
Hai hai hai ....
Happy Reading 🤗
Maaf Jika Typo bertebaran 🙏
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Banci!" teriak Revan seraya meludah.
"Pengecut lo, mau kabur gitu aja?" teriak Revan lagi.
Ale yang masih bisa mengontrol emosinya karena teringat wajah Dinda tidak menghiraukannya.
"Apa apaan ini?" teriak Vio dengan megaphone yang dia arahkan ke telinga Revan.
Revan menutupi kedua telinganya yang terasa berdengung. Vio menatap para lelaki itu dengan mata melotot marah.
"Kalo mau berantem silahkan! Gue kasih kalian ruang tapi setelah itu gak ada yang boleh balik ke tim ini lagi!" ucap Vio masih dengan megaphonenya.
Revan derdecih sinis, menatap teman-teman Ale satu persatu lalu pergi mengabaikan teriakan Vio yang memanggil namanya.
Latihan tetap di lanjutkan, pembagian Tim juga sudah diumumkan. Pertandingan persahabatan dilaksanakan di SMA Bronzess, maka dari itu hanya nama yang terpilih yang akan berangkat.
"Eh kak Vio kenapa berenti sih?" tanya Dinda kepada Gista.
"Gue juga gak tau Din, gue baru tau tadi" ucap Gista jujur.
"Kayaknya dia akan lanjutin kuliah S2 di Jerman deh" ucap Gista masih mencoba berfikir mencari alasan tepat.
"Serius? Kak Saga gimana?"
"Gue gak tau, itu hanya tebakan gue soalnya kak Vio pernah cerita kalo dia pengen nerusin kuliahnya di Jerman" Dinda mengangguk.
"Kasian dong kak Saga" ucap Ririn.
"LDR kali" ucap Gista menebak-nebak.
"Perjuangan banget gak sih?" tanya Ririn.
"Eh kalo misalnya Ale ngajak lo LDR lo mau Din?" tanya Ririn lagi kepada Dinda.
Uhhuuukkkk uhukkkk
Dinda yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Ririn.
"Gue gak ada apa apa sama Ale" ucap Dinda tegas.
"Hati dan mata itu gak bisa boong" ketus Ririn.
"Gue sadar diri kali, dia siapa gue siapa" ucap Dinda.
"Masih aja sih lo mikirin gituan!"
"Tentu gue akan mikirin itu Rin, gue beda sama lo, sama Gista dan Helen yang dari lahir udah hidup dengan kemewahan. Gue gak gitu! Bahkan gue..." ucapan Dinda terhenti saat tersadar dia hampir saja kelepasan berbicara.
"Gue apa?" kini Helen yang bertanya.
"Gue hidup susah, nyari sesuap nasi aja harus banting tulang dulu" ucap Dinda bohong.
"Gue kadang mikir, kalian kok mau temenan sama gue" ucap Dinda lagi.
"Ck masih aja! Lo udah nolongin gue dan gue tau arti dari balas budi, kenal dan berteman sama lo gak ngerugiin gue juga, dan gue suka temenan sama lo" ucap Ririn yang gemas karena pikiran Dinda selalu tentang hal itu itu terus.
"Masalah gue jadi kapten, gue boleh gak ngundurin diri aja?" keluh Dinda.
"Kenapa?" tanya Gista heran.
"Lo tau kan, tim kita banyak yang gak suka sama gue, gue cuma takut"
"Justru itu tantangan yang harus lo hadapi!" ucap Ririn.
"Kita akan bantuin lo kalo mereka susah diaturnya" Helen berbicara lembut.
"Thanks ya buat kalian semua yang selalu ada buat gue dalam hal apapun" ucap Dinda tulus.
"Always baby, sahabat itu ya saling melindungi, melengkapi, juga membantu mengingatkan dalam keadaan apapun bukan cuma pas senang aja" ucap Ririn.
Mereka berempat mengangguk.
"Balik sama siapa?" tanya Ale dari kejauhan tanpa suara kepada Dinda.
Dinda melihat Ale tersenyum lucu karena bibir Ale bergerak seperti ikan.
"Sendiri" jawab Dinda mengikuti Ale.
Ale tersenyum tipis tapi Dinda mengetahui hal itu dan ikut tersenyum.
"Tunggu gue di warung bu Menong" kata Ale yang diangguki Dinda.
