Uncontrolled

Uncontrolled
Hobi



Aku masih dalam posisi berbaring di kasur, heningnya kamar membuat suara perutku terdengar jelas. Aku tertawa geli mendengar suara itu yang berkata seperti "beri aku makan~".


"Baiklah saatnya makan. Tapi sebelum itu kita lihat apa yang ada di kulkas"


Aku mengobrak-abrik isi kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk dimasak. Tak berapa lama makanan berkuah pun siap untuk disantap. Setiap kali aku makan, hal-hal yang membuat ku pusing selalu dapat teratasi dengan mudah. Aku meyakinkan diri kalau makan memang mood booster ku. Setelah selesai, aku merapikan semuanya, menyiapkan pelajaran untuk besok, kemudian tidur. Ya rutinitas malam yang selalu seperti itu.


Keesokan harinya, suara kokokan ayam dan alarm yang berbunyi bersamaan, memecah keheningan kamarku. Seperti hari-hari sebelumnya, aku melakukan rutinitas pagiku dan setelah semuanya selesai, aku melangkahkan kaki menuju ke sekolah. Hanya saja perjalanan menuju ke sekolah kali ini tampaknya akan berbeda. Ketika aku berjalan, tiba-tiba beberapa berandalan menghadang tepat didepanku.


"Tolong minggir, aku sudah hampir telat ke sekolah"


Kataku dengan ketus.


Tapi bukannya minggir, mereka malah tertawa mendengar ucapanku.


"Hei gadis cantik, kau masih ingat sekolah, padahal kau sedang dihadapi dengan masalah disini?"


"Memang apa kesalahanku? aku saja tak pernah melihat salah satu diantara kalian, aku ini warga yang baik tau. Sudahlah minggir! aku beneran akan telat kalau kalian terus menghambatku seperti ini"


Aku mencari jalan yang lain dan bergegas untuk pergi dari sana, namun lagi lagi aku dihadang.


"Kau warga yang baik? Haha kalau begitu kami juga warga yang baik dong karena menolong orang lain"


"Aaaaa, rupanya kalian memang disuruh seseorang ya, siapa?"


Ekspresiku berubah ketika aku tahu mereka adalah orang suruhan. Aku melihat jam, tersisa waktu 10 menit sebelum gerbang sekolah ditutup.


"Apa mau kalian?"


"Tidak banyak, kau ikut saja dengan kami dan kami akan membawamu ke tempat orang itu"


"Dan kalau aku tidak mau?"


"Kalau begitu aku ingin lihat hal tidak baik yang akan kalian lakukan, aku akan bermain dengan kalian, kurasa 3 menit cukup"


Tanpa babibu lagi, aku mulai menyerang mereka. Untung saja hobiku dari dulu bisa tersalurkan beberapa hari terakhir. Aku benar-benar menikmati menghajar para berandalan ini. Suara hantaman yang keras, jeritan, rintihan, semuanya ada dalam satu situasi ini. Mungkin karena terlalu fokus dengan bossnya (atau mungkin sengaja?) aku tertangkap dari belakang oleh salah satu dari mereka.


"Sialan, ternyata kau benar-benar bisa bela diri rupanya. Kukira, wanita itu berbohong padaku"


"Ohooo, ternyata 3 orang itu rupanya. baiklah terimakasih karena sudah memberitahuku"


Aku dengan cepat menyerang orang yang memegangku, ku injak ujung kakinya kemudian ku genggam kedua tangan yang memelukku itu sampai terbuka, berandalan itu bahkan kaget dengan tindakan yang kulakukan.


"Dasar gila, mana ada perempuan yang bisa sekuat ini, badanmu terbuat dari apa ha!?"


Aku menyerang berandalan itu tepat dibagian titik vitalnya, hingga ia terkapar kesakitan.


"Aku sama seperti kalian, hanya saja badanku sudah terlatih bertahun tahun, sekarang giliranmu, BOSS~"


aku menyerang ketua berandalan itu, dan kali ini dia tanpa ragu ragu lagi menyerangku, bahkan dengan senjata tajam yang ada ditangannya.


"Wah, boss apa kau tak malu memakai senjata tajam seperti itu? baiklah karena kau yang pertama menggunakan senjata tajam, jangan salahkan aku kalau lebih kejam"


Aku menggunakan salah satu teknik terlarang, dan ketika teknik itu kena, "kretak" suara tulang yang patah terdengar darinya.


"Aaaaaargh, tulang rusukku, *njing, ban*sat sakit sekali"


"Kalian selamat karena waktu bermain sudah berakhir. Sialan bajuku jadi kusut nih"


Aku berlari ke sekolah dan untung saja aku sampai tepat waktu.


Bersambung ke part berikutnya.....