Uncontrolled

Uncontrolled
Dia dan Dia



Setelah aku pergi, kini tinggal Renji dan Tatsuya yang ada disana. Renji bangkit dan menepis darah yang ada dibagian ujung bibirnya. Dia masih menatap kesal Tatsuya.


"Apa sekarang prinsipmu berubah?"


"Tentu saja tidak"


"Lantas mengapa kau mendekati Xora?"


Renji sangat faham dengan sifat temannya satu ini karena sejak kecil mereka sudah berteman. Tatsuya adalah orang yang tak akan pernah mengusik bahkan seujung jaripun barang miliknya ataupun hal yang dia suka. Tapi kali ini dia mendekati Xora dan itu membuat Renji yakin kalau Tatsuya menyukai Xora.


"Karena aku yang pertama bertemu dengannya, dan aku sudah jatuh cinta padanya sejak saat itu."


"Kalau begitu, mengapa waktu itu kau tidak mengatakannya langsung?"


"Bukankah kau sendiri yang tak menganggap serius ucapanku waktu itu, jelas jelas aku sudah mengatakan padamu untuk menyerah bukan?"


Ya Renji mengingat dengan jelas ucapan Tatsuya, tapi dia fikir ucapannya itu hanya candaan seperti biasa. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, kali ini mereka menyukai satu orang yang sama dan itu menandakan awal pula pertengkaran diantara mereka.


Lama mereka berdiam diri disana, Renji dan Tatsuya benar-benar tak menghiraukan tatapan aneh yang mengarah ke mereka. Akhirnya Tatsuya membuka suara memecah keheningan diantara mereka.


"Aku tak akan menyerah!"


Renji tertawa mendengar ucapan Tatsuya, dia pun membalas ucapan itu dengan penuh percaya diri.


"Kalau begitu sekarang kita adalah rival Tatsuya, aku tak akan membiarkan kau merebut Xora dari diriku, dia milikku!"


Tatsuya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan,


"Itukan kau yang dengan seenaknya mengklaim sendiri bahwa Xora milikmu, Xora masih belum milik siapapun Renji"


"Kali ini, aku yang akan datang padamu, Xora"


Dia pulang dengan tekad yang kuat. Sementara itu Renji yang masih berada di pusat perbelanjaaan, duduk ditempat biasa mereka nongkrong. Dia menatap langit malam itu, langit yang kosong tanpa ada bintang satupun. Malam itu jauh lebih dingin dari biasanya.


"Hah kenapa harus Xora?"


Kalimat itu keluar serentak dengan jatuhnya salju pertama di Jepang. Musim dingin kali ini nampaknya akan menjadi awal hubungan cinta yang rumit antara ketiga insan itu. Renji masuk ke dalam mobil yang biasa ia kendarai dan pergi menuju mansion yang ia tinggali. Dalam perjalanan dia baru ingat alasan ia datang ke pusat perbelanjaan,


"Sial, aku lupa membeli barangnya"


Dia memutar balik ke tempat sebelumnya, dan segera bergegas masuk menuju pusat perbelanjaan. Sesampainya disana, ia mengambil barang-barang yang dibutuhkan dan langsung membayarnya ke kasir. Ia kembali ke mobilnya dan langsung bergegas menuju mansionnya.


Sesampainya di mansion, Renji membawa semua bahan yang ia beli ke dapur. Ia kemudian duduk di kursi panjang yang ada disana, membaringkan badannya dan menjentikkan jarinya. Musik dengan melodi yang indah pun mengisi ruangan kosong itu. Renji memejamkan matanya sambil memikirkan hal yang baru saja terjadi.


"Apa yang sudah kulakukan? bagaimana aku menatap wajahnya besok?"


Renji berdecak kesal mengingat tingkah gila yang ia lakukan,


"Aku harus minta maaf"


Dia membulatkan tekad, dan memikirkan bagaimana cara meminta maaf kepada Xora. Dia bangkit dan menuju ke dapur, dia berencana membuat kue. Ya itu ide yang bagus karena dia tahu kalau Xora sangat suka makan.


"Semoga saja dia mau menerimanya"


Dia membuat kue itu setulus hati, menghiasnya dan membungkus kue itu dengan hati-hati. Setelah selesai dia membersihkan dapur, menjentikkan jarinya dan musikpun berhenti. Ia ke kamarnya dan melakukan rutinitasnye tiap malam hingga ia tertidur.


Bersambung ke part berikutnya....