Uncontrolled

Uncontrolled
Permintaan



Aku tertawa mendengar ucapan yang dilontarkannya, bahkan sangkin lucunya, aku sampai mengeluarkan air mata. Lelucon apa lagi yang dia ucapkan sekarang ini, pikirku.


"Memiliki ku? Hah! Bullshit!. Sedikitpun aku tak percaya pada ucapan sampah itu. Bukankah sudah ku katakan padamu, jangan ganggu aku lagi? Kau amnesia ya?"


"Tidak"


"Lantas kau kesini ingin kubanting, begitu?"


"Tidak"


"Bisakah kau mengucapkan kata lain selain tidak?"


"No"


"Oh Tuhan, haaaaah terserahla!, kau mau pergi atau aku yang pergi? Oke aku saja, aku muak melihat wajahmu"


Tanpa menunggu jawabannya, aku pergi begitu saja. Sesampainya di kantin aku mencari tempat duduk dan entah ini hari sial mereka atau tidak, mereka bertemu lagi denganku.


"Disini kosongkan?"


Haha aku ingin tertawa melihat ekspresi ketiga wanita ini. Mereka seperti bertemu dewa kematian saja pikirku. Namun aku tak menghiraukan ekspresi itu, aku perlu mengisi kembali energiku untuk belajar dan mengajari mereka bertiga setelah pulang sekolah. Setelah aku selesai makan, aku mengingatkan mereka kembali agar tidak terlambat nantinya. Haha sekali lagi aku melihat ekspresi yang membuatku ingin tertawa setengah mati.


"Wah! berkat kalian hari-hariku disekolah jadi tidak membosankan seperti dulu, terimakasih ya. Sampai ketemu setelah pulang sekolah"


Aku pergi meninggalkan kantin dan beranjak ke kelas. Bel pun berbunyi lagi, menandakan waktu istirahat telah selesai. Aku melanjutkan belajarku. Disela-sela belajar, aku sudah merencakan hal yang akan ku lakukan pada mereka nanti. Membayangkannya saja membuatku merasa senang.


Bel terakhir pun berbunyi, tanda sekolah telah usai. Aku bergegas merapikan barangku dan bersiap menuju lokasi janjian. Tampak dari kejauhan, aku sudah melihat tiga orang yang sedang berdiri di dekat tembok, mereka berdiri layaknya murid yang sedang di hukum.


"Wah, kalian cepat sekali datangnya, aku sampai merasa bersalah ni. Karena kita sudah berkumpul, maka aku akan langsung mulai saja. Kalian sudah siap kan?"


Setelah mengucapkan kalimat itu, aku bersiap mengambil aba-aba untuk menyerang. Mereka sepertinya sudah pasrah dengan apa yang akan ku lakukan, mereka hanya menutup mata.


"Hah!"


Mereka kaget bukan main, karena melihat aku yang sedang membungkuk.


"Maafkan aku atas apa yang kulakukan tempo hari!" kataku.


"Aku tidak bermaksud melukai kalian, hanya saja kalian yang melukaiku duluan, oleh karena itu aku memberikan kalian sedikit pelajaran. Tapi aku tak menyangka karena hal itu kalian justru semakin membenci ku bahkan sampai menyewa berandalan untuk mengusikku"


Mereka hanya diam mendengarkan ucapan yang ku keluarkan.


"Aku tidak ada niat untuk membalas kesalahan kalian kali ini, karena itu hanya akan membuat kalian semakin dan semakin membenciku nanti, ya walau aku tak tahu alasan kalian membenciku sebenarnya apa, tapi kumohon tolong jangan ganggu aku lagi, aku tak ingin menjadi orang jahat. Bisakah kalian berjanji kali ini?"


Aku memasang wajah penuh harap dihadapan mereka. Mungkin karena mereka merasa bersalah, air mata justru mengalir dipipi ketiga wanita itu.


"hiks... maaf..kan hiks kami juga Xora. Kami melakukan hiks.. itu karena kau hiks... telah menghina hiks Renji. Kami tidak terima makanya kami melakukan hal gila itu."


"Kami sadar hiks.. bahwa perlakuan kami hiks.. keterlaluan, maafkan kami hiks... Xora, tolong maafkan kami, huhuhu"


"Kami hiks... berjanji tidak akan hiks... pernah mengganggu kau lagi, bahkan jika kau tak meminta hiks... kami tidak akan hiks... pernah mengganggu kau lagi, Lepaskanlah kami Xora."


Ketiga wanita itu silih berganti berbicara, aku lega mendengar ucapan mereka.


"Terimakasih kalian sudah mau mendengarkan permintaanku, kalau begitu aku pamit."


Aku membungkuk sekali lagi dan berbalik meninggalkan mereka bertiga disana.


"Hah leganya..."


Bersambung ke part berikutnya.....