
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Ambulan berbunyi nyaring di sepanjang jalanan kota berusaha merangsek membelah padatnya jalanan malam itu. Banyak kendaraan berusaha memberikan jalan walau mereka merasa kesulitan karena jalanan benar-benar padat.
Setelah menempuh padatnya jalanan yang memakan waktu lebih lama dari biasanya, ambulan itu tiba di sebuah rumah sakit.
Dinda menangis sesenggukkan turun dari mobil ambulance, tangannya terus memegang tangan Ale yang tidak sadarkan diri.
Ale dilarikan ke UGD dan Dinda menunggu di ruang tunggu dengan tangan bergetar dingin.
Teringat jelas kejadian yang baru saja di alaminya, dia bersyukur Tuhan masih melindungi mereka tapi melihat kondisi Ale yang langsung tidak sadarkan diri setelah membantunya keluar dari mobil yang penyok membuat Dinda sangat khawatir.
Suara derap langkah mengalihkan Dinda dari rasa khawatirnya. Teman-temannya datang.
Tian dan Gista menghampiri Dinda diikuti Guntur, Baim dan Milo.
Gista memeluk tubuh Dinda yang terlihat banyak luka gores akibat dari pecahan kaca depan mobil.
"Gimana bisa kejadian kayak gini?" tanya Milo penasaran.
"Gue gak tau, semuanya tiba tiba aja dari arah depan lampu truk nyorot banget sampe jalanan itu gak keliatan" ucap Dinda dengan suara pelan.
"Mana sopir truknya?" tanya Baim mencari sopir truk untuk meminta pertanggung jawaban.
Dinda menggeleng karena sang sopir yang menyebabkan kecelakaan itu tidak berhenti dan terus melajukan truknya.
"Brengsek!" ucap Baim kesal.
Dokter yang menangani Ale keluar dan mencari keberadaan keluarga atau wali pasien.
Tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara. Dokter tersebut meminta mereka untuk menghubungi orang tua Ale.
"Mereka sedang dalam perjalanan" ucap Tian yang wajahnya terlihat paling tenang diantara mereka semua.
Dokter tersebut mengangguk lalu pamit undur diri tanpa menjelaskan kondisi Ale seperti apa.
"Kenapa gak ngasih tau aja sih keadaan Ale gimana ke kita bikin khawatir aja" keluh Guntur yang sudah frustasi karena rasa khawatirnya.
"Udah prosedurnya" ucap Tian masih tenang.
"Kok lo bisa gitu tenang tenang aja?" tanya Guntur heran.
"Ale gak selemah itu dan lo tau dia" ucap Tian.
Mereka membenarkan ucapan Tian tapi tetap saja jika belum memastikan mereka tetap merasa khawatir. Begitupun dengan Tian tapi Tian lebih bisa menyembunyikannya agar semua tidak panik.
"Tian! Dimana Ale?" tanya seorang wanita cantik dengan raut khawatir.
"Masih di dalem tante, dokter tadi nanyain orang tua Ale" ke dua orang tua Ale langsung bergegas masuk untuk menemui dokter yang memeriksa Ale.
Mereka semua menunggu dengan resah, tidak lama kemudian mamah Ale keluar bersamaan dengan dokter dan para suster yang mendorong bangker Ale.
"Tante" panggil Guntur membuat mamah Ale berhenti dan melihat Guntur.
"Gimana Ale Tan?"
"Syukurlah keadaannya tidak apa apa, hanya gegar otak ringan" mendengar itu semua bernafas lega.
"Ale mau di bawa kemana tan?" pertanyaan dari Dinda membuat Rita, mamah Ale menoleh menatapnya.
"Maaf tante, saya Dinda" ucap Dinda dengan gugup.
"Ale mau di pindahkan ke ruang rawat" ucap Rita masih menatap Dinda dengan kening berkerut.
"Sebaiknya kalian pulang" ucap Rita kemudian setelah puas melihat Dinda lalu pergi meninggalkan mereka semua.
"Gue anter lo pulang" ucap Tian lalu menarik lembut tangan Dinda.
Dinda bingung tapi kakinya mengikuti langkah Tian, sedangkan yang lain menatap tidak percaya dengan Tian yang terlihat sangat perduli kepada Dinda.
"Tian gak mungkin nikung Ale kan?" ucap Guntur.
