
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Ale balik woii!" pekikan gadis yang baru memasuki kelas membuat seisi kelas yang tadinya hening mendadak ribut karena para siswi yang histeris.
Berbeda dengan ke empat remaja yang duduk di pojokan. Mereka saling lirik dan mengendikkan bahu acuh tapi satu orang diantara mereka sedang mesem-mesem sendiri.
"Lo kenapa deh?" tanya Ririn menatap aneh Gista yang terus tersenyum di depan kaca yang dipegangnya.
"Ale udah balik pasti Galaksi utuh lagi" ucap Gista mesem mesem.
"Apa hubungannya sama lo yang senyam senyum kek kunti?" tanya Ririn heran.
"Ririn ga peka yaaaaaaaa" ucap Dinda ikutan tersenyum.
Ririn menatap Dinda makin terheran lalu menatap Helen yang wajahnya tetap datar seperti teriplek.
"Apa siii?" tanya Ririn heran.
"Udah ah lupain deh gak jadi senengnya gue!" ketus Gista.
"Laaahhh gue gak paham cumi!" ketus Ririn.
Dinda terkikik melihat mereka dan Helen memutar bola matanya malas.
"Kira kira Ale masuk kelas mana ya?" tanya seorang siswi yang duduk di depan meja Dinda.
"Gue berharap dia masuk kelas ini biar mood gue bagus terus gue semangat masuk sekolah" ucap siswi yang duduk di sebelahnya.
"Eh eh mau kemana Din?" tanya Ririn melihat Dinda lari begitu saja.
"Mau ke toilet, gak tahan" ucap Dinda di ambang pintu kelas.
Ririn berdiri dan berlari menyusul Dinda. Dia khawatir Dinda akan dikerjai lagi.
Beberapa hari yang lalu, Dinda dikunci di toilet oleh si nenek sihir Vita.
Vita dan kelompoknya adalah siswi tukang bully, mereka adalah kelompok anak orang kaya yang tidak suka kepada Dinda karena anak miskin dan bisa masuk sekolah ini berkat beasiswa.
Saat itu Ririn yang kecolongan sedang diberi tugas oleh guru untuk mengantar buku ke perpustakaan, begitupun dengan Gista dan Helen.
"Dinda! Tungguin kali" teriak Ririn berlari mengejar Dinda.
Dinda menengok ke belakang tapi masih terus berlari hingga tidak sadar di depannya ada sekelompok siswa yang berjalan di mana ketuanya menjadi perbincangan seantero sekolah.
Bruuukkkk....
Ale menghindar saat tau Dinda berlari ke arahnya tanpa melihatnya. Dinda menabrak Guntur yang berada di belakang Ale.
Guntur jatuh ke belakang dan di atasnya Dinda.
Dinda menutup matanya, sedangkan Guntur sudah tersenyum kuda menikmati wajah bidadari cantik yang jatuh di atasnya.
"Sialan!" pekik Ririn yang sudah berada diantara mereka.
Ririn menginjak tangan guntur yang akan memeluk Dinda reflek guntur berteriak kencang saat tangannya terasa sakit.
Melihat siapa pelakunya, Guntur mendorong Dinda lalu berdiri menatap Ririn marah.
"Kampreeeet Ririn! Apa yang lo lakuin?" kata Guntur kesal menahan amarahnya.
"Lo apain Dinda kesayangan gue hah?" pekik Ririn galak.
"Dia yang nabrak gue kenapa lo nyalahin gue SAT?" kesal guntur.
Dinda tidak bergerak, dia tetap di tempat tapi dengan posisi duduk. Dinda menunduk seraya meremas roknya.
"Aduh gimana ni! Kalo bangun pasti malu banget" ucal Dinda dalam hati.
"Dindaaaaa!" teriak Gista dan Helen bersamaan.
Keributan di koridor tidak terelakkan, banyak siswa dan siswi menonton bahkan merekam mereka.
"Din, lo gak papa kan?" tanya Helen sambil membantu Dinda berdiri tapi Dinda tidak mau.
"Kenapa?" tanya Helen lembut.
Dinda menggeleng, melihat sekitar dengan mata tertutup rambut yang ternyata banyak yang menonton.
"Rin ada apa sih?" tanya Gista yang melihat Ririn sudah siap untuk berkelahi.
