
"Kenapa lu nerima perjodohan ini ha!" bentak sarah.
"Apaan sih ka?"
"Kenapa lo nerima perjodohan ini apa gara-gara raja tuh ganteng trus kaya jadi lo mau?" membentak lagi.
"Aku ini dipaksa klo kakak mau gantiin aja aku gpp aku malah seneng kok" ucap rahma datar.
"Ya ngomong dong klo lo gk mau!"
"Ibu sama ayah itu maksa kak, aku juga gk mau dijodohin kenapa kakak kemaren gk pulang pas keluarga raja dateng? biar kakak bisa batalin perjodohannya" mulai tersulut emosi.
"Mana gw tau klo lu dijodohin kemarin!"
"Kakak gk suka? sana bilang ama ibu ayah sama ortu nya raja biar pernikahannya dibatalin!" berdiri lalu meninggalkan kakaknya yg baru pulang itu.
Huh marah marah gajelas bilang aja klo suka sama raja. rahma.
Pernikahannya tinggal beberapa jam lagi tpi rahma bahkan tak menyentuh baju pengantinnya sama sekali.
"Rahmaaaaaaaaaaa" zahra berteriak memanggil rahma.
"Apaan?" manyun.
"Kenapa sih? kan bentar lagi nikah kok manyun gitu" mencubit pipi rahma.
"Malah diem udah ayo aku disuruh bantuin lu siap-siap" menarik tangan rahma menuju ke dalam rumah, suasana sangat ramai bagaimana tidak, tamu dari pihak laki-laki berdatangan silih berganti bahkan ada yg tinggal untuk membantu. Suara riuh anak kecil, orang memasak, orang berteriak, suara sound system.
"Kuping gw sakit dengernya zah" menutupi kedua telinganya.
"Hahaha namanya juga nikahan gk rame gimana sih rah" zahra tertawa geli.
Perias sudah ada di kamar rahma, kamarnya yg tak terlalu luas terlihat semakin sempit.
Setelah mandi rahma hanya duduk dan menerima apapun yg dilakukan oleh perias tersebut.
Gimana kehidupan gw setelah ini, tinggal terpisah dari orang tua, disana aku mau ngapain. berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.
****
"Rahma bangun woy" Zahra mengguncangkan bahu rahma dengan sedikit berteriak.
"Ha apa udah selesai ya?" tangan rahma ingin mengusap matanya, dan tangan zahra langsung mencegah.
"Apa sih?" tanya rahma.
"Nanti bulu mata lu copot" Rahma spontan melihat ke arah kaca dia mengerjap pelan.
"Gw ketiduran yak? cape sih"
"Cape ngapain lu ha, nih baju pengantin lu bentar lagi ada yg bantuin masangin gw juga butuh siap-siap kali" menyerahkan kebaya berwarna putih ke rahma.
"Et dah udah sejauh ini lu mau kabur, kasian orang tua lu rahma, gw yakin kok lu bisa ama laki tuh" lalu berlalu meninggalkan rahma.
Emang bisa? kalo gk jodoh gimana? jadi janda muda dong?
"Nak ayo" fitri sang ibu menghampiri putrinya yg sudah siap.
"Ibu aku gk siap" menunduk dalam.
"Kmu pasti bisa, anak ibu kan kuat" Mengulas senyum ramah, dia tau sebenarnya dia juga tak siap untuk melepaskan anak bungsunya ini.
"Ibu jangan nangis dong, aku juga pengen nangis nih nanti kalo bedak aku luntur gimana?" mengusap pipi sang ibu yg sudah di tetesi air mata.
"Udah ayo raja udah di sana lo" menggandeng tangan rahma dan membawanya keluar, seketika semua mata tertuju kepada rahma yg baru keluar Raja sendiri sedikit tertegun dengan penampilan rahma yg berbeda drastis.
"Bisa cantik ternyata" gumam raja.
" Ehem, seneng banget lu nikah ama gw" rahma yg sudah duduk di samping raja itu berdehem.
"Dih GR amat lu"
"Ya Gr lah udah cantik gini kok" tersenyum tipis.
"Idih masih cantikan juga pacar gw" kata raja sedilit berbisik.
Oh udah punya pacar. sebenarnya rahma sedikit terkejut tpi bukannya itu bagus.
"Sudah siap?" suara penghulu di depannya membubarkan lamunan rahma, dan dia pun hanya mengangguk kecil menyetujui.
"Saya nikahkan"
****
"Gw capek astaga, tidur dulu dah" gumamnya, sedari tadi dia hanya menerima tamu yg menyaliminya dan mengucapkan selamat, setelah membersihkan diri sekarang dia sudah merebahkan badannya di kasur.
Bakal kangen gw ama kasur ini, gw tinggal bentar ya cuma beberapa bulan nanti juga di cerai tuh ama sang raja. sebenarnya baginya sendiri pernikahan bukanlah mainan yg jika bosan langsung menuju perceraian tapi buktinya suaminya sendiri sudah memiliki kekasih bukannya hubungan ini tak akan lama.
Jeklek.
"Minggir lo gw mau tidur"
"Apaan sih gw juga capek tidur di kamar lain sana ish" menepis tangan raja yg menariknya agar menepi
"Lu aja sana" berkacak pinggang di samping tempat tidur.
"Ogah" rahma dengan nyamanya memeluk guling kesayangan dan mengabaikan orang yg beberapa jam lalu sudah sah menjadi suami.
"Woy apaan sih dah tau kasur kecil gini" berusaha mendorong bada raja yg berbaring di samping rahma. Tak ada penolakan membuat rahma melongok melihat wajah raja, merasa kasian rahma menghentikan kegiatan mendorong tadi lalu ikut berbaring.
Sudahlah berbagi dikit gpp hehe, dia kan juga capek hadeh gini amat punya suami dijodohin