Village Girl

Village Girl
Bab2



"Rahma bangun woy bangun dah pagi ini" zahra menggoyang goyangkan bahu rahma kasar.


"Hoaamm masih ngantuk ih" menepis tangan zahra.


"Calon suami kmu udah dateng looo" berbisik di telinga rahma.


"Haa" sontak rahma langsung bangun mengumpulkan kesadaran lalu menggeleng-gelengkan kepala.


"Udah jam 6 ini sana cepat mandi jam 8 mereka kesini lo" jelas zahra.


"Kenapa lo yg jadi semangat sih" rahma menimpuk wajah zahra dengan bantal.


"Ya karena gw pengen lihat calon kakak ipar gw" menatap rahma dengan semangat.


"Lo yg seneng gw yg susah" rahma berusaha tersenyum manis di hadapan sahabatnya, sedangkan kemarin malam ia bermimpi seolah-olah calon suaminya itu akan membunuhnya.


"Udah cepet cuci muka trus bantuin ibu masak, setelah itu mandi" zahra mendorong tubuh rahma.


*********


"Zahra aku nggk siap" badannya terasa lemas setelah melihat penampilannya yg sudah sangat siap.


"Semangat ya kamu pasti bisa" menyemangati hanya itu yg bisa dilakukan oleh zahra.


"Nak mereka udah dateng ayo" ibu sudah memanggilnya bukannya dia sudah tak bisa mundur.


"Ia bu ntar aku nyusul" menghela nafas berat.


Ia menolak tawaran zahra untuk mengantarmya toh dia juga bisa berjalan.


"Nah itu rahma sini nak"ayahnya menarik tangan rahma agar duduk bersama,dia masih menunduk tak brani memandang siapa laki-laki yg akan dijodohkan dengannya, badannya sudah lemas, tanganya sudah meremat pakian yg ia pakai. Hatinya bertambah sesak ketika kedua belah pihak sedang merencanakan acara pertunangan dan tak bertanya bagaimana tentang keputusannya.


"Nah untuk mengenal biar lebih akrab gimana kalo rahma jalan-jalan dulu ama nak raja" sekarang ayahnya menyarankan hal yg bodoh baginya.


Oh namanya raja tpi apa ini aku harus berjalan-jalan dengan dia untuk mengenal? melihatnya saja ogah!.


"Rahma, nak raja sudah diluar ayo?" ayah mengguncangkan bahunnya membuatnya sadar akan lamunannya. Rahma hanya mengangguk lalu berjalan keluar melihat seorang lelaki tinggi tegap sedang berdiri di halaman rumah.


Rasanya pengen kabur huaa.


"Heemm" dia berdehem disamping lelaki tersebut.


"Ayo"


"Ayo kemana?"


"Jalan jalan lah gw pengen tau daerah sini" membalikkan wajah melihat rahma.


Rahma yg sedari tadi hanya berdiri terkejut bukan karen ucapannya tapi karena wajah lelaki tersebut, Ini jauh dari bayangannya.


Kenapa wajah lu ganteng? gw kira yg dijodohin ama gw tuh orangnya item dekil tapi ih amit amit.


"Hemm" hanya itu yg keluar dari mulutnya, ia ingin bersifat sok jual mahal di hadapan lelaki tersebut.


"Sayangnya gw gk tanya" menjawab dengan nada ketus.


"Huhh" raja hanya mendengus kesal.


gw cuma pengen akrab ama lo apapun yg terjadi lo tetep akan jadi istri gw. Raja


Sekarang mereka duduk di bangku taman menghadap ke sebuah danau yg tenang. Rahma sebenarnya merasa bersalah karena tadi mengabaikannya lelaki ini tak terlalu buruk bahkan ramah tpi ketika wajahnya tak tersenyum itu terlihat dingin bagi rahma.


"Kenapa lo mau dijodohin ama gw?" Menanyakan hal dengan nada tak suka.


"Dipaksa" jawaban singkat, padat dan jelas.


"Lu kan bisa tuh cari cewe yg lu suka trus nikahin dia diem-diem udah kan" bibirnya sudah mengerucut.


"Sama aja kan? nanti gw nikahin lu setelah beberapa bulan kita tinggal cerai udah kan?"


Wajah rahma sebenarnya cukup senang tpi apa raja menganggap pernikahan bisa dipermainkan seperti itu.


"Ceritain tentang hidup lu" pinta raja.


"Ok nama gw annisa rahma biasa dipanggil rahma klo nggk ya nisa, gw tinggal di desa yg masih asri ini dan gw cuma lulusan SMA tpi gw gk geblek geblek amat, gw punya kaka namanya kak Sarah, gantian"


"Soal nama lu dah tau kan, gw dah kerja di salah satu perusahaan yg ada di kota gw punya adek 1 cowo lu gk perlu tau udah gitu doang"


"Gk punya pacar?" tanya rahma kepo.


"Klo punya ngapain gw nikahin lu" mendengus.


"Ok ganti pertanyaan berapa umur lu?"


"kepo lu" dengus raja.


"Hayo lo jangan jangan dah tua tpi pake ilmu hitam jadi awet muda" Rahma mengira-ngira.


"Gila nih gadis" Gumam raja tapi rahma masih bisa mendengarnya.


"Hahah emang gw gila knp?"


Belum raja menjawab tiba-tiba suara dering telfon terdengan dari saku celananya.


Rahma hanya bisa mendengar samar-samar tapi biarlah apa urusan dengannya?.


Raja kembali duduk, mereka berdua sekarang sedang terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Gw mau pulang" Rahma beranjak dari duduknya disusul oleh raja.


"Woy"


"Gw punya nama ya" rahma menjawab dengan ketus.


"Minta nomor hp lu" menyodorkan hp ke rahma, dan dia mengetikkan nomor hpnya tanpa banyak bicara.