Uncontrolled

Uncontrolled
Start



Pagipun tiba, aku melakukan kegiatan pagiku seperti biasa, yang berbeda hanyalah perasaanku sekarang. Hatiku berdebar tak karuan bak dihadapkan pada malam pertama.


"Hai jantung, apa kamu sehat? sudah siap melangkah ke sekolah hari ini? siapla ya. Haha aku dah kek orang gila ya, dah ah berangkat". Intinya aku pergi dengan perasaan berdebar saat ini.


Saat dalam perjalanan aku tak sengaja melihat sebuah mobil yang ku kenal,


"Hah, itu pasti si tuan muda manja, pendendam, brengsek, tengik, sombong, angkuh. Tumben amat nyetirnya kek orang taat berkendara gitu, biasanya nyetir kek jalan punya dia sendiri yang lainnya numpang."


Aku tanpa sadar menggerutu karena mengingat kejadian kemarin.


Setelah sampai di sekolah, sesaat aku terdiam, karena mobil yang tadi aku lihat masih ada di depan gerbang dan dari mobil itu keluarlah makhluk kasat mata yang tak ingin aku lihat sebenarnya.


"Oi, kemari kau"


kata lelaki sialan itu sambil menggerakkan telunjuknya.


Aku tak menggubris ucapannya dan tetap melanjutkan langkahku, namun tiba-tiba dia menarik tasku dan ya tentu saja aku mau tak mau berhenti.


"Kau tuli? aku menyuruhmu kemari, kenapa kau malah jalan terus? bawa tas ku kedalam dan antar ke kelasku"


tanpa babibu dia masuk lagi ke dalam mobilnya dan bergerak masuk ke sekolah. Aku masih dalam posisi tidak percaya seperti orang bodoh dan setelah aku sadar, aku berteriak,


"Hei kurang ajar, bisa bisanya kau menyuruhku membawakan tasmu sedangkan kau masuk dengan mobil ha! memangnya tas mu makan tempat apa di mobilmu. Dasar kampret!, aaaaaaaaargh sialan pagi pagi aku udah emosi aja dibuat ni anak."


Saat aku menjerit seperti orang gila sambil membawa tas bocah itu, dia justru tersenyum di dalam mobil. Aku menggila saat itu, ya kurasa. Bahkan aku tak menghiraukan lagi tatapan aneh orang lain.


"Argh sial lah dari depan gerbang udah mulai start aja dia ngebully aku, pasti udah banyak nih hal-hal gila yang mau di realisasikannya nanti, ayolah tu anak pinter banget ya buat orang emosi. Kenapa juga aku bawai tas si sialan ini, pengen kubuang dah rasanya, eh tapi janganla, kalau gitu aku sama aja kek dia. Huft sabar sabar, aku bisa. cuma gini doang mah bisa aku lewati"


Akhirnya aku menenangkan diri sendiri dan masuk ke sekolah.


"Hei, kau disuruh ke kelasnya Renji, dia menunggumu dan tasnya".


Aku membalas perkataan anak itu,


"Kau sekelas dengannya bukan? aku titipkan tas ini padamu saja, nih bawa" sambil menyodorkan tas itu kepadanya.


Namun ekspresi wajah anak itu langsung berubah, ia berkata,


"Kumohon, kau saja yang memberikannya, aku tidak akan bisa hidup tenang jika kau tak datang ke kelasku. kumohon".


Argh aku paling tak suka orang lain memohon kepadaku, apalagi sampai menangis.


"Sebegitu menyeramkankah Renji dimata kalian ha?" batinku.


Aku mengikuti anak itu menuju kelasnya. Saat sudah ada di depan kelasnya, aku membanting pintu itu dan itu sontak membuat seluruh isi kelas menjadi fokus ke arahku. Aku menyebarkan pandanganku, mencari tempat duduk anak sialan itu,


"Aaaaa disitu kau rupanya".


Ku hampiri dia dan setelah tepat didepannya aku membanting tas itu ke wajahnya sambil berkata,


"Oi, cecunguk sialan, jika sekali lagi kau berani mengancam orang lain hanya agar aku datang ke hadapanmu, aku tidak akan segan segan membantingmu disini, camkan itu!"


Setelah mengatakan hal itu, aku pergi tanpa melihat lagi kearahnya.


Bersambung ke part berikutnya.......