"Ini si monyet modusin Dinda pake acara peluk-peluk sampe Dinda jatoh" ucap Ririn.
Guntur melotot karena dirinya di fitnah.
"Lo emang lambe turah ya, bikin gosip gak ngecek fakta bangsul!" ucap Guntur kesal tidak terima.
"Aaahh tau ah, nanya ke kalian gak akan dapet jawaban gue!" keluh Gista pusing.
Gista menatap Baim senyum senyum, yang di tatap ikut tersenyum lalu mendekati Baim.
"Ada apa sebenernya?" tanya Gista kepada Baim.
"Dinda nabrak Guntur terus jatoh" ucap Baim seadanya, Gista mengangguk mengerti.
Helen menatap sekitar, tahu akan situasi karena dia melihat rok Dinda yang basah segera saja dia menyuruh semuanya bubar.
"BUBAR LO SEMUA!" teriak Helen marah.
Jika sudah bersuara dengan volume tinggi, Helen sangat menakutkan. Bicara irit saja sudah menakutkan apalagi banyak ditambah suaranya yang kencang.
Semua bubar begitu saja, tidak ingin menjadi sasaran Helen. Karena mereka tahu Helen dan Ririn adalah penguasa ilmu bela diri. Penguasaan bela diri Helen berada di atas Ririn.
Helen menatap ke lima lelaki yang masih diam di tempat.
Ale membuka jaket yang dipakainya lalu melemparnya kepada Dinda dan pergi begitu saja tanpa berbicara sepatah katapun. Ke empat sahabatnya mengikuti Ale pergi dan kini hanya tersisa ketiga sahabat Dinda.
"Awas tuh orang kalo ketemu lagi sama gue, gue bejek mukanya jadi peyek!" gerutu Ririn yang masih kesal.
Helen membantu memakaikan jaket pemberian Ale di pinggang Dinda setelahnya membantu Dinda berdiri dan berjalan menuju toilet untuk membersihkan diri.
"Kebiasaan Dinda kalo pipis suka nunggu kebelet! Heran gue sama lo Din!" keluh Gista.
Mereka kini sudah ada di toilet. Dinda yang berada di dalam salah satu bilik hanya terdiam.
"Malu bangt, gak mau ketemu mereka lagi!" ucap Dinda yang sudah keluar dari bilik dan berganti seragam baru.
"Untung gue selalu bawa seragam cadangan!" ucap Gista bangga.
"B aja" ucap Ririn.
"Makasih ya Gista, gue pinjem dulu seragamnya" ucap Dinda tulus.
"Gak usah di balikin, buat lo aja di rumah gue masih nyetok banyak" ucap Gista.
"Gak enak gue Gis, apa apa selalu di kasih" cicit Dinda.
"Apa sih Din, kita sahabat gak ada tuh kata pelit atau perhitungan" ucap Gista yang tumben bener.
Dinda menatap sahabatnya satu persatu, lau memeluk mereka bertiga sekaligus.
"Makasih banyak yah, gue seneng banget punya kalian gue harap kita selalu kayak gini gak ada berantem-beranteman. Selalu kompak dan saling melengkapi. Gue sayang sama kalian, gue udah anggap kalian keluarga gue" ucal Dinda di dalam pelukan mereka.
"Kita juga sayang sama lo Dinda sahabat baik kita yang suka ceroboh dan polos untung lo cantik" ucap Ririn.
Mereka mengurai pelukannya lalu keluar dari toilet. Dinda yang kebetulan berjalan paling depan keluar terlebih dahulu tapi siapa sangka ada seseorang yang menunggunya sedari tadi dengan ember berisi air comberan.
Byuuuuurrrrrrrrr
Tepat sasaran, air comberan yang di bawa oleh Vita CS mengenai Dinda.
Suara tawa yang menggema di koridor yang sepi membuat Ririn menoleh.
"Apa maksud lo nyiram Dinda pake air comberan?" desis Ririn seraya menjambak rambut Vita.
"Lo pikir gue takut sama lo?" ucap Vita yang berusaha melepas tangan Ririn yang menjambak rambutnya.
"Apa maksud kalian ngelakuin hal itu?" pekik Gista.
