Will Be Mine

Will Be Mine
One



"Aku ingin bercerai denganmu!" ucap wanita yang usianya sekitar tiga puluhan.


"APA KAU BILANG?" Lelaki yang umurnya tidak jauh di atasnya berteriak dengan wajah marah.


"Aku tidak ingin hidup miskin! Aku akan bercerai denganmu dan aku akan membawa Dinda!" ucap wanita itu, Mala dengan wajah seriusnya.


Mala keluar dari kamar pribadi mereka, saat membuka pintu dia di kagetkan dengan anak perempuan kecil yang menatapnya polos.


Mala berjongkok seraya tersenyum masam, membenahi anak rambut di wajah anak semata wayangnya.


"Kau ikut mama ya" ucap Mala lembut.


Dinda mengangguk polos.


Mala menarik tangan Dinda dengan lembut berjalan ke arah pintu utama.


"Kau mau bawa Dinda kemana?" teriak Alan.


Mala tidak menggubris teriakan lelaki yang kini masih berstatus menjadi suaminya.


Alan berlari lalu menarik Dinda dan digendongnya.


"Kau bodoh! Ini sudah tengah malam! Dinda juga sedang demam!" Alan sudah tidak habis fikir kemana fikiran istrinya ini.


"Apa kau bilang? Aku bodoh?" teriak Mala.


Keributan di depan rumah mereka menjadi pengantar tidur bagi tetangga mereka yang sudah terbiasa mendengarnya setiap hari.


"Masa bodo dengan dia yang sedang sakit! Dia harus ikut denganku!" teriak Mala lagi seraya menarik paksa Dinda untuk turun.


Tidak sampai disitu, Mala menendang perut Alan dengan kakinya yang menggunakkan sepatu hils runcing.


Alan mengaduh sakit saat sepatu lancip itu mengenai perutnya, dia jatuh terduduk karena serangan yang tiba-tiba itu.


Mala berdecih lalu menarik kasar Dinda untuk masuk ke mobilnya.


Melihat sebentar ke arah Alan yang wajahnya terlihat marah, Mala menancap gas dalam meninggalkan rumah yang sebentar lagi menjadi milik Bank.


Dinda menangis melihat ayahnya yang masih bersimpuh, dia memohon kepada mamahnya untuk menolong ayahnya.


"Mah, kita mau kemana? Ayah kasian mah" ucap Dinda kecil di sela tangisnya.


"Diam kamu! Kamu masih kecil tidak akan mengerti!" bentak Mala yang fokus menatap jalanan yang sepi.


Dinda diam karena bentakan Mala, dia sangat takut jika mamahnya sudah membentaknya.


Cukup lama mereka berkendara, Dinda merasakan hawa dingin lalu dia melihat keluar kaca mobil yang sangat gelap.


Mala menghentikan mobilnya lalu turun dari mobil. Berjalan tergesa ke arah pintu samping tempat Dinda duduk.


"Keluar kamu!" titah Mala setelah membuka pintu.


Dinda hanya menurut karena tahu mamahnya sedang marah.


Tapi diluar dugaan, Mala kembali memasuki mobil setelah menurunkan Dinda.


Mala melajukan mobilnya pergi meninggalkan Dinda.


"MAMAH" teriak Dinda.


.....


"Hey nak! Bangun sayang" tepukan lembut membangunkan Dinda dari mimpinya.


Keringat membasahi dahinya, Dinda menatap sekeliling dengan nafas terengah.


Melihat wanita tua yang duduk di sampingnya, Dinda langsung menghambur ke pelukannya.


"Kamu bermimpi lagi sayang?" ucap wanita itu.


"Ibu" Dinda memanggil wanita itu Ibu sambil menangis.


Wanita itu adalah Ana orang tua angkat Dinda. Mereka bertemu Dinda yang sedang tidur meringkuk di depan tokonya. Ana yang memang menginginkan seorang anak meminta suaminya untuk mengadopsinya setelah tahu cerita tentang Dinda, Ana semakin menginginkan Dinda menjadi anaknya.


Ana berfikir, dia yang sudah sepuluh tahun menikah belum dikaruniai anak tapi mereka yang dengan mudahnya mendapat anugrah Tuhan yang dititipkan kepada mereka, membuangnya begitu saja seperti barang bekas.


Begitupun dengan Bili, suami Ana yang berfikir sama dengan Ana.


Dinda yang kini sudah duduk di bangku SMA sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukan mereka yang kini menjadi orang tuanya.


