
Ibarat putri malu yang sedang terbuka daunnya kemudian menguncup setelah disentuh, begitulah tepatnya yang menggambarkan suasana hatiku saat ini. Aku yang tadinya tersenyum sambil bersenandung kecil, kini berubah menjadi suram bahkan seinci garis bibirku pun tak dapat kutarik untuk tersenyum hanya karena melihat sosoknya.
"Kamisama, apa engkau punya dendam padaku? mengapa hari ini aku sial sekali, ga cukup ya disekolah aku ketemu si sialan itu?".
Aku terus bersungut sungut seperti orang gila sambil bersembunyi di tepi rak bahan makanan yang aku pilih tadi, bahkan aku tak menghiraukan orang-orang yang sedang melihatku. Setelah aku kembali ke dunia nyata (lah jadi tadi lu dimana bambang) aku mencuri curi pandang lagi, meyakinkan diri bahwa dia belum melihatku disini. Beruntungnya aku, dia sama sekali tak menyadari keberadaanku disini,
"Dia ga ngeliat akukan ya? oh Kamisama nanti aku bakalan sering berdoa ke kuil kalau aku lolos dari dia oke? Bantu aku kali ini oke?"
Aku berkata demikian dalam hati sambil berjalan menuju kasir. Setelah membayar bahan yang kubeli, aku melihat ke arahnya sekali lagi,
"Wah anying kemana tu anak, udah ngilang aja kayak emak emak yang ditagih utang, bagus juga sih ya, jadi aku ga perlu adu bacot ama dia",
Aku berjalan keluar dari pasar itu menuju ke kosan ku.
Ini mungkin hari sial bagiku, benar benar sial. Tepat di depan gerbang pasar ketika aku hendak keluar, aku berpapasan dengan dia. Dia sedang duduk dengan temannya yang aku tak tahu itu siapa (aku ga kepo soalnya).
"Oke Kamisama, kau ternyata tidak menjabah doaku, janjiku tadi kutarik kembali, Kita bubar" kataku dalam hati.
"Kenapa kau lama sekali, aku bosan menunggumu".
Sambil menatap heran aku menjawab pertanyaannya
"Haaaa!! menungguku? apa maksudmu?".
Masih dalam ekspresi yang sama dia membalas pertanyaanku,
Dia berkata sambil tersenyum kepadaku.
Dalam hati aku menjerit "Aaaaaaa sialan ternyata tadi dia udah ngeliat aku, terus ngapain coba aku sembunyi sembunyi kek orang bego tadi, Kamisama! kau benar memiliki dendam padaku bukan?".
Aku tak membalas ucapannya karena tak ingin berdebat. Aku berinisiatif meninggalkan mereka, tapi anehnya dia malah menghentikan langkahku dengan berdiri tepat di depanku sambil berkata,
"Kau sudah siapkan untuk besok?"
Dia menatapku dengan tatapan penuh kegembiraan seolah olah dia menemukan mainan baru yang akan membuatnya terhibur.
Aku mendorong tubuhnya kesamping dan melanjutkan jalan, namun aku berhenti sejenak, membalikkan tubuhku sedikit menatap ke arahnya,
"Hei cecunguk yang hanya bisa menyombongkan kekayaan orang tua, kau kira aku takut pada ancamanmu ha? kita lihat siapa yang akan kalah nanti, aku atau kau sialan".
Entah keberanian darimana aku mengatakan hal seperti itu, yang jelas setelah mengatakannya aku melanjutkan langkahku kembali. Kudengar suara tawa yang sangat keras dari arah belakang, namun aku tak menghiraukannya.
Setelah sampai di kosan, kuletakkan bahan yang kubeli tadi ke kulkas, mengambil beberapa bahan untuk dimasak. Moodku yang tadinya buruk kini berubah baik kembali karena makanan. Aku benar benar melupakan hal menyebalkan yang baru saja ku alami tadi, kusantap makanan yang kubuat dengan penuh cinta ini sepenuh hati. Setelah makan, aku membersihkan peralatan yang kugunakan tadi lalu duduk sejenak sambil memikirkan pelajaran untuk besok. Aku tak ingin melanjutkan pikiran konyolku tentang apa yang akan terjadi besok.
Malam pun tiba, setelah semua hal yang dibutuhkan besok kusiapkan, aku menuju ke kasur dan membaringkan tubuhku. Aku berdoa dan memantapkan hati sambil berseru,
"Ok, aku siap bertempur denganmu Renji, lihat saja siapa yang akan kalah duluan nanti. pagi~ aku menunggumu~"
Bersambung ke part berikutnya......