Uncontrolled

Uncontrolled
Pertemuan



Aku bersenandung riang dalam perjalanan pulang. Rasanya beban yang menumpuk di pundakku sedikit berkurang. Setelah sampai di kosan, rutinitas biasa kulakukan. Kali ini karena dalam suasana hati yang senang, aku ingin membuat pancake untuk merayakannya. Aku bergegas keluar untuk membeli bahan yang dibutuhkan.


Dalam perjalanan, aku tiba-tiba teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu saat aku tak sengaja bertemu lagi dengan dia. Aku berharap hal itu tak akan terulang kembali hari ini. Setelah berdo'a dalam hati, aku melanjutkan perjalananku kembali. Sesampainya di lokasi, aku mulai mencari bahan yang dibutuhkan.


"Hmmm, enaknya toppingnya make apa ya? aku suka buah sih tapi aku juga pengen pake krim kocok, tapi pake sirup maple pun juga enak ni. Hmmmm pilih topping apa ya? "


"Sirup maple dengan buah saja"


"Oh iya, kombinasi yang bagus tu, makasih ya!"


Aku menoleh ke arah suara itu, dan betapa terkejutnya aku bahwa pemilik suara itu adalah teman Renji yang sebelumnya kulihat beberapa hari yang lalu.


"Kau?"


"Iya ini aku"


Dia menjawab dengan senyuman yang dapat melelehkan salju.


"Siapa ya?"


"Kau tak tau siapa aku? hatiku sakit ni."


Aku hanya melotot ke arahnya sambil memancungkan bibirku. Dia tertawa, entah apa yang ditertawakannya.


"Lain kali jangan membuat ekspresi seperti itu di depan lelaki Xora. Berbahaya"


"Maksudmu?"


Aku memeringkan kepala sedikit karena tak mengerti maksud ucapannya. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru menepuk lembut kepalaku dan mengatakan hal yang semakin membuat ku tak mengerti.


"Hah ini sulit bagiku, bagaimana ini? padahal aku yang pertama bertemu denganmu."


"Hei, kau bicara tentang apa sih?, aku sama sekali ga faham!. Bisa gak kau berbicara seperti orang normal?"


Dia menjawab pertanyaanku dengan diam. Aku menghela nafas panjang seolah menyerah.


"Mengapa laki-laki yang kutemui tidak ada yang normal? sudahlah lebih baik aku pergi saja daripada kepalaku pusing"


Aku pergi meninggalkan dia disana.Tiba-tiba langkahku terhenti karena tanganku dipegang olehnya.


"Kau benar tak ingat aku? sedikitpun?"


"Aku bahkan tak tahu siapa namamu, bagaimana bisa aku mengingatmu?."


Dia diam tanpa kata lagi. Setelah beberapa saat, akhirnya dia tersenyum, senyum yang memiliki banyak arti.


"Tatsuya Ito"


Aku menatapnya dengan tatapan heran, dia melanjutkan kembali ucapannya,


"Itu namaku, kemarikan biar aku yang bawa"


Dia dengan cepat mengambil keranjang belanjaanku dan bergegas menuju ke kasir.


"Hei, jangan seenaknya mengambil barang milik orang lain sialan."


Aku berlari mengejarnya, dia tertawa mendengar ucapanku itu sambil tetap berjalan menuju kasir. Sesampainya di kasir, aku ingin membayar bahan yang sudah kubeli, namun sekali lagi, dia dengan cepat menangkap kartu atm ku dan memberikan kartu miliknya ke kasir.


"Pakai ini saja kak, dia lagi ga punya uang"


Dia mengatakan hal itu sambil tertawa, aku memukul badannya berkali-kali.


"Hei, kau gila ya? kembalikan kartuku, anak ini benar-benar ya!"


Pemandangan itu tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar lucu di depan umum. Orang-orang yang melihat kejadian itu tersenyum malu melihat tingkah konyol kami. Setelah barang yang ku beli dibayar dan kami keluar dari toko, dia mengembalikan kartuku.


"Aku akan ganti uangmu, sekarang kemarikan belanjaanku!"


Aku ingin mengambil barangku dari tangannya, namun lagi-lagi dengan cepat ia menyembunyikannya di balik punggung.


"Refleksmu bikin kesal ya"


"Terimakasih, aku anggap itu pujian. Biar aku bawakan, ini berat!"


"Tidak"


"Kalau begitu anggap saja ini sebagai ganti uangku tadi, bagaimana?"


Baru saja aku ingin mengatakan tidak, tiba-tiba dari arah belakangku kata itu sudah terucap. Aku menoleh ke sumber suara dan betapa kagetnya aku bahwa suara itu berasal dari Renji.


Bersambung ke part berikutnya......