"Lo kenapa sih Din mangap mangap kayak ikan terus senyum senyum sendiri?" tanya Gista heran.
"Eh.. Engga lagi senam muka" jawab Dinda asal.
"Cabut kuy, gue udah gerah banget" ajak Ririn.
"Habis ini mau kemana? Makan dulu yu atau jajan kek gue lagi males pulang" ajak Gista.
"Ok" jawab Ririn.
"Boleh" jawab Helen.
Mereka bertiga menatap Dinda yang tidak memberi jawaban. Dinda melihat sekeliling yang ternyata sudah sepi.
"Ale ngajak balik bareng" ucap Dinda berbisik.
"Ooo yaudah ajak aja sekalian dia buat ikut" ucap Gista yang memiliki modus tersendiri.
"Gue coba tanya dulu ya" Dinda mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan ke Ale.
Tidak lama balasan Ale muncul di layar ponsel Dinda dan mengatakan OK.
"Ok katanya" ucap Dinda memperlihatkan isi pesan Ale.
Mereka bertiga tersenyum menggoda melihat nama yang tertera di sana.
Dinda tersadar jika dirinya menjadi bahan cengan.
"Astaga, bukan gue! Itu Ale sendiri yang nulis dan gue lupa ngeganti" ucap Dinda yang wajahnya sudah memerah.
"Pangeranku" ucap Gista menggoda.
"Anjaaayyyyyy pangeranku gak tuh" ledek Ririn.
"Iihh apasih bukan gue yang nulis pokoknya udah ah jangan ngeledekin mulu!" keluh Dinda dan berlari keluar meninggalkan ke tiganya yang sudah tertawa senang.
...🌻...
Hari dimana pertandingan persahabatan antara SMA Snoppy Hight School dan SMA Bronzess telah tiba.
Hari yang di tunggu tunggu oleh kedua tim, anak anak dari SMA Snoppy baru saja datang memakai bus dengan tulisan SMA Snoppy Hight School.
Pendukung dari SMA Snoppy banyak yang datang, mereka memang berniat untuk menonton karena SMA Bronzess adalah pesaing SMA Snoppy yang selalu berada satu tingkat di bawah Snoppy.
Tim inti dari cewek dan cowok turun keluar Bus. Banyak murid dari SMA Bronzess menunggu kedatangan mereka.
Mereka ingin melihat wajah rupawan anak anak SMA Snoppy yang terken dengan murid tampan dan cantiknya, tentu selain sekolah elite yang mengunggulkan prestasi dan kekayaan.
Para siswi memekik histeris saat melihat Ale juga Tian yang turun belakangan. Sedangkan para siswa menatap lapar kepada Dinda juga Helen.
Ale berjalan bersisian dengan Dinda bermaksud agar semua mata yang memandang ke arahnya mengerti jika Dinda adalah miliknya, walau hanya Ale yang memutuskan.
Dinda tidak menyadari, dia malah asyik berbincang dengan Helen.
"Yaaah udah ada pawangnya" keluh salah satu siswa yang melihat Dinda dengan wajah kecewa.
"Belum nikah pepet teroos lah" seru temannya.
Suasana SMA Bronzess sangat ramai, teriakan serta dukungan yang dari berbagai sisi membuat Dinda meringis karena terlalu ramai.
"Lo gapapa?" tanya Ale khawatir.
Dinda menatap Ale, tersenyum menenangkan.
"Jangan senyum! Selama lo disini lo gak boleh senyum!" ucap Ale.
"Kenapa?"
Dinda mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus, dia menuju ruang ganti khusus perempuan sedangkan Ale ke ruang ganti khusus laki-laki.
Pertandingan pertama akan dilakukan oleh tim laki-laki. Kini kedua tim sudah memasuki lapangan dan melakukan pemanasan.
Dinda beserta tim perempuan duduk di tribun penonton untuk mendukung tim sekolahnya.
Banyak siswi Bronzess yang memanggil nomor punggung Ale, Tian, Guntur, Milo dan Baim karena mereka berlima adalah tim inti.
Suara peluit tanda pertandingan di mulai membuat sekeliling Dinda semakin heboh, wasit melakukan jump ball untuk memulai pertandingan dan kali ini tim Snoppy yang mendapatkan bola.
Postur tubuh Tian memanglah sangat tinggi, begitu juga tangannya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan bola dari Jump Ball.
