Will Be Mine

Will Be Mine
Four



Hai hai hai ....


Happy Reading 🤗


Maaf Jika Typo bertebaran 🙏


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Lo dari mana aja?" tanya Baim yang berdiri di belakang Helen seraya menatap ke arah tangga.


Dinda merasa bingung tapi tetap menunjuk dirinya sendiri karena merasa Baim bertanya kepadanya tapi saat hendak menjawab suara berat di balik punggungnya terdengar.


"Roftoop" Ale menjawab lalu melewati Dinda dan teman temannya.


Dinda merapatkan bibirnya membentuk garis lurus. Dia terlalu kepedean, tidak mungkin juga jika Baim bertanya kepadanya. Hampir saja dia membuat dirinya sendiri malu.


"Din kok lo .. Dia ?" Gista mendadak lemot.


"Enggak Gista! Gue emang habis keliling sekolah nunggu kalian" ucap Dinda cepat membantah fikiran sahabatnya yang sudah curiga.


"Dadah neng Dinda" ucap Guntur menggoda Dinda.


Diam diam Ale menatap tajam Guntur yang sengaja memanas manasinya.


"Ganjen banget lo!" ketus Ririn.


"Sirik" ucap Guntur seraya memeletkan lidahnya ke arah Ririn seperti anak kecil.


Ririn hanya memutar bola matanya, malas meladeni tutup kaleng pikirnya.


Keempat gadis itu melihat kelompok Ale yang berjalan menjauh menuju parkiran.


"Udah sore balik kuy!" ucap Gista.


"Yu balik, gue pengen rehat sambil berendem" ucap Ririn sambil meregangkan ototnya.


Keempat gadis itu berjalan menuju parkiran, saat sampai parkiran kelompok Ale masih ada di sana sedang mengobrol seraya bercanda.


"Masuk Din" ucap Ririn di balik kemudi.


Dinda memasuki mobil milik Ririn sedangkan Helen dan Gista mereka mengendarai mobil masing-masing.


Ale manatap Dinda dari kejauhan, memperhatikannya dalam diam.


Setelah melihat Dinda masuk ke mobil Ririn dan berlalu meinggalkan sekolah, Ale menaiki motor sportnya diikuti keempat sahabatnya meninggalkan sekolah.


.....


Keesokan harinya


Dinda datang ke sekolah pagi pagi sekali, dia ingin mencari keberadaan ke dua ban sepedanya yang hilang entah kemana.


Dinda menyusuri setiap sudut sekolah, hingga dia sampai di taman belakang sekolah tempat biasa dia dan teman - temannya makan bersama jika kantin penuh.


Mata Dinda menyipit saat dari kejauhan melihat ban sepeda miliknya tergantung di dahan pohon.


Dinda mengadahkan kepalanya berfikir betapa tingginya pohon tersebut dan babaimana cara mengambil ban yang di gantung di dahan tinggi itu.


"Tinggi banget astaga, gimana ngambilnya ini?" keluh Dinda.


Dinda melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


Setelah dirasa cukup aman, Dinda menaruh asal tas sekolahnya dan berjalan mendekati pohon.


Dinda mencoba memanjat pohon tersebut demi ban sepedanya kembali.


Pijakan pertama hingga ke lima berhasil dan semua aman tapi saat pijakan ke enam tubuh Dinda kembali merosot ke bawah.


Dinda tidak menyerah, dia kembali mencoba naik kini hingga pijakan ke sepuluh yang menurutnya cukup tinggi.


Dinda berhenti sejenak melihat ke bawah tapi hal itu justru membuatnya ketakutan. Dinda yang takut ketinggian seketika hilang keseimbangan lalu berteriak bersamaan dengan tubuhnya yang bersiap mencium tanah berlapis rumput.


Mata Dinda terpejam karena takut, hingga beberapa detik bahkan hampir satu menit berlalu Dinda tidak kunjung mencium tanah berlapis rumput itu.


Dinda mencoba membuka matanya, pertama yang di lihat adalah mata elang yang menatapnya tajam.


"Ale?" tanya Dinda dengan menelengkan kepalanya memastikan dirinya tidak salah lihat.


"Ngapain manjat - manjat?" tanya Ale seraya menurunkan Dinda dari gendongannya.


Dinda merapihkan seragam juga rambutnya yang berantakan.


"Itu" ucap Dinda sambil menunjuk ke arah batang pohon dimana ban sepedanya berada.


"Minta tolong bisa?" tanya Ale.


Dinda hanya meringis.


"Mumpung sepi manjat sendiri juga bisa" ucap Dinda.


"Iya bisa jatoh kayak barusan" ketus Ale.


Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sangat malu saat ini.


