
"Kalian jahat kenapa harus aku kenapa tidak kakak saja ha kenapa harus aku hiks hiks" tangisannya sudah menjadi-jadi.
"Lagi pula kakak sudah bekerja di luar kota, kakak sedang merintis usahanya dia tidak ingin menikah terlebih dahulu rahma" imbuh ayahnya yg sedaru tadi hanya diam.
"Aku juga pengen kerja aku juga pengen ngeraih cita-cita ku! kenapa kalian selalu belain kakak, apa apa kakak! aaaaa"
Pranggg......
Rahma langsung membanting gelas didepannya lalu berlari memasuki kamar.
"Pak jangan memaksa rahma dia masih terlalu muda untuk menikah" ibunya yg tak kuasa melihat anaknya menangis berusaha membela.
"Ini untuk masa depannya bu, besok mereka kesini siapkan rahma" lalu ayahnya berlalu meninggalkan ruang tamu.
Dan ibunya hanya bisa pasrah dengan keputusan suaminya itu.
*Malam hari....
Rahma yang sedari tadi siang tidak keluar dari kamar sekarang sudah ada di meja makan, matanya masih terlihat sembab karena terlalu lama menangis.
"Rahma, bagaimana keputusanmu" panggil ayahnya.
"Terserah kalian, aku menolak pun tak ada gunanya kan" mulutnya bergetar mengatakan kalimat tersebut.
"Baiklah besok mereka akan datang kemari persiapkan dirimu" ayahnya menghela nafas berat.
Makan malam pun berlanjut dengan hening tak ada yg bicara kecuali suara gesekan sendok.
***********
Tok...Tok..Tok...
"Rahma aku zahra, aku masuk ya?" wanita bernama zahra itu sekarang ada di depan pintu kamarnya.
"Ya masuk aja" suaranya lemas.
"Iiih kok wajahmu kusut gitu sih belom di setrika ya?" Zahra berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Apaan sih" dia langsung melemparkan bantal ke arah zahra.
"Aku gk mau ra, aku belum siap nikah hiks hiks" tangisannya pecah di pundak zahra.
"Aku tau kok, yaudah yuk kabur" dengan sumrimgah zahra mengatakan tanpa ada rasa bersalah.
"Mau kabur terus tinggal dimana ha?" mengusap air matanya lalu berusaha tersenyum.
"Becanda, lagi pula klo lu sampe kabur beneran gw jitak pala lu" mengatakan dengan penuh nada ancaman.
"Nggk nggk lagi pula ku penasaran ama laki-laki yg mau nikah ama aku, bayangin aja tadi siang ibu bilang kalo pihak laki-lakinya dah setuju, masa iya belum liat diriku yg culun begini langsung mau" tertawa geli karena perkataannya sendiri.
"Nah jangan-jangan yg dijodohin ama kmu duda lagi jadi langsung mau" timpal zahra.
"Woe klo bener duda kabur aku dari rumah" sekarang mereka tertawa seolah olah tak ada perjodohan.
"Zaman sekarang kok masih ada perjodohan sih pusing aku" imbuh rahma.
"Aku juga gk tau, hmm rahma aku tidur sini ya aku penasaran ama suami kmu" zahra mengatakan dengan penuh semangat.
"Ca****lon suami, zahra" mengatakan dengan penuh penekanan.
"Yaudah iyh, pilih baju yuk buat besok" menarik tangan rahma lalu mendekati lemari.
"Emang perlu ya? pake baju biasa aja gpp kan?" tanya rahma dengan polos.
"Bodoh, tentu saja perlu besok kau akan bsrtemu dengam calon mertuamu" jelas zahra.
"Hmm kalo aku gk kabur ya bakalan jadi mertua" menyeringai licik.
"Awas lu ya klo kabur" menatap tajam rahma.
"Kok kmu jadi dukung perjodoham ini sih?" tanya rahma.
"Ya klo kamu setuju aku dukung, klo nggk aku bantu kabur" mereka tertawa bersamaan.
Dalam penampilan zahra memang lebih baik dari pada rahma, tapu soal wajah, rahma lebih cantik dari pada zahra.
Malam itu mereka memilih baju yg pantas untuk besok seolah-olah mereka sangat antusias atas perjodohan itu.