Posisi Ale yang kini menjadi Shooting Guard langsung berada diposisi tempat lawan, Baim yang menjadi point guard mengoper bola kepada Ale hingga Ale bisa mencetak point diluar garis hingga dihitung 3 point.
Permainan sangat sengit hingga quarter ke empat, SMA Snoppy masih memimpin tapi sangat tipis, perbedaan point hanyalah dua bola.
Ale melambaikan tangannya meminta bola dimenit terakhir lalu kembali mencetak point kali ini mereka tidak kembali untuk defend, melainkan man to man.
Kepanikan dari tim Bronzess sangat terlihat saat mereka salah mengoper bola, hingga Snoppy kembali mencetak angka.
Peluit dari wasit menandakan pertandingan berakhir yang dimenangkan oleh SMA Snoppy dengan score 98 - 112.
Ale yang mencetak angka lebih banyak tersenyum puas saat kemenangan mereka dapatkan karena kerja sama tim yang baik.
Saga bertepuk tangan senang karena hasil pelatihan mereka tidak sia sia.
Tim laki laki keluar lapangan setelah mereka bersalaman secara sportif. Di lanjutkan oleh tim perempuan yang kini sedang melakukan pemanasan.
Tim laki-laki kini duduk di tribun menggantikan mereka untuk balik mendukung.
"Ayo neng Dinda" teriak Guntur memakai megaphone yang entah dia dapatkan dari mana.
Dinda menoleh dan mengangkat kepalan tangannya ke atas membuktikan dia juga sama bersemangatnya dengan tim laki-laki.
"Kalian bermain seperti biasa saja, anggap sedang latihan tidak perlu terburu-buru dan jika ada kesempatan silahkan cetak angka sebanyak-banyaknya" ucap Saga yang diangguki mereka.
Ketika melihat kearah tim lawan, mereka semua terkejut saat melihat siapa yang menjadi pelatih mereka.
"Kok kak Vio di sana?" tanya Lili salah satu tim inti.
Dinda menatap Gista, Gista menggeleng karena dia tidak tahu sedangkan Saga menghela nafas. Terlihat raut wajahnya kecewa tapi dia berusaha menutupinya.
"Jangan melihatnya! Biarkan saja! Kalian harus fokus pada pertandingan" ucap Saga mengingatkan.
Dinda masih terus memperhatikan kak Vio yang kini menjadi pelatih tim perempuan SMA Bronzess.
"Itu kak Vio?" tanya Baim kepada Tian yang duduk di sampingnya.
Tian memperhatikan apa yang di katakan Baim.
"Waduh kok dia di sana?" ucap Milo yang kini menatap kak Vio yang sedang memberi arahan kepada timnya.
"Biarin aja itu urusan dia! Mungkin dia punya alasan" ucap Ale.
"Dasar pengkhianat!" desis Lili seraya menatap kesal kepada kak Vio.
"Lili! Fokus" tegur Dinda.
"Siapa lo ngatur gue?" ketus Lili.
"Dinda itu kapten tim kita! Wajar dia ngatur lo saat dilapangan!" ucap Ririn tidak suka dengan Lili.
"Cih lo berempat yang anggap dia kapten. Gue enggak! Gak sudi gue di atur sama kaum rakjel kayak dia" teriak Lili seraya menunjuk Dinda.
"Waah ribut tuh" ucap Guntur melihat tim sekolahnya beradu mulut.
Saga yang baru kembali dari meja panitia menatap mereka tajam. Ririn yang sudah terlanjur kesal menampar wajah Lili di depan semua orang.
Banyak yang memekik dan berspekulasi jika ada masalah internal di tim Snoppy.
"Ririn!" pekik Dinda.
"Sorry Li, jangan marah sama Ririn" ucap Dinda tidak enak.
"Jangan sentuh gue! Najis tangan lo nyentuh gue" desis Lili.
Gista, Helen dan Ririn mengepalkan tangannya.
"Sudah! Jika kalian masih seperti ini sudah dipastikan kalian akan kalah sebelum bertanding!" ucap Saga galak.
"Maafkan aku yang tidak becus menjadi kapten" ucap Dinda.
"Bukan salahmu! Ini adalah salah pemikiran kalian semua! Cepat masuk lapangan" titah Saga dengan wajah galaknya.
