
Sudah seminggu lebih rahma tinggal di rumah barunya, rasanya hampa dia memiliki gelar seorang istri tapi, menyiapkan makanan untuk suami saja tidak pernah.
Baginya dia sudah gagal menjadi seorang istri, ibunya itu sangat menyanjung kedudukan istri yang ini itu, membuatnya pusing jikalau ibunya tau bahwa dia tidak tidur sekamar dan tidak menyapa selama seminggu ini.
Lalu tangannya mulai mengotak ngatik handphonenya, melihat salah satu aplikasi novel online.
Apakah sekarang hidupku akan seperti novel novel ini?
dia menghela nafas berat, rasanya sangat jenuh berada di rumah seharian, dia mempunyai ide.
"Bu niken" panggil rahma sambil berlari menuruni tangga.
"Hati-hati nona, ada apa?"
"Raja biasanya makan siang gk?" pertanya yang bodoh menurutnya tapi sudahlah "Iya nona satu jam lagi"
"Apakah aku bisa, membuatkannya makan siang dan mengantarnya?" bu niken sedikit terkejut dengan pernyataan tersebut tapi ia mengerti mungkin nonanya hanya ingin mengetahui keadaan tuannya.
"Baiklah nona saya akan menyiapkan supir untuk mengantar nona" rahma hanya mengangguk lalu berlari ke arah dapur ingin membuat makan siang.
Dia berencana membuat udang & buncis crispy asam pedas masakan itu menurutnya mudah dan cepat, dia meminta tolong kepada pelayan untuk membuat udang dan buncis crispynya.
lalu dia menumis bawang butih, dan bawang bombay hingga harum lalu ditambahkan saos tomat, sambal, air, cuka dibumbui lalu menunggu hingga mendidih di kentalkan dengan maizena lalu ditambahkan irisan tomat dan daun bawang setelah mengental lalu rahma memasukkan udang dan buncis lalu menumisnya hingga tercampur rata.
Rasanya? tentu saja enak, dia dari kecil sudah diajari oleh ibunya, dengan sigap dia mengambil kotak bekal lalu memasukkan nasi dan menata udan dan buncis hingga penuh, baginya ini sudah menggugah selera masalah raja tak suka itu terserahnya.
Pelayan di rumah raja senang akan kehadiran rahma sebagai nona muda mereka karena ramah dan tidak membedakan status apapun, rahma tetap sopan memanggil pelayan yang lebih tua dengan sebutan 'Mbak' atau 'Mas'.
**
Baru pertama kali ini rahma keluar rumah setelah seminggu mengurung diri di kamar, sekarang dia sudah berada di dalam mobil, dia memakai celana jeans pinggang tinggi lalu memakai kaos putih berlengan panjang dengan tambahan gambar panda memakan bambu, lalu tas selempang di bahunya.
Entah kenapa rasanya jantungnya berdegup lebih cepat, padahal dia hanya ingin mengantarkan makan siang.
Sesampainya di kantor raja, rahma tercengang inikah penampakan kantor lalu dia menggelengkan kepala dan menolak ajakan supirnya untuk mengantar kedalam.
Ramai, suasananya sangat ramai, apakah pantas dia mengijakkan kakinya disini? banyak sekali pria wanita berpakaian formal para karyawan, itu dulu adalah salah satu harapannya tapi harapan tinggalah harapan.
Dia menuju meja receptionist "Permisi?" salah wanita yg duduk lalu menoleh ke sumber suara "Ya ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu raja" rahma bertanya canggung.
"Raja maksud anda Direktur Utama?"
"Aku tidak tau, ah iya" rahma mengeluarkan sebuah kartu tadi sebelum berangkat bu niken memeberikan sebuah kartu katanya agar dia bisa bertemu dengan raja.
Lantas rahma membaca kartu tersebut
Kartu VIP
Anggota keluarga Direktur Utama
hanya dan dipojoknya dibumbui tanda tangan entah milik siapa, lalu dia memberikan kartu tersebut kepada petugas receptionist, wanita menerima kartu tersebut sedikit terkejut lalu dia memberitahu lantai berapa ruangan dirut dan mengembalikan kartunya lalu membungkukkan badan, rahma hanya tersenyum canggung.