Dinda sangat menyayangi mereka, walaupun kehidupan mereka pas pasan Dinda tidak pernah mengeluh.


Sederhana tapi bahagia sudah cukup bagi Dinda.


Dinda mengurai pelukan mereka, menatap sang ibu yang sudah terlihat tua. Dia menggenggam tangan Ana lalu menciumnya.


"Terima kasih sudah berbesar hati untuk merawat dan menerimaku Ibu" ucap Dinda.


Ana meneteskan air matanya, dia sudah diberi malaikat berhati lembut. Tuhan mengirim Dinda kepadanya, Dinda sudah seperti anak kandungnya sendiri.


Ana mengusap air mata di pipinya, tersenyum hangat menatap Dinda yang kini menatapnya teduh.


"Ibu yang berterima kasih kepadamu karena sudah datang di keluarga kecil ini" ucap Ana tulus.


Dinda menggeleng "Aku sayang Ibu" ucap Dinda kemudian.


Mereka kembali berpelukan hingga suara ketukan pintu membuat mereka terkikik lalu menguraikan pelukan mereka.


"Sudah jam berapa ini sayang? Kamu tidak berangkat sekolah?" tanya suara bariton dengan perawakan sedikit besar kepada dua orang perempuan yang sangat di sayanginya di ambang pintu kamar Dinda.


"Hehe.. Ayah Dinda sekolah kok" ucap Dinda lalu turun dari tempat tidurnya.


Dinda keluar kamar seraya membawa handuk menuju kamar mandi.


Ana hanya menggeleng melihat putrinya yang kini sudah tumbuh besar.


"Aku bahagia mas" ucap Ana yang kini sudah berdiri di hadapan suaminya.


"Aku juga meraskan hal yang sama, semenjak Dinda datang ke rumah ini. Rumah ini lebih hidup dan berwarna" ucap Bili yang disetujui Ana


"Ayo kita sarapan dan tunggu Dinda di dapur" ucap Bili lagi.


Ana mengikuti suaminya berjalan ke dapur dan duduk di meja makan kecil yang menjadi saksi kebahagian mereka.


Bili dan Ana adalah wirausaha, mereka bedagang dan membuka toko kecil di dekat pasar.


Mereka menjual berbagai macam makanan ringan serta kue kering.


Mereka membuka toko dari pagi sampai siang, sorenya mereka membuka kedai warung pecel lele di alun alun kota hingga jam sepuluh malam.


Melelahkan memang, tapi mereka senang menjalaninya.


"Dinda berangkat ya" Dinda mencium tangan Ana dan Bili secara bergantian setelah mereka selesai sarapan.


Dinda berjalan keluar rumah, mengambil sepeda yang bertengger di samping rumahnya.


Dinda mengayuh sepedanya sambil bersenandung menyanyikan lagu yang sepintas di dengarnya saat menonton ajang pencarian bakat di TV.


Lima belas menit kemudian, Dinda sampai di sekolahnya. Memarkirkan sepedanya di parkiran khusus sepeda. Di parkiran itu hanya ada dua sepeda yang satu milik Dinda dan satunya lagi milik Mang Ujan yang bekerja sebagai OB di sekolahnya.


Dinda sekolah di Snoppy Hight School dimana sekolah itu adalah sekolah elit dan terkenal hanya bisa dimasuki oleh orang berduit alias kaya raya.


Dinda hanya salah satu orang yang beruntung dari sekian banyak orang yang bisa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.


Siswa dan siswi di sana selalu mementingkan kasta tapi ada beberapa anak yang tidak memperdulikan itu semua.


Beruntungnya Dinda anak-anak yang di maksud itu adalah sahabat Dinda yang mau menerima Dinda si anak miskin bermodal otak.


"Dinda!" pekik gadis nyentrik dengan rambut berwarna pink ombree.


"Gista! Astaga gue kangen sama lo" Dinda melihat Gista, sahabatnya yang sudah seminggu tidak masuk sekolah karena ijin pergi ke LA untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit.


"Dinda makin cantik aja" ucap Gista dengan suara nyaringnya.


Gista adalah salah satu sahabat Dinda yang memiliki kepribadian ceria, nyentrik dan genit.


"Suara lo Gis astaga" ucap gadis dengan wajah sedikit galak tapi manis.


"Astaga Ririn lo ngagetin gue aja" pekik Gista menatap Ririn yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya.


"Lo piki gue setan apa ampe lo ga nyadar gue dateng!" ucap Ririn si gadis sedikit ketus dan berwajah galak tapi sangat manis dan berhati malaikat.


