Village Girl

Village Girl
Bab4



Untuk chap ini aku tambahin visualnya Raja sama Rahma.


1.Raja Arnanda


Sifatnya kalem, nggk dingin-dingin amat, sebenernya baik tapi gengsi doang mau bersikap baik. Dan anti baper-baper club jadi sifatnya cuek kalo ke cewe.




Annisa Rahma


Memiliki watak polos ala gadis desa, dan mampu membuat si raja jatuh cinta😄.




.


.


.


.


Happy reading


Tangisan lah yang mewarnai antara perpisahan orang tua dan anak, apalah daya sekarang rahma harus ikut pergi ke rumah raja yang sekarang berstatus suaminya.


Sebenarnya berat harus meninggalkan tempat dimana ia dibesarkan tapi ini baginya sebuah tradisi seoarang anak perempuan yang baru menikah harus ikut ke kediaman suaminya.


"Jadi istri yang baik, selalu nurut apa kata suami, hati-hati ya disana jangan lupa kabarin ibu kalo udah sampai" fitri mengusap pipi putrinya dengan penuh kasih sayang, mengahapus lelehan air mata yang keluar sedangkan rahma hanya bisa menangis sesenggukan dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Nak raja saya titip rahma ya jaga dia baik-baik" sedangkan ridwan ayah rahma menasehati raja, rahma yg mendengar sebenarnya kesal dia merasa seperti barang yang harus dijaga dengan baik.


Kedua orang tua raja tidak ikut pulang bersama karena masih harus membantu untuk merapikan setiap hal yang perlu dirapikan setelah acara pernikahan kemarin, dikarenakan raja sudah meninggalkan pekerjaannya selama seminggu dia harus segera kembali ke kantor.


Disinilah mereka sekarang di dalam mobil, hening enggan mengeluarkan suara hinga...


"Heh raja" memiringkan tubuhnya menghadap raja yg sibuk dengan handphonenya, dan raja pun langsung menoleh dengan wajah datarnya. "Gw inget-inget nih ya, lu bilang pas di taman lu gk punya pacar, terus kemaren pas ijab bilangnya punya yg bener yg mana?" raja yg mendengar pun terkesiap baru tersadar dengan ucapannya sendiri


"Bukan urusan lu" memalingkan dari wajah polos rahma, sontak mendengar jawaban itu rahma mengerucutkan bibirnya "Ya urusan gw dong, kalo lu dah punya pacar nanti dikira gw pelakor dong" jelasnya dengan manyun.


"Lo mau gw cium ha, pake menyun manyunin bibir segala" refleks pun rahma melipat bibirnya ke dalam.


"Buahahahaah polos banget sih lu" raja merasa gemas dengan wajah polos rahma sampai membuatnya tertawa, melihat raja tertawa membuat rahma sedikit tenang, dia takut sifat raja akan dingin kepadanya tapi sebenarnya tidak.


__________________________________________


"Hoaamm" rahma menguap sudah berapa jam dia tidur pun tak tau, yang dia tau sekarang dia sudah berada di kota besar matanya mengerjap pelan melihat gedung gedung bertingkat, banyaknya kendaraan berlalu lalang.


Apakah aku di jakarta? hanya itu yg menjadi pertanyaanya karena dia sendiri tak tau rumah raja dan juga tak pernah ke jakarta dia hanya pernah melihat dari televisi, lalu dia melihat raja yg juga terlelap wajah tenang itu mampu membuat rahma betah memandangnya.


"Ngapain sih liat-liat ganteng kan?" mendengar itu sontak rahma mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Kapan sih bangunnya kok gw gk tau, ii bodoh!


Tak berapa lama mobil yang ditumpangi raja dah rahma memasuki sebuah rumah mewah, dan sudah ada beberapa pelayan yg sudah siap menyambut kedatangan tuannya.


"Lu gk mau turun?" suara itu membubarkan lamunan rahma lalu dia bergegas membuka pintu, dipandangnya beberapa pelayan yg berbaris siap menyambut walaupun memakai seragam pelayan, tapi mereka terlihat cantik.


Lihat sekarang aku merasa minder ama mereka.


"Selamat datang tuan muda" serentak mereka menundukkan kepala, rahma yang melihat itu dibuat terkagum-kagum.


Kalau tujuanmu cuma menikah, karena terpaksa, menikah saja dengan salah satu pelayanmu ini! entah sejak kapan rasa kesal melandanya bagaimana tidak seorang raja yang kaya raya mau menikah dengan gadis desa sepertinya.