Milo memukul kepala Guntur dengan keras membuat sang empu mengaduh sakit.
"Kenapa lo mukul gue?" tanya Guntur sewot.
"Ya lo mikir ga pake otak! Gak mungkin lah Tian gitu" ketus Milo membuat Guntur mendelik kesal kepadanya.
Mereka menyusul Tian dan Dinda untuk pulang meninggalkan rumah sakit.
Di dalam mobil Dinda merasa cemas karena belum bisa melihat Ale siuman. Tian yang sedang menyetir merasakan kecemasan yang dirasakan oleh Dinda.
"Lo tenang! Ale gak kenapa kenapa" ucap Tian masih fokus menyetir.
"Gue mau nunggu Ale siuman" ucap Dinda pelan.
"Besok kita ke sana lagi, jangan sendiri gue akan anter lo" ucap Tian membuat Dinda menoleh kepada Tian.
"Kenapa?" tanya Dinda bingung.
"Turutin ucapan gue" ucap Tian tegas.
"Ya tapi kenapa?" tanya Dinda penasaran.
"Gue gak mau lo terluka" ucap Tian pelan tapi Dinda masih bisa mendengar karena di dalam mobil hanya ada mereka berdua, di luar jalanan cukup sepi wajar suara sekecil itu bisa di dengar oleh Dinda.
"Maksud lo apa? Gue gak ngerti? Apa yang bikin gue terluka?"
"Keluarga Ale ga sesederhana yang lo kira" Jawaban Tian berhasil membuat Dinda bungkam.
Dinda paham maksud jawaban itu, dia sangat mengerti.
"Apa ini akan menjadi ujian pertama dalam hubungannya?" Dinda bersuara dalam hati.
Mobil yang Tian kendarai sampai di depan rumah Dinda.
"Lo tau rumah gue?" tanya Dinda setelah diam cukup lama dengan heran.
"Dari Ale" ucap Tian asal. Dinda percaya begitu saja dan keluar dari mobil.
"Makasih Tian, Hati hati di jalan" ucap Dinda lalu menutup pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Tian memperhatikan Dinda dengan perasaan campur aduk, dia menghela nafasnya dan mencengkram stir mobil dengan kuat. Setelah memastikan Dinda masuk ke dalam rumah, Tian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dinda.
Keesokan harinya...
Dinda keluar dari rumahnya dengan seragam lengkap, saat berbalik setelah menutup pintu Dinda diherankan dengan mobil yang dikenalinya sudah bertengger manis di depan rumahnya.
Dinda melangkah mendekati mobil tersebut, mengetuk kaca pintu mobil hingga sang pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya.
"Lo ngapain disini?" tanya Dinda heran kepada Tian.
"Jemput lo" jawab Tian santai.
"Gue kan gak minta? Dan lo tau gue pacar sahabat lo"
"Gue tau. Sekarang masuk" titah Tian yang dari suaranya tidak menerima penolakan. Anehnya Dinda menurut saja. Senyum tipis tercetak di wajah Tian, dia melajukan mobilnya setelah memastikan Dinda duduk dengan aman dan nyaman.
"Turunin gue di gang dekat sekolah aja" ucap Dinda.
"Kenapa?"
"Lo mau bikin gue makin dimusuhin satu sekolah? Lagian lo tau kan gue pacarnya Ale masa gue berangkat bareng lo? Kan gak lucu!" ketus Dinda.
"Jangan dengerin omongan orang lain"
Tian mengalah, dia menurunkan Dinda di gang dekat sekolahnya. Dinda turun dan berjalan sedikit berlari dan Tian mengikutinya dari belakang memastikan Dinda aman sampai sekolah.
"Dinda" panggil Gista yang baru keluar dari mobilnya bersama Helen dan Ririn.
Dinda menoleh, melihat mereka heran karena tidak biasanya mereka bertiga berangkat satu mobil.
"Kok kalian satu mobil?"
"Gue yang nyuruh karena nanti mau ke tempat Helen jadi barengan aja" ucap Ririn.
"Astaga gue lupa, maaf tapi nanti pulang sekolah gue mau jenguk Ale" ucap Dinda sambil menepuk keningnya.
"Gue ngerti kok, tadi Gista cerita ke kita pas di jalan. Lo yang sabar ya" ucap Ririn menepuk pundak Dinda pelan.
