Uncontrolled

Uncontrolled
Balasan



Aku menghampiri kelompok yang beranggotakan 3 orang itu. Aku amat teramat sangat yakin bahwa mereka adalah pelakunya. Aku bertanya dengan wajah tersenyum menahan amarah.


"Kalian yang melakukannya bukan?" kataku


"Apa? Gila ya ngefitnah orang di depan umum, ga takut apa kami laporin ke pihak sekolah kalau kau memfitnah kami ngebuang bukumu ke tempat sampah?" salah seorang dari mereka ngebacot membabi buta.


"Lho? emang aku ada bilang tentang buku?"


Aku memiringkan wajahku seperti orang yang keheranan


"Haha, kau mengaku sendiri rupanya kalau kalian pelakunya. OK aku ga suka bacot, mau gimana aku ngebalas kalian? hmm?"


Tiba-tiba salah satu dari mereka mendorong badanku ke belakang dan berkata,


"Kau? Mau melawan kami? kalau dilihat dari jumlah saja kau sudah kalah jumlah. Masih berani menantang kami lagi, bener-bener nyari mati"


Mereka tertawa cengengesan tepat didepanku, sedangkan yang lainnya hanya menatap ke arah kami. Aku mendengus kesal


"Kalian tak memberiku pilihan, baiklah ini hanya sekedar pelajaran untuk kalian dan yang lain supaya berhati-hati denganku"


Aku melayangkan tinjuku tepat ke salah satu dari mereka dan melayangkan uppercut ku ke yang lainnya. Sontak semua yang ada disana terkejut dengan kelakuan tak biasaku ini. Aku berjongkok tepat didepan orang yang aku tonjok dan berkata,


"Kalian menganggap ancamanku sebelumnya sebagai candaan ya? Ini bayaran yang kalian dapat karena menganggap itu sebagai candaan".


Aku masih tersenyum didepannya, ya hanya didepannya karena 2 temannya langsung K.O setelah terkena uppercut ku tadi. Saat ini aku benar-benar ingin melampiaskan semua amarahku kepada mereka. Aku masih melayangkan senyum yang membuat orang yang melihat akan bergidik ketakutan, dan kemudian aku tertawa karena melihat ekspresi yang dibuatnya.


Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. dan berkali-kali meminta maaf dan ampun sambil menangis ketakutan. Aku yang merasa kesal akhirnya berkata,


"Jika hanya segini mentalmu, mengapa kau berani sekali mengusik orang yang tak pernah mengusikmu. Kau tahu kesalahan terbesarmu? kau tak mencari tahu tentangku sama sekali, bahkan sedikitpun. Ingatlah, Jangan pernah mengganggu harimau yang sedang tidur."


Aku berdiri dan berbalik badan menjauhi tiga orang tadi, dan kemudian melanjutkan ucapanku yang ditujukan ke semua orang yang melihat kejadian ini.


"Jika kau tak senang dengan apa yang aku lakukan, kau bisa datang kepadaku lagi untuk membalas dendam, itupun kalau kau masih berani. Ini juga berlaku untuk kalian semua, aku tak memandang gender, semua akan kubuat sama."


Setelah menyatakan perang lagi, akupun pergi meninggalkan tempat yang dipenuhi keheningani itu. Dalam perjalanan pulang ke kosan akhirnya aku benar-benar bisa bernafas.


"Gilaaaaaaa, rasanya aku seperti kesurupan karena melakukan itu. Huh, rasanya ketenanganku benar-benar sudah berakhir, sepertinya aku tak bisa berdiam diri seperti dulu lagi. Aish gara gara hal sepele yang tak seharusnya diperbesar, aku bakalan jadi capek selama 3 tahun kedepan. Benar-benar menjengkelkan."


Sesampainya di kosan, aku meletakkan tasku, merebahkan tubuhku ke kasur dan sejenak mengingat kejadian yg kualami. Aku merasa waktu berjalan sangat lama sejak saat itu, atau lebih tepatnya waktu berjalan sangat lama sejak aku tak sengaja bertemu dengan dia. Fikiranku sekarang hanya tersirat kata seandainya.


"Seandainya saja ketika dia hampir menabrakku waktu itu, aku tidak berteriak, apakah semua hal gila ini ga akan terjadi ya?"


Aku memegang langit kamarku sambil tersenyum pahit


"Haha atau mungkin ini memang harus terjadi agar hidupku lebih bewarna dari kehidupanku yang dulu kali ya, haha"


Bersambung ke part berikutnya....