
Putusnya suatu hubungan bukan berarti perasaan yang dulu pernah ada begitu saja menghilang. Kenangan di masa lalu menjadi satu alasan Medi terdiam atas tindakan yang Richy lakukan ketika dia sedang berkomunikasi dengan salah satu seniornya yaitu Rizki.
Medi sebenarnya kurang menyukai atas sikap mantannya, karena dia bertindak seolah - olah mereka masih menjalin suatu hubungan. Medi tidak pernah pungkiri bahwa dia sendiri masih memendam perasaan kepada Richy. Medi diam, agar dia tidak membenci diri sendiri. Dia takut jika dia marah kepada Richy malam itu, dia akan menyesali perkataannya. Bagaimanapun Medi sangat bersyukur bisa bertemu dengan mantannya untuk yang ke ketiga kalinya setelah mereka putus, walaupun pertemuan mereka tidak pernah direncanakan. Pertemuan itu adalah bagian hadiah yang indah bagi Medi saat itu, Karena pertemuan pertama dan keduanya setelah mereka putus, mereka hanya membicarakan tentang saling meminta maaf dan saling memaafkan.
Medi tidak tahu apa maksud tindakan Richy malam itu padanya,,,
"Jika dia cemburu, itu berarti dia masih mempunyai perasaan terhadapku. Tapi itu tidak mungkin, karena saat pertemuan pertama dan keduaku dengannya setelah kita putus, dia tidak peka dengan persaanku terhadapnya" ( Medi berbicara pada dirinya sendiri).
Pertemuan pertama dan kedua Medi dan Richy setelah lima bulan mereka putus. Pertemuan mereka berlangsung ketika Medi mengikuti BIMBEL untuk persiapan mengikuti tes masuk universitas yang Medi inginkan. Tidak hanya itu, Medi sempat memberikan kode ingin kembali dengan mantannya saat itu, tapi Richy terlihat tidak perduli atau memang tidak peka. Semenjak itulah Medi merasa bahwa mantannya itu mungkin sudah tidak memiliki perasaan terhadapnya. Medi mulai merelakan secara perlahan untuk merelakan perasaannya. Sampai pertemuan ketiga kalinya, Medi masih binggung dengan perasaanya. Apakah dia benar - benar masih memiliki perasaan atau hanya sekedar perasaan sesaat kepada mantannya malam itu.
"Kamu telponan dengan siapa malam - malam begini? ( Tanya Richy ).
"Dia salah satu senior di kampusku".
"Kalian pacaran?" ( Tanya Richy ).
"Dia menyukaiku" ( Jawab Medi ).
"DD sendiri?" ( Tanya Richy ).
"Maksud kakak apa?" ( Tanya Medi ).
"DD suka dia juga atau tidak?".
"Aku tidak tahu" ( Medi segera masuk kamar )
Saat Medi melangkah masuk ke dalam kamar, Richy menarik tangan Medi.
"Bagaimana kamu tidak tahu dengan perasaanmu sendiri?" ( Sahut Richy ).
"Haaa Hhuuuffff ( Menarik napas ), Aku suka senior aku atau tidak, aku tidak perlu jawab pertanyaan kakak kan?. Lagian juga tentang perasaanku tidak perlu kakak tahu".
"Aku perlu tahu" ( Sahut Richy ).
"Karena aku tidak suka kamu dekat dengan laki - laki lain?" ( Jawab Richy ).
"Aku perempuan lho, terus aku harus dekat dengan siapa?. Nggak mungkin aku menjalin suatu hubungan dengan perempuan juga kan. Aku normal kak".
"Bukan itu maksud aku, aku cuman tidak ingin DD dekat dengan laki - laki sembarangan. Aku tidak ingin DD terluka, hanya itu kok".
Penjelasan dan alasan yang Richy berikan kepada Medi membuat Medi benar - benar harus menyerah terhadap perasaannya malam itu juga kepada Richy. Medi menyadari bahwa sudah tidak ada kemungkinan untuk kembali bersama mantannya itu. Dengan jawaban yang Richy berikan, itu sudah membuat Medi sadar akan satu hal. Bahwa mereka tidak akan berhasil kembali bersama, jika yang berharap hanya satu pihak saja.
