
Aku keluar dengan penuh amarah dari kelasnya. Kuluapkan emosiku di dalam toilet lalu kubasuh wajahku. Setelah lurasa emosibku mereda, aku kembali ke kelae. Saat berada di dalam kelas, salah satu temanku memberanikan diri bertanya:
"Xora, kau tidak apa apa?" dengan ekspresi yang kasihan.
"Aku tak apa apa, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku" aku membalas pertanyaannya sambil tersenyum.
"Yah setidaknya walau suasananya berubah, situasinya masih dapat dikontrol." kataku dalam hati.
Jam pelajaranpun dimulai, aku mengikuti pelajaran seperti biasa.
Sementara Xora belajar, Renji yang kaget di kelasnya tiba-tiba tertawa keras, membuat suasana dikelasnya benar-benar mencekam.
"Gila gila, baru kali ini ada yang berani ngancam aku, gak salah aku nargetin kamu, hahahaha. Aku mau lihat sampai mana aku bisa ngejahili kamu."
Semua orang melihat ke arah Renji dengan wajah penuh tanda tanya dan tidak percaya.
"Apa yang kalian lihat? jangan ada yang berani mengganggu dia atau kalian akan mati! Dia milikku!"
sebuah pernyataan tegas sekali lagi dikumandangkan Renji, hanya saja kali ini pernyataannya hanya di dengar oleh anak kelasnya.
Bel bun berbunyi, tanda waktu istirahat tiba. Aku bergegas ke kantin karena perutku sudah lapar. Ketika aku hendak keluar dari kelasku, tiba-tiba kulihat sosok yang tak ingin ku lihat.
"Ikut aku!"
dan ya seperti biasa tanpa menunggu jawaban dariku dia pergi mendahuluiku. Aku yang tak ingin membuat keributan lagi hari ini, akhirnya mengikuti dengan enggan hati.
"Hei, kemana kau akan membawaku? aku lapar dan aku ingin makan!" kataku.
Dia diam tak menggubris ucapanku.
"Anying ni anak emang, ga sopan banget, ditanya malah ga direspon. Giliran dia yang nanya kudu ditanggepi, huh ****** ******!".
Aku menggerutu kesal dan teenyata kami sudah sampai ditempat tujuan yang dikatakannya, ya itu adalah kantin khusus orang kaya.
"Pergi dan ambil makanan ku, aku lapar!" dan dia pun pergi ke tempat duduk tanpa menunggu jawabanku.
"Wah bener-bener ya ni anak, kau kira aku pelayanmu? enak aja nyuruh nyuruh aku, punya kaki ama tangankan. ambil sendiri sono!"
"Mau kemana kau? suapi aku!" katanya.
Aku dengan tatapan tidak tidak percaya menoleh cepat ke arahnya dan berkata,
"Apa? kau bilang apa?"
"S.U.A.P.I.A.K.U" dia berkata dengan wajah yang sumringah
"Huh sial! Hei, kau punya tangan bukan? makan saja sendiri. Atau jika kau tak ingin makan sendiri, kau bisa meminta gadis gadis disini melayanimu!"
"Aku maunya kau!" dia membalas ucapanku dengan gaya tuan muda yang sedang memerintah pelayannya.
Aku melihat sekeliling tempat itu, semua jenis tatapan bercampur aduk disana. Aku tak tahu apa maksud tindakannya ini, jika aku menuruti maunya, gadis gadis disini pasti akan menggila nanti tapi jika aku tak menuruti kemauannya, pasti dia yang akan menggila. argh semua pilihan ini bakalan jadi bumerang untuk diriku sendiri.
"Baiklah, aku akan menyuapimu, tapi ada syaratnya!"
"Katakan!" dia membalas singkat dengan ekspresi yang sedikit tersenyum
"Jangan ganggu aku lagi setelah ini, kalau tidak kau akan kubanting!" aku mengancam dia dengan tatapan penuh kebencian.
Bukannya setuju dengan syaratku, dia justru tertawa sambil berkata,
"Kau tidak bosan mengancamku seperti itu terus?"
dan mengejutkannya dia malah mengajukan hal gila lainnya,
"Aku tidak akan mengganggumu, sebagai gantinya jadilah pacarku."
dia mengatakan itu dengan penuh percaya diri, dan dengan secepat kilat aku menjawabnya,
"Aku menolak"
tatapan ku kepadanya sudah mulai berubah, rasanya seluruh tubuhku terbakar, berani sekali dia memintaku menjadi pacarnya. Namun bukannya marah, dia justru tersenyum dan menghampiri aku.
Bersambung ke part berikutnya......