Uncontrolled

Uncontrolled
Pilihan



Dia memasukkan kedua tangannya disaku celananya,


"Tidakkah kau merasa terlalu cepat menolakku? hmm?" katanya


"Aku tidak mau, berapa kalipun kau mengatakannya padaku, jawabanku akan tetap sama" aku membalas ucapannya lagi dengan wajah yang tanpa ekspresi.


"Lebih baik aku dibully satu sekolah daripada harus menjadi pacarmu!" lanjut ku.


Aku menolaknya berkali-kali di tempat ini. Aku sudah tidak bisa bersabar padanya, dia benar-benar pria menjijikkan. Seenaknya menyatakan cinta tanpa tau apa artinya. Aku sudah berani memproklamirkan perang. Namun apa yang terjadi padanya? aku benar-benar tidak mengerti. Bahkan setelah aku berkata seperti itu, dia tetap tersenyum, seolah-olah memang itu yang dia tunggu.


"Kau yang mengatakannya sendiri ya, bukan aku!"


dia mendekat kearahku dan membisikkan kalimat itu ke telingaku, kemudian melangkah pergi meninggalkan kantin,


"Aaaah, kalau kau tidak sanggup lagi, datanglah ke kelasku, tawaran itu masih tetap berlaku sampai kapan pun."


kalimat lanjutan yang ia ucapkan justru membuat semangat 45 ku makin berkobar,


"Kau juga jangan lupa, kalau aku akan membantingmu jika kau menggangguku lagi, ini bukan sekedar ancaman, aku benar benar akan membantingmu dan orang-orang yang menggangguku nantinya".


dan kejadian di kantin pun berlalu dengan kegaduhan yang masih menggebu.


Setelah bel masuk berbunyi, aku dan juga dia melanjutkan kegiatan kami masing-masing, hanya saja kali ini gangguan kecil sudah mulai tampak ke permukaan. Lihat saja, tepat saat jam pelajaran kimia, ada tugas yang harus dikumpulkan dan ajaibnya bukuku hilang ntah kemana. Aku melihat sekelilingku kira-kira siapa yang melakukannya, namun tak ada satupun raut wajah mencurigakan terlihat.


"Sial, dimana bukuku disembunyikan" ucapku dalam hati.


"Maaf pak, buku tugas saya hilang"


"Hilang? alasan macam apa itu?, kenapa tidak kamu bilang saja bukunya tidak kamu bawa, atau kamu tidak mengerjakan tugasnya?" ucap pak guru yang sedikit marah


"Bapak tau sendiri, kalau saya sangat menyukai pelajaran bapak. tentu saja saya mengerjakan tugas yang bapak berikan, atau kalau bapak ingin memberi saya kesempatan, saya akan menjawab tugas itu sekarang, untuk membuktikan bahwa saya telah mengerjakan tugasnya" ucapku sambil memelas dengan mata puppy eyes.


Bukannya sombong, aku sangat lihai membuat guru bersimpati padaku, buktinya saja, setelah mendengarkan ucapanku tadi, pak guru yang tadinya marah kini mulai tersenyum karena dia merasa bangga ada murid yang berani mengakui kesalahan dan berani bertanggungjawab. Akhirnya akupun diizinkan menjawab tugas itu dipapan tulis dan tak butuh waktu lama, tugas itu sudah kuselesaikan dengan sempurna.


"Xora, bapak senang kamu bisa menjawab tugas ini dengan benar. Lain kali tidak boleh seperti ini lagi oke?" ucap pak guru sambil tersenyum padaku


"Hehe, baik pak, terimakasih juga karena bapak sudah mengizinkan saya mengumpulkan tugas dengan cara seperti tadi" ucapku sambil membungkuk dan aku kembali ke tempat dudukku.


"Hah, ingin membuatku malu didepan guru ya? tak semudah itu sialan!, awas saja kalau sampai aku tahu siapa yang menyembunyikan buku tugasku"


Aku bergumam pelan di tempat duduk sambil masih memperhatikan kira-kira siapa orang yang melakukan hal kekanakan ini.


Jam pelajaran pun usai dan bel pulang berbunyi. Aku merapikan semua alat tulisku di meja. Setelah guru keluar, murid pun mengikuti. Dalam perjalanan pulang, aku masih melihat sekelilingku berharap bukuku setidaknya ada disalah satu tempat yang aku lihat dan tepat sekali, buku tugasku ada di tong sampah dan itu sudah berlumur dengan susu. Aku marah karena mereka berani merusak barang berhargaku. Ku ambil buku itu, dan kulihat sekeliling kira kira siapa yang melakukannya dan tadaaaaaaa


"Haaaa! kena kau" kataku


Bersambung ke part berikutnya ......