Rizki yang sebelumnya berbicara melalui telpon dengan Medi, mencoba menghubungi Medi kembali. Sebenarnya Medi tidak ingin menerima panggilan telpon dari Rizki, mau tidak mau dian terpkasa mengangkat telpon dari Rizki tepat di hadapan Richy. Richy yang sebelumnya terlihat posesif terhadap Medi, dia hanya bisa terdiam dan mendengar apa yang Medi bicarakan. Mungkin Richy sadar atas jawaban yang dia berikan ke Medi, membuat dia sadar bahwa dia tidak berhak melakukan hal seperti itu. Tapi Medi hanya menyelaskan kepada Rizki bahwa yang memotong pembicaraan mereka barusan itu adalah kakak kelasnya saat dia duduk di bangkh SMA_Nya. Medi juga tidak lupa menjelaskan bahwa dia menumpang tidur untuk malam itu saja bersama teman. Rizki kaget saat dia mendengar penjelasan Medi bahwa dia harus tidur malam itu di kos seorang lelaki. Karena Medi sendiri tidak menjelaskan secara ditailnya, sehingga Rizki berpikir dia tidur di kos Richy, entahlah apa saja yang Rizki pikirkan lagi. Tapi dia terdengar keberatan dan kaget. Medi tidak perduli dengan pemikiran seniornya itu, karena Medi sendiri juga ingin menghindari Rizki. Medi sudah tidak tahan berhadapan dengan senior di kampusnya. Medi langsung mematikan ponselnya, tapi Rizki tidak berhenti untuk menghubunginya kembali, pada akhirnya ponsel Medipun mati karena batre ponselnya itu benar - benar habis.
Medi segera masuk kamar dan meninggalnya Richy yang masih berdiri dihadapannya. Saat Medi masuk, dia melihat temannya itu sudah tertidur pulas. Medipun segera mengecas ponselnya, tapi dia lupa bahwa dia bukan lagi berada di kosnya sendiri. Dia mencoba memanggil Richy, berniat untuk meminjamkan cas. Richy segera masuk ke dalam kamar dimana tempat Medi berada. Tepat Richy menyerahkan cas kepada Medi, listrikpun mati secara kebetulan. Richy langsung keluar dari kamar itu dan tanpak kata - kata dia tidak bertanya apakah Medi baik - baik saja dengan keadaan gelap. Medi sebenarnya tidak takut dengan gelap, akan tetapi dia akan takut dengan gelap saat dia berada di tempat yang baru dia tempati. Karena itu bukan kosnya Medi, dan temannya sendiri sudah terlihat tidur dengan pulas. Medi mencoba baring tepat disebelah temannya dan di sebelah pintu. Dia mencoba memajamkan matanya, panas itu yang Medi rasakan. Tidak hanya itu, gangguan nyamuk dan pikiran Medi akan hal - hal yang menakutkan tiba - tiba terlintas di kepalanya. Dia memilih membuka setengah pintu kamarnya agar angin bisa berhembusan masuk ke dalam kamar itu.
Richy yang berada tepat disebelah kamar tempat Medi berada, yang sedang menunggu acara bola bersama temannya, mendengar Medi membuka pintu kamar. Richy diam - diam menghampiri Medi, dia melihat Medi dalam keadaan duduk sambil menundukan kepalanya.
Richy menyentuh pundak Medi, Medi spontan kaget tanpak bersuara.
"DD Kenapa belum tidur??.
"Ini juga aku dalam keadaan mencoba memejamkan mataku".
"Apakah kamu akan tidur dalam keadaan duduk seperti ini?".
"karena posisi duduk adalah posisi yang nyaman untuk saat ini. Itu sebebnya aku melakukan ini".
"Lalu kenapa DD membuka pintu, bagaimana jika DD tetidur dan orang masuk secara diam - diam?".
"Aku kepanasan kak, lagian aku juga belum bisa tidur. Kalaupun akau tertidur, kan ada kakak dan teman - temnnya tepat disebalah kamar ini, jadi mana mungkin orang berani masuk".
beberapa menit kemudian, Medi mulai mengantuk. Dia terlihat tidak ingin berbaring, karena dia tidak suka nyamuk mengigit kakinya. Jadi dia tetap memilih tidur dalam keadaa duduk. Listrik belum menyala juga, sementara Richy tetap duduk tepat disebalah Medi dan menjaganya. Tanpak meminta izin Medi sandarkan kepalanya tepat dibahu Richy. Richy tidak terkejut dengan apa yang Medi lakukan, yang ada malah sebaliknya. Medi yang terkejut, Karena kenapa Richy tidak kebaratan dengan tindakan yang Medi lakukan.
"Apakah kak Richy benar - benar sudah mengangap aku seperti adiknya sendiri?" ( Pikir Medi dalam keadaan mata yang terpejam ).