Rahma berjalan menuju lift ini baru pertama kalinya dia naik lift, dia hanya mengikuti orang-orang yg ingin masuk tapi tiba-tiba ada orang yg menegurnya.
"Permisi nona?" sontak rahma langsung menoleh ke arah sumber suara, dia melihat seragam pria tersebut petugas keamanan batinnya.
Dia mengikuti pria tersebut hingga akhirnya dia sampai di lantai yang dituju, rahma berterima kasih ketika sudah sampai di depan ruangan raja.
Jantungnya berdebar-debar, ketika memegang handle pintu ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Permisi nona?"
"Eh iya?" rahma melihat sesosok pria tampan berpenampilan elegan dengan setelan jas warna hitam.
"Apakah anda ingin menemui direktur utama?" tanya pria tersebut.
"Eum iya, saya hanya ingin mengantarkan makan siang" dia tersenyum simpul entah kenapa sekarang perasaannya sedikit tidak nyaman.
"Baiklah" pria tersebut lalu membuka pintu dengan sangat pelan seperti takut mengganggu, rahma melongokkan kepala betapa terkejutnya ketika melihat raja sedang makan siang dengan seorang perempuan cantik dan terlihat bercanda ria.
Hatinya sedikit terasa sesak, bukan cemburu tapi kecewa apakah selama ini raja juga selalu bersama perempuan lain?.
Rahma menghela nafas panjang, dia melihat sosok pria disampingnya yang sedang memegang handle pintu, rahma bisa melihat rasa bersalah di mata pria tersebut.
"Tidak apa-apa, kau belum makan siang kan? ini untukmu" rahma menyodorkan kotak bekal makanannya ke pria tersebut, dengan pasrah pria itu menerimanya.
"Oh ya siapa namamu?" tanya rahma "Nama saya indra nona" mendengar itu dia hanya mengangguk menandakan dia mengerti.
"Ehem" suara deheman itu membuat badan rahma berbalik, dia sedikit terkejut melihat sosok raja yang berdiri di ambang pintu.
"Ngapain lu kesini?" tanyanya mengintrogasi, "Eum tidak" lalu rahma berlalu begitu saja hatinya masih merasa sesak, dia tak memiliki perasaan kepada raja tapi dia berpikir apakah raja tak bisa menjaga perasaan istrinya walaupun dia tau istrinya tak mencintainya.
"Heh ngapain lu ngijinin dia kesini?" sekarang raja mengintrogasi indra sekertaris kepercayaannya.
"Saya baru tahu saat nona ingin masuk ke ruangan tuan" jawabnya menunduk "Dan sepertinya nona hanya ingin mengantarkan ini" imbuh indra.
Raja melirik bekal makanan tersebut, dia yakin rahma pasti melihat dia makan dengan wanita lain, entah mengapa terbesit rasa bersalah dihatinya.
"Apakah saya boleh memakan ini tuan?" tanya indra dengan tersenyum menggoda "Enak aja punya gw ini" lalu tangan raja menyambar kotak bekal tersebut.
"Sana sana" raja mengibaskan tangannya menyuruh indra pergi lalu juga menyuruh wanita yang tadi menemaninya untuk pergi juga.
Dia membuka bekal makanan tersebut, bau harum menyerebak membuat selera makan raja tergugah, sebenarnya saat makan tadi dia tak terlalu menikmatinya karena rasanya yang sedikit hambar.
Dia menyuapkan satu sendok nasi dan lauknya, lidahnya diberi kesempatan untuk merasakan makanannya enak atau tidak, dan benar makanannya enak dengan lahap raja menyantapnya hingga habis.
Tangannya mengambik handphone lalu menelfon bu niken menanyakan apakah rahma yang memasak makanan ini dan hatinya terasa puas ketika bu niken mengiyakan pertanyaanya.
**
Mood rahma seketika hancur, dia masih berusaha menenangkan diri.
Udah tau dia gk suka ama gw, kenapa gw malah bikin makan siang buat dia bikin sebel ae, untung gk mubazir tuh makanan terus siapa perempuan tadi!?.
Rahma sedang bersungut-sungut di hatinya
•••
Jangan lupa likenya yak🤗