"Gue masih belum bisa tenang kalo gak liat dia pake mata gue sendiri walaupun semalem mamahnya bilang Ale gak kenapa kenapa" ucap Dinda.
"Kita paham perasaan lo, gue juga khawatir kali sama keadaa Ale" ucap Gista.
"Masuk dulu deh yu, udah siang juga gue belum ngerjain PR. Dinda gue mau minjem PR lo boleh?" ucap Ririn
"Ririn! Gue juga lupa astaga" pekik Dinda lalu berlari terbirit meninggalkan mereka bertiga yang sedang menganga karena tidak biasanya Dinda melupakan PR ataupun tugas.
"Mati gue" desis Ririn yang ikut berlari menyusul Dinda setelah tersadar.
"Helen lo udah ngerjain PR?" tanya Gista dan Helen hanya menggeleng.
Gista menarik paksa Helen agar ikut berlari menyusul kedua temannya yang kini sudah tidak terlihat oleh mereka.
"Helen! Lo udh buat PR?" tanya Milo mencegah Helen dan Gista masuk ke dalam kelas.
Helen menatap datar Milo lalu menggeleng. Milo tersenyum jenaka lalu menarik lembut tangan Helen untuk masuk ke kelas meninggalkan Gista yang menatap bingung Milo.
"Nih" ucap Milo memberikan buku PR miliknya agar Helen bisa menyalin jawaban dari bukunya.
Helen menaikan sebelah alisnya, menatap Milo tidak percaya pasalnya nilai Helen lebih baik di bandingkan nilai Milo.
"Tenang aja, gue yakin jawaban di buku gue bener semua karena gue juga nyalin punya Tian" ucap Milo berbohong tanpa rasa malu.
Helen menghembuskan nafasnya lalu mengambil buku yang disodorkan Milo lalu membawanya menuju tempat duduknya.
Milo melihat Helen yang menjauh dengan senyum tertahan. Dia merasa senang melihat Helen menerima niat baiknya.
Tidak lama bel masuk berbunyi, Dinda bernafas lega begitupun Ririn dan Gista yang baru saja menyelesaikan PR mereka.
Berbeda dengan Helen yang sudah selesai dari tadi karena menyalin PR milik Milo.
Guru mata pelajaran pertama masuk, semua murid diminta untuk mengumpulkan PR mereka.
Bu Mega memberikan ulangan dadakan yang dapat dikerjakan per kelompok, selagi para muridnya mengerjakan soal ulangan, guru tersebut memeriksa PR mereka.
Satu kelompok terdiri lima orang. Helen dan Gista sudah menyatukan meja mereka dengan meja milik Ririn dan Dinda, mereka berempat sudah pasti satu kelompok.
"Ngapain lo di sini?" tanya Ririn galak kepada Milo yang sudah duduk manis di antara mereka.
Milo tersenyum melihat mereka satu persatu, dengan PeDenya dia duduk diantara mereka.
"Gila lo senyam senyum sendiri?" tanya Gista heran.
"Bu Mega nyuruh bikin kelompok yang anggotanya lima orang, kalian baru berempat ya gue dengan senang hati nambahin biar lengkap" ucap Milo.
Dinda menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum lucu melihat tingkah Milo yang terkadang aneh seperti Guntur.
"Kita berempat aja cukup kok" ucap Ririn galak.
"Ririn gue heran sama lo, marah marah mulu tiap hari. Kelilit utang lo ya?" ucapan Milo membuatnya mendapatkan cubitan pedas dari Ririn.
"Sakitttt Ririn" teriak Milo membuat seisi kelas melihat ke arahnya, termasuk sang guru yang kini melotot melihat Ririn dan Milo.
"Ririn ni bu cubit cubit" pekik Milo mengadu sambil menunjuk Ririn.
"Banci amat si lo ngaduan" ketus Ririn kesal.
"Pergi sekarang juga dari hadapan gue!" ucap Ririn lagi dengan nada pelan tapi tegas.
"Heheheee ampun jeng, saya bercanda tadi" ucap Milo tidak ingin diusir karena semua murid sudah memiliki kelompok masing masing, hanya dirinya sendiri yang belum.
"Udah udah, kalian ini sehari gak berantem gak afdol kayaknya" ucap Dinda melerai mereka.