"Selamat siang nona muda, perkenalkan saya niken kepala pelayan disini" seorang wanita memperkenalkan diri kepada rahma, yang rahma taksir umurnya sekitar 35 tahunan.


Menanggapi hal itu rahma hanya mengangguk dan tersenyum canggung, baginya dipanggil nona muda itu terlalu berlebihan.


"Mari nona saya antarkan ke kamar nona" niken berjalan mendahului rahma sedangkan raja sudah duduk di sofa.


Rahma bertambah kagum, malihat isi dari rumah mewah itu, dia mengikuti langkah niken menuju lantai atas, manunjukkan sebuah beberapa pintu entah ruangan apa di dalamnya.


"Ini kamar nona" rahma melongokkan kepala melihat isi kamarnya.


Astaga, ini kamar gw? bahkan ruang tamu gw gk seluas ini horang kaya mah bebas.


Dia mulai melihat-lihat kamarnya ber cat kan abu-abu putih, terpasang beberapa figura pelengkap ruangan, spring bed king size dengan warna bed cover berwarnakan abu-abu itu menambahkam kesan elegan di dalam kamar.


"Nona silahkan beristirahat terlebih dahulu, jika memerlukan sesuatu bisa minta kepada pelayan yang ada disini"


"Iya makasih bu niken" rahma menganggukkan kepala berterimakasih dibalas dengan anggukan juga oleh bu niken.


Rahma masih mengangumi isi kamarnya dan tiba-tiba rasanya dia ingin buang air kecil tanpa berpikir lama dia keluar dari kamarnya untunglah bu niken masih mau menuruni tangga.


"Bu niken" panggil rahma "Iya nona?" bu niken langsung membalikkan tubuhnya menghadap nona muda barunya itu.


"Kamar mandi dimana ya?" tanya rahma, mendengar itu bu niken hanya tersenyum geli "Tapi di kamar nona ada kamar mandi" wajah rahma seketika merah karena malu.


Lihat sekarang aku mempermalukan diriku sendiri di depan orang lain.


Rahma langsung berlari menuju kamarnya lalu mengedarkan pandangan melihat sebuah pintu ia langsung memasukinya, benar dugaanya sekarang kamar mandinya pun lebih besar dari kamarnya sendiri.


Setelah melakukan panggilan alam tersebut dia keluar lalu menatap kamarnya dengan lekat di sudut ruangan terdapat pintu lagi, lalu ia melangkahkan kakinya menggeser pintunya dan.....


"Astaga" teriaknya, bu niken yang membawa beberapa alat rumah tangga di lantai dua pun sedikit terkejut dengan teriakan nonanya, dengan sigap bu niken langsung membuka pintu kamar nonanya dan melihat keadaan rahma yg sekarang sedang menganga melihat ruang ganti.


"Nonan kenapa?" tanya bu niken panik, sedangkan rahma hanya menggeleng lalu menunjuj ruang ganti yang berisi banyak baju lalu 3 rak besar, yang isinya berbagai tas branded, sepatu-sepatu branded dan yg satunya lagi gaun-gaun mewah, ditengah ruangan terdapat laci besar yang berisi gelang, kalung, jam tangan dan aksesoris lainnya, di sisi ruangan lain terdapat meja rias yang sudah diisi dengan berbagai alat make up.


"Bu niken, saya salah kamar ya?" tanya rahma polos, lagi-lagi niken dibuat heran dengan ulah nonanya itu "Tidak itu semua punya nona"


Gw boleh pingsan gk sih


"Ta tapi-"


"Tuan muda yang membeli ini semua untuk nona" niken memotong omongan nonanya itu.


"Tapi saya gk butuh lo bu barang sebanyak ini, apa lagi make up itu banyak banget saya aja cuma bisa pake bedak sama lipstik" jelasnya tanpa basa-basi. Niken yang sudah tidak rau harus menyikapi nonanya hanya pamit untuk meyelesaikan pekerjaannya dan dijawab anggukan oleh rahma.


Rasanya lelah sekali, rahma hanya bisa pasrah dengan yang dijalaninya saat ini, rahma membaringkan dirinya di kasur empuk tersebut lalu memejamkan matanya untuk beristirahat.


*


Nggk berharap banyak sih, aku sendiri cuma minta kalo habis baca jangan lupa tinggalin like ya, soalnya bagi beberapa author termasuk aku itu seneng kalo liat ada yang like atau ada yg komen karena sumber semangat biasanya dari situ dan biasanya juga inspirasi juga dari komen komen para readers.