mengendarai kendaraan masing-masing.


Kali ini Baim mengajak Moza, pacarnya yang masih bertahan cukup lama.


Gista meremas stir mobilnya kesal melihat Moza duduk di atas motor Baim dan memeluk Baim dengan dada yang sengaja ditempelkan ke punggung Baim.


"Dasar cabe!" desis Gista kesal.


Gista mengerem mendadak karena kaget. Di depan mobilnya ada kucing yang sedang menyebrang jalan. Karena terlalu fokus melihat Baim dan Moza, Gista tidak memperhatikan jalan.


"Sialan gara-gara tuh cabe gue hampir nabrak kucing"


Suara klakson di belakang mobilnya membuat Gista menggerutu kesal.


"Sabar woii elah" keluh Gista membuka kaca mobilnya dan menyembulkan kepalanya sedikit agar teriakannya bisa terdengar.


Tidak lama kemudian Gista sampai di sebuah Mall terbesar yang ada di pusat kota.


Semuanya sudah berkumpul di dekat pintu masuk, hanya Gista yang tersisa.


"Tumben banget tuh anak lama bawa mobilnya" keluh Ririn.


Gista berjalan dengan wajah masam. Gista yang biasa terlihat ceria dan berjalan dengan gaya centilnya kini terlihat muram dan lesu.


"Lama banget sih lo" ucap Moza ketus.


Gista melirik tajam kearah Moza tidak menghiraukan Moza, berjalan melewatinya dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Moza.


"Awwww.. Sshhh" pekik Moza sambil mengusap pundaknya.


"Kok lo gitu sih? Lo ada masalah? Kenapa lampiasin ke Moza?" Baim bertanya dengan sedikit membentak.


Gista kaget karena ini pertama kalinya dirinya dibentak. Air matanya sudah mengumpul dipelupuk matanya hendak menangis.


Tanpa aba-aba Gista kembali ke parkiran menuju mobilnya berada, memasuki mobil dan mengendarainya meninggalkan parkikan mall yang sangat luas itu.


Semuanya menatap bingung kepergian Gista. Dinda hanya mengehela nafas. Dia sangat tahu pasti Gista kesal dengan kehadiran Moza tapi Gista tidak memiliki hak apapun dan tidak bisa berbicara mengenai kekesalannya.


Dinda menatap Ale khawatir. Ale merangkul Dinda agar tenang.


Ririn menatap Helen yang juga sedang menatapnya. Mereka berdua memilih pergi menyusul Gista.


Ririn melihat Dinda tanpa bertanya dan menunggu apakah Dinda akan ikut dengan mereka atau memilih tinggal.


Dinda kembali menatap Ale, Ale tersenyum dan mengangguk. Dinda menggandeng tangan Ririn dan kini mereka bertiga pergi menyusul Gista.


"Laaah kenapa pada pergi?" tanya Guntur heran.


"Biarin mereka cuma khawatir sama sahabatnya" ucap Ale.


"Jadi? Kita lanjut masuk atau ikut mereka pergi?" tanya Milo kepada semuanya.


Baim masih terdiam dan menatap kosong ke depan. Dia menyadari kesalahannya, dia melihat mata Gista yang terlihat takut saat dia membentaknya.


Sungguh Baim hanya refleks karena Moza terlihat kesakitan tapi ternyata Baim tidak menyadari ada hati yang sudah dia sakiti lebih dari rasa sakit yang Moza rasakan.


"Jadii dong! Lagian gak ada mereka malah bagus, kita kaum elite sedangkan mereka gak pantes gaul sama kita karena salah satu dari mereka itu kaum rakyat jelata!" ucap Moza tanpa menyaring perkataannya.


Ale dan Tian melenggang pergi meninggalkan mereka menuju parkiran tempat motor mereka berada tanpa berkata apapun.


Milo menatap Moza tidak percaya, karena sudah berani mengatakan hal yang sangat tidak boleh di katakan.


Guntur mengusap wajahnya, heran dengan Moza. Cantik sih tapi hatinya jauh dari kata cantik.


Guntur menepuk bahu Baim agar Baim menyadari apa yang sudah dilakukannya, lalu menarik Milo untuk ikut pergi menyusul yang lainnya.


Kini hanya tersisa Baim dan Moza.


"Sayaaannngggg" panggil Moza manja menggoyang goyangkan tangan Baim agar Baim tersadar dari lamunannya.


Baim hanya menatap Moza. Dia tersenyum paksa.


"Za, gue anter lo balik" ucal Baim dingin.


"Kita gak jadi nonton?" suara melengking karena kesal milik Moza tidak dihiraukan Baim. Dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Moza yang terus bersungut kesal.


"Kok kamu dinginin aku sih? Salah aku apa coba?" tanya Moza.


"Lo gak salah. Di sini gue yang salah karena udah ajak lo" ucap Baim.