
Dalam perjalanan pulang aku menyumpahi kedua anak lucknut itu, terutama Renji. Renji benar-benar menambah rasa benciku padanya sampai di batas maksimal.
"Emang di kehidupan sebelumnya aku ngancurin sebuah negara ya sampai bisa ngalami hal seperti ini sekarang? Aaaaaaargh sial kali sih malam ini"
Aku menggosok bibirku sekuat tenaga dengan tanganku sambil menggerutu kesal. Aku tak bisa berfikir jernih sekarang setelah mengalami insiden yang tak menyenangkan itu.
"Belum cukup apa ya satu makhluk astral yang menggangguku, ini malah bertambah lagi satu manusia aneh. Kamisama, setelah hal ini, apalagi yang akan kau hadiahkan padaku ha!?."
"Hah, aku tak bisa pulang dalam keadaan seperti ini, tidak bisa!"
Akhirnya aku melebarkan pandanganku, dan tampak sebuah taman disana. Aku pergi ke taman itu dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Aku menghela nafas panjangku, mengatur nafas dan mencoba menenangkan hati yang tengah membara ini. Aku memandang ke langit malam yang kosong tanpa ada bintang satupun yang menghiasnya.
"Langit malam yang sepi" kataku lirih
Setelah beberapa saat menatap langit, gejolak dalam diriku akhirnya memudar. Tampaknya menenangkan diri di taman ini berhasil, aku mulai bergegas kembali ke kosan karena cuaca sudah terasa lebih dingin dari biasanya. Malam itu, salju pertama turun.
"Waaaaah, indahnya. Sudah masuk musim dingin rupanya"
Aku bergegas menuju ke kosanku. Sesampainya disana, aku meletakkan barang yang kubeli tadi ke dapur dan aku segera menghidupkan pemanas ruangan. Aku kemudian duduk sebentar di sofa, dan tak berapa lama setelah duduk tiba-tiba aku berdiri dan menuju ke toilet, mengambil sikat gigi dan berkumur sebanyak yang ku bisa.
"Arrrgh, tetap saja ga bisa dilupakan ternyata. Aku tidak bisa menerima hal ini. Awas saja kau Renji, kalau kau berani menunjukkan batang hidungmu di depanku besok, Habis kau!"
Malam itu aku tidur dengan suasana hati yang berkabut. Aku berharap dapat terbangun di pagi hari dengan ceria dan melupakan mimpi buruk ini. Akhirnya setelah beberapa kali membalikkan badan, aku pun tertidur juga.
Pagipun tiba, aku terbangun setelah bunyi alarm yang kupasang berdering lebih dari 10 kali. Haha ternyata tidurku jauh lebih baik dari yang ku kira. Seperti biasa, aku melakukan rutinitas pagiku dan bergegas menuju ke sekolah. Karena sudah memasuki musim dingin, pakaian yang ku kenakan jauh lebih tebal dari biasanya. Dalam perjalanan ke sekolah, aku melihat sekelilingku yang sudah sedikit ditutupi oleh salju.
"Hari ini menu kantin enak, aku harus cepat keluar nanti saat jam istirahat. Makin semangat jadinya belajar."
Bel pun berbunyi, tanda waktu istirahat. Aku bergegas dengan cepat ke kantin. Sesampainya di kantin, aku mengambil menu makan siangku dan mencari tempat duduk.
"Wuaaaa, kelihatan enak sekali, selamat makan~"
Suasana dikantin memang biasanya berisik, tapi kurasa hari ini jauh lebih berisik, aku berfikir ini mungkin karena menu makan siang yg mewah ini tapi ternyata bukan. Aku fokus ke makan siangku sampai aku tak sadar bahwa ada orang tepat didepanku.
"Waaaah, kelihatannya enak" katanya.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah suara itu berasal dan seketika ekspresiku berubah.
" Kau masih marah? maafkan aku yaaaaaa 🥺"
Lanjutnya lirih.
Dia memasang wajah yang layak untuk dikasihani, tapi kurasa itu tak mempan terhadapku.
"Pergi sekarang selagi aku masih bicara baik-baik!"
Aku mengatakan hal itu sambil mengarahkan pisau makanku ke wajahnya.
Bersambung ke part berikutnya......