
Sejak kapan kau jadi membela orang lain arvin?apa kau menyukai wanita itu tadi?..." axelle menengok kasar ke arah arvin dengan tatapan tajamnya.
"Aah tidak bos,mana maungkin aku menyukai wanita seperti itu,memang dia cantik,ramah dan lembut,tapi sepertinya aku tidak pantas jika aku bisa dengannya " jawab arvin dengan nada berguraunya.
"Bagus kalau kau bisa sadar diri arvin..." sahut axelle dengan ucapan seriusnya.
"Aah dasar axelle dari dlu sulit sekali untuk di ajak begurau" gumam arvin.
"Apa arvin..?" Tanya axelle yang mendengar gumaman arvin dengan jelas.
"Hehehe tidak bos hanya bergurau saja" jawab arvin sambil salah tingkah di depan axelle mencoba untuk mencairkan suasana.
Axelle menanggapi segala ucapan arvin biasa saja namun arvin merasa axelle memang sulit untuk tertawa bahkan bergurau sedikitpun tidak,axelle menjadi pribadi yang sangat serius,dingin dan kaku.
Namun di balik sikapnya itu ada kelembutan yang orang lain tidak bisa melihat atau merasakannya.
"Arvin aku ingin bermalam di sini,jika kau ingin pulang silahkan,ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan" ucap axelle memberi informasi kepada arvin.
"Baiklah...kau tidak makan malam dulu bos?" Tanya arvin.
"Ingin,tapi pekerjaan ku masih menumpuk arvin"
"Kalau begitu kau makan malam saja dulu,untuk pekerjaan kita bisa melakukannya bersama bos,biar aku pesan makanan untukmu" ucap santai arvin memberi saran kepada bos nya.
"Setuju arvin,baiklah kalau begitu...sambil menunggu makanan datang aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu"
"Baik bos " jawab arvin.
Setibanya Damien mengantarkan pulang berliana sampai ke mansionnya,membuat hatinya bertanya tanya dengan sistem keamanan dirumahnya dan pelayanan khusus berliana yang sedari awal bertemu selalu di ikuti dua pria gagah yang posisinya tidak berada jauh dari berliana.
" Ah tidak,tidak baik malam malam bertamu apa lagi bertamu ke rumah wanita secantik dirimu,aku bisa kapan saja menemuimu,kau tinggal disini bersama keluargamu kan?" Tanya damien yang sedikit agak penasaran dengan latar belakang berliana.
"Tentu...hanya saja ayahku jarang ada dirumah karna selalu sibuk dengan pekerjaannya" ucap berliana dengan wajah datarnya.
"Ooh seprti itu,baiklah nona sekarang sudah malam kau harus istirahat karna kau pasti lelah menemaniku seharian berjalan jalan untuk mengenal kota ini lebih banyak" ucap damien yang sambil membuka seat belt berliana,setelah itu dia membuka kan pintu mobilnya bak seorang putri yang di sambut oleh pangerannya.
"Baiklah damien,kalau begitu sampai bertemu lain waktu"
Lagi lagi damien hanya membalasnya dengan senyuman seakan senyumnya itu tidak akan pernah habis walau sebanyak apa pun dia tersenyum.
Belva mengintip dari kaca jendela di dalam rumahnya seakan mencari tahu dengan siapa kakaknya pergi hari ini,dia melihat sosok damien yang baginya itu menyebalkan,entah karena apa belva pun tidak mengerti akan hal itu,hatinya hanya menolak kalau pria itu bukan pria yang baik.
"Astaga belvaa kamu membuat kakak kaget" ucap berliana sambil memegang dadanya karna terkejut melihat belva yang tiba2 muncul begitu saja dari balik dinding ruang tamu.
"Siapa itu kak?" Pertanyaan singkat belva dengan wajah seriusnya.
"Siapapun itu tidak penting untuk kamu mengetahuinya belva" jawab berliana sambil mencubit hidung adiknya itu.
"Kakaak jangan seperti itu,aku kan hanya ingin tau kakak bertemu dimana dengannya,karena setahuku kakak tidak pernah memiliki teman pria bahkan membawa kerumah ini pun tidak pernah,jadi wajar saja kalau aku penasaran ingin mengetahui seseorang yang kakak bawa tadi" ucap belva dengan nada manjanya yang terlihat semakin imut membuat berliana gemas dengan adiknya itu.
"Ok nanti kapan kapan kakak akan memperkenalkannya denganmu jika kakak bertemu lagi dengannya"
"Ok kaak,aku tunggu janji kakak"
"Kakak tidak janji belva,karna kakak juga tidak tau kapan lagi aku akan bertemu dengannya"
"Kapanpun itu aku tunggu kak" sambil mengedipkan satu matanya ke berliana. Dan berliana hanya geryawa lecil melihat tingkah adiknya yg lucu itu menurutnya.