"Tau ni berisik kalian" ucap Gista yang siap menulis soal di atas kertas di hadapannya.
"Kita juga cuma berempat, kasian Milo gak punya kelompok jadi dia masuk kelompok kita aja" ucap Dinda. Milo bertepuk tangan heboh karena senang Dinda mau menerimanya.
Ririn menyetujui ucapan Dinda dengan terpaksa, dia terus berkomat kamit karena kesal kepada Milo yang sudah sangat berani mengadu kepada guru soal dirinya.
"Milo, Helen" panggil bu Mega yang ada di depan kelas.
"Ya bu" ucap Milo dan Helen bersamaan.
"Nilai PR kalian paling rendah dan jawaban kalian sama, bagaimana bisa seperti itu?" tanyanya. Mereka tidak menjawab dan bu Mega menghela nafas sambil menggeleng tidak habis fikir.
Helen menatap Milo dengan pandangan kesal tapi dia menyudahinya, dia membuang muka tidak ingin melihat Milo yang sudah berani menipunya.
Milo menyumpahi Guntur yang sudah berani menipunya dalam hati. Dia melirik Helen dengan senyum tidak enaknya, tapi Helen yang kesal tidak mau melihat Milo sama sekali.
Ririn dan Gista menahan tawa mereka. Beruntung mereka mengerjakan PR bersamaan dengan Dinda karena Dinda memiliki terori yang berbeda tetapi dengan maksud yang sama. Jadi jawaban mereka tidak ada yang sama persis.
"Baru kali ini gue liat Helen dibegoin cowok" ucap Gista berbisik kepada Helen membuat Helen semakin kesal. Mereka kini fokus menjawab soal ulangan dadakan.
Bel pergantian palajaran berbunyi semua murid bernafas lega karena pelajaran Biologi akhirnya selesai, guru Biologi keluar kelas setelah menerima semua jawaban dari setiap kelompok meninggalkan buku PR di meja guru agar ketua kelas yang membagikannya.
Helen membuka buku PR miliknya, melihat nilai yang ternyata D dengan tatapan nanar. Dia tidak akan mau lagi percaya kepada Milo. Sumpahnya.
"Helen.. Gue gue minta maaf udah bohong sama lo" ucap Milo terbata dia benar benar merasa tidak enak kepada Helen.
Helen tidak menjawab, bahkan masih tidak ingin melihatnya.
"Syukurin" ucap Ririn sangat puas.
Milo mendelik menatap Ririn, lalu menatap Gista dan Dinda meminta tolong untuk membujuk Helen.
Dinda dan Gista tidak ingin ikut campur, mereka memilik pergi keluar kelas untuk ke toilet.
Cika kebetulan juga ada di toilet, dia hendak keluar dari sana dan berpapasan dengan Dinda juga Gista.
"Heh cabe!" pekik Cika kepada mereka berdua.
"Lo manggil siapa?" tanya Gista.
"Cewek sebelah lo! Cabe" ucap Cika sambil menunjuk Dinda dengan dagunya.
"Jaga mulut lo" ketus Gista.
"Apa maksud lo ngatain gue cabe? Kita gak kenal dan gue gak pernah ada urusan sama lo" ucap Dinda.
"Lo yakin gak kenal gue?" tanya Cika dengan senyum miringnya.
"Urusan tentu ada, lo udah ngambil Ale dari gue" ucap Dinda lagi dengan mata melotot sambil mendorong Dinda hingga tubuhnya terbentur pintu.
"Woi lo junior bener bener minta di kasih pelajaran ya! Ale aja gak kenal sama lo sejak kapan Ale jadi milik lo? Halu lo?" pekik Gista sudah sangat kesal dengan adik kelasnya ini.
"Ale itu milik gue! Gue pastiin dia akan lepasin lo" ketus Cika lalu pergi meninggalkan mereka.
"Gak Vita gak tuh cewek ngehalu mulu" desis Gista.
Dinda memikirkan ucapan Cika yang mengatakan jika mereka saling kenal, Dinda mengingat sesuatu tapi masih samar dan itu malah membuat kepalanya sakit bukan main.
Dinda memegangi kepalanya, Gista langsung membantu Dinda.
"Din, lo ga papa kan? Kok muka lo tiba tiba pucet gitu?" tanya Gista panik.