Ririn adalah pelindung Dinda. Setiap Dinda di bully oleh murid lain, Ririn pasti akan menjadi tameng untuk membelanya.


"Yaj lo kayak jelangkung" ucap Gista sambil terkikik.


"Sialan lo Gista!" pekik Ririn seraya memiting kelala Gista.


"Ririn sialan lo rambut baru gue!" teriak Gista berusaha melepaskan diri.


Dinda hanya tertawa melihat mereka berdua, sudah seperti biasanya dan pasti sebentar lagi akan ada yang memisahkan mereka.


"Berisik Woi!" ucap Helen yang memiliki wajah datar tapi paling normal diantara mereka.


Ririn melepaskan pitingan ya sambil menatap Helen jutek. Helen membalas tatapan Ririn datar.


"Udah ah kalian buat gue sakit perut pagi pagi" ucap Dinda.


"Nih buat kalian" ucap Gista memberikan mereka masing masing satu paperbag berisi oleh oleh untuk mereka.


"Asiiikkk dapet oleh oleh dari Gista" pekik Dinda senang.


"Astaga Din, jangan gitu lo keliatan cantik banget!" keluh Gista yang di setujui Helen dan Ririn.


"Thanks ya" ucap Ririn dan Helen seadanya membuat Gista mengelus dada.


"Udah ah, ayo ke kelas udah mau bel" ucap Dinda di setujui ketiganya.


Mereka bertiga memasuki kelas diikuti canda dan tawa.


Bel berbunyi, pelajaran pun di mulai......


Jam istirahat sedang berlangsung ke empat gadis yang sedang berjalan beriringan memasuki kantin yang tampak sangat sesak.


"Tumben banget ya ni kantin penuh" ucap Gista sambil melihat ke dalam kantin karena mereka masih di pintu masuk kantin.


"Gue gak mau masuk kantin ah, penuh bangt!" ucal Dinda mendapatkan perhatian penuh dari ke tiganya.


"Hari ini ada eskul loh Din! Lo gak mau ngisi perut apa?" tanya Ririn.


"Gue bawa bekel" ucap Dinda sambil menunjukan paper bag berisi bekalnya.


"Kenapa gak bilang dari tadi sukinah!" ucap Gista kesal.


"Ya kan gue gak yakin kalian mau makan makanan yang gue bawa!" ucapan Dinda membuat ke tiganya melotot kesal.


"Kita kenal udah berapa lama sih Din?" tanya Helen datar.


"Bener kata Helen! Lo anggap kita apa si?" tanya Gista.


"Lo masih mikirin hal gak berguna kayak gitu ke kita?" kerus Ririn.


"So...sorr..sorry" cicit Dinda yang sudah kelewatan.


Dinda paham betul sifat ke tiga sahabatnya ini yang tidak pernah memikirkan kasta, derajat atau semacamnya yang membedakan si kaya dan si miskin.


Mereka bertiga menghela nafas bersamaan lalu tersenyum menenangkan Dinda. Mereka paham maksud Dinda tapi mereka tidak menyukai pemikiran Dinda.


"Kalo gitu kita makan di taman belakang aja!" ucap Gista diangguki ketiganya.


"Di sana!" pekik Gista melihat bangku yang ada di bawah pohon rindang yang nampak kosong dari balakang.


Mereka berempat jalan ke bangku itu, saat hendak duduk mereka di kagetkan dengan kehadiran seorang siswa yang sedang tiduran sambil mendengarkan earphone.


Merasa ada orang lain di sekitarnya, orang itu membuka mata. Karena silau dia menyipitkan matanya.


Dinda berjalan mendekat dan menghalau sinar matahari yang menusuk mata orang itu secara tidak sadar.


Melihat siluet seorang perempuan membuat siswa itu kembali memejamkan matanya.


"Kok nutup mata lagi" gumam Dinda lalu berbalik menatap ketiga sahabatnya.


"Kita duduk di mana dong? Makan di kelaskan gak boleh" keluh Dinda.


"Lagian hari ini tumben banget si semua tempat penuh" keluh Gista keheranan.


Remaja laki-laki itu mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena lagu yang diputar di earphonenya sudah ia matikan. Dia mengernyitkan dahi saat mereka bilang semua tempat penuh.


"Apa sampe segitunya ya?" ucap lelaki itu dalam hati.


"Pasti gara-gara dia nih!" ucap Ririn menunjuk lelaki yang masih anteng tiduran tanpa terusik sedikitpun.