Mereka berlima memasuki lapangan, hampir seluruh penonton mendukung tim Bronzess hal itu semakin membuat Dinda merasa tertekan.
Wasit meniup peluit bersamaan dengan jump ball. SMA Bronzess mendapatkan bola, point guard mendrible bola lalu mengatur permainan dengan baik.
Point demi point di cetak oleh tim Bronzess, Snoppy tertinggal jauh karena kerja sama tim sangatlah buruk.
Quarter ketiga telah berakhir, panitia memberikan waktu istirahat untuk kedua tim hingga lima menit.
Dinda terus memperhatikan papan score. Dia teringat akan ucapan Ale. Tapi haruskan Dinda bermain egois demi kemenangan tim?
Saga memberikan instruksi dengan wajah keras. Dia menahan amarah karena tim perempuan sangatlah kacau.
Semua yang sudah mereka latih sama sekali tidak terpakai saat mereka memasuki lapangan. Kekerasan kepalaan tim sangat membuat Dinda semakin gamang.
Hal yang ditakutinya terjadi, dia benar-benar merasa tidak becus sebagai kapten.
"Ayoo Dinda!" teriakan Guntur, Milo, Baim bahkan Tian dan Ale yang memanggil namanya membuat semangat Dinda kembali muncul.
Dia akan mencoba seperti yang dikatakan oleh Ale. Karena dia ingin memenangkan pertandingan kali ini dengan dia sebagai kapten tim.
"Helen" panggil Dinda ketika pertandingan quarter terakhir akan dimulai.
Helen menoleh, menatap Dinda cemas.
"Oper bolanya ke gue" titah Dinda.
Helen yang mengerti jalan pikiran Dinda mengangguk, dia hanya ingin menang, jika ini adalah hal yang harus dilakukan maka dia tidak akan segan untuk melakukannya.
Helen dan Dinda bekerja sama dengan baik. Mengikuti permainan Bronzess. Sesuai rencana Helen terus mengoper bola kepada Dinda dan Dinda terus mencetak tiga angka. Hingga detik terakhir Ririn, Gista dan Lili tidak memegang bola sama sekali.
Pertandingan berakhir, wasit meniup peluit dan pertandingan dimenangkan oleh tim Snoppy dengan score beda satu angka yakni 88 - 89.
Ale tersenyum di bangku penonton, tidak salah jika Dinda menjadi saingannya karena Dinda memang cerdas. Kali ini keputusan yang diambil oleh Dinda sangatlah bagus.
"Maaf" ucap Dinda kepada timnya juga pelatih.
"Kau mengambil keputusan yang tepat" ucap Saga tersenyum.
"Ck!" Lili pergi begitu saja karena dia tidak ingin berlama lama berdekatan dengan Dinda, menurutnya Dinda adalah penyakit yang harus dihindari.
"Dindaaaa!" pekikan Gista dan juga pelukan Ririn membuat Dinda kaku.
"Untung lo pinter! Kalo lo gak ngambil keputusan itu udah pasti kita kalah telak" ucap Ririn seraya mengacak rambut Dinda.
Gista mengangguk seraya tersenyum. Ririn dan Gista sangat menyadari kebodohan mereka yang terpancing emosi hingga kerja sama tim menjadi berantakan dan semua yang dilatih jadi sia sia.
"Gue harap kita semua semakin kompak" ucap Dinda.
"Yaaa sebaiknya lo jangan mudah kepancing sama wewe gombel model Lili" ucap Gista kepada Ririn.
"Sialan! Lo juga lah ngaca! Gak mikir" ketus Ririn.
"Udah dong, jangan berantem mulu pusing dengernya" ucap Dinda.
"Okedeh" ucap Ririn juga Gista bersamaan.
Tim laki-laki menghampiri mereka yang disambut senyuman malu malu oleh Dinda.
"Gila! Neng Dinda keren abis cetak tiga angka terosss gak dikasih kendor lagi" ucap Guntur memulai percakapan.
"B aja Tur" ucap Dinda malu.
"Tangan lo kuat banget Din! Ale aja belum tentu bisa" ucap Milo tanpa dosa.
Ale menatap Milo tajam.
"Yaelah bos! Canda kali gue tau lo jago lo bisa apapun" ucap Milo dengan bibir maju dan muncrat.
"Basah ogeb ih jorok lo" ketus Baim yang terkena muncratannya.