Uncontrolled

Uncontrolled
Aku



Setelah pengumuman sialan itu didengar oleh seluruh sekolah, aku yakin suasana disekolah akan berubah 360⁰ khusus untukku. Bukti nyatanya saja suasana dikelasku langsung suram di detik setelah pengumuman itu selesai. Aku tak tau mengapa aku bisa menjadi sasaran target anak sialan itu, sampai detik ini aku masih memikirkan kesalahan apa yang aku perbuat padanya.


"Aku tak pernah mengusili orang lain apalagi dia karena aku tak suka mencari ribut. eeh bentar! apa jangan jangan aku dijadikan target karena aku neriaki dia tadi ya? lah itukan awalnya dia yang salah karena nyetir kaga bener, kalau bener emang iya, tu anak pikirannya emang bocah banget, ah masa bodo la ya, aku mah ga takut, toh selama aku masih bisa belajar dengan tenang aku tak akan menggila"


Aku meyakinkan diriku bahwa aku akan baik baik saja kedepannya.


Aku sampai lupa memperkenalkan diri, aku Tanaka Xora murid kelas 1 SMA Hideyoshi. kalian bisa manggil aku Xora. Aku anak tunggal yang terlahir dari keluarga biasa *mungkin* dan aku masuk ke sekolah ini dengan beasiswa. Sekedar informasi saja untuk masuk ke sekolah ini hanya ada 2 syarat, kalau ga kaya, ya harus pinter. Aku beruntung karena dari sekian banyak orang yang mendaftar, aku salah satu yang diterima disini. Oke next ga suka bacot.


Walaupun suasana di kelas tampak berubah tapi anehnya situasi tetap berjalan seperti biasa. Pembelajaran seperti biasa, waktu istirahat tak terjadi apa apa, belajar lagi sampai pulang sekolah semuanya masih seperti biasa, tenang dan damai seolah olah tak terjadi apa apa. Yah aku tau ini hari tenang terakhirku disekolah karena keesokan harinya ntah apa yang akan terjadi padaku. Aku bilang begitu karena yang aku tahu siapapun yang menjadi target anak sialan itu kehidupan di sekolahnya tak ada yang berakhir baik, bahkan ada yang sampai pindah sekolah. Mengerikan....


Pembelajaran selesai, aku pulang ke kosan yang tak terlalu jauh jaraknya dari sekolah. Dalam perjalanan pulang, aku selalu memikirkan apa yang akan terjadi besok, akan dimulai darimana dia mengganggu, sampai mana dia akan mengganggu, apakah hanya dia yang akan mengganggu dan ajaibnya semua pikiran pikiran gila itu satu persatu bermunculan layaknya petasan yang bertebar.


"Argh memikirkan apa yang terjadi besok aja membuatku benar benar sakit kepala (sambil ngacak ngacak rambutni ceritanya). Memangnya sampai sejauh mana sih anak SMA bisa berbuat, toh kalau dia sampai membahayakan nyawaku, aku tak akan ragu melaporkan dia ke pihak berwajib"


Sambil memantapkan hati, aku merapikan rambut panjang indahku yang sempat berantakan karena ku acak tadi.


"Hidup tanpa makan bagai raga tak bernyawa lalalalala aku jadi bahagia olalalalala makanan membawa cinta aseek" (yang tau lirik lagu hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga silahkan dinyanyikan sesuai kalimat yang aku tulis ya).


Aku bersenandung dengan santai sambil masih merebahkan tubuhku yang mungil. Setelah kurasa cukup istirahat, aku menuju ke kulkas untuk melihat apa yang bisa dibuat dengan bahan yang ada, dan tadaaaaaaaaaaa isi kulkas kosong.


"Alamak, bahan makanan udah habis ya, yaudah la aku harus belanja ni mumpung lagi ga males"


Aku mengganti pakaianku dan langsung cus ke pasar.


Sesampainya di pasar, aku mulai menjelajahi setiap sudut dan mengambil bahan makanan yang aku butuhkan. Aku terus tersenyum indah sambil bersenandung kecil menandakan suasana hatiku yang sedang bagus, namun kesenangan kecil itu tak bertahan lama ketika aku melihat dia "lagi" .....


Bersambung ke part berikutnya...