"Minta mang Ujan yang ambilin nanti sekalian minta bawa ke bengkel buat benerin"


"Tap-"


"Sekarang lo ke kantin! Sarapan dulu baru ke kelas! Gak ada tapi tapian!" titah Ale tegas.


Dinda mengembungkan pipinya menahan kekesalannya. Ale selalu memerintah menurutnya.


Tanpa berkata apapun Dinda menuruti perkataan Ale. Ale terkekeh kecil melihat tingkah Dinda yang menurutnya manis.


Ale memasuki kantin, dia melihat Dinda sedang makan seorang diri. Ale tersenyum lalu berjalan ke salah satu stand untuk membeli minuman.


Ale membeli dua botol air mineral. Dia memperhatikan sekitar yang nampak sepi. Dengan langkah santai Ale memberikan minuman yang di belinya kepada Dinda dan menaruhnya di meja tempat Dinda berada tanpa meliriknya sama sekali.


Dari kejauhan seorang gadis mengepalkan tangannya kuat melihat apa yang tidak pernah Ale lakukan kepada gadis manapun tapi dia melakukannya kepada Dinda yang dari segi manapun jauh di bawahnya.


........


Jam istirahat sedang berlangsung.


"Din mendingan lo pulang deh!" ucap Ririn khawatir melihat keadaan Dinda.


Dinda menggeleng, dirinya tidak ingin kembali kehilangan score.


"Lo mikirin score pasti?" ucap Gista kesal.


Helen berdecak kesal karena Dinda yang sangat keras kepala.


Saat ini tubuh Dinda di penuhi bintik merah, suhu tubuhnya juga sangat panas.


Saat memasuki kelas pagi tadi, tempat duduknya di penuhi dengan serbuk bunga entah siapa yang iseng melakukan itu padahal seisi kelas ini tahu jika Dinda alergi terhadap serbuk bunga.


Nafas Dinda semakin sesak, sepertinya serbuk bunga yang sudah di bersihkan tidak sepenuhnya hilang.


Ale melewati kelas Dinda dan sempat melihat Dinda yang masih berada di kelas.


"Tunggu kali!" seru Milo kepada ke empat sahabatnya yang melewati kelasnya begitu saja tanpa menunggunya.


Milo yang notabennya satu kelas dengan Dinda dkk merasa di abaikan.


Ale menghentikan langkahnya yang memimpin jalan, membuat Milo yang masih menggerutu kesal menabrak punggung Baim.


"Apaan si bege berenti mendadak sakit muka gue!" keluh Milo semakin kesal.


"Lembek banget lo kayak pisang busuk!"


"Sialan, pisang itu benyek lah gue ganteng gini disamain sama makanan monyet!"


"Lo kan doyan pisang Mil! Berarti lo monyet dong?" pekik Guntur membuat Baim tertawa.


Tian hanya tersenyum tapi tidak dengan Ale yang kini menatap Milo tajam.


Milo yang hendak protes karena di bilang monyet tidak jadi saat melihat Ale sedang menatap tajam dirinya.


Milo menelan salivahnya bulat bulat.


"Kenapa?" tanya Ale kepada Milo.


"Gue gak papa" ucap Milo dengan Pedenya.


Tian memutar bola matanya.


Baim menutup wajahnya dengan satu tangan seraya menggelengkan kepalanya.


Guntur sudah tertawa seraya memukul bahu Milo dengan kencang.


"Pede amat sih lo bang!" ucap Guntur keras.


Milo yang melihat reaksi mereka kebingungan. Dia menggaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal.


"Lah, orang Ale nanya kenapa kan ke gue? Gue jawab lah salahnya di mana baskom?" ucap Milo kepada Guntur.


"Yang dia maksud bukan lo Nyet" ucap Baim.


Milo menatap Baim kesal, masih saja dirinya dikatain monyet. Lalu menatap Ale seraya berfikir. Beberapa detik kemudian dia mengerti.


"Ooooooo dia? Alerginya kambuh gara gara ada yang nyimpen serbuk bunga di meja sama kursinya, suhu badannya naik drastis tapi ga mau pulang" ucap Milo yang memang tahu kejadiannya.


Ale menaikan sebelah alisnya bertanya siapa pelakunya melalui tatapannya.


"Gak ada yang tahu siapa pelakunya, kalo anak kelasan gak mungkin!" ucap Milo membela teman sekelasnya.


Pasalnya jika teman sekelasnya yang berani melakukan itu, sudah dipastikan mereka tidak akan masuk untuk beberapa hari karena harus berhadapan dengan Ririn juga Helen.


"Kayaknya gue tahu siapa" ucap Baim.


"Tadi gue sempet liat Jeni buang kantung bekas serbuk gitu tapi gue gak merhatiin itu serbuk apaan" ucap Baim.


