
Saat memasuki gerbang sekolah, aku berusaha mengingat dimana kelas ketiga wanita bodoh itu.
"Hmm, mereka kelas berapa ya? hmmm... hmm... oooooh kelas X-3. baiklah saatnya benar benar memberantas kalian"
Aku bergegas menuju kelasku, kemudian bergegas menuju kelas ketiga makhluk itu. Sesampainya disana, aku mengitari setiap sudut kelas dan betapa terkejutnya mereka akan kedatanganku yang tiba-tiba. Aku melambaikan tanganku tepat ke arah mereka seraya tersenyum. Setelah berhadapan secara langsung, aku mencondongkan wajahku ke arah mereka dan berkata,
"Akan aku balas LEBIH dari yang kalian lakukan hari ini, kalian ingat itu!. Sampai ketemu sepulang sekolah ya, tunggu aku di gerbang belakang."
Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka, dan ketika sudah berjalan beberapa langkah aku berhenti sejenak kemudian menoleh ke arah mereka lagi,
"Kalau kalian tidak datang, itu artinya kalian tidak sayang dengan nyawa lo ya"
Setelah itu aku benar-benar tak menoleh lagi kearah mereka. Mereka bergidik ketakutan, bahkan salah seorang dari mereka sudah menangis seakan mengingat kembali apa yang kukatakan padanya kemarin.
"Kalian sudah gila apa? kenapa mengganggunya lagi, sudah ku bilang jagan mengusiknya lagi, dia benar-benar orang yang tak boleh kita usik, mengapa kalian tak paham? apa masih tak cukup kalian langsung dipukul KO olehnya ha!"
wanita itu menangis sejadi-jadinya hingga membuat kedua temannya merasa bahwa itu bukan akting belaka. Bahkan dia tak menghiraukan lagi tatapan yang tertuju padanya.
"Kami kira, kau hanya bercanda!"
"Hei sinting, punya otak makanya dipake an*ing, kalian ga tau kan betapa takutnya aku menatap matanya saat itu, bahkan aku sekuat tenaga menahan agar tidak pipis saat ini!, Astaga apa yang harus aku lakukan, menatap ujung rambutnya saja sudah membuatku ketir, ini kalian malah menyewa berandalan untuk menghabisinya"
wanita itu terus menangis karena sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti, kedua temannya berkata,
"Terus kita harus gimana?"
"MANA KU TAU BAN*SAT, MAKANYA SEBELUM BERTINDAK PIKIR DULU AN*ING, AAAAAARGH"
"Hahaha, aduh perutku sakit Kamisama. Lagian siapa suruh ngeganggu aku lagi, rasain sendiri akibatnya. Hmmm enaknya diapakan ya kira kira?, dah la pikirkan nanti aja, belajar dulu"
Akupun benar-benar pergi meninggalkan kelas itu dan kembali ke kelasku mengikuti pelajaran dengan khusyuk. Selama pelajaran, tidak ada satupun dari sekitar yang menggangguku, aku benar benar belajar dengan aman dan nyaman. Mungkin ini hasil dari ikrar ku kemarin. Ya bagusla, setidaknya ini membuahkan hasil sesuai yang kuharapkan.
Bel istirahat berbunyi, aku bersiap menuju ke kantin. Namun lagi-lagi ada makhluk yang tak ingin aku lihat sedang bersandar di dinding kelasku, ya siapalagi kalau bukan dia.
"Akhir akhir ini kau sering mencariku ya?"
Dia tak membalas ucapanku, hanya saja matanya liar melihat kesana kemari setiap inci diriku, seperti mengecek apakah ada bagian tertentu dari tubuhku yang hilang atau terluka.
"Hei, lihat kemana kau ha? mau ku colok ya mata mu itu? sial, sejak ketemu sama kau, hidupku apes mulu, minggir sana!"
Aku menggeser tubuhnya dengan keras sampai dia sedikit terpental, namun anehnya, bukannya dia marah justru tatapannya menunjukkan tatapan lega.
"Syukurlah kau tidak apa-apa"
Setelah mengucapkan kalimat itu dia pun pergi tanpa menoleh ke arahku lagi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapanku,
"Hei, kau pikir dengan kau bersikap seperti ini aku akan melunak? tidak ferguso, kau salah besar!. Aku justru semakin ingin menunjukkan padamu bahwa tidak semua orang bisa kau kontrol layaknya boneka"
Dia menatapku dengan aneh, aku tak tau cara mengekspresikan tatapannya itu. Setelah lama diam seribu bahasa, dia akhirnya mengucapkan sebuah kalimat,
"Justru karena sifatmu seperti ini, aku semakin ingin memilikimu"
Bersambung ke part berikutnya.....