Uncontrolled

Uncontrolled
Bertengkar



Ekspresi wajah Renji benar-benar menakutkan. Suasana menjadi dingin, bahkan untuk bernafas saja rasanya berat. Aku seperti berada di tengah medan perang yang bahkan aku sendiri tak sadari. Aku membuka mulutku, memecahkan keheningan yang mencekam ini.


"Kenapa kau ada disini?"


"Ini tempat umum"


Dia menjawab pertanyaanku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Matanya terus tertuju ke arah temannya. Aku yang berniat memecahkan keheningan dengan pertanyaan bodoh tadi, akhirnya terdiam kembali. Aku benar-benar dihadapkan dalam situasi yang pelik. Bahkan aku tak tahu kenapa aku bisa ada diantara mereka sekarang.


"Bukannya aku tadi cuma mau beli bahan buat pancake ya? kenapa aku jadi masuk dalam drama ini sekarang."


Aku terus membatin dalam hati. Suasana hening akhirnya pecah setelah Renji membuka suara,


"Mengapa kau bersama dengan Xora?"


Renji bertanya dengan tatapan dingin ke Tatsuya. Tatsuya pun menjawab pertanyaan itu dengan senyuman mautnya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi saat dia memilih bahan untuk topping pancakenya"


Dia menjawab dengan jujur pertanyaan yang diajukan Renji kepadanya. Renji diam beberapa saat, kemudian melihat keranjang yang dibawa Tatsuya.


"Apa tujuanmu?"


Renji masih menatapnya dingin. Aku yang ada ditengah situasi itu tidak ingin masuk ke dalam drama ini lebih lama,


"Aku yang menyuruhnya"


Aku menjawab pertanyaan Renji yang diajukan ke Tatsuya. Tatsuya dan Renji kaget mendengar jawabanku.


"Kau? Kenapa?"


"Tadi aku ingin ke toilet, jadi aku menitipkan sebentar barangku kepadanya dan sekarang aku ingin mengambil barang itu kembali"


Aku berbohong untuk mengakhiri drama konyol ini. Tatapan Renji seolah tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan. Aku melanjutkan kembali ucapanku,


Dia menatap tajam ke arahku menunjukkan ketidaksukaannya dengan ucapanku tadi. Daripada takut karena tatapannya, aku justru bingung dengan reaksi yang ditunjukkannya.


"Kau berkata seperti itu karena polos atau kau memang bodoh?"


Aku yang mendengar ucapannya itu langsung berteriak kesal, namun dia dengan cepat menutup mulutku dengan bibirnya. Setelah melakukan hal gila itu didepan umum, Dia menatap wajahku yang masih terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku akan menciummu lagi jika kau berkata ini tidak ada hubungannya denganku. Aku katakan sekali lagi padamu, Ingat dan jangan pernah kau lupakan. A.K.U M.E.N.Y.U.K.A.I.M.U!"


Aku yang akhirnya tersadar, langsung menampar dengan keras pipi lembut tuan muda sialan itu.


"BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU MENCIUMKU BANGSAT"


Rasanya tak cukup dengan menampar saja, aku ingin memukul wajah sialan yang ada didepanku ini. Tapi sebelum tinjuku melayang ke wajahnya, dia sudah terjatuh karena mendapat pukulan dari orang lain, ya aku hampir melupakan keberadaan manusia aneh satu itu. Aku bergidik ngeri melihat ekspresi yang keluar dari wajahnya. Ekspresinya itu seperti melihat kekasihnya dicium paksa oleh orang gila yang tak dikenal.


"Kau keterlaluan Renji!"


Dia menghampiri aku dan mengusap lembut bibirku dengan tangannya,


"Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan bibirmu. Pulanglah dan tenangkan dirimu"


Dia memberikan keranjang yang dipegangnya. Aku benar-benar tidak terima dengan perlakuan Renji terhadapku tadi, namun sebisa mungkin aku menahan amarahku karena ini ditempat umum, aku tidak ingin lebih malu dari ini pikirku.


"Dasar pria menjijikkan! Jangan pernah kau muncul dihadapanku lagi, dan untuk kau, jika kau tak menahan barangku, hal ini tak mungkin terjadi. Kalian berdua benar-benar pria menyebalkan yang pernah aku temui selama ini"


Aku pergi sambil menangis setelah mengucapkan kalimat itu, meninggalkan dua orang brengsek yang ada disana. Pertengkaran konyol yang amat merugikan diriku...


"Argh sial sekali nasibku"


Bersambung ke part berikutnya....