Kemungkinan yang di katakan Baim bisa saja benar. Karena selain mereka siapa lagi yang dengan kurang kerjaannya mengerjai orang lain.


Ale berjalan memasuki kelas Milo. Beberapa siswi yang lebih memilih diam di kelas dikagetkan dengan kehadiran sosok most wanted Snoppy.


Pekikkan dan teriakan tertahan memenuhi indera pendengaran Ale. Ale berjalan selangkah demi selangkah, menatap lurus ke arah meja Dinda tanpa memperdulikan yang lainnya diikuti para sahabatnya.


Gista menyadari kehadiran Ale di kelasnya lebih dulu. Lalu menyenggol Ririn juga Helen.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Ririn dengan heran.


Ale berhenti di samping meja Dinda. Sang empu pemilik meja hanya menundukkan kepalanya, menghalau pusing yang di rasakannya.


Ale mengelus pelan kepala Dinda. Semua orang yang melihat itu melotot tidak percaya. Ada yang diam diam merekam perlakuan Ale untuk di sebarkan nantinya.


Bahkan Gista yang sedang memegang ponselnya berniat memfoto kelompok cogan yang ada di hadapannya untuk dijadikan status sosmednya terjatuh begitu saja.


Wajah Gista menganga tidak percaya begitupun siswi yang lain. Helen hanya menatap datar Ale walau dia terkejut tapi mimik wajahnya tetap tidak berubah.


Ririn yang sangat kaget dengan sikap Ale langsung berdiri. Menatap curiga kepada Ale.


"Mau apa lo?" tanya Ririn galak.


Ririn selalu curiga jika menyangkut orang yang mendekati Dinda. Dia tidak ingin sahabatnya tersakiti terus menerus karena dibully.


Dan di hadapannya saat ini adalah raja bully di SMA Snoppy Hight School.


Ririn menahan tangan Ale yang masih mengelus surai panjang Dinda.


Dinda yang tertidur merasa lebih nyaman saat elusan lembut di kepalanya seperti meringankan pusing yang dirasakannya.


Ale menepis tangan Ririn yang menahan tangannya, menatap tajam Ririn lalu beralih menatap sahabatnya satu persatu.


Mereka yang mengerti menyuruh semua orang yang ada di kelas untuk keluar termasuk ke tiga sahabat Dinda.


Ririn yang tidak terima melawan saat Guntur terus menariknya paksa begitupun dengan Helen yang di tarik paksa Milo.


Gista hanya menurut sambil mesem mesem sendiri karena Baim menarik tangannya lembut.


"Bangsat lo semua!" teriak Ririn galak di depan pintu kelas.


"Lo pada mau ngapain Dinda hah? Berani nyentuh Dinda lo semua abis sama gue!" kata Ririn berteriak sambil menunjuk mereka satu persatu.


"Udah sih kalem aja! Bos gue gak ngapa ngapain tenang" ucap Guntur kalem.


"Gimana gue bisa tenang! Sahabat gue hampir sekarat terus lo pada malah dateng dan ngusir kita Anjing!" Ririn yang terus berteriak langsung di bekap oleh Guntur.


"Lo kasar ih" ucap Guntur.


"Kampret Guntur tangan lo Bau!" teriak Ririn setelah berhasil menjauhkan tangan Guntur dari wajahnya.


Milo dan Baim tertawa mendengarnya, Tian hanya terkekeh. Guntur mencium bau tangannya yang ternyata tidak bau.


"Tangan gue gak bau ******! orang wangi gini" ucap Guntur.


"Nih lo cium Len" ucap Guntur lagi seraya mendekatkan tangannya ke hidung Helen.


Helen menghindar lalu menatap tajam Guntur yang seketika ciut. Milo tertawa terbahak melihat Guntur.


"Singa lo ganggu!" ucap Milo di sela tawanya yang langsung mendapat pukulan telak di punggungnya dari Helen sampai Milo terbatuk.


"Hahhahaaha....... Sukurin" ucap Guntur tertawa puas.


"Bangsat lah gue mau masuk pokoknya!" Ririn kembali memaksa masuk dengan kekuatan penuh dia mendorong keempat remaja di hadapannya yang menghalangi pintu kelasnya.


Guntur yang masih tertawa, terdorong oleh Ririn lalu mereka berdua jatuh dengan posisi Guntur di bawah dan Ririn di atas.


Ale yang akan keluar kelas seraya menggendong Dinda membuat semua pasang mata menatapnya.


Ririn segera bangkit lalu menghampiri Ale yang akan membawa Dinda dengan sengaja menginjak perut Guntur.


"ANJING! Perut gue" ucap Guntur berteriak.