Vita menoleh kepada kedua antek anteknya melalui kode mata meminta bantuan. Siska dan Jeni membantu Vita dengan susah payah hingga tangan Ririn terlepas
Banyak rambut yang rontok akibat jambakan Ririn, Ririn membersihkan tangannya dari rambut Vita yang menempel manis di jemarinya.
"Rambut gue!" pekik Vita menatap Ririn kesal.
"Itu balesan udah berani nyakitin sahabat gue!" ucap Ririn sambil berkacak pinggang.
Vita berjalan menjauh sambil menghentakkan kaki kesal diikuti kedua temannya.
"Yaaah gue gak bawa baju lagi" ucap Gista dengan wajah menyesal.
Dinda menggeleng, dia merasa tidak enak jika harus terus dibantu oleh mereka tapi Dinda tidak berbicara apapun.
"Tunggu disini!" ucap Helen.
"Dia mau kemana?" tanya Ririn di jawab gelengan oleh Gista.
"Masuk lagi deh!" titah Ririn.
Ketiganya kembali masuk ke toilet, tidak lama kemudian seorang siswi junior masuk ke toilet dengan membawa paper bag.
"Ini kak" ucap siswi itu kepada Dinda sambil menyerahkan paper bag yang di bawanya.
"Ini apa?" tanya Dinda bingung.
"Ini seragam untuk kakak" jawab siswi itu.
Dinda mengambilnya "Dari siapa?" siswi itu menggeleng tidak ingin menjawab.
"Kalo gitu gue terima ini dan tolong sampein ucapan terima kasih gue ke orang yang udah ngasih ini ya" ucap Dinda sambil tersenyum manis.
Siswi itu mengangguk mengiyakan lalu pergi dari hadapan mereka.
"Astaga untung ada orang baik yang mau bantu" ucap Gista diangguki Dinda.
"Udah sana ganti, nanti lo sakit lagi udah basah kuyup gini!" titah Ririn.
Dinda berganti pakaian tapi dia bingung karena air comberan yang disiram Vita merembes sampai ke dalam.
"Kalo gak diganti percuma ganti baju" pikir Dinda.
"Tapi kalo gak dipakai keliatan dong. Makin malu deh"
"Dinn! Kok lama banget?" Gista berteriak karena Dinda cukup lama berganti baju tidak seperti tadi.
"Mana Dinda?" tanya Helen yang baru datang.
Gista dan Ririn menunjuk Bilik yang di dalamnya ada Dinda.
"Nih" ucap Helen menyerahkan seragam baru yang dia ambil dari mobilnya.
"Telat" ucap Ririn dan Gista bersamaan.
Helen menatap heran ke duanya, lalu melempar seragam itu ke atas meja westafel.
"Daleman gue basah, gue harus gimana dong?" ucap Dinda menyuarakan kebingungannya.
"Buka lah Din kan gak enak pake yang basah" ucap Gista dengan entengnya.
"Terus gue pake apa dong?" tanya Dinda lagi.
Mereka bertiga berfikir tapi Ririn dan Gista malah tertawa setelah membayangkan Dinda yang keluar tanpa memakai daleman.
Hahahhahahahaa......
"Kalian mikir kotor pasti" ucap Helen memutar bola matanya.
"Kalian kok ketawa?" tanya Dinda heran.
Ririn dan Gista berusaha menahan tawa mereka.
"Gini deh, buka dulu terus lo nanti pake jaket dari Ale" ucap Ririn memberi ide.
Beruntung rok seragam sekolahnya berwarna gelap jadi jika basah tidak terlihat.
Dinda keluar dengan wajah menunduk dan tangan yang menutupi area tertentu.
Fikiran Gista dan Ririn yang sedari tadi sudah tidak terkontrol tidak bisa menahan fantasinya.
"Astaga Dinda punya lo perfect banget!" ucap Ririn tidak bisa menahan ingin memegang dua gundukan di balik seragam Dinda tapi di tepis oleh Helen yang kini menatapnya dingin.
Ririn menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tertawa garing.
"Pake ini" titah Helen menyerahkan jaket milik Ale.
Jaket Ale sangat kebesaran untuk Dinda, dia malah terlihat memakai daster karena tubuh Dinda yang kecil.
"Lucu banget astaga" pekik Gista kegirangan melihat Dinda yang sangat cute menurutnya.
