Uncontrolled

Uncontrolled
Dia



Hari itu berjalan seperti hari biasa, tak ada yang istimewa sampai aku tak sengaja bertemu dengan dia yang membuat hidupku menjadi beda, amat sangat berbeda. Tepat di depan gerbang sekolah, aku nyaris saja tertabrak sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Dia. ya siapa lagi kalau bukan tuan muda tampan rupawan yang sangat berkuasa disekolah Hideyoshi ini. Jangankan siswa, bahkan guru sekalipun tak berani menegurnya.


Renji makoto, putra tunggal dari keluarga ternama di Jepang sekaligus satu satunya pewaris di perusahaan Shin-Etsu Chemichal CO. karena latar belakang itulah sifat "menjijikkan" nya mungkin muncul. Entahlah itu sifat aslinya atau bukan, yang jelas aku sangat membenci sifatnya itu. Namun tak sedikit juga yang secara sukarela menjilat dia agar tampak baik didepannya. Terserahlah, yang jelas aku tak peduli.


"Hei, kau buta ya?"


Aku berteriak sekeras mungkin, ntah dia mendengar teriakanku atau tidak (tapi aku berharap tidak) yang jelas saat itu aku marah karena dia menyetir seperti orang gila.


"Kenapa sih ada orang kek dia disini, emang sekolah punya dia aja apa, ga waras ke RSJ sono!."


Aku masih lanjut memarahinya sambil berjalan masuk ke sekolah. Pak satpam yang ada disitu hanya diam menunduk saat aku melihatnya. Sebenarnya aku ingin marah tapi saat ku lihat wajah pak satpam yang merasa bersalah, amarahku mereda. Dalam batin aku bertanya,


"Memang apa hebatnya dia? yang hebatkan orang tuanya, toh kita juga sama-sama makan nasi, keluarnya juga dari tempat yang sama kan, kenapa semuanya takut dengan dia sih?."


Aku terus berjalan sambil memikirkan apa yang membuat semua orang takut kepada Renji. Sangkin fokusnya memikirkan hal tak penting itu aku sampai tak melihat ada orang di depanku dan aku menabraknya (ntah aku yang tak sengaja atau dia yang memang berhenti tiba tiba, atau.... dia memang sudah menunggu disana dan aku yang sedang fokus dengan pikiran yang tak penting lalu menabraknya, entahla situasi mana yang benar, hanya Kamisama yang tahu).


Dalam hati aku teriak "Argh, sial kali sih aku ni hari, ngapa dah?"


Tapi yang terucap justru "Maaf, aku ga liat jalan".


Saat aku lihat siapa orang yang kutabrak, saat itu juga aku ingin membalikkan badan seolah-olah tak melihat orang itu. Bukannya takut, hanya saja lebih baik menghindar dari pandangannya pikirku.


"Hei, kau buta ya?" katanya padaku.


"Hei, aku kan sudah minta maaf, ga usah ngegas dong, Daripada kau! udah hampir nabrak orang, eh malah nggak minta maaf sama sekali. Dasar! kau emang ngajak ribut atau gimana sih?".


Aku masih terus menatap tajam kearahnya tanpa mempedulikan pandangan orang lain ke arah kami. Dia tak membalas ucapanku, hanya matanya saja yang sekilas melirik ke name tag ku dan kemudian dia tersenyum tipis lalu pergi begitu saja.


"Orang aneh" pikirku


Aku pun melanjutkan langkah kakiku menuju ruang kelas.


Sesampainya di ruang kelas, kuletakkan tas ku ke samping meja dan melakukan kegiatan pagiku seperti biasa, membaca buku yang berhubungan dengan kimia. Aku sangat suka membaca, bahkan aku bisa mengabaikan situasi di sekelilingku ketika aku sudah fokus. Aku tak terlalu dekat dengan teman-teman sekelasku tapi juga tak terlalu jauh. Hubunganku dengan mereka biasa saja sampai hal biasa itu berubah menjadi luar biasa setelah sebuah suara dari mikrofon sekolah menggema.


"Tanaka Xora , Kau menjadi targetku, nikmati harimu!"


dan suara itupun hilang seperti angin lalu, namun akibat yang ditimbulkan dari suara itu justru sangat menyebalkan.


"Ha? Aku? Sialan kau Renji!."


Aku mendesah pasrah karena aku tahu apa arti kalimat itu, itu artinya hari-hariku yang dimulai dari besok akan berbeda dan penuh warna.


bersambung ke part berikutnya....