"Ririn gak boleh gitu" ucap Dinda.


"Gimana kalo kita makan di sini aja" ucap Dinda lagi memberi ide.


Ketiga gadis itu memperhatikan sekeliling lalu mata mereka tertuju pada lelaki yang tiduran di bangku taman.


"Au ah bodo amat, gue laper di sini atau di sana sama aja makannya" ujar Gista yang sudah keroncongan.


Mereka berempat duduk sembarangan dekat bangku di mana lelaki itu tidur.


Mereka memakan makanan yang di bawa Dinda dengan hikmat, walau porsinya tidak banyak tapi makan bersama terasa sangat nikmat menurut mereka.


Lelaki itu mencium wangi pecel lele yang membuat perutnya berbunyi nyaring.


Kriiuuuukkkkkkkkkkkk


Suara nyaring itu berhasil membuat keempat gadis itu saling lirik menahan tawa.


Mereka selesai makan dan merapihkan kembali tempatnya agar tidak ada sampah yang tertinggal, hitung-hitung bantu Mang Ujang.


Dinda melihat makanan yang di bawanya masih ada, dia meletakkan makanan tersebut di dekat lelaki itu setelahnya dia pergi menyusul teman-temannya yang berjalan duluan untuk kembali ke kelas.


Lelaki itu membuka matanya saat merasa orang di sekitarnya sudah pergi, dia bangkit dari tidurnya dan duduk menyender.


Matanya melihat ke arah makanan yang ada di dekatnya. Tanpa ragu dia mengambil makanan yang di bungkus kertas nasi itu lalu memakannya dengan lahap.


Dari kejauhan gadis dengan rambut sepunggung tersenyum menatap lelaki itu.


......


Sorakan serta bisikan yang terdengar jelas memenuhi kantin.


Seorang siswa berjalan dengan gagahnya, tatapannya tajam dengan sikap sedingin es.


"Astaga pangeran gue udah balik!"


"Ale gak ada berubahnya walaupun enam bulan gak keliatan"


"Iblisnya Snoppy Hight School balik cuyy"


"Siap siap aja yang berani berurusan sama dia gak akan bisa selamat"


"Aahh gila Ale gue lama gak ketemu makin dingin anjiirr"


"Gak peduli sedingin apa Ale, dia tetep calon imam gue"


Bisikan yang terus membuat Ale jengah memenuhi pendengarannya, tapi dia tidak peduli dia tetap berjalan hingga tiba-tiba...


Bruukkkk....


"Aduuhhh" keluh suara gadis yang kini jatuh terduduk.


"Gilaa tuh cewek nyari mati beneran dah!"


Bisik salah satu siswi yang sedang duduk di dekat Ale berdiri.


Aleandra, siswa yang sedang berjalan menuju tempat sahabatnya berada terpaksa berhenti kala suara seorang gadis memasuki gendang telinganya.


Semua pasang mata menatap gadis yang kini terduduk sambil mengusap dahinya.


"Kenapa Le?" tanya Guntur menghampiri Ale.


Aleandra remaja yang sering di sapa Ale hanya mengendikkan bahu acuh lalu pergi meninggalkan gadis yang kini mengadah menatap Ale pergi tanpa menolongnya.


"Tumben dia gak langsung bertindak?"


"Selamet tuh cewek!"


Suara para siswi yang berbisik terdengar jelas.


Ada juga yang mengatakan jika siswi itu hanya caper dan sengaja untuk mendekati Ale.


"Yee si kutub ya gue samperin dia kabur" gerutu Guntur yang kini berjalan kembali ke mejanya.


Guntur, sahabat Ale dari mereka duduk di bangku sekolah dasar. Remaja yang selalu memiliki ide konyol demi memeriahkan suasana.


"Lo balik" ucap Milo dengan senyumannya.


Milo, salah satu sahabat Ale yang selalu tebar pesona dan hanya dengan senyumannya dia bisa memikat banyak wanita.


"Hm" jawab Ale seadanya.


"Kapan lo balik dari Ausi? Kok gak ngabarin kita? Tau tau lo nongol di sekolah" tanya Baim, remaja yang terkenal playbol.


"Semalem" ucap Ale.


"Nyokap lo?" taya Tian yang memiliki sifat sebelas dua belas dengan Ale.


"Udah baik"


Mereka semua mengangguk dengan raut wajah lega.


"Dia apa kabar?" gumam Ale sambil menatap kosong ke meja.