"Mau di bawa kemana sahabat gue?" tanya Ririn galak menghiraukan Guntur yang sudah menyumpah serapahi dirinya.


Helen dan Gista ikut masuk ke dalam kelas, Helen berjalan menginjak tangan kanan Guntur dan Gista menginjak tangan kiri Guntur.


Guntur yang masih terlentang merasakan sakit di perutnya kembali berteriak saat ke dua tangannya diinjak oleh kedua gadis itu.


"Aaaaaa TANGAN GUEEE" teriakan Guntur yang membahana membuat ketiga gadis yang tidak sengaja menginjaknya meringis .


"Gue bawa dia ke UKS" ucap Ale tidak memperdulikan kondisi Guntur.


Ale melangkah, membelah kerumunan yang berkumpul ingin melihat pangeran mereka di lorong sekolah.


Bisikan hina serta tatapan iri yang di lontarkan untuk Dinda di sepanjang lorong tidak Ale hiraukan.


"Caper najis!"


"Gila tuh cewek kaum rakyat jelata aja berani bikin Pangeran gue gendong dia!"


"Awas aja tuh cewek gue jadiin peyek nanti berani banget"


Masih banyak lontaran dan bisikan yang terbilang keras menghina Dinda.


Dinda yang kesadarannya semakin tipis tidak bisa mendengar apa yang orang orang katakan.


Sahabat Dinda maupun Ale mengikuti mereka. Ale merasakan Dinda yang suhunya semakin tinggi di tambah pernafasan Dinda terasa tidak teratur.


Ale tidak jadi membawa Dinda ke UKS, dia berbelok ke parkiran berniat membawa Dinda ke Rumah Sakit terdekat.


"Lah kok belok? UKS di sana WOI!" pekik Gista.


"Dinda harus ke rumah sakit, keadaannya semakin parah!" ucap Ale disela larinya.


"Tur! Bawa mobil gue!" titah Ale.


Guntur mengambil kunci mobil di saku seragam Ale.


"Tian ikut gue! Baim sama Milo kalian cari pelakunya!" titah Ale diangguki mereka bertiga.


Ririn, Helen dan Gista memasuki mobil Tian dengan seenaknya.


Tian yang duduk di balik kursi kemudi menatap datar mereka, tapi tidak menggubrisnya dan melajukan mobilnya mengikuti Ale.


Guntur yang menyetir mobil dimana Ale dan Dinda yang menjadi penumpang.


"Cepet Tur!" ucap Ale panik.


Guntur ikut panik dan menancap pedal gas semakin dalam.


Tidak perduli banyak kendaraan yang hampir kecelakaan akibat dirinya.


.....


Rs. Pelita Harapan


Guntur memarkirkan mobilnya asal di depan UGD.


Berteriak memasuki lorong UGD meminta pertolongan. Para suster ikut panik melihat kepanikan Guntur.


Mereka segera membawa bungker ke tempat Ale dan Dinda berada.


Selama Dinda di periksa, Ale dan yang lainnya menunggu dengan panik.


Ririn terus menatap Ale. Dia sangat bingung dengan sikap Ale yang aneh menurutnya.


Ale seorang iblis berhati dingin terlihat sangat khawatir saat ini.


Apa hubungan mereka sebenarnya? Pikir Ririn.


Begitupun dengan Gista dan Helen yang berfikir sama.


Tapi untuk memikirkan itu bukanlah saat yang tepat. Jika mereka bertanya sudah di pastikan bukan jawaban yang mereka dapatkan.


"Huh" Gista melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.


Sudah cukup lama dokter memeriksa Dinda.


Suara derap langkah membuat semua yang duduk di sana menoleh.


Sepasang suami isteri dengan wajah panik berlari menghampiri Ririn.


Ririn sempat menghubungi mereka perhial apa yang terjadi dengan Dinda.


Ana dan Bili menatap Ririn. Mereka mengenal ketiga sahabat Dinda yang sering main ke rumah bahkan mengantar Dinda pulang.


"Dimana Dinda nak?" tanya Ana dengan raut khawatir.


Ririn menatap ruangan yang pintunya masih tertutup rapat.


"Masih diperiksa bu. Ibu sama Ayah duduk dulu mungkin sebentar lagi dokter keluar" ucap Ririn sambil bergeser agar Ana dan Bili bisa duduk.


Kelompok Ale menatap kedua orang itu tanpa bertanya.


Lima belas menit kemudian pintu terbuka dan dokter keluar dengan wajah seperti mencari seseorang.


"Dimana keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.


"Kami!" seru Ana dan Bili bersamaan.


"Saya Ayah dari pasien bernama Dinda" ucap Bili seraya menghampiri dokter tersebut.


"Emm begini Tuan, anak anda sedang kritis"