"Udah gak usah dengerin! Sekarang balik ke kelas karena kita hampir ngelewatin pelajaran terakhir" ucal Helen.
Setibanya mereka di depan kelas, bel pulang berbunyi membuat Gista dan Ririn bersorak kencang.
Tidak lama guru keluar dari kelas mereka dan berhenti tepat di hadapan mereka dengan tatapan meminta penjelasan.
"Score kalian ibu kurangi masing masing satu point" ucap guru itu lalu pergi dari hadapan mereka.
Dinda merasa panik karena ini kali pertama dia kehilangan point.
"Tenang shayyyy lo gak akan kehilangan beasiswa lo hanya karena satu point ilang" ucap Ririn menenangkan.
"Yang dibilangin mak lampir ini bener Din" ucap Gista membuat Ririn memukul bahu Gista.
"Sakit elah" keluh Gista kesal.
"Bodo amat! Ngapain ngatain gue mak lampir curut?"
"Sialan! Enak aja gue bukan curut" ucap Gista tak mau kalah.
"Udah kenapa si gak cape apa?" keluh Helen yang sudah pusing dengan bacotan mereka.
Mereka masuk kelas untuk mengambil tas mereka. Di dalam kelas sudah kosong karena saat bel berbunyi seluruh murid yang ada di kelas langsung berhamburan keluar tidak memperdulikan apapun lagi bahkan guru yang mengajar dengan seenaknya mereka tinggal.
"Gue kayaknya gak eskul dulu deh, gak enak ini" mengerti maksud Dinda ketiganya mengiyakan.
"Nanti gue yang ngomong sama kak Vio" ucap Ririn.
"Gue balik duluan ya" pamit Dinda.
"Lo hati hati" ucap ketiganya bersamaan.
Dinda mengacungkan jempolnya lalu pergi dari hadapan mereka.
Dinda berjan sambil menunduk saat semua tatapan manusia yang ada di koridor melihatnya terang terangan.
Beberapa murid masih ada yang duduk anteng ataupun berkumpul di koridor karena akan mengikuti eskul.
Mereka manatap Dinda dengan tatapan tidak suka apalagi melihat Dinda yang memakai jaket milik Ale, mereka tahu karena Ale sangat sering memakai jaket itu.
Dinda berjalan terus menunduk hingga sampai ke parkiran, dia melihat sepedanya yang sudah tidak memiliki ban.
Dinda menghela nafas pasrah melihat sepedanya yang kini hanya tinggal kerangka saja.
Dinda mengecek saku seragamnya untuk melihat uang yang ada di dalamnya. Kembali Dinda menghela nafas.
"Lupa hari ini kan gue bawa bekal jadi gue gak bawa uang" gumam Dinda.
Dinda berjongkok milihat sepedanya seraya mengelusnya sayang.
"Maafin gue ya Moci lo jadi begini gara-gara gue" ucap Dinda kepada sepedanya.
Suara getaran ponselnya membuyarkan Dinda dari monolognya.
Ririn Calling ...
"Ya Rin?" ucap Dinda.
"Lo udah balik apa masih di sekolah?" tanya Ririn di seberang telpon.
Lama berfikir, Dinda akhirnya menjawab.
"Masih di sekolah, ini lagi di parkiran" jawab Dinda.
"Oh good! Tunggu di situ!" titah Ririn lalu menutup telponnya.
Dinda memegang ponselnya dan kembali menatap sepeda kesayangannya, sepeda yang dia beli dari hasil jerih payahnya dalam memenangkan setiap perlombaan.
Dinda sering mengikuti lomba cerdas cermat. dia juga sering mengikuti lomba modeling yang suka di adakan di mall mall besar tanpa di ketahui oleh orang tuanya.
Setiap. lomba modeling, Dinda akan pergi bersama ke tiga sahabatnya dan mereka bertiga selalu bergantian meminjamkan baju dan perlengkapan lainnya untuk Dinda pakai bahkah mereka tidak segan memberikan apa yang akan Dinda pakai tapi Dinda selalu menolak.
Hasil dari perlombaannya tentu dia akan mentraktir teman temannya sebagai ucapan terima kasih dan sisanya dia akan tabung untuk keperluannya